Siang itu begitu terik. Dan sang kala mendamparkan aku dalam sebuah ruang pos ronda bersama dengan seorang tetangga yang lebih muda untuk bicara ngalor-ngidul sebagai wahana basa-basi bersama tetangga. Mungkin sudah jadi watak orang Indonesia , kalau bicara biasanya tidak pernah jauh-jauh dari isu tentang agama dan mistik. Tapi mistik yang ngawur alias klenik. Entah apa yang menjadi awal pembicaraan kami, aku sendiri sudah lupa, namun tiba-tiba arah pembicaraan mengalir begitu saja sampai ke topik horor.

 

“Aa, saya pernah punya pengalaman yang aneh loh. “

“Pengalaman aneh apaan tuh?”

“Saya pernah lihat bangsa jin.”

“Oh ya? Bagaimana kejadiannya?” tanyaku heran. Padahal aku sendiri di dunia maya sesosok jin; jin yang menghantui mereka yang masih terpedaya dalam fanatisme, irrasionalitas, dan candu agama.

“Begini, kira-kira dua tahun yang lalu saya dibawa seorang teman bertemu dengan seorang ustadz. Ustadz ini pernah masuk tivi beberapa kali untuk tayangan yang menyoal mahluk halus. Kemudian kami dibacakan doa-doa tertentu.”

“Hmmm lalu?”

“Lalu kami bisa melihat mahluk-mahluk halus.”

“Tunggu. Apakah itu malam hari atau siang hari? Terus kalau anda katakan ‘melihat’ pasti dengan mata, bukan? Anda melihat dengan kedua mata terbuka, dan dengan mata telanjang tanpa bantuan alat apapun, atau bagaimana?”

Orang itu tercengang. Mungkin ia tidak mengantisipasi pertanyaan-pertanyaanku yang deras dan menukik tajam.

 

“Mmmm…. waktu itu malam hari …. dengan mata terbuka…setelah dari sejak sore kami melakukan wiridan”  jawabnya ragu.

 

“Okey lalu apa yang anda lihat?”

 

“Saya melihat banyak mahluk lalu-lalang, laki-laki dan perempuan. Beberapa memakai baju tempo dulu, beberapa bertelanjang dada. Beberapa seperti manusia, beberapa kecil seperti kurcaci, sedang beberapa seperti raksasa dengan penampakan yang menyeramkan dan berbulu besar-besar.”

“Well, beberapa ‘seperti’ manusia? Kalau ‘seperti’ berarti mereka memiliki perbedaan dong dengan kita?” 

“Ya, kuping mereka panjang dan menyempit ke atas. Seperti itu tuh … yang ada di film Lord of The Rings.”

“Maksud anda, mahluk elf atau peri?”

“Ya, itu yang saya maksud.”

“Good. Lalu kenapa di antara mereka ada yang berpakaian lengkap, sementara yang lain bertelanjang dada, juga beberapa dari mereka berbulu besar?”

“Saya tidak tahu. Mungkin keelokan rupa mereka ada hubungannya dengan ranking mereka dalam dunianya. Mungkin yang berpakaian itu adalah jin islam yang taat shalat. Sedang yang tak berpakaian itu jin kafir. Bukankah di agama pun hal itu diajarkan, bahwa ada jin islam ada juga jin kafir.”

 

“Okey, lalu anda mengajak mereka berbicara tidak?”

 

“Tidak.”

 

“Wah, kenapa? Kalau anda memang melihat mereka, kenapa tidak sekalian ajak bicara saja mereka?

Atau mungkin sebenarnya anda tidak melihatnya memakai kedua mata ini, tetapi anda terpejam dan anda melihatnya lewat mata bathin? Atau mungkin karena anda kurang tidur, berada dalam pengkondisian tertentu sehingga otak anda tidak berada dalam frekwensi yang biasanya. Hal itu membuat anda tidak konsentrasi maka timbulah halusinasi, dan halusinasi itu mengambil rupa ingatan-ingatan yang pernah terrekam dalam otak anda. ”

 

Suasana hening. Ia tidak menjawabnya secara langsung. Lalu aku lanjutkan perkataanku.

 

“Begini mas, dalam dunia manusia, kita tahu bahwa pakaian yang kita pakai tidak ujug-ujug ada di depan mata kita, gratis dan langsung pakai. Pakaian yang ada di tubuh kita, berasal dari proses produksi yang panjang. Ada orang yang memproduksi biji polyester. Ada pabrik yang membuat biji ini menjadi benang. Kemudian benang ini ditenun jadi grey. Dari grey menjadi kain polyester. Kemudian dari kain ada proses printing atau dying, tak lupa pula para artis yang mendisain pola. Kemudian ada garmen yang mengubah kain menjadi pakaian. Ada garis distribusi dan transaksi jual beli. Baru kemudian pakaian didisplay di toko untuk kita beli.

 

Nah pertanyaan saya, kalau jin-jin itu memakai baju, dari mana mereka mendapatkannya? Saya berasumsi bahwa seharusnya di alam mereka, ada juga garis proses produksi seperti di dunia kita.   Kenapa anda tidak tanyakan itu kepada mereka? Atau kalau lebih spesifik lagi, apa ada fashion show juga di alam sana? Dari manakah mereka mendapatkan bahan-bahan pakaiannya? Apakah teknologi yang mereka punya lebih canggih dari teknologi manusia? Siapa tahu mereka bisa menolong kita?

 

Terus kenapa anda tidak tanyakan banyak hal lagi, siapa tahu mereka kita bisa tanyai tentang hal-hal yang rumit yang teknologi manusia belum bisa capai? Misalnya bagaimana mendapatkan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan? Atau siapa tahu mereka tahu tentang asal muasal alam raya? Apakah big bang memang pernah ada? Ada berapa banyak planet di alam semesta ini yang dihuni oleh mahluk hidup? Berapa banyak dari mahluk-mahluk hidup itu yang penampakannya seperti kita manusia? Kapan kerekahan besar alam semesta ini terjadi? Bisakah kita bertanya pada para jin ini bagaimana memecahkan soal-soal matematika seperti halnya kalkulus, integral dan diferensial? Atau mungkin mereka tahu bagaimana menyelesaikan sengketa Israel dan Palestina? Atau sengketa suku Kurdi di Irak utara dan Turki?“

 

Teman saya ini terbelalak. Ia tidak menyangka akan bertemu orang segila saya dengan pertanyaan yang begitu rinci dan menuntut.

 

“Mungkin pakaian mereka berasal dari energi pikiran mereka.”

 

“Kalau begitu maka jawaban anda semakin mengawang-awang, dong. Kalau semua berasal dari energi pikiran maka semua aktivitas mereka adalah aktivitas pikiran. Kalau semua aktivitas pikiran apa mereka tidak saling bertabrakan satu sama lain dengan keinginan-keinginan dalam pikiran mereka. Misalnya: Jin A yg laki-laki senang Jin B yang perempuan, dengan energy pikirannya ia menawan Jin B supaya jatuh cinta padanya. Namun Jin B tidak cinta pada Jin A, ia justru suka pada Jin C. Dengan  energy pikirannya ia menawan jin C dan menciptakan istana untuk bulan madu mereka. Jin C tidak suka jin B, dan istana yang dibuat jin B menutupi jalan ke rumahnya. Maka Jin C, dengan energy pikirannya, menciptakan sungai untuk membanjiri istana yang dibuat oleh jin B. Malang benar Jin C karena sungai yang ia ciptakan dengan energy pikirannya ini, juga membanjiri rumahnya sendiri dan rumah serta ladang Jin A. maka jin A marah kepada jin C dan dengan energy pikirannya ia menciptakan matahari yang dapat menguapkan sungai yang dibuat oleh energy pikiran si Jin C dsb.

 

Nah coba anda pikirkan, bukankah energy pikiran yang sembarangan mencipta itu justru malah bikin rumit?”

 

Ia tercengang. Baru terpikir bahwa “pengalaman” mistisnya tidak sesederhana yang ia pikirkan.

 

“Begini saja, mas. Tidakkah kita mestinya mencurigai diri sendiri bahwa bisa saja pengalaman itu hanyalah permainan pikiran? Kita terobsesi akan sesuatu dan sesuatu yang ada dalam pikiran kita sendiri. Apa yang ada dalam pikiran itu  menawan rasionalitas kita sehingga muncullah gambaran-gambaran dalam pikiran kita yang sebenarnya adalah delusi. Dan delusi itu kita anggap sebagai pengalaman real. Kita terpesona akan pengalaman delusif itu dan kita merasionalisasikan gambaran-gambaran delusif itu dengan memakai pengalaman-pengalaman real, sehingga seakan-akan delusi itu menjadi real karena ada frame real yang pernah kita alami.”

 

“Maksudnya?”

 

“Maksud saya, anda tentu tidak akan pernah terpikir bertemu dengan mahluk elf apabila anda tidak pernah menonton Lord of The Rings. Di film tersebut anda melihat mahluk hobbits, elf dsb dan gambaran itu tersimpan di otak anda. Kemudian ketika anda masuk dalam suatu pengkondisian tertentu, anda mengalami lompatan gelombang otak, kesadaran anda mencoba mencari pegangan dan gambaran-gambaran yang pernah ter-rekam dalam memori anda muncul untuk menerjemahkan pengalaman-pengalaman delusif anda.”

 

Ia tercengang mencoba untuk memahami perkataan saya.

 

“Singkatnya pengalaman itu sebenarnya hanyalah pengalaman delusive psikologis lewat suatu pengkondisian tertentu. Pengalaman anda sebenarnya tidak akan terjadi apabila anda tidur cukup, makan cukup, dan dibekali pengetahuan materialisme yang cukup.

 

Fakta bahwa anda tidak bisa berbicara dengan mahluk-mahluk itu secara runut, logis, vis avis, up close dan personal seperti halnya anda berbicara dengan saya, menunjukan bahwa pengalaman itu hanyalah pengalaman ke dalam diri anda sendiri. Anda hanya sedang berbicara dengan gambaran-gambaran dalam otak anda sendiri. Bukan dengan suatu entitas tertentu dari alam antah-berantah. Semua itu ada di otak anda, hanya saja anda terlalu lemah untuk menyadarinya karena kekurangan oksigen dan nutrisi akibat kurang tidur dan kurang makan. Pengalaman rasa takut, ngeri dan hysteria tidak membuktikan adanya jin.

 

Pengetahuan dalam otak inilah yang menentukan seberapa luas kita menilai alam semesta, dan gejala alam. Seorang yang sederhana dan percaya pada hal-hal klenik, ketika diperhadapkan pada kegelapan, chaos,  ketidakmengertian dan pengalaman-pengalaman transendens,  akan segera merujuk pada bahasa-bahasa klenik seperti halnya jin, hantu, pocong, roh jahat , malaikat dll. Namun orang yang memiliki pengetahuan yang luas dan kritis terhadap alam, bila diperhadapkan pada kondisi yang sama, akan menilainya lebih kritis, runut dan rasional, tidak serta merta merujuk pada penjelasan-penjelasan berdasarkan ‘konon katanya’ dan berbau klenik.

 

Apa yang anda pahami, kecap, rasakan, dan rujukan-rujukan pengetahuan yang anda baca akan menentukan sistematika berpikir anda. Dengan kata lain, seberapa luas pengetahuan material anda menentukan seberapa luas idea di kepala anda. Dan yang namanya ‘pengalaman diluar akali’, sebenarnya hanya upaya untuk membendung keingin-tahuan otak untuk terus maju mencari batas-batas baru dalam pengetahuan. Dan buat saya itu namanya mental penghambat berpikir.”

 

Seumur hidup, saya tidak pernah melihat hantu atau sebangsanya. Namun bukan satu dua kali saya bermimpi hal yang luar biasa, seperti halnya bermimpi dibawa ke surga, bertemu dengan ini dan itu. Dan semua itu sangat mengesankan sampai-sampai saya ingat detil mimpi dan pesan-pesan dalam mimpi itu. Akan tetapi karena otak ini diisi dengan pengetahuan sedikit-demi sedikit, saya sempat membaca psiokologi analisa dsb, maka saya mampu menganalisa diri saya sendiri secara sederhana. Ternyata mimpi-mimpi tersebut adalah media encounter saya dengan kesadaran diri saya sendiri. ‘komunikasi’ kesadaran itu mengambil arketipe figure,  symbol, tempat dan penggambaran kondisi yang pernah saya serap dalam buku, tontonan dan imajinasi saya. Pada dasarnya semua itu membawa pesan bahwa saya memang saya terpanggil untuk meretas jalan menuju diri sendiri. Tidak ada klenik-klenikan. 

 

                                                               *******

 

Nah para pembaca, apakah anda masih ingat ancaman santet Ki Gendeng Pamungkas terhadap Bush? Koq enggak ces pleng yah? Tapi di Irak pipi Bush hampir saja lebam dicium sepatu wartawan. Jadi mana yang lebih efektif sepatu atau santet?

 

Kalau memang ada mahluk-mahluk halus semacam itu dan dapat diperintah atas keinginan kita, kenapa rakyat Nusantara bisa dijajah sekian lama oleh bangsa Belanda? Tidak pernah ada secuil sejarahpun yang menyatakan tentang seorang jendral Belanda yang mati disantet!

 

Sayangnya Nusantaraku, dari dulu para pemimpinnya senang dengan idea-idea aneh hanya untuk menutupi kelemahannya. Sejarah raja-raja Nusantara dan presiden-presiden Indonesia selalu saja berkaitan dengan klenik. Terakhir SBY merasakan ada gangguan dalam bentuk santet yang dikirim oleh lawan politiknya ketika pada saat kampanye pemilihan presiden 2009. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Wahai para pemimpin, didiklah rakyatmu dalam rasionalitas dan etika, maka rakyat ini akan maju. Karena kelemahan kalian yang selalu kalah melawan syahwat politik kaum agamawan, maka engkau selamanya akan jadi budak irrasionalitas. Dan negeri ini akan terus seperti ini.

 

 

                                                                 *******

 

 

Saya merasa berkewajiban untuk menghubungkan tema jin ini dengan mahluk-mahluk metafisik dan supra natural dalam mitologi agama-agama

 

Lia Eden dan Jibrilnya

 

Rasanya saya tidak perlu mengupas lagi siapa Lia Eden. Namun yang harus diketahui adalah bahwa klaim-klaim yang ia buat ternyata tidak laku ‘dijual’. Kenapa? Karena sekarang masyarakat jauh lebih cerdas dari pada masyarakat jazirah Arab 14 abad yang lalu.

 

Mereka yang terus menjual agama dengan menyebut-nyebut entitas lain dari alam antah-berantah, harus berani membuktikan bahwa apa yang mereka yakin bisa dibuktikan dan dipertanggungjawabkan.

 

“The burden of proof lies on those who believe on such things, extra ordinary belief requires extra ordinary proof.” Demikian kata-kata Carl Sagan, seorang saintis, astronomer dan penggiat pendidikan sains di Amerika di abad silam.

 

Kalau kita selidiki, nubuah-nubuah dari Lia Eden, dan kitab-kitab agama, pada dasarnya hanya berisi hal-hal normative, seruan-seruan moral, ancaman-ancaman neraka dan malapetaka kepada mereka yang tidak mempercayai nubuatan-nubuatan tersebut.

 

Koq itu tuhan sukanya marah-marah dan mengancam yah? Padahal tuhan semacam itu di dalam Perjanjian Baru pun sudah gak pernah muncul. Tuhan orang Israel yang egois dan penuntut itu, yang siap memberi hukuman dan malapetaka pada musuh-musuhnya, yaitu manusia-manusia ciptaannya sendiri, ternyata sudah dibaptis oleh Yesus menjadi tuhan yang murah hati, penuh kasih, pemaaf, dan panjang sabar. Apa lagi pada umat yang percaya bahwa Yesus adalah juru selamat, wah baik banget deh. Semua dosa-dosa kita akan dimaafkan begitu saja oleh tuhan kristen asalkan percaya pada kesaktian darah Yesus yang tercurah di kayu salib.   

 

Jadi anda lihat, ternyata konsep tuhan yang begitu penuh menakutkan dan penuntut, ditekuk oleh Yesus dan orang kristen jadi tuhan yang lebih humanis dan pemaaf, namun tetap subyektif juga.

 

Namun konsep tuhan yang penuh murka ini, dibangkitkan kembali jilid duanya. Bukan oleh orang Yahudi. Namun oleh orang Arab yang bernama Muhammad. Coba anda bayangkan, umat yahudi selama hampir seribu tahun mencari makna dalam tuhan yang personal, ratusan bahkan ribuan nabi pernah berkarya di sana, tak terhitung pujangga dan rabbi memperluas horizon keagamaan mereka,  maka cara berpikir mereka sudah semakin matang, luas dan dinamis.  Seorang teman kristen liberal menjelaskan bagaimana sebenarnya dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berbagai pemikiran yang kontras dibiarkan ada disitu agar pembacanya merenungkan dan memilih sendiri kebenaran hakiki itu. Jadi alkitab itu sebenarnya bukan satu buku, tapi satu perpustakaan yang menyodorkan banyak alternative sudut pandang.

 

Dan sekarang cara berketuhanan yahudi ini diambil begitu saja oleh Muhammad seorang dengan kurun waktu yang begitu singkat, yakni 22 tahun, dengan cara-cara yang tidak bisa di cross-check, dengan pengetahuan sejarah ketuhanan yang tidak matang, pandangan yang subyektif tribalistik, dan ditemani oleh senjata. Maka tidak aneh jika terjadi eskalasi kekerasan yang begitu maha dahsyat sepanjang pergulatan kelahiran islam dan perkembangan dynasti-disnasty islam.    

 

Dan dalam cakrawala berpikir ala Muhammad ini Lia Eden melihat konsep tuhan, manusia, malaikat dan agama. Ia percaya setiap pengalaman batinnya, lewat shamanisme, adalah manifestasi pewahyuan dari Jibril. Dimana tuhan bersumpah demi ini dan itu akan menurunkan petaka kepada mereka yang menolak keabsahan firmannya.

 

Karena percaya bahwa lewat ‘channeling’nya, baik Muhammad maupun Lia Eden, berasal dari allah yang mutlak, maka setiap firman dan nubuatannya pun mutlak benar. Padahal seandainya memang kitab-kitab itu berasal dari mulut sang Jibril atau Allah, seharusnya ada banyak penyingkapan-penyingkapan tabir misteri alam sebagai suatu lompatan pengetahuan luar biasa yang melampaui pengetahuan manusia jaman itu. Nyatanya kitab-kitab itu tidak berisi hal demikian.

 

Lia Eden percaya begitu saja tentang Taurat, Injil dan Alquran sebagaimana orang awam percaya. Dia tidak tahu bahwa cerita-cerita dalam  kitab-kitab tersebut sebagian besar adalah mitos dan legenda. Berkat pencapaian sains dan filsafat materialisme historis, selama dua ratus tahun pengetahuan theologia kaum kristen Eropa sudah begitu maju dan berhasil mendekonstruksi hantu-hantu mitos dalam benak mereka. Para teolog Eropa sadar bahwa bible itu karya para pujangga, nabi dan ideolog yang mencoba melihat dunia dalam pandangan subyektif mereka, dalam kerangka kaca mata iman tertentu, jadi tidak ada kebenaran obyektif dan mutlak di sana. Maksud dan tujuan penyampaian refleksi iman ini dimediasi dalam karya sastra dalam bentuk legenda, mitologi, epos kepahlawan, madah pujian. Alkitab, dan semua kitab agama manapun bukanlah karya pelaporan jurnalistik yang akurat, tajam, dapat dipercaya langsung dari tempat kejadian perkara. Ia adalah karya sastra. Dan seperti halnya karya sastra, kadang memerlukan figure-figur mitologis transendensi, maka munculah tokoh-tokoh malaikat  jibril, mikail,  dan tokoh-tokoh masa lampau yang sukar dilacak kesejarahannya seperti halnya Adam, Ibrahim, Ayub, dll.  

 

Nah, Kenapa Jibril tidak memberitahu Lia Eden tentang hal demikian? Ya jelas, karena Jibril itu cuman tokoh mitologis karya pujangga-pujangga Yahudi.

 

Inilah kecerobohan orang yang berkanjang dalam hal-hal intuitif.  Menjadikan intuisi sebagai sumber pengetahuan yang sah, akurat dan mutlak adalah fatal.

 

Muhammad mengira bahwa Yesus menuliskan injil secara verbatim, kata perkata disampaikan oleh jibril dan allah sebagaimana ia mendapatkan wahyu dari apa yang ia sebut jibril. Dan ini keliru. Kenyataannya tidak begitu. Yesus tidak pernah menuliskan injil. Injil ditulis oleh generasi kedua dan dari muridnya paling tidak 40 tahun setelah Yesus disalibkan. Mengapa Jibril tidak membisiki hal demikian pada Muhammad? Kemana saja ia selama 500 tahun terakhir?

 

Dan sepanjang saya menyelidiki alkitab, Yesus tidak pernah mengalami trans atau kesurupan seperti halnya Muhammad menerima wahyu. Semua perkataan Yesus ia ucapkan dengan sadar, sebagai nasehat yang berotoritas. Ia tidak pernah berkata, “demikianlah firman tuhan…dsb”. Ia justru berkata, “Aku berkata kepadamu sesungguhnya …….”

 

Hal demikian membuat orang Yahudi takjub, karena tidak pernah ada seorang nabi yang begitu berkharisma seperti dia. Semua nabi Israel selalu memakai frasa .”demikianlah firman tuhan…” atau “Firman tuhan datang kepadaku ….dsb”

 

Namun sebenarnya orang Yahudi tak perlu takjub begitu rupa, sebab nun jauh di timur sana, di India dan China, para Yogi atau pertapa yang berpengetahuan tinggi memang jarang sekali menyambar-nyambar nama dewa ini-itu untuk membenarkan ucapannya, nasihat dan wejangannya. Buddha, Adi Shankara, dan Lao Tze  misalnya, justru mendemitologisasikan dewa-dewa. Manusia yang suci, malah menekuk konsep dewa-dewi langit. Ketika mereka telah tiada, barulah agama-agama terbentuk, kitab-kitab ditulis dan dogma dibakukan. 

 

Kembali pada Yesus. Saya pernah membaca Injil Thomas, dimana kemungkinan inilah injil yang paling tua dan paling mendekati ajaran Yesus. Isi dari Injil Thomas adalah wejangan-wejangan mistik asketik yang tidak melibatkan kisah-kisah mujizat, kebangkitan dan kenaikan Yesus. Dari wejangan-wejangan Yesus kita dapat melihat bahwa baginya keselamatan adalah memberi aras hati kita paling dalam untuk setuju pada hidup yang suci dan sederhana dan berani menolak kenikmatan duniawi. Di situlah keselamatan itu mewujud, bukan dari darah yang tercurah di kayu salib seperti orang kristen percayai.

 

Bagi saya entah itu Jibril, Roh Kudus, roh leluhur, malaikat pelindung dsb, hanyalah symbol dari kesadaran terdalam dalam diri kita sendiri. Karena itu bersifat intuitif, maka ia tidak bisa dijadikan kebenaran obyektif dan mutlak. Intuisi tidak bisa dijadikan basis pengetahuan yang runut, logis, mutlak, obyektif, apalagi jadi basis agama dimana seluruh bangunan keyakinan harus didasarkan padanya.     

 

Justru ketika kita membaca suatu kitab, seharusnya kita mengetahui latar belakang penulisan itu. Siapa penulisnya, di jaman apa si penulis hidup, apa tujuan penulisannya, apa worldview orang sejamannya, kepada siapa kitab itu ditulis, apa latar belakang social budayanya. Genre sastra macam apa kitab itu ditulis, apakah prosa, puisi, epic kepahlawanan,dll. Pula apakah isinya bisa diverifikasi dengan kitab-kitab dari lingkungan interen atau ekstern, sehingga kita bisa dapatkan sejarah yang lebih obyektif dari pada sekedar refleksi iman si penulis dan komunitasnya. 

 

 Tidak ada idea, dalam hal ini yang orang sebut wahyu, yang hadir dalam ruang hampa. Semua idea dalam peradaban manusia muncul dan dikembangkan karena interaksi materi-materi yang ada disana, dalam hal ini manusia, budaya dan cara berpikirnya. Karena itu adalah produk peradaban budaya manusia maka ia tunduk pada dialektika material. Tidak ada sesuatu yang benar secara kekal. Kita semua terus beranjak dalam pengetahuan yang makin luas. Tesa – anti teas dan sintesa. Kemudian sintesa ini akan menjadi tesa lain yang mengundang antitesa berikutnya dst. Ada pengetahuan sains yang secara empiris benar, ada pengetahuan yang masih menunggu untuk disibak. Semua pengetahuan bersifat terbuka untuk kritik dan verifikasi.

 

 

 

 Buddha dan Brahma, Suatu Tinjauan Kritis

 

Seorang teman buddhis pernah menjelaskan pada saya bahwa ketika kita membaca sutra-sutra, hal yang patut jadi paradigma kita adalah bahwa kitab-kitab ini ditulis jauh setelah Buddha wafat. Tidak semua sutra berasal dari bibir Buddha Gautama. Kitab-kitab ini ditulis dalam cara pandang para bikkhu saat itu sebagai wujud respon atas keinginan mereka membakukan ajaran-ajaran Buddha, dan mencoba menjawab permasalahan-permasalahan komuntas mereka saat itu.  Dengan kata lain, sutra-sutra itu memang merujuk pada ajaran Buddha, namun dibalut kerangka berpikir bikhu-bikhu jaman itu, dan mencerminkan kepentingan teologis dan eksistensi komunitas mereka di tengah-tengah komunitas lain yang jauh lebih besar.

 

Harus kita ingat bahwa pada jaman dahulu, dalam kebudayaan manapun, beragama berarti juga berpolitik praktis. Dan lewat penulisan kitab-kitab, ajaran dari sang tokoh yang dibalut dengan kisah-kisah legenda menjadi wadah perjuangan kepentingan-kepentingan politik si komunitas itu.

 

Masih belum mengerti?  Begini, kita ambil contoh satu kisah.  Menurut legenda, ketika Buddha mencapai pencerahannya. Ia ragu apakah ia akan menutup rapat-rapat pengetahuan ini dan membawanya sampai mati atau ia akan sebarkan, mengingat bahwa pemahaman buddhisme begitu rasional dan dingin dari segala mitos-mitos keagamaan brahmana saat itu. Buddha menjadi ragu apakah ada orang yang akan mempercayainya.  

 

Dalam keheningan yang meragu itu, maka muncullah Brahma Sahampati. Brahma (bedakan dengan Brahman) dalam pemahaman agama brahmanisme adalah sosok ilahi yang memerintah suatu alam semesta dan alam semesta yang kita tempati berada dalam kuasa Brahma Sahampati. (Dari dahulu buddhisme percaya ada tak terhitung banyak alam semesta dimana setiap alam semesta diperintah oleh sesosok akal kosmik yang disebut Brahma.) 

 

Brahma Sahampati memberi hormat pada Buddha dan memohon kiranya ia tidak menyimpan  pengetahuan ini untuk sendiri dan menjadikannya rahasia sampai mati karena sepanjang manusia hidup, maka akan terus ada manusia-manusia yang selumbar di matanya hanya sedikit. Untuk orang-orang seperti inilah dharma dari sang Buddha diberikan. Untuk itu Brahma Sahampati berjanji akan memelihara ajaran Buddha sampai akhir masa dharma.

 

Umat buddha awam memahami kisah ini sebagai kebenaran yang begitu saja dan tidak perlu dipahami secara konseptual. Namun beberapa biksu dan cendekiawan buddhis yakin bahwa sebenarnya ini adalah kisah legenda yang menyiratkan kelahiran dari Buddhisme itu sendiri. Gautama memang ragu, jika memang ia harus mengajarkan ajarannya ini, lewat cara apakah ajarannya harus disampaikan? Akhirnya ia memutuskan bahwa ajarannya akan disampaikan lewat pola pikir brahmana, namun dalam ajarannya justru konsep-konsep ilahi itu akan diberi warna baru, bukan manusia yang tunduk pada brahma (konsep ilahi yang berpribadi) justru brahma yang tunduk pada Buddha (manusia yang telah sadar dan manunggal dengan kosmos).     

 

Lewat kisah ini pola pikir brahmana yang menatap ke atas, kepada konsep figure ilahiah, justru oleh komunitas buddhisme dibuat menatap ke dalam diri sendiri, karena buddha adalah kesadaran dalam diri manusia sendiri. Inilah demitologisasi ala buddhisme. Dan ini bukan satu-satunya kisah dimana brahma memohon pada Buddha. Ada banyak kisah yang menceritakan dimana para brahma pun meminta saran dari Buddha. Kalau kita perhatikan sungguh lucu bahwa sosok adikodrati yang memerintah alam semesta mesti meminta saran dari seorang manusia. Justru disinilah perjuangan komunitas buddhis untuk mendapatkan tempat dalam hati masyarakat benua India di kala itu. Bagi Buddha meskipun dewa-dewa dipercaya ada namun ia tidak membawa pembebasan bagi manusia. Baginya brahma dan dewa bukan tujuan keimanan, namun merupakan anasir-anasir alam dan level kesadaran yang dipersonifikasikan dalam rangka suatu komunikasi manusia. Jadi.  Memang apa yang bukan bagian dari alam semesta? Bukankah semua adalah bagian dari alam semesta?

 

Sayang sekali banyak orang tidak paham. Mereka tidak mampu menembus makna dibalik kisah ini.

 

Ketika buddhis berkembang di India utara dan Tibet ia ber-evolusi menjadi Tantra. Ketika buddhisme diterima di China, ia menyerap ajaran-ajaran taoisme yang memang sudah tinggi dan halus, maka buddhisme bertransformasi menjadi zen buddhisme dimana mistime tao  dan etika konfusian menjadi landasannya. Zen buddhisme lebih konsisten pada pencerahan lewat pikiran; beranjak dari kitab-kitab langsung menembus pikiran. Inilah ajaran inti buddha, bukan cerita bombastis ini dan itu.

 

Ketika buddhisme berkembang di Nusantara yang didominasi oleh Shivaisme, maka ia beradaptasi jadi Shiva-Buddha. Bahkan saya juga mendengar bahwa di Amerika ada vihara yang memajang patung Bunda Maria dan foto Yesus di altarnya dan menjadikan mereka sebagai bodhisattva.  

 

Maksud saya di sini adalah untuk memperlihatkan bahwa ternyata agama itu bisa direka ulang, ditafsir ulang, dan berinkarnasi dalam bentuk-bentuk lain. Wajah kekristenan Eropa menjadi lebih humanis karena berubah seiring dengan perkembangan jaman dan kecerdasan manusia.

 

Namun aneh di jaman keterbukaan dan informasi ini, masih saja ada orang-orang bodoh yang ingin memutar-balikkan arah jam, membawa dunia ke jaman jahiliyah, jaman kemunduran, dengan mengusung hukum syariah dan memuja-muja cangkang. Jika Indonesia mau maju, ia harus mengurus orang-orang terkena delusi ini keluar dari mimpi mengerikan itu. Jangan biarkan orang-orang seperti ini menggerogoti bangsa yang terus dirundung duka ini.   

Tidak ada agama yang benar-benar orsinil dan lepas dari agama-agama lain disekelilingnya. Agama adalah bagian dari budaya dan dialektika masyarakat. Kebenaran agama adalah relative. Tuhan berevolusi seturut dengan pemahaman dan kesadaran manusia itu sendiri. Tidak perlu melemparkan jangkar iman pada mahluk-mahluk adikodrati dari alam sana untuk mencari makna terdalam dalam hidup ini. Tidak perlu cari-cari sensasi supranatural dalam spiritualitas.

Temuilah diri sejati dalam kehidupan yang wajar dalam dirimu sendiri, sambil kita terus memperluas horizon pengetahuan kita dalam alam semesta ini dan mendidik lingkungan kita dalam etika, rasionalitas dan tanggung jawab. Masalah spiritual adalah masalah pencarian makna, bukan sistematika berpikir. So pure and simply.  



Mahluk Elf. Teman saya 'lihat' mahluk seperti ini karena pernah lihat di Lord of The Rings. Coba kalo nggak pernah, bakal kepikiran enggak yah?
Iklan