Putri Ayu oh Putri Ayu 
Kemunculan Putri Ayu Silaen di pentas seni Indonesia memang begitu fenomenal. Aku sudah kehabisan kata-kata memuji kemampuan remaja cantik berusia 13 tahun ini. Dari lagu Ave Maria, Memory, Nessun Dorma, Guardami sampai Think of Me yang diambil dari drama musical Panthom of the Opera, semua membutuhkan skill dan teknik yang tidak mudah. Dan itu semua dinyanyikan dengan memukau.Tanpa memandang beberapa kelemahan yang bersifat remeh seperti pelafalan beberapa kata

Inggris dan gesture-nya yang kadang masih kaku, bagiku ia tetap bersinar, fenomenal dan menggetarkan jiwa. Bagiku, dialah juara sebenar-benarnya. Lagian kesempurnaan berbahasa macam apa yang harus dituntut dari gadis seusia dia? Bahasa Inggris bagi kita bukanlah bahasa ibu ataupun bahasa komunikasi pendidikan, hanya sebatas bahasa asing.

Dan sekarang di layar teve ia kembali membuatku kagum. Bersama kakaknya, Revina, ia menyanyikan lagu If I Ain’t Got You dari Alicya Keys. Ini bukan kali pertama aku mendengar lagu itu. Namun seketika aku mendengar lantunan lagu indah dan aliran suara kedua malaikat nan cantik ini, pikiranku mulai terbawa kepada suatu penembusan makna. Secercah pengetahuan melintas dalam benakku. Tentu ini bukan wahyu atau wangsit. Tapi mungkin otak ini sudah terlatih untuk menembusi teks-teks, termasuk lirik lagu tersebut.  Demikianlah sebagian dari lirik lagu tersebut:

some people live for the fortune

some people live just for the fame

some people live for the power,  yeah

some people live just to play the game

some people think that the physical things define what’s within

and i’ve been there before

but that life is so  bore

so full of the superficial

 

some people want it all

but i don’t want nothing at all

if it ain’t you baby  if i ain’t got you baby

some people want diamond rings

some just want everything

but everything means nothing

if i ain’t got you, o ohh 

Nah dapatkah para pembaca mengambil benang merah dari lagu ini?

If I ain’t got you baby, everything means nothing.

Semua kebermaknaan hidup ini hanya tergantung padamu, babe. Hanya bergantung padamu hidupku ini merasa bermakna.   Tanpamu semua sia-sia.

Hmmmm betapa hiperboliknya sastra dan seni, yah. Apabila kita sadar bahwa itu hanya sebatas seni dan sastra, itu akan menghibur. Namun ketika kita terobsesi seni dan sastra itu, dan menjadikannya sebagai kacamata baku dalam melihat realitas dunia serta tidak mau diajak untuk berjejak dalam realitas sebenar-benarnya, itu namanya terkena waham atau delusi.

Ijo Royo-royo Itu Jelas Bikin Stress 

Ada sebuah cerita lagi buat para pembaca. Beberapa tahun yang lalu saya mendapatkan sebuah cerita yang inspiratif, demikian kisahnya:

Konon terdapatlah sebuah kerajaan di Jazirah Arab sana. Sang raja kala itu sedang sakit mata. Namun sakit ini begitu parah. Ia telah mengidap penyakit tersebut selama berbulan-bulan. Seluruh tabib di seantero kerajaan dipanggil dan dijanjikan hadiah apabila dapat menyembuhkan sang raja. Namun semua pulang ke rumah dengan tangan hampa.

Sampai suatu saat seorang tabib dari kerajaan yang jauh didatangkan. Setelah pemeriksaan yang teliti maka sang tabib berkata, “ Sakit Baginda sebenarnya tidak parah. Obatnya pun sama sekali sederhana dan murah. “

“Apa obat yang harus aku makan, Tabib?”

“Mata Baginda selama ini lelah, stress dan mengalami iritasi. Saya menyarankan Baginda mengambil waktu istirahat, kendurkan semua urat syaraf dan tataplah hamparan rerumputan yang hijau, dan lebatnya hutan dipegunungan. Jika itu Baginda lakukan dengan teratur, maka niscaya Baginda akan sembuh.”

“Oh jadi selama ini aku hanya kurang melihat yang hijau-hijau?

“Demikianlah analisa saya, Baginda.”

Singkat cerita pulanglah si tabib itu ke tempat asalnya.

Tak perlu menunggu waktu yang lama, maka sang raja memanggil semua penasihat dan menterinya. Ia memaklumatkan agar semua rakyat wajib menanam pohon di setiap lahan kosong yang ada. Ia memerintahkan semua menterinya untuk melaksanakan dan mengawasi proyek-proyek penghijauan yang akan segera dilaksanakan. Uang dari kas kerajaan akan digelontorkan secepat mungkin demi pembiayaan mega proyek tersebut.

Namun seorang mentri berkata. “Baginda, tidakkah anda sadar? Kerajaan kita dikelilingi oleh padang gurun. Menanam pohon yang banyak tanpa air yang memadai adalah hal mustahil. Untuk air minum saja kita harus menghemat, sekarang kita harus membaginya dengan keperluan menyiram semua pepohonan dan rumput. Hal itu tidak mungkin, Baginda.”

Sang raja tersentak sadar. Namun ia tidak berputus asa.

“Begini saja, aku perintahkan Menteri Perdagangan untuk mengimpor cat dari kerajaan tetangga. Aku ingin semua tempat dan barang dicat warna hijau. Segera laksanakan!”

Para menteri dan penasehat saling berpandangan. Mereka berdiam seribu bahasa, tak tahu harus berkata apa dengan rencana gila itu. Namun di saat itu tampilah seorang penasehat yang sudah lanjut usianya. Setelah meminta ijin berbicara, berkatalah ia:

“Paduka , adalah tidak mungkin untuk mengingkari kodrat alam. Tidak semua barang berwarna hijau. Sekalipun kita mencampuri alam dan memaksanya, hal itu pun bagaikan berenang melawan arus. Unta-unta tidak mungkin berwarna hijau. Buah kurma yang matang tidak mungkin berwarna hijau. Batang pohon tidak selalu berwarna hijau. Bulir gandum yang matang tidak mungkin berwarna hijau. Air yang menyembul dari lubang oase tidak mungkin berwarna hijau. Begitu pula pasir di padang gurun tidak mungkin dicelup warna hijau. Adalah kodrat alam ini agar semua benda berwarna-warni. Adalah kodrat alam ini agar tidak semua benda berwarna, misalkan angin, suara dan rasa. Dengan mencat semua barang dan mahluk menjadi hijau maka hilanglah semua keindahan dunia dan hambarlah segala rasa dalam hidup ini.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya sang raja putus asa.

“Bagaimana kalau Baginda memakai kacamata hijau saja? Sehingga apapun yang Baginda lihat akan nampak asri dan kehijau-hijauan.”

Dan sang rajapun mengikuti nasehat bijaksana ini, kemudian tak berapa lama, sembuhlah kedua matanya.

Aku tertawa terpingkal-pingkal ketika membacanya. Sebuah idea brillian aku kira. Namun seandainya aku menjadi penulis cerita itu, pastilah kalimat dari sang penasehat tua itu akan aku lanjutkan demikian:

“Namun, Baginda, segera setelah Anda sembuh, cepat-cepatlah lepaskan kacamata hijau itu dan terimalah hidup ini apa adanya. Buatlah mata ini terbiasa melihat segala warna dalam hidup ini. Buat  orang yang sehat badannya dan jernih akal pikirannya ijo royo-royo itu jelas bikin stress.”

************

Kadang aku melihat keber-agamaan orang itu seperti ikatan perkawinan. Seorang suami, karena rasa cinta pada istrinya, akan memuji bahwa istrinya adalah wanita tercantik di dunia, istrinya adalah koki terhebat di dunia dsb. Itu sah-sah saja. Itu aku namakan persepsi. Namun apabila pujian itu ia klaim sebagai kebenaran faktual dan meminta seluruh manusia di bumi ini mengakui klaimnya, maka itu namanya narsisme. Jelas dia tidak bisa membedakan mana persepsi – mana realitas, mana pandangan subyektif mana yang penilaian obyektif.

Sama halnya dengan lirik lagu di atas tadi, kita sering kali memuja-muja agama, tokoh, dogma dsb seakan-akan itu semua adalah faktual dan menyejarah, suatu kebenaran an sich dan final yang tidak bisa diperbantahkan dan dipertentangkan. Dan kebermaknaan hidup kita bergantung dari keimanan itu, yang hanya persepsi belaka.

Semua bangunan integritas kita dipertaruhkan dalam iman, agama, kecintaan pada nabi, kesempurnaan kitab, dan kebenaran dogma dll. Ketika kita menyadari bahwa secara fakta sejarah dan logika yang lebih luas lagi, apa yang diyakini oleh agama itu begitu rapuh dan bertolak belakang dengan fakta,  maka seluruh bangunan kedirian inipun jadi runtuh. Karena kita takut menerima kenyataan pahit ini, bahwa kita bisa salah, bahwa agama bisa salah, bahwa tuhan bisa salah, bahwa tokoh pujaan kita tidak seperti yang kita iman-imani, bahkan bertentangan dengan logika yang ada, maka kita sekuat tenaga menutup mata dari semua fakta, menghancurkan fakta itu, menghujat mereka yang menyodorkan fakta .

Itulah natur dari keberagamaan manusia. Dan saya katakan itu keliru. Sangat keliru dan bodoh.

Cepot, Cepot…. Sudah Salah – Ngotot Pula

Satu lagi cerita untuk meregangkan tensi  agar anda tidak mulai berang pada saya. Teman saya,  seorang dari suku Sunda, pernah cerita begini:

Suatu saat si Cepot yang dari kampung diberitahu oleh temannya bahwa di kota ada makanan yang disajikan dalam keadaan panas, rasanya pedas dan enak. Itu namanya soto. Sesampainya di kota ia melihat seorang pedagang bandrek. Ia tanya apa ini manis atau pedas. Si pedagang jawab itu pedas. Apa ini disajikan panas atau dingin. Si pedagang menjawab dingin. Lalu ia minta satu porsi. Ketika ia melihat bandrek disajikan dalam gelas, ia bertanya kenapa itu soto itu disajikan dalam gelas?  Si pedagang menjelaskan bahwa ini bukan soto, melainkan bandrek. Dengan nada marah si cepot menggertak si pedagang. Bukankah ini disajikan pedas dan panas? Berarti ini namanya soto, dan soto itu harus disajikan di dalam mangkok.

“Cek aing soto, nya soto, mana bisa jadi bandrek!” begitu gertak si cepot.  (Gua bilang soto ya soto, mana bisa jadi bandrek!)

************

Dalam beragama kita lihat banyak sekali persepsi dan kita menganggapnya sebagai kebenaran faktual.

– Islam adalah agama terakhir dan sempurna.

– Islam adalah agama rahmat segala alam

– Injil adalah kekuatan allah dalam menyelamatkan manusia

– Yesus adalah juru selamat dunia

– Buddha adalah guru segala dewa dan manusia

– Hindu adalah agama kosmik.

Pertanyaan saya adalah : apakah ini persepsi atau realitas? Apakah ini cuma refleksi harapan atau fakta kebenaran an sich?

Kita menganggap bahwa konsep islam, agama, rahmat, yesus, injil , keselamatan, buddha, hindu dll adalah konsep yang mutlak dan menuntut orang untuk mengamini konsep yang kita anggap ajeg, benar secara mutlak dan tidak bisa dipertentangkan.

Ketika realitas berbicara lain, apa anda mau jadi seperti si Cepot, yang dalam kebodohannya memaki-maki bahwa orang lain harus yang salah dan dia pasti yang benar?

Seperti lirik lagu di atas : If I ain’t got you baby everything means nothing

Mesti kita sadar bahwa kalimat tersebut hanya ekspresi emosi dalam balutan sastra dan seni, bukan segala-galanya. Itu bukan realitas hidup si penulis sendiri.  Begitu pula jargon-jargon agama hanyalah persepsi dan angan-angan si pemeluk agama itu saja.

Segala bangunan kedirian kita tidak tergantung dari benar atau tidaknya agama, agama ya agama, kita ya kita, manusia bisa hidup tanpa agama, namun agama tidak akan pernah ada tanpa manusia. Jadi yang lebih berkuasa itu apa, agama atau manusia?

Silahkan saja anda berkanjang dalam persepsi, namun anda harus sadar bahwa itu hanya persepsi bukan realitas. Dan pemujaan pada persepsi dan penghempasan realitas itu namanya waham alias delusi.

Dulu ada teman yang menyanyikan lagu gospel, liriknya indah sekali, begini kira-kira :

“Tuhan menjagaku seperti menjaga biji matanya. Tak ada yang mustahil bagi orang yang percaya.”

Saya tanya itu diambil dari mana? Dari ayat Alkitab jawabnya.

Wah luar biasa ini puisi saya bilang. Namun tetap itu cuma suatu bentuk puisi inspiratif yang memotivasi umat Kristen atau Yahudi, namun ketika puisi dan pernyataan iman ini diperhadapkan pada fakta bahwa banyak orang Kristen saleh juga mati oleh perang, pembantaian dan penderitaan hidup, maka dimana allah yang katanya menjaga umatnya per individu bagaikan menjaga biji matanya?

Pada saat saya sedang mempersiapkan artikel ini, sebuah gereja di Baghdad di serang oleh sekelompok islam ekstrimis. 7 orang kristen dibunuh termasuk sang imam.

Pertanyaan saya, dimana tuhan yang menjaga orang-orang saleh ini bak biji matanya? Mengapa ia terlambat? Apakah tuhannya kristen beda dengan tuhannya islam? Apakah tuhannya islam ini tidak sanggup menahan, dan membatalkan keberingasan para pecandunya? Ataukah tuhannya islam adalah idea di kepala sang nabi sendiri sehingga seketika sang nabi mati, maka diamlah ia tak berfirman betapapun keras, kasar dan telah menyimpangnya itu ajaran?

Tidakkah anda sadar bahwa konsep tuhan satu orang atau suatu kaum ternyata tidak sama dengan konsep tuhan dalam benak orang lain atau kaum lainnya?  Kenapa? Karena tuhan itu konsep. Tuhan itu idea. Dan agama adalah ideologi yang membawa idea tersebut. Dan para rohaniwan adalah ideolog penggembar-gembor ideologi-ideologi tersebut. Karena itu ideologi, maka setiap orang memiliki kadar yang berbeda dalam mencerap dan mempersepsikan ideologi tersebut.  Karena itu ideologi maka ia bukan realitas nyata.

Kebermaknaan hidup ini tidak tergantung dari dogma yang harus kita usung-usung dan bela dengan membabi buta, atau bahkan berdarah-darah.

Manusia yang dewasa melihat mitos sebagai mitos, moral sebagai moral, realitas sebagai realitas. Ia menerima itu apa adanya dan terus melangkah menuju ke arah depan, bukan terus menerus menengok ke belakang terobsesi dengan romantisme psikologis tentang jaman keemasan sang nabi, sang juru selamat atau sang baghawan.

Dulu….dulu…..dulu….. waktu nabi kita, atau waktu guru agung kita masih hidup semua nampak baik dan terkendali. Semua beriman dan patuh. Semua segalanya indah dan teratur. Sekarang realitasnya lain, banyak orang tidak percaya dengan ajaran nabi kita, guru kita dsb. Maka dari itu mari kita putar balik arah panah waktu, dan kita jadikan jaman ini ke jaman dulu dimana segalanya baik-baik saja. Mari kita pertaruhkan harta, keluarga dan nyawa demi cita-cita mulia ini.

Demikianlah impian dan obsesi para pecandu yang telah dibius dalam romantisme agama. Mereka tidak mau melihat fakta bahwa tidak ada yang namanya jaman keemasan, bahkan di jaman sang nabi sendiri.

Dan sayangnya manusia Indonesia adalah korban dari candu itu. Bukannya menatap ke arah depan, malah terus berkanjang dalam romantisme psikologis dan sebagian orang membutakan akal dan hati nuraninya demi impian bodoh itu.

Mereka tidak sadar bahwa rujukan iman tiap agama  hanya produk persepsi dari para pujangga dan para penggemba-gembor agama yang hidup jauh setelah tokoh-tokoh itu wafat. Mereka tidak mau tahu bahwa satu-satunya kisah sejarah pemimpin mereka itupun ditulis ratusan tahun setelah jaman sang tokoh, dan hanya berupa pandangan sepihak si penulis sejarah. Tidak ada catatan dari luar komunitas itu yang bisa dijadikan rujukan dan pembanding. Bukankah ini juga disebut persepsi?

Seorang yang dewasa mampu menjaga jarak sehingga tidak terikat oleh satu identitas primordial tertentu seperti keagamaan dan kesukuan. Dan spiritualitas yang cerdas dan dewasa mengantarkan manusia yang sudah matang untuk memasuki tahap itu.

Agama dan tuhannya agama adalah kolektivitas persepsi akan hidup yang dibentuk oleh manusia masa lalu yang masih terikat dengan semangat tribalistik yang penuh dengan prejudisme pada kelompok lain. Tak heran apabila konsep tuhan dalam agama-agama, terutama  Kristen, Yahudi dan Islam, bersifat primordial, antrophomistik, egois, sung-sang, immature. Namun konsep yang immature seperti ini yang dijadikan sandaran iman agama-agama mereka.

Dan orang yang berkanjang pada persepsi  serta menanggap persepsi itu sebagai realitas dan kebenaran faktual akan mengingkari kodrat alam ini yang tidak pernah rehat namun terus beranjak dan berdialektika. Ia akan terus menerus menimbun dirinya dalam romantisme psikologis agamanya, mencari-cari fakta yang akan merepresi neurosisnya. Maka dari itu tidak aneh ada banyak hoax islami, hoax kristiani dsb, semacam:

– Islam rules dominate Europe

– Stephen Hawking embraces Islam.

– Stephen Hawking become new born Christian

– Neil Armstrong heard Adzan on the moon

– Bukti Muhammad membelah bulan  dst

Di Malaysia ada hukum tak tertulis : Orang melayu adalah islam.  Kalau seorang melayu bukan islam berarti mengingkari kemelayuannya dan kehilangan hak dalam ranah politik dan kewarganegaraan. Sehingga orang melayu mau tak mau harus islam. Kalau melayu islam bertemu melayu yang bukan islam jadi neurosis, mudah mencurigai dan memandang rendah orang tersebut. Di pihak lain undang-undang diskriminatif yang sekarang berlaku menanamkan postulat dalam benak non-melayu dan non-islam, kalau mau jadi warga negara kelas satu jadilah islam.

Dan undang-undang kualitas rendahan ini secara bergerilya ingin diberlakukan di Indonesia oleh para pengusung syariah dan Partai Kesengsem Syariah yang katanya beranggotakan orang-orang cerdas.

Pikir mereka karena syariah ini dari allah ta a’la dan kitabnya, maka pastilah benar, ces pleng, tokcer , take it for granted. Kalau faktanya tidak? Oh itu salah manusianya, bukan sistemnya.  Bodoh sekali bukan sistematika berpikir seperti ini!

Betapa lancung sekali apologetika semacam ini.  Kalau ada yang bagus di budaya islam langsung disamber, diklaim milik islam, tapi kalau ada yang jelek dari produk sejarahnya ditutup-tutupi secara berjamaah. Dan mereka yang mengungkapkannya diancam dengan kekerasan. Senjata mereka selalu lagu yang sama : Anti Barat, Kristenisasi dan basmi Yahudi.

Selama berabad-abad umat nasrani di Timur Tengah, dan Afrika Utara mengalami penundukkan dan pelucutan hak-hak hidup dan berkeyakinan dan berpolitik yang layak, serta secara mengalami genosida sistematis, atas nama kebijaksanaan politik islam. Dan kita pura-pura tidak mengetahuinya. Negara-negara Afrika yang menetapkan syariah islam seperti Sudan dan  Somalia adalah negara yang miskin dan paling tidak aman. Penuh dengan catatan kekerasan kemanusiaan baik bagi muslim sendiri, wanita, apalagi non muslim. Dan umat Islam sedunia diam-diam saja. Inikah yang namanya agama rahmat bagi semesta?

wanita somalia dicambuk

sudah diperkosa masih dihukum mati

Tempo

Puteri saudi takut Dirajam

Lihat kapan kita akan beranjak dewasa dan lepas dari belenggu persepsi yang dianggap sebagai realitas?

Saya ingin mengingatkan para pembaca penggalan dalam artikel saya terdahulu

Padahal yang sempurna itu bukanlah kitab atau ajaran, melainkan perjalanan evolusi kesadaran manusia sejagad itu sendiri. Kesadaran itu sempurna karena ia mampu untuk berdialektika dan mencari makna baru menurut ruang, waktu dan pengetahuan dalam jamannya masing-masing. Sempurna yang terus mengusahakan kesempurnaannya lagi. Suatu usaha yang tidak pernah berakhir. (Petikan dari Ubi Dibium Ibi Libertas)

Ada banyak orang yang kecewa dengan tulisan-tulisan saya. Mereka pikir seorang yang spiritual mestinya mengatakan bahwa semua agama itu benar, semua agama itu perwujudan cinta kasih tuhan dsb. Justru jika saya mengatakan hal demikian, maka saya telah membohongi manusia. Saya tidak akan pernah membuat orang berkanjang dalam persepsi. Saya akan membawa pada realitas, bahwa:

– Agama itu bentukan budaya.

– Dogma itu agitasi politik kaum rohaniwan.

– Sejarah tentang para suci itu harus didekonstruksi dan didesakralisasi.

– Tuhan itu abstraksi manusia sebagai responnya atas pencarian makna hidup, atas misteri alam dan atas

keterhubungannya dengan kesegalaan yang ada.  Maka ia harus didemitologisasi.

Karena itu semua produk peradaban manusia, maka tidak lepas dari proses dialektika: tesa, anti-tesa dan sintesa. Dan dengan menyadari bahwa tidak ada titik kulminasi dalam dialektika ini, maka kita akan terus mendekati kebenaran, dan batas-batas pengetahuan manusia akan didesak terus sampai meluas.

*************

Melihat eskalasi kekerasan yang ada di negeri kita dan di seluruh dunia karena ekstrimitas agama, kita harus berani mengatakan bahwa agama selama ini berkanjang dalam persepsi, bukan dalam fakta.

Inilah poin yang saya maksud, bahwa kedewasaan dan kesewajaran dalam hidup ini tidak ergantung dari persepsi kita akan hidup, namun dalam penerimaan akan realitas hidup yang memulti-warna.  Seturut dengan kedewasaan pengetahuan kita, kita akan harus bisa menerima ada perbedaan yang jelas antara persepsi dengan realitas, antara iman dengan realitas hidup, antara jargon agama dengan realitas sejarah. Sama seperti sang raja yang sakit mata, lalu harus memakai kaca mata. Untuk sementara waktu boleh saja ia melihat dunia lewat kaca matanya, namun segera setelah ia sembuh ia harus menerima bahwa kaca mata itu akhirnya akan membuat ia tidak nyaman.  Kaca mata persepsi itu tidak memperlihatkan dunia apa adanya. Lepaskanlah kaca mata persepsimu, lihatlah realitas dunia apa adanya. Keberadaan hidupmu tidak tergantung dari kaca mata persepsimu. Jangan berkanjang pada romantisme psikologis agama.

**************

Oh Helaan Nafas, Jika Aku Tak Memilikimu,  Segalanya Adalah Tiada.

Para penekun spiritualitas menjadikan meditasi sebagai momen-momen relaksasi, keheningan dan keberpulangan pada diri sejati.

Dalam setiap nafas yang diambil dan dihembuskan, semakin kita sadari kenikmatan dari kesendirian.

Ada kegiuran dan kesenangan dalam kesendirian dan kewaspadaan, walaupun itu bukan tujuan terakhir.

Bukan konsentrasi pada suatu bayangan apapun, baik itu berupa dogma atau pun citra-citra suatu tokoh atau figure ilahiah tertentu, namun pada kewaspadaan, bagaikan sisi sungai yang diam tak bergerak mengawasi arus air yang terus mengalir.

Dalam nafas yang dihela ternyata hidup ini bergantung. Hidup adalah satu rengkuhan nafas. Dalam rengkuhan nafas kita menyadari bahwa apa yang ada di dalam ini lebih bermakna dari apa yang ada di luar kita. Apa yang ada di dalam ini?

Dengan tenang kita menganalisa diri kita sendiri  bahwasannya diri ini ada karena berbagai nilai pembeda dan anasir-anasir lain yang tidak alami, namun bentukan sosial, psikologis dan penilaian diri yang ilusif.

Ketika kita lahir kita bukan islam, hindu, kristen, buddha, taoist dsb. Semua identitas  itu secara tidak alami dilekatkan pada kita.  Ketika kita lahir kita telanjang tanpa status sosial. Semua itu hanya persepsi yang dilekatkan oleh komunitas dan diri kita sendiri untuk membantu melihat dunia dalam suatu sudut pandang tertentu.  Namun, percayalah, dunia bisa dilihat dari banyak sudut pandang yang lebih luas dan integral.

Bagaimana kita memandang diri kita ini – ternyata hanya balutan persepsi dan konvensi identitas yang diakui begitu saja. Seandainya kita dilahirkan di keluarga anu, suku anu, di komunitas agama anu, diberi nama anu, berkemampuan ekonomi yang demikian, bersekolah di tempat demikian, berteman dengan orang demikian, membaca buku demikian, dsb … maka akankah aku menjadi seperti aku yang berpikir, merasa, berprilaku dan berkeyakinan sedemikian ini?

Dimanakah aku dan siapakah aku jika semua lekatan-lekatan itu dilepas satu persatu?

Dan agama dan dogma – siapakah engkau, yang nyata-nyata cuma produk budaya dan manusia, berani-beraninya engkau ingin membalut dan menyeret aku yang tiada beresensi ini ke dalam pusaran persepsi subyektifmu?

Layakkah aku, kumpulan dari arus-arus kemenjadian yang bertumpu pada setiap helaan nafas kini dan di sini ini, mempertaruhkan diri yang ilusif ini begitu rupa dalam persepsi-persepsi buatan manusia belaka?

Persepsi. Dalam kadar tertentu bagus. Dalam kadar berlebihan jadi narsis. Menganggapnya sebagai realitas jadi delusi . Ditambah senjata jadi anarkis.Dimotivasi syahwat dominasi atas pihak lain disebut fasis.
Iklan