Hampir setiap agama dan kebudayaan memiliki mitos alam semesta. Mesir kuno mempercayai bahwa Dewa Khnumm menciptakan alam-semesta kemudian membuat manusia dari tanah liat, lalu Dewi Hathor meniupkan hidup kepada mereka. Yunani kuno mempercayai, bahwa segala sesuatu dibuat oleh Oceanus, air yang pertama. Cina kuno mempercayai P'an Ku memahat alam-semesta yang sebelumnya berantakan, setelah mati tulangnya berubah menjadi bukit, dagingnya menjadi tanah, giginya menjadi kandungan logam dan seterusnya, keseluruhan kejadian itu berjalan selama 18.000 tahun.



 
ALBERT EINSTEIN menyatakan bahwa: ‘Agama Masa Depan adalah Agama Kosmik. Melampaui Tuhan sebagai suatu pribadi serta menghindari Dogma dan Teologi…’
Ilmu pengetahuan memberikan dugaan bahwa semesta ini berumur 13,7 Miliyar tahun ada juga yang mengatakan 15 Milyar tahun. Penemuan-penemuan fosil manusia purba yaitu keberadaan manusia pertama di Asiabeserta temuan kapak tangan dan alat-alat potong-memotongnya yang berumur 1.83 Juta tahun ditempat yang sama, di Bukit Bunuh [Lenggong-Perak], serta penemuan peradaban Lemuria, yang berusia tidak kurang dari 400.000 tahun telah memberikan konfirmasi pasti bahwa Manusia tidak mungkin berusia kurang dari 1 juta tahun. Di abad 20 ini setidaknya ada 5 hipotesis yang membicarakan penciptaan tata surya dan 2 Hipotesis yang membicarakan penciptaan semesta, diantaranya:

    Tata surya: Hipotesis kabut, (1724, 1796), oleh Imanuel Kant, disempurnakan Pierre Marquis de Laplace, garis besarnya adalah: Tata surya masih berupa kabut yang terdiri dari debu, es, dan gas yang disebut nebula. Unsur gas sebagian besar berupa hidrogen. Ada gravitasi, kabut menyusut dan berputar. Suhu kabut memanas menjadi bintang raksasa (matahari). Matahari terus menyusut, perputarannya semakin cepat. Sebagian dari gas dan es terlontar. Gaya gravitasi, penurunan suhu, gas-gas memadat membentuk planet dalam. Dengan cara yang sama, planet luar terbentuk.

    Semesta: Pada tahun 1922, bermula pada teori relativitas yang ditemukan Einstein, Alexander Friedman dan beberapa Ilmuwan kemudian menuliskan rumusan dari hipotesis Dentuman, garis besanya adalah: Terjadi kondensasi benda angkasa, menyatu, mengecil kemudian meledak. Debu dan gas membentuk bintang. Bintang meledak dan serpihannya membentuk planet-planet, termasuk bumi. Tahun 1927, Georges Lemaître, seorang biarawan Katoli Romawi Belgia, mengajukan teori dentuman besar mengenai asal usul alam semesta, ia menyebutnya sebagai "hipotesis atom purba". 

    Tahun 1929, Hubble melalui pengamatannya menemukan bahwa galaksi mengembang. Penemuan inilah yang kemudian dianggap sejalan dengan teori Lemaître. Pada siaran radio di tahun 1949, Fred hoyle yang menolak hipotesis dentuman, menyebutkannya sebagai ejekan dengan kata "Big Bang" namun kemudian kata itu malah menjadi sangat populer. Penerimaan secara luas Hipotesis Bing bang terjadi setelah Cosmic microwave background radiation [CMBR] ditemukan oleh Arno Penzias and Robert Wilson di tahun 1964

Artikel edisi Oktober 1994, Scientific American menyatakan: Hipotesis Big Bang adalah satu-satunya yang dapat menjelaskan pengembangan alam semesta yang didukung hasil-hasil pengamatan. Namun, Di bulan April tahun 2002, Steinhardt dari Princeton University dan Turok dari Cambridge University, dalam laporan di jurnal Science dan wawancara telepon dengan Associated Press, menyatakan bahwa:

  • Hipotesis Big bang tidak dapat menerangkan apa yang terjadi sebelum Big Bang dan menjelaskan hasil akhir dari semesta.
  • Big Bang hanyalah salah satu bagian dari pembuatan semesta, tapi bukan pelopor dari kelahiran semesta.
  • Ia hanya bagian kecil dari proses pembentukan semesta yang tidak memiliki awal dan akhir.
  • Sehingga penentuan umur semesta, yang muncul dari teori Big Bang, merupakan kesimpulan mengada-ada.
  • Penambahan dan penyusutan semesta terjadi secara terus-menerus, berlangsung bukan dalam miliar tapi triliunan tahun.

"Waktu tidak mesti memiliki awal," ujar Steinhardt. Ia mengatakan bahwa teori waktu sebenarnya hanya transisi atau tahap evolusi dari fase sebelum semesta ada ke fase perluasan semesta yang ada saat ini.

Para ilmuwan yang menyokong teori Big Bang melihat ekspansi semesta ditentukan oleh sejumlah energi yang memperlambat dan mempercepat ekspansi. Energi yang memperlambat ekspansi ini kemudian bergerombol dalam galaksi, bintang dan planet. Energi yang mempercepat ekspansi ini diistilahkan sebagai "energi gelap".

Namun Steinhardt dan Turok melihat bahwa materi semesta tidak sekadar terdiri dari energi biasa dan "energi gelap", tapi juga "spesies ketiga". "Kami melihat rasio energi yang membentuk semesta adalah 70 persen materi unik dan 30 persen materi biasa," ujar Steinhardt.

Materi biasa yang dimaksud Steinhardt adalah materi yang membuat ekspansi semesta lebih pelan, yang mengijinkan gravitasi menciptakan galaksi, bintang dan planet, termasuk bumi.

Sementara percepatan ekspansi didorong oleh "energi gelap" yang menyatukan sejumlah zat dan energi. "Energi ini, sekali mengambil alih semesta, mendorong segala seuatu pada pusat percepatan. Sehingga semesta akan berukuran dua kali lipat setiap 14 hingga 15 miliar tahun sepanjang ada energi gravitasi yang mendominasi semesta," ujar Steinhardt.

Big Bang muncul ketika "energi gelap" mengubah karakter ini. Dengan alasan inilah, kedua ilmuwan fisika tersebut menolak bahwa Big Bang merupakan penyebab kelahiran alam semesta. Karena semesta sudah ada sebelum dentuman itu terjadi. (Sumber: Fisika Net)

Keberadaan mahluk hidup dari sudut menurut kacamata Ilmu modern mengikuti dua teori yaitu Abiogenesis dan Biogenesis namun sejak Louis pasteur berhasil dengan percoabaan leher angsanya maka teori yang diakui para Ilmuwan Modern adalah Bio genesis, secara ringkas teori Louis pastur terangkum dengan kalimat:

     omne vivum ex ovo, setiap makhluk hidup berasal dari telur
    omne ovum ex vivo, setiap telur berasal dari makhluk hidup
    omne vivum ex vivo, setiap makhluk hidup berasal dari makhluk hidup

Akhir dari bumi kita ini di jelaskan di dalam jurnal Inggris, Astrophysics atau pada http://uk.arxiv.org/.Robert Smith, korektor naskah emiritus astronomi di University of Sussex, Inggris selatan dan Dr. Klaus-Peter Schroeder di Universitas Guanajuato, Meksiko, menyatakan bahwa Miliaran tahun dari sekarang, Matahari secara perlahan mengembang..ketika Matahari kehabisan bahan bakarnya, Matahari akan berkembang menjadi "raksasa merah" yang berbahaya..merenggangnya atmosfir bagian luar Matahari menyebabkan Bumi mengorbit di lapisan luar atmosfir yang kepadatannya sangat rendah.

Tarikan itu disebabkan oleh gas dengan kepadatan rendah ini cukup untuk mengakibatkan Bumi mengapung di dalamnya dan akhirnya ditangkap dan dipanggang oleh Matahari. lautan akan menguap, dengan memenuhi atmosfir dengan uap air dan memicu pemanasan besar-besaran.

Namun demikian, sekalipun menjadi garing seperti kerupuk, Bumi akan selamat dari kehancuran total, dan itu akan terjadi 7.6 Mliyar tahun lagi (sumber: Antara)

 Tulisan di atas merupakan pengantar dari artikel mengenai penciptaan semesta. Untuk itu mari kita lihat Semesta dari kacamata 4 agama terbesar di dunia:

Siapakah pemenang gelar Agama Kosmis menurut Einstein? Samakah itu dengan pilihan anda? Kutipan Einstein tersebut sekaligus merupakankesimpulan saya mengenai Penciptaan semesta dipandang dari kacamata 4 agama terbesar dunia.