Tag

ImageGeorge Garcia menelpon saya berkali kali saat saya sedang mencoba sejumlah baju di toko TJ Max.Dia bertanya jam berapa saya bakal muncul di Chapel of Flowers tempat adiknya melangsungkan akad nikah jam 11 nanti. Saya bilang, saya tidak sadar kalau bapaknya mengundang saya di acara seremonian, yang saya tahu doi cuma mengundang di acara kendurian alias ngumpul ngumpul sambil makan makan doang. Acara kesukaan saya sejak dulu masih tinggal di Indonesia. Jadi saya cuma bisa minta maaf tidak bisa menemui mereka di itu gereja .

Jam 1 siang kemudian, dalam perjalanan ke rumah keluarga Garcia saya sempat singgah di Applebee Restorant untuk beli giftcard seharga $40 sebagai kado kawinan. Dari kejauhan mobil nampak menyesaki pinggiran jalan. Sejumlah banner dan pita warna warni menyambut tamu memasuki area keluarga Mexican ini berfiesta kendurian di rumah oversize berkamar 5 dan terakhir lantaran krisis ekonomi di Nevada, megap megap susah dibayar cicilan bulanannya.

Pesta sedang berlangsung meriah. Komposisi etnis yang hadir jelas didominasi oleh latino. Dari ratusan orang yang hadir cuma saya yang berasal dari Asia dan satu bule nyasar yang kemungkinan adalah tetangga sebelah. Sebagian laki laki berbaju kotak kotak bagai anak gang yang berdomilisi di Petamburan. Sebagian perlente dan dandy tapi sebagian lainnya bermuka keras bagai petani bawang di Kendal di Jawa Tengah. Saya memberikan kado kawinan buat Hagar Garcia dan mengucapkan selamat sambil memeluk pengantin dia yang rada endut dan kelihatan begitu muda. Umur Hagar baru 21 dan istri dia 17. Dari bentuk buncit perut istrinya saya bisa menebak dua kemungkinan, jika dia tidak hamil tentunya sang bini pasti maniak makan atau penggemar ekstrim nacho dan burito yang memang gampang membuat gendut perut orang. Melihat pasangan muda ini slow dance dengan lagu lagu romantis saya mulai membayangkan yang tidak tidak. Masa depan mereka jelas sulit ditebak. Cuma lantaran bekal hidup yang masih minim kemungkinan besar mereka bakalan mudah goyang menghadapi trauma kehidupan. Hagar misalnya cuma lulus sma, istrinya tidak. Hagar kerja serabutan,Istrinya orang rumahan. Sebersit ide nakal datang, kocak juga jika lagu mereka dansa diganti dengan lagu" Too Young to be Married " nya Hollies.

Sebagian besar cewek muda di pesta bertubuh sangat gempal. Tapi sebagian kecil senorita cantik dan seksinya luar biasa. Kalau happines itu diukur dari skala kecantikan istri, Hagar jelas salah pilih dan hidup dia bakalan unhappy. Cuma cinta sejati menurut pepatah bijak adalah seperti orang tunanetra jadi tidak bisa dilihat dengan mata mesti diraba raba. Tentang yang bagian mana yang telah diraba Hagar saya tidak mau memberi komentar lantaran itu sudah masuk arena pornography.

Image

Nacho, keripik Tortillas berserakan di mana mana. Sambel Salsa mereka tidak sepedas masakan Padang.Saya duduk di sofa mencoba membandingkan kendurian orang mexico dengan orang Indonesia. Walaupun kendurian orang mexico lebih meriah, festive dan jauh lebih berisik, kendurian di Indonesia lebih mengalir dan lebih asik. Kendurian di Indonesia ditreat sebagai seremonial yang sakral, makanya pengunjung yang datang memakai baju yang rapih dan formal. Sedang di seremonial ini beberapa Jose dan Menendez datang dengan celana jeans dan kaos kutang tidak lupa sepatu boot mereka agak dekil mungkin lantaran baru pulang dari kerja kontruksi. Anak anak kecil di kendurian Indonesia juga tidak seliar anak kecil orang latino di sini. Contohnya si kecil Mario yang muter muter dan melompat lompat bagai angkot liar menabrak kaleng softdrink di meja yang sebagian isinya berhamburan menodai gaun pesta beberapa senorita. Tidak lama senorita itupun bangkit dan berdiri berteriak massal aiiii aiii..yo puto madre! Saya tidak mengerti artinya..mungkin aduh kamu cute dan lucu.

Garcia, orang tua sang mempelai nampak bahagia sekaligus khawatir. Mungkin otaknya sedang mikir mikir bagaimana kalau si hagar tidak mampu bayar sewa apartemen lalu siapa yang bakal bayarin istrinya melahirkan nanti.Tapi cuek ajalah..Que sera sera..whatever will be, will be..gimana nanti bleh.. tidak lama diapun ikutan dansa ala folkoric ballet Zacatecas. Buset deh memang…tua tua juga dia ngga kalah lincah dengan anak muda ( Garcia berumur 14 tahun lebih tua dari saya ).Bagi yang ingin berdansa dengan mempelai, mereka menempelkan uang dolaran dalam peniti baik dibaju pengantin perempuan atau laki laki. Tidak memakan waktu lama jas si Hagar dan terutama bininya mulai dipenuhi uang dollaran. Musik makin kencang dan mereka makin girang.

Hawa makin pengap di dalam lantaran AC tidak mampu mendinginkan sekian banyak orang dalam satu ruangan. Saya keluar mencari udara segar. Dari pintu kaca halaman belakang saya melihat ke dalam mereka masih asik berjingkrak jingkrakan. Sungguh aneh melihat mereka muter muter melompat lompat dari posisi sini. Lantaran pintu kaca yang kedap suara, menonton mereka seperti film bisu atau menonton film Grease tanpa suara. Saya ikutan senang dan happy bisa hadir di sini. Garcia telah menganggap saya sebagai suadara. Sebuah pesawat melintas jauh di atas sana. Jejak asapnya menoreh langit barat.Lalu tidak lama setelah belasan tahun tidak pernah merasakan kendurian di Indonesia, desakan kuat menyuruh saya pulang dan merasakan ritual itu kembali. Cuma ironisnya belakangan ini keluarga saya lebih banyak menyelenggarakan acara kematian dan perkabungan dari pada kendurian. Saya bosan menerima kabar yang beginian

October 7, 2010

Habe