“Keong Racun”!

 “Dasar kau keong racun, baru kenal, eh, ngajak tidur…, kau goda diriku kau rayu diriku….”

Entah sudah banyak yang sadar atau tidak, politik dan demokrasi di Indonesia masa kini sesungguhnya adalah keong racun. Sudah banyak orang yang –baik sadar atau tidak sadar- menjadi korban keong racun politik-demokrasi di Indonesia.


Politik itu kejam. Kejam tapi menggiurkan. Demokrasi di Republik ini adalah kebenaran versi yang banyak. Siapa yang lebih banyak, bertaring dan bercakar, dialah yang dianggap benar. Benere dewe, benarnya sendiri. Tapi tidak sendirian, melainkan banyak-banyakan, kuasa-kuasaan.

Bullshit politik-demokrasi menempatkan kedaulatan ditangan rakyat. Di muka bumi Indonesia ini kedaulatan dipegang oleh pemerintah yang sejatinya adalah gundik para kapitalis alias “penjajah” rakyat jelata!

Fakta yang ada sekarang, kedaulatan yang ada sekarang berada ditangan kapitalis yang mempunyai modal besar. Atas nama rakyat, bajingan-bajingan kapitalis itu perlahan tetapi pasti mengeruk harta rakyat dengan rayuan keong racunnya mengobral janji-janji gombal. Yang menyeramkan, mereka sangat bernafsu memperkosa berbagai sumber daya alam, dan mengeksploitasi aset-aset bangsa yang sebenarnya milik rakyat bersama, mereka meraup keuntungannya sendiri dan menjadikan orang-orang terdekat mereka makin gemuk, makmur, berkuasa, kaya-raya, dstnya.

Sebagai contoh; hasil bumi Papua sangat kaya raya. Freeport adalah tambang tembaga terbesar di dunia, belum lagi tambang emasnya. Tetapi rakyat Papua sangat miskin, bahkan Papua dan Papua Barat menjadi dua propinsi termiskin di Indonesia. Ini benar-benar gila bin edan dan sangat kurang ajar! Yang kaya dan makin gemuk adalah penjajahnya yakni para kapitalis yang didukung oleh pemerintahan yang dzolim, pemerintah yang telah menjajah bangsanya sendiri! Pantaslah jika ada rakyat Papua yang ingin merdeka, sebab mereka bukan sekedar hanya merasa dijajah, melainkan mereka memang hakikatnya sedang terjajah!

Keong racun. Baru kenal sudah ngajak tidur. Tidur bukan sembarang tidur. Mengajak tidur lelap meninggalkan-melupakan realita, dan selanjutnya masuk ke alam mimpi-mimpi belaka. Dibius masuk dalam pekat alam impian, bak mimpi (janji-janji gombal amoh) yang berhasil diberikan pada gadis lugu dari desa yang hendak menggapai bintang di langit metropolitan. Saat mimpi itu disangka hendak menjadi kenyataan, segeralah harta paling berharganya dirampok habis-habisan, kemurnian dan normanya terkoyak-koyak, nilai-nilai luhur mulia warisan nenek moyangnya perlahan tetapi pasti mulai terkikis oleh kenajisan metropolis. Merusak realita masa depan yang luhur bagi kemanusiaan, bahkan menghancur leburkannya. Menciptakan lobang hitam yang menganga angker. Yang selanjutnya, setelah perselingkuhannya dengan impiannya itu menghasilkan buah, maka ditahun-tahun terkemudian lahirlah bayi-bayi bejat-bertaring, yang tumbuh kembangnya diasupi susu haram oleh pejabat pemerintah, yang segera akan tumbuh besar dan menjadi drakula-drakula kapitalis penghisap darah.

Sedikit orang yang mampu terjaga/tersadar dari racun impian alias rayuan gombal amoh yang ditebarkan oleh keong racun. Mimpi-mimpi indah yang sebenarnya busuk itu, yang diciptakan oleh para tuan (pemerintah). Para penguasa yang lalim!

Demokrasi made in pemerintah, yang sebenarnya adalah bajingan-bajingan tengik bertopeng juruselamat itu, begitu indah kala dijanjikan oleh mulut manis mereka, agung dibayangkan, dikira mampu memuaskan hasrat yang selama ini terpendam. Dan memang perkiraan tersebut benar. Benar bagi golongannya sendiri. Yakni politik-demokrasi mampu membuat hasrat libido para pelakunya tersalurkan seketika, apalagi dipoles dengan topeng baru bergembor pembela HAM (Hak Asasi Manusia) yang membuat demokrasi makin lihai bergerak liar dan rakus saja, hingga sering menggelinjang-gelinjang lupa daratan. Apalagi ditambahi dengan “pil-pil mak erot” (perangsang dan pemacu) berupa KEKUASAAN dan KORUPSI yang manjur membuat gurita penguasa makin bertahan lama, besar dan makin panjang. Membuat para pelakunya sanggup berulangkali kali mencapai “orgasme kenikmatan mimpi”. Ber-uhh..ahh…uhh..ahh… dengan tak tahu malu meskipun “maninya” (baca: kerakusannya, keserakahannya, semangat koruptifnya, hasrat kapitalisnya) sudah menyembur muncrat tak karuan di sana-sini disaksikan jutaan rakyat yang hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengelus dada, diiringi tangisan kaum papa yang terpaksa hanya bisa nelangsa saja setelah diperkosa para penguasa. Seperti korban lumpur lapindo yang adalah korban perselingkuhan antara pejabat pemerintah bajingan dengan perusahaan pemerkosa alam. Tangis para korban hanya ditepiskan, seakan dianggapnya raungan binatang saja.

Para pejabat, yang sulit dibedakan dengan penjahat itu, suka petentang-petenteng kunjungan ke sana kemari, dengan berbagai simbol kemewahan melekat di sekitarnya: rumah mewah, mobil mewah, safari mahal, sepatu mengkilat buatan luar negeri, jam tangan emas-perak hasil merapok kekayaan negeri yang sebenarnya milik bersama, hingga senyuman malaikat yang sebetulnya hanyalah topeng guna menutupi jiwanya yang adalah vampire, setan gondol, sontoloyo!

Segala simbol kemewahan para penjahat (pejabat), yang tiap hari riwa-riwi menebar pesona di negeri ini sambil terus mengeksploitasi rakyat miskin, semua itu hanya makin menelanjangi kesenjangan sosial yang memang sudah telanjang bulat di negeri tempat bernaung para bangsat ini. Sebutan “bangsat” yang pernah muncrat dari mulut Ruhut Sitompul layak dikenakan pada diri mereka sendiri. Ya, rupanya, sejatinya, mereka bukan bangsa Indonesia, melainkan bangsat Indonesia!

Hhhh….! Politik dan demokrasi, yang kini ada di tangan pemerintah Indonesia, adalah keong racun!

Wahai Pak Presiden beserta antek-antekmu, yakni para pejabat (penjahat?) pemerintahan mulai tingkat pusat hingga tingkat daerah, sudah terlalu sering, kau goda diriku …kau rayu diriku…. Kau tak tahu malu…. Dan, …kutakut sekali..!

Ah…, dasar kau, keong racun!