Aku mengipas-kipasi tubuhku yang kebasahan oleh keringat. Sementara di kejauhan sana suara deburan ombak yang saling berkejaran memecah bibir pantai. Di atas nampak beberapa burung camar melayang-layang. Sesekali memekikan suaranya yang khas. Demi informasi yang kuterima dari seorang teman di Bandung, aku menempuh perjalanan dari Jakarta ke Pangandaran untuk bertemu seseorang. Temanku mengatakan bahwa di pantai ini, ada seorang lelaki tua bijaksana. Mungkin saja orang tua ini bisa membantuku memecahkan teka-teki ini. Teka-teki yang kudapat lewat mimpi.

 

Waktu berlalu tak terasa. Semenjak pertemuanku dengan Mbah Ateis Pietis itu di Magelang, belasan tahun sudah berlalu. Dan selang waktu itu aku telah menyelami berbagai khazanah pemikiran agama-agama, filsafat barat dan timur, praktek-praktek meditasi dsb. Semua itu menambah spectrum berdialektika dalam diriku.

 

Aku duduk di bale-bale rumah tua ini. Di depanku tersaji makanan dan minuman khas daerah pantai, kelapa muda plus es batu, ditambah goreng pisang, goreng singkong dan goreng bakwan. Istriku yang berasal dari Bandung menyebutnya ‘bala-bala’. Sungguh penamaan yang lucu, mengingatkanku pada lagu My Baby Baby Bala-bala.

 

Menurut info teman, pak tua ini tadinya seorang dosen dan pengurus sebuah yayasan yatim piatu di Jakarta, yang selepas pensiun, ia hijrah ke pesisir Pangandaran untuk menyepi dan bercocok tanam. Namun sudah sejak lama ia menekuni spiritualitas.

 

Dari dalam keluarlah sesosok laki-laki tua yang berwajah cerah. Menyapaku dengan ramah.

“Wah pasti capek yah perjalanan dari Jakarta ke sini.” katanya sambil mengulurkan tangan untuk berjabatan tangan.

“Hahhahaha rasa capek ini tidak sebanding dengan kesempatan yang saya dapat untuk bertemu bapak.” Jawabku memuji.

 

Singkatnya kami bertemu dan saling memperkenalkan diri. Ia seorang laki sederhana. Baik dari penampilan, maupun tutur kata. Bahkan terkesan pemalu.

 

Kami berbicara ini dan itu seputar Jakarta, seputar pengalaman berkunjung ke berbagai tempat (ingat bahwa aku penah jadi seorang backpacker dan pengamen), tentang tempat wisata Pangandaran yang masih sekitar 2 kilo lagi dari tempat ini.  Dan akhirnya aku langsung menuju permaksudan kedatanganku ke tempat itu. Aku ceritakan mimpiku dan memohon perkenanannya untuk menafsirkan artinya. Ia menahan nafas panjang dan mengatakan padaku bahwa dia bukan seorang psikoanalis. Meminta dia untuk menafsirkan mimpi adalah keliru. Namun aku bersikeras bahwa aku hanya ingin berbagi saja. Siapa tahu ia memahami arti mimpi itu.

 

Dengan mata yang seakan-akan kosong namun menembus menghujam jantungku, ia menatapku dengan seksama lalu memintaku menuturkan mimpiku.

 

Setelah aku ceritakan, maka ia tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya.

“Jadi bapak tahu arti mimpi itu?”

“Ya”.

“Apa artinya?” tanyaku berdebar-debar.

“Minum, makan, tidur, mencari nafkah, bernyanyi dan tertawa. Kenapa musti dipikirin? Cuman mimpi saja koq.”

 

Lah… sekarang aku yang bengong. Tadinya aku pikir ia akan menafsirkan mimpiku. Alih-alih memberi tahu artinya sekarang ia malah menyodorkan makanan dan minuman itu lebih dekat ke arahku.

 

“Indah sekali pantai hari ini, seindah kehidupan semesta …..” katanya lirih sambil melihat ke pantai.

 

Karena ia terkesan malas berbicara, maka aku pun akhirnya memilih untuk mengenyangkan perutku dengan apa yang ada di hadapanku.

 

Setelah aku cukup kenyang, maka Pak Tua ini berkata:

 

Pada hakikatnya, oh musafir, diri ini cerlang, bagaikan intan yang masih berupa batu kasar. Adakah perbedaan hakekat antara intan yang telah digosok dengan intan yang masih berupa batu? Tidak ada bukan? Seperti halnya intan yang ditatah, digosok, dipoles dan dibersihkan, demikianlah, oh musafir, bathin ini. Ia harus mengalami ketidaknyamanan agar kecerlangannya nampak.

Untuk itu aku katakan pembebasan itu adalah kecerlangan.

 

Seperti halnya sebuah jarum yang jatuh ke dalam genangan lumpur, oh Musafir. Seluruh bagian jarum itu terselimuti lumpur. Adakah jarum itu akan tertarik oleh magnet ketika ia didekatkan padanya? Apakah sifat besi dalam jarum itu menghilang manakala ia terjatuh ke dalam lumpur? Tidak bukan? Untuk itu si jarum harus dibersihkan dahulu. Maka ia akan tertarik oleh magnet.

Untuk itu aku katakan pembebasan adalah lepasnya segala kotoran yang selama ini menutup hakekat bathin yang sebenarnya.

 

Musafir, manakala setitik air hujan jatuh ke dalam samudra. Apakah setelah ia masuk ke dalam samudera kita tahu dimanakah titik air hujan itu? bisakah kita bedakan titik air itu dengan air samudera? Tidak bukan? Dan segera setelah titik air hujan itu larut dalam samudera, dapatkah ia membedakan dirinya dengan air samudera? Ataukah ia larut dalam air samudera itu dan tidak mampu membedakan dirinya dan air samudera itu? bahkan kata ‘ia’ atau ‘diri ini’ pun, dan keinginan untuk mengidentifikasikan ‘diri ini’ pun yang berbeda dengan ‘diri yang lain’ sudah tidak akan hadir bukan?

Untuk itu aku katakan pembebasan itu adalah pelarutan.

 

Oh Musafir, dalam pada apakah kita bisa tahu bahwa pelepasan, pelarutan dan kecerlangan itu hadir?

 

Manakala dalam keheningan yang mendalam, ketika segala suara, gambaran, keceriaan, kesukaan yang ditimbulkan dari kesendirian, kegersangan, ketiadapegangan, kekosongan dan ketiadapastian  konsep, bathin ini tidak menemukan kaitan antara aku, diriku, dan miliku dari apa yang sedang dialami. Bathin ini tidak menemukan aku, diriku, dan milikku dari semua yang nampak dalam benak dan pengalaman itu.

 

Dalam apa yang dilihat, dirasakan, dicerap usahakan agar bathin ini tidak memberi diri dikaitkan dengan semua pengalaman itu. Bagaikan alam yang hening tiada memuji, tiada mengeluh dan hanya asyik melihat, dan menyokong, dan merahimi mahluk2 hidup menjalani hidupnya dalam kodratnya masing-masing, demikianlah, oh musafir, bathin yang hening itu. Dari alam semua lahir, dalam alam semua bermain dan kepada alam semuanya akan kembali.

 

Oh musafir, dalam hakekat yang terdalam sesunggunya tidak ada pembeda antara bathin ini dengan semesta. Hanya karena keinginan akan kepastian dan ketakutan akan ketidakpastianlah yang menjadikan bathin ini terpisah, menjauh dan terpenjara. 

 

Bagaikan sepotong kayu yang terus mengapung di tengah aliran sungai dan tidak tertarik untuk merapat ke sisi kanan atau sisi kiri sungai, tidak tersandung kepada apapun yang menghalangi perjalannya ke samudera, demikianlah oh musafir, bathin ini harus senantiasa bersih dari keberpihakan dan ketidaksukaan akan sesuatu. 

 

Ketika keinginan akan kelahiran dan kematian telah berakhir.

Ketika kejijikan akan kelahiran dan kematian ini telah ditinggalkan.

Ketika kelekatan kepada menjadi dan tidak menjadi sudah diabaikan.

Ketika ketakutan kepada tidak menjadi dan menjadi sudah sirna.

Ketika rasa haus akan pencerapan dan pemahaman akan konsep sudah ditawarkan.

 

Ketahuilah oh musafir, bahwa kesedihan itu sudah teratasi.

 

 

Spiritualitas sejati hadir manakala rasio dan integritas berjalan seimbang tanpa ada satu yang harus ditinggalkan, atau diabaikan.

 

Spiritualitas sejati menyapa manakala kegiuran akan kepastian iman ditanggalkan dan mulai berani meretas perjalanan diri menuju lapang terbuka di mana cakrawala luas memanggil dan merentangkan tangannya untuk merengkuh kita.

 

Setelah mengatakan semua itu, kami terdiam membisu. Hanya ada senyum dan tatapan penuh arti keluar dari wajahnya. Tidak ada kata. Tidak ada emosi. Namun rasanya waktu berhenti. Ruang dunia nampak bertambah terang. Ada getar kelembutan terpancar dari Pak Tua ini. Keteduhan hati sebagai buah dari kehidupan meditatif dan kematangan dalam usia senja. Apakah keadaan seperti ini yang disebut dalam legenda-legenda buddhis sebagai transmisi dharma tanpa kata?

 

Tiba-tiba aku sadari angin dari berbagai arah bertiup ke atas rumah itu. Pohon-pohon kelapa, mangga, dan jambu air bergetar menjatuhkan bunga-bunga yang baru mekar. Burung-burung berputar-putar dan bernyanyi di atas rumah sederhana itu. Tak lama kemudian disusul titik-titik hujan membasahi sekitar rumah itu, hanya ditempat kami berada. Titik-titik air kecil itu jatuhnya begitu lambat dan lembut seakan-akan seperti salju, bagaikan mahluk-mahluk mayapada menari-nari menaburkan bunga-bunga surgawi. Mahluk-mahluk gandaba memainkan alat-alat musik surgawi, sedangkan anak bajang menari-nari seturut alunan musik itu.  Angin sepoi kemudian berhembus menambah marak suasana. Tiada waktu, tiada ruang, tiada pikiran.

 

                                                      *******

 

Beberapa minggu sebelumnya. Setelah meditasi malam hariku aku tertidur.

Entah berapa lama aku tertidur, namun tiba2 kesadaranku terbangunkan.

Aku mendapati diriku sedang bermeditasi dalam alam antah berantah.

 

Dalam keheningan samadhi tiba-tiba nampak padaku sesosok wanita cantik dalam penampilan yang benar-benar menakjubkan. Wanita itu duduk di tengah teratai putih yang sedang melayang-layang di udara. Di sekelingnya ada angsa dan merak berterbangan menari-nari. Wanita ini memiliki empat lengan. Dua lengannya memainkan veena, alat musik sejenis sitari. Sementara satu lengannya memegang kitab berupa kumpulan daun lontar. Dan satu lengannya memegang tasbih, rosario atau mala . Dari kecapinya mengalunlah nada-nada indah yang menyegarkan jiwa.

 

Aku tahu inilah Dewi Saraswati. Sungguh menarik bahwa aku yang rasional tak pernah terlintas dalam diriku untuk mencari bentuk-bentuk dalam meditasi, namun sekarang mengapa aku ditampaki sosok Dewi Saraswati?

 

Seorang teman penempuh spiritualitas pernah berkata kepadaku.

“Oh musafir, jangan pernah membatasi dirimu untuk menerima pengetahuan baru. Jangan pernah menganggap enteng akal budimu. Karena, seberapa luas sang intuisi dalam diri ini mampu menerjemahkan penembusan makna, tergantung seberapa luas pemahamanmu tentang pengetahuan. Seberapa tajam kesadaran bathin ini menerima pengetahuan dari semesta, tergantung seberapa luas cakrawala pengetahuanmu. Untuk itu bukalah akal budimu pada pengetahuan seluas-luasnya. Kejar. rengkuhlah dan peluklah pengetahuan, kemudian tembusilah dia untuk menuju pengetahuan baru yang lebih tinggi. Jangan engkau melekatinya, namun tembuslah. Selalu haus akan pengetahuan adalah cinta. Karena semesta ini adalah pengetahuan dalam cinta, dan cinta dalam pengetahuan”

 

Sejak mendengar nasihat sang teman, aku tak pernah membiarkan diriku melekat pada suatu ajaran atau metoda. Aku menikmatinya dan menembusinya, melihat dengan jernih kekurangan dan kelebihannya. Aku menyenangi filsafat barat, filsafat timur, mitologi hindu, mitologi yunani, mitologi buddhis  bukan untuk mengagung-agungkannya, namun untuk menembusinya dan memperluas cakrawala akal budiku.

 

Dalam mitologi hindu Dewi saraswati adalah personifikasi dari pengetahuan, seni, dan musik.

Saraswati diambil dari kata ‘saras’ yaitu aliran dan ‘wati’ yaitu perempuan. Jadi saraswati adalah symbol dari pengetahuan yang terus mengalir dari sang kehidupan bagaikan wanita cantik gemulai yang memainkan musiknya. Musik keindahan.

 

Jikalau Dewi Saraswati ini “menampakan diri” (perhatikan dua tanda petik ini) dalam mimpiku, berarti ada sesuatu dalam alam bawah sadarku yang ingin memberitahuku alam sadarku lewat symbol ini. Bukan suatu entitas lain dari alam lain yang menghampiriku, namun kesadaran dalam bathin ini yang yang terhubung dengan kesadaran semesta yang ingin menyingkapkan suatu tabir kepadaku lewat simbol-simbol  ilahi.

 

Dengan tenang senyum yang memikat dan tangan-tangan lembut nan lincah Dewi Saraswati memainkan kecapinya. Nada-nada indah mengalun memenuhi semesta. Sementara itu tak terbilang berbagai bentuk kehidupan ditopang oleh nada-nada itu.

 

Dalam keheranan, tiba-tiba bibir ini mengucapkan suatu tanya:

 

“Dewi saraswati, aku tahu bahwa kitab di tanganmu menyimbolkan pengetahuan. Aku tahu bahwa alat musik di tanganmu menyimbolkan kesenian. Namun aku tidak tahu untuk apa ada tasbih / mala di tanganmu. “

 

“Untuk memanggil.”

“Untuk memanggil siapa?”

“Untuk memanggil diriku.”

“Hah, untuk memanggil dirimu sendiri? Para pemujamu memanggil dirimu dengan mantra. Lalu dengan mantra apa engkau memanggil dirimu?”

“Musafir, jika manusia memanggil diriku dengan mantraku, sedang aku sendiri memanggil diriku dengan mantraku, berarti engkau sendiri harus memanggil dirimu sendiri. Bukan sesuatu di luar dirimu, tapi sang sejati dalam dirimu sendiri yang harus kau panggi dan kau bangunkan.”

 

Aku tersentak bagai dikejutkan oleh arus listrik.

Kenapa selama ini aku tidak sadar?

Kenapa aku tidak memanggil sejati dalam diriku? Mengapa aku mencari di luar diri ini?

 

Lalu dari bibir ini terucaplah doa sejati:

om ah hum

om ram svaha

om aham brahmasmi  akulah sang brahman

ana al haq  – akulah sang hakekat

aku dan sang sumber adalah satu. sang sumber di dalam aku dan aku di dalam sang sumber. 

om gate –gate paragate parasamgate bodhisvaha – lepas-lepaslah segala kemelekatan, biar sang sadar dalam diri ini menempuh pantai seberang.

 

Terus menerus aku japakan doa suci itu.

 

Saat itu sang dewi memainkan suatu lagu begitu indahnya. Lagu yang sama sekali tidak asing bagi telingaku. Lewat syair dalam lagu itu ia bagaikan memanggil aku ke dalam dirinya. Bagaikan nyiur di pantai yang memanggil-manggil pulang para pelaut setelah penat mencari ikan, bagaikan seorang bapak tua yang merindukan anak yang terhilang.

 

Aku meresponi panggilannya, tiba-tiba aku dapati diriku sendiri yang memainkan kecapi itu. dengan kedua tanganku aku mainkan kecapi itu, sementara dua tanganku yang lain menggengam kitab dan tasbih. Sang kitab bersinar terang, darinya keluar gelombang2 pengetahuan semesta. Sementara sang mala terus berputar seiring dengan jari jemari tanganku yang memutarnya. Dari bibir ini terucaplah rahasia2 alam.

 

Kemudian aku terhisap dalam sinar. Terbang menuju langit yang lebih tinggi.

Kemudian aku dapati diriku menari. Nafasku adalah nafas semesta, mataku adalah mata semesta. Kaki dan tanganku memainkan tarian semesta. Dari tarian ini keluarlah gelombang-gelombang energy yang menopang kehidupan semesta.

 

Tubuhku bagai menciut kemudian mengembang dengan hebatnya

Bergetar namun tidak terasa ada gerakan

Melebar namun tetap dalam ruang keberadaanku

 

Kemudian secara serempak aku menyadari segala kontradiksi dalam diriku menjelma

 

aku adalah partikel terkecil dalam debu

aku adalah ruang yang mewadahi tak terhitung semesta alam

 

aku adalah kekosongan, bagian terkecil atom yang tak terpecahkan lagi

aku adalah segala-galanya yang mewadahi kesegalaan yang nampak dan tak nampak oleh mata manusia  

 

dari kemahiranku terjalinlah rangkaian segala semesta dan hukum-hukumnya

bagaikan serat-serat dalam tubuh yang lahir, bertumbuh, mengembang dan mati terurai

dari kemampuanku mengalirlah segala apa yang nampak dan tersembunyi

 

bagaikan gelembung-gelembung air mendidih dalam wajan tertutup rapat yang dipanaskan, mereka terbentuk, mengembang, pecah dan kembali air begitu pula tak terbilang alam semesta terbentuk, berkembang dan hancur dalam ruang dan waktu yang mengalir dari pusarku 

 

akulah bintik warna terkecil dalam sayap kupu-kupu

aku adalah badai yang mengamuk meluluh lantakan apapun di sekitarnya

 

aku adalah buih ombak terkecil

aku adalah samudera dimana segala aliran sungai tertampung

 

aku adalah lumpur kotor yang dihindari untuk diinjak orang

aku adalah kuncup bunga teratai cantik yang hendak mengembang

 

aku adalah derai tangis bayi yang baru lahir

aku adalah gemulai manja gadis yang baru beranjak akil balig

aku adalah cacing yang bersuka ria mengurai jasad yang baru mati

 

aku adalah kecemerlangan mentari di ufuk timur

aku adalah panas menyengat matahari yang rembang di tengah hari

aku adalah hitam kelam malam yang menakutkan

 

aku adalah arjuna, sang murid yang setia

aku adalah krishna, sang guru yang bijak

aku adalah pengetahuan yang keluar dari bibir krishna

aku adalah akal budi arjuna yang mencerap pengetahuan itu

 

aku adalah pekik kuda perang

aku adalah debu yang ditimbulkan dari derap kaki kuda-kuda perang

 

aku adalah cakra, senjata ampuh yang membelah angkasa 

aku adalah air yang memberi kehidupan

 

aku adalah jerit tangis janda yang baru kehilangan suaminya di medan perang

aku adalah keceriaan manusia yang menyaksikan tangisan pertama seorang bayi

 

akulah sang awal, sang tengah dan sang akhir.

akulah kehidupan, pemeliharaan dan kematian.

 

setelah itu aku merasakan kekosongan, kehampaan, ketiadaan konsep dan pemikiran……..

tiada aku

senyap

tenang

sunyi

kosong

lepas

luruh

bebas

……………………….

……………………….

……………………….

 

Entah berapa lama aku merasakan keadaan itu. Bahkan kata ‘ berapa lama’ pun rasanya tidak tepat karena dalam moment itu aku tidak dapat merasakan apa-apa, ruang, waktu, konsep, imajinasi, pencerapan – sirna.

 

                                                      *************

 

Aku terbangun. Keringat membasahi sekujur tubuhku. Namun aku merasakan kelepasan yang tak terbendung. Ada kesenduan, bercampur sukacita dan kelepasan. Aku mencoba untuk menakar dan menafsir arti mimpiku namun tetap tak mampu mencerapnya.

 

Itulah mimpiku. Itulah yang membawa aku menemui seorang Bijak di pantai Pangandaran ini.

 

Menurut para pembaca apakah makna dari mimpi itu?

 

Oh ya, mau tahukah anda lagu apa yang Dewi Saraswati nyanyikan untukku?

Inilah lagunya, Frozen, oleh Madonna.

 

Singkirkan rasa suka atau tidak suka anda terhadap figure Madonna yang eksentrik itu. fokuskanlah pada pesan dari lirik lagu itu. Bayangkanlah bahwa Sang Diri Sejati di dalam bathin anda sendiri yang memanggil dan menyanyikan lagu ini. Sang sejati dalam diri ini lirih memanggil kita untuk melepaskan kebencian, sesal  dan kehausan untuk melihat dunia sebagaimana keinginan kita sendiri.

 

Diri sejati dalam diri anda tidak pernah lelah memanggil anda untuk berdamai dengannya. Bukan karena ada kebencian antara anda dan dirinya, tapi karena  ketidaktahuan, ketidakpedulian dan keenganan yang menebalkan sang ego.

 

you only see what your eyes want to see

how can life be what you want it to be

you're frozen When your heart's not open

 

you're so consumed with how much you get

you waste your time with hate and regret

you're broken When your heart's not open

 

mmmmmm, if I could melt your heart

mmmmmm, we'd never be apart

mmmmmm, give yourself to me

mmmmmm, you hold the key

 

now there's no point in placing the blame

and you should know I suffer the same

if I lose you My heart will be broken

 

love is a bird, she needs to fly

let all the hurt inside of you die

you're frozen When your heart's not open

 

mmmmmm, if I could melt your heart

mmmmmm, we'd never be apart

mmmmmm, give yourself to me

mmmmmm, you hold the key

 

 [tube]PL3i6V0jhHw[/tube]