Banyak orang ketika melihat fenomena alam seperti gempa, erupsi gunung berapi, tsunami, angin rebut dsb, percaya bahwa alam sudah enggan bersahabat dengan kita.
Hemat saya keyakinan ini subyektif dan tidak menyertakan kebenaran empiris, hanya ekspresi psikologis semata.

 

Alam bekerja dalam naturnya sendiri. Ada ritme alam yang tak seorangpun, dan tak satu ilah khayalan agama manapun mampu mengintervensi.

Mesti dibedakan antara kejadian  alam yang murni karena ritme alam spt yang saya sebut diatas, dengan kejadian alam karena akibat dari intervensi manusia yang mengakibatkan ketidakseimbangan alam, misalnya perusakan hutan yang mengakibatkan erosi dan banjir bandang, pemburuan salah satu binatang yang mengakibatkan putusnya rantai makanan, pemanasan global akibat penggunaan bahan bakar beremisi karbon dsb.

Yang pertama adalah murni karena  alam, yang kedua terjadi karena kebodohan dan keserakahan manusia.

Namun entah itu faktor pertama atau kedua, ketika itu memakan korban tentu saja sebagai manusia yang berdimensi psikologis dan spiritual kita sepakat menganggapnya sebagai bencana kemanusiaan.

 

Bedanya orang yang candu agama, semacam Tifatul Sembiring, sontak, neurosis langsung menyambar ayat-ayat kitab jadul untuk membenarkan pandangan sempit subyektifnya, menganggap bahwa kejadian alam tersebut sebagai cambukan dari tuhan yang katanya maha rahim tapi tega-teganya menggertak para manula dan kaum papa, sedangkan para koruptor dibiarkannya pergi haji berkali-kali tanpa ada balasan nyata.

Sedang orang yang humanis, rasional spiritualis menjadikan kejadian itu sebagai momen untuk melakukan karya nyata bagi sesama. Sambil memikirkan upaya preventif di kemudian hari.

Lihatlah… tidakkah rasionalisme justru menjadikan orang lebih bertanggung jawab pada dirinya, sesamanya dan alam?

Kita adalah portal kesadaran dalam alam ini.  Mau dikemanakan diri ini, masyarakat ini, bumi dan alam ini yang menopang keberadaan kita, tergantung dari tanggung jawab individu dan kolektif kita, bukan tanggung jawab dari ilah-ilah khayal bentukan mitos-mitos agama.  

Marilah kita didik anak-cucu kita dalam rasionalitas, etika, dan tanggung jawab. Sebisa mungkin jauhkan mereka dari fanatisme agama, sekalipun agama secara formal diajarkan di sekolah. Itu langkah nyata kita sebagai wujud bakti dalam hidup. Entah nanti mereka tertarik dengan spiritualitas / misitsme atau tidak, itu bukan urusan kita. Spiritualitas hanyalah cara memandang hidup, jadi bukan untuk diwariskan. Yang empiris adalah seberapa bertanggung jawab kita merespon dan bersosialisasi dalam hidup ini.

Sementara itu marilah kita pancarkan gelombang energi, harapan, pikiran dan penghiburan semoga semua mahluk mendapatkan kebahagiaan dan dijauhkan dari penderitaan. Demikianlah harapan ini aku panjatkan. Semoga terjadilah.