Pengembaraan hidupku membawaku berjalan menyisiri sebuah jalanan kuno di suatu tempat yang tidak begitu ku kenal. “Dari cuacanya yang begini panas mungkinkah ini jalanan di Arab?” Aku bertanya dalam hatiku. Tapi anehnya tidak nampak padang gurun atau rombongan para kalifah dan unta-untanya. Ataukah aku sedang berada di Turki di masa kekuasaan Utsmaniah? Sepertinya cuaca yang kurasakan mengindikasikan hal itu. Sambil terus melangkahkan kaki ini aku mencoba menajamkan kesadaran akan keberadaanku di tempat itu.

Ternyata jalanan sempit ini  dua arah. Orang berlalu lalang berjalan ataupun naik kereta kuda hendak pergi dan balik dari dua arah yang berbeda. Ah bodoh sekali aku. Tentu saja jalanan di masa kuno selalu jalan dua arah, emang ini jalanan hotmix di abad 20 atau 21 yang mengharuskan jalan2 tertentu hanya satu arah, atau diberlakukan 3 in 1/

Namun ketika kaki ini melangkah terus, seorang laki-laki muda berjalan dari arah yang berlawanan. Langkahnya yang enteng dan gerakannya yang anggun mencerminkan keceriaan dan keteduhan batinnya. Hal ini menarik perhatiannku. Semakin dekat nampak jelas bagiku dari wajahnya ia bak seorang Arab.  Tepat ketika ia berpapasan denganku, ia berhenti dan menyapaku,

“Quo vadis, Musafir?”.

Tersentak kaget aku dengan sapaannya, aku pikir ia akan menyapaku “assalammu alaikum”. Orang Arab apaan ini?

Namun secepat kilat aku tersadarkan. Ternyata sapaan Quo Vadis ini, di ambil dari legenda tentang percakapan Yesus dan Petrus. Suatu saat Petrus yang sudah tua ini, kira-kira berumur 70 tahun lebih, dicari-cari oleh penguasa Romawi karena mengajarkan pengikutnya tentang seorang raja yahudi yang kemuliaannya melebihi kaisar Nero. Padahal hukum di Roma sudah jelas : tidak boleh ada dewa lain bagi bangsa romawi selain sang kaisar, gusti / tuan/ tuhan dan anak dewa. Hanya Kaisar yang layak di dewakan. Kaisar adalah putra Zeus. Mereka yang menyembah raja lain atau menyekutukan sesembahannya melebihi kaisar harus dihukum mati.

Petrus yang sudah renta itu diingatkan oleh para muridnya agar menyingkir ke tempat yang lebih aman, di luar kota Roma. Pagi-pagi buta ia meninggalkan kota Roma, namun di tengah jalan ia “bertemu” gurunya yang 37 tahun ia tak temui lagi setelah peristiwa penyaliban itu. Melihat sang guru berjalan sontak petrus bertanya,

“Quo vadis, domine?  Hendak pergi kemanakah engkau, gusti?”.

 

 “Aku akan pergi ke Roma untuk disalibkan kedua kalinya.” Yesus menjawab.

 

Mendengar itu menangislah Petrus.  “Tadinya aku hendak meninggalkan Roma untuk mencari aman. Namun sekarang aku memutuskan untuk kembali ke kota Roma bersamamu guru. Biar sekalipun aku di salib, asalkan bersama engkau aku rela.”

 

Demikianlah cerita yang melatar belakangi penangkapan petrus oleh tentara Romawi. Ia disalib terbalik dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Ia merasa tak layak untuk disalib dengan kepala di atas seperti gurunya.  Dan itu terjadi sekitar tahun 67 M.

 

“Quo vadis, Musafir?” sapanya sekali lagi. Membangunkan aku dari lamunanku.

“Yesus? Engkaukah yesus? Isa as?” tanyaku tergagap-gagap.

“Sangkamu siapakah aku?” 

“Engkau tak seperti yang sering aku lihat di lukisan-lukisan. Seandainya engkau berjanggut tebal dan bersorban, wajahmu cenderung seperti Osama Bin Laden dari pada Ariel Sharon.”

“Hahahha engkau suka bercanda. Ya memang dia masih sepupu jauhku. Tapi kami berbeda misi dan visi.”

 

Aku tak tahu harus berkata apa atau bertindak apa. Aku diajarkan bahwa para pengikut Nabi Muhammad sering menyapa ‘baginda, rasul’, terhadap yesus yang sederhana ini aku mau sebut apa? Nabi Yesus? Rasul Yesus? Ah….. Aku sudah jengah dengan monopoli kata nabi dan rasul oleh agama2 langitan yang nantinya cuman memperebutkan siapa nabi terakhir dan sempurna. Lebih baik memakai sapaan lain.

 

Bagaimana dengan kata ‘kyrios’ yang berarti gusti atau Yang Dipertuan? Ini adalah sapaan umum orang yahudi abad 1 masehi untuk orang yang dianggap agung atau suci. Kyrios yesus, gusti Yesus. Tapi justru inilah pangkal masalahnya. Pada jaman yesus, masyarakat dunia masih hidup dalam feodalisme alias mental tuan dan hamba. Begitu pula masyarakat yahudi saat itu sering memanggil orang ternama dengan sapaan kyrios yang berpadanan dengan tuan, gusti, lord, dominggos, monsigneur atau yang dipertuan. Sebenarnya ini sapaan yang lumrah pada jaman itu.

 

Namun ketika orang Kristen menyapa Yesus dengan sapaan tuan / tuhan Yesus, mereka salah memahaminya. Terutama umat kristen Indonesia dan orang islam seluruh dunia. Mereka pikir sapaan ini sama hakekatnya dengan kata tuhan / theos, atau deus seperti makna sila pertama dalam pancasila, ketuhanan yang maha esa. Mereka tidak bisa membedakan perbedaan makna dari allah dan tuhan, god dan lord, theos dan domingos, gusti allah dengan gusti.

 

Seandainya saja Yesus lahir di India, pasti dia akan disebut Sri Bagavan, Maharaja atau Guru Ji, dan sapaan2 seperti ini jauh lebih manusiawi. Inilah batu sandungan selama 2000 tahun. Ada baiknya Yesus disapa master saja oleh umat kristen modern. kesalahpahaman ini berawal pada pembahasaan lokal yang dipaksakan pada budaya-budaya lain dan dijadikan mutlak untuk segala jaman dan di segala tempat. Celakanya agama yang menyanjung Kyrios Yesus  ini berabad-abad diremajakan oleh bekas bangsa2 politheistik. Sehingga Yesus dideifikasikan jauh melebihi akar-akar kemanusiaannya yang wajar. Dan tidak perlu disebutkan lagi perdebatan kusir antara islam dan Kristen tentang status ketuhanan yesus.

 

Aku  manusia produk abad 21. Panggilan-panggilan berbau feodalis seperti gusti, domingos, bahkan junjunan nabi, sudah tidak layak dipakai dalam era demokratis. Sudah semestinya kita merobohkan tembok2 mitos yang berabad-abad menjulang menutupi cakrawala berpikir kita.

 

Di tengah-tengah ambiguitas itu, Yesus malah memelukku, mencium kedua pipiku, sebagaimana adat orang Timur Tengah.

 

“Saudaraku, mengapa begitu kaku dengan segala tuntutan tradisi? Ayo bebaskan dirimu dari semua itu.”

 

Wah… betapa bingung, tersanjung dan terharunya aku. Seumur hidup aku tidak pernah dicium pipi oleh seorang laki-laki, apalagi oleh seorang Yesus yang lebih muda dariku. Cakep lagi. OMG.

 

“Mari kita duduk-duduk dan makan di kedai pinggir jalan itu.” Tangannya menunjuk ke sebuah kedai makanan yang tidak aku sadari keberadaannya dari tadi.

 

Kami duduk, dan yesus memilih-milih makanan. Roma adalah kota metropolitan waktu itu. Segala macam  makanan ada. Mulai dari kambing, babi, rusa dan ikan. Dan Yesus memilih panggang sarden yang didatangkan dari pulau Sisilia sebagai menu utamanya. Ia seorang yahudi, tentu tidak pernah memakan daging babi. Aku tak tahu entah harus berkata sial atau alhamdullilah karena ia lebih memilih panggang sarden dari pada panggang babi yang diolesi minyak zaitun yang nampaknya lezat itu.

 

Dengan sigap ia memecahkan roti yang besar ke dalam piringku (waktu itu nasi belum dikenal di daerah mediterania, coy) dan menaruh ikan2 terbesar kedekatku, sedang ikan2 kecil ia taruh dipiringnya. Begitu pula anggur dan buah2an lain ia taruh dijangkauan tanganku. Tidak lupa pula air anggur  langsung dari kirbatnya didatangkan dari Kana di Israel. “Jangan takut bro,  aku yang bayar.”katanya.

 

Waduh…aku terheran-heran. Pantas saja ketika ia hidup banyak orang mencintai dan memujanya. Ia mampu membuat setiap orang merasa spesial  dengan caranya yang menyentuh dan hangat. Padahal dalam agama yahudi ada larangan buat kaum yahudi untuk makan bersama dengan seorang kafir. Aku bukan yahudi, tentu saja aku kafir di mata orang yahudi. Tapi sekarang justru Yesus yang yahudi, makan bersama dengan aku yang bukan kerabat dan umatnya. Gratis pula.

 

Sampai sekarang kebanyakan orang islam memandang kaum dari agama lain sebagai kafir, padahal justru menurut orang yahudi , semua orang non yahudi adalah kafir. Kafir berarti bukan yahudi. Dunia agama memang dunia penuh diskriminasi. Dan kita orang yang dewasa sudah seharusnya menghancur-luluhkan tembok-tembok diskriminasi itu.

 

“Silahkan dimakan sampai habis. Jangan ada yang tersisa ya,” undang Yesus.

 

Sementara aku masih terpana, terdiam seribu bahasa tidak tahu harus berkata apa.  Aku ucapkan terima kasih dan kemudian kami makan.  Tak lama kemudian aku mencoba mencairkan suasana.

 

“Mmmmm Yesus,  aku tak tahu harus memanggilmu apa? Mungkin aku harus memanggilmu Shahhid  (yang berarti yang bersaksi – dan juga diambil dari asma Allah ash-shahid  – sang penyaksi), dari pada memanggil namamu langsung.”

 

“Wah, kenapa mesti sungkan sungkan seperti itu? Kau boleh memanggilku, Yesus, bro, atau Comrade- J

(Kamerad Jesus, maksudnya).” Tiba-tiba ia mengambil sesuatu dari sakunya. Ternyata sebuah topi. Astaga, Yesus seperti Che Guevara. Cakep, keren, sedikit kumal dan  tetap menawan. Proletar banget nih nabi.   

 

Kelucuan Yesus membuatku tertawa.

 

“….atau kau boleh panggil nama kecilku, Josh”

 

“Josh?”

 

“Yah, nama lain ‘Yesus’ itu kan Yeshua atau Yoshua atau Joshua. Makanya waktu kecil aku dipanggil Josh.”

 

“Rasanya aku pernah dengar kata Joshua itu….dimana yah?”

“Mungkin kau tidak tahu, menurut bible, Joshua adalah penerus dari Musa.”

“Oh ya……. Aku ingat nama ini. Joshua yang memimpin bangsa Israel merubuhkan tembok besar itu khan?”

 

“Yahhhh tembok kota Jericho.”

 

“Dan itu cerita mitos itu khan? Bohongan khan? …..hehehehehe mana mungkin ada tembok yang dikelilingi oleh orang yang bernyanyi2 langsung bisa rubuh. Mitos -mitos sahibul ngibul hikayat…… Upppppsss," aku menutup mulut. Keceplosan.

 

“Hahahha tidak apa2. Aku tahu itu. Tenang saja. Bro, kamu harus ingat, budaya berpikir modern yang runut, rasional dan analitis baru benar-benar lahir pada masa renaisans dan mendapat bentuk yang lebih rigid pada jaman Aufklarung di abad 18 & 19. Sebelum itu budaya manusia didasarkan pada mitos-mitos dan tradisi oral. Sehingga ada benturan cara berpikir.”

 

Aku terpesona dengan cara berpikir yesus ini. Ternyata dia tahu masalah mitos2 yang menyelubungi sejarah agama2.

 

“Apa kau pikir aku tidak belajar selama dua ribu tahun terakhir ini? Sory-sorry sorry bro, jangan kau remehkan aku,” candanya sambil meniru gaya Sinta dan Jojo yang lipsing lagu Keong Racun.

 

Aku tertawa terpingkal-pingkal.

 

“Tapi mengapa ketika engkau berkarya di bumi, engkau tidak jelas mengatakan bahwa itu semua mitos? Bahwa Adam-hawa, Nuh, Ibrahim, Musa dan Yoshua itu mitos?”

 

“Aku terlahir sebagai seorang mistikus, penggiat kebajikan dan jalan kesucian. Aku bukan seorang kritikus sastra dan theolog. Untuk apa aku asyik membongkar-bangkir mitos, tapi di depan mataku banyak orang tidak diperlakukan manusiawi? Adilkah bagiku, sebagai seorang Yahudi abad 1, dipaksa harus menjungkirbalikan mitologi padahal metodologi berpikir seperti itu baru ada belasan abad sesudah kematianku?”

 

“Hmmmmmm benar juga yah…..?”

 

“Apakah engkau tidak ingat tahapan peradaban menurut August Comte? Bagaimana mungkin aku dituntut untuk mencerdaskan bangsaku berpikir positivistic padahal kemajuan berpikir manusia belum secanggih itu? Sebagai seorang manusia yahudi abad 1 masehi cakrawala berpikirku tidak mungkin jauh melampaui worldview orang-orang sejamanku.

 

Namun, seandainya aku boleh excuse …… adalah bangsa yahudi yang memulai mitos-mitos itu, namun adalah bangsa yahudi pula yang  menghancurkan mitos-mitos tersebut. Lihatlah selama ratusan tahun terakhir ini cucu-cicit sepupu2ku seperti Spinoza, Freud, Karl Marx, Einsten, Erich Fomm, Abraham Maslow, Morrie Schwartz, Theodore Adorno, Jurgen Habermas dan begitu banyak saintis baik yang meraih Nobel atau tidak, yang berasal dari kaum yahudi. Mereka berkarya mencerahkan peradaban lewat cara mereka masing-masing, dengan kelebihan dan kekurangan agar manusia sejagad mulai beranjak dewasa.

 

Begitu pula beberapa ahli kepurbakalaan seperti Silbermann dan Finkelstein yang memprakarsai penyelidikan tentang tembok Jericho secara independen yang kau sebut-sebut tadi. Di tempat mana kesalahan itu berasal, di tempat itu pula koreksi harus dilakukan. 

 

Bro, bagi penggiat kemanusiaan sederhana sepertiku, segala alat kebaikan yang ada di depan mata, jadikan itu alat kebaikan untuk meningkatkan kemanusiaan dan kedalaman makna hidup. Mengapa mesti terjebak dengan masalah fiksi atau fakta saat di depan mata ini nilai-nilai kemanusiaan di renggut?

 

Ingat bahwa aku bukanlah teolog. Aku seorang mistikus. Adalah tugas teolog untuk menafsirkan kitab sesuai konteks jaman. Dan sedari awal aku selalu katakan bahwa hukum rohani itu terpatri dalam hati dan pikiran yang mengarah pada kebenaran. Kitab hanyalah kitab. Begitu terbatas, multitafsir dan mudah mengandung debat kusir. Apa pernah aku menulis sebuah kitab?

 

Lihatlah alam semesta, berkacalah pada alam, dan hiduplah selaras dengannya, maka dengan sendirinya engkau akan melampaui kitab-kitab. “    

 

Gila. Yesus ini benar-benar seorang naturalis. Maka dari itu khotbah2nya selalu berkenaan dengan keindahan alam, bunga bakung di padang, rumput , serigala dan lubangnya, domba, burung pipit, ikan dsb.

 

Luar biasa Yesus ini. Seakan-akan aku tidak sedang berbicara dengan seorang nabi atau rabbi, melainkan seorang romo katolik sekaligus professor filsafat. Aku tak pernah ragu bahwa orang-orang Yahudi pada umumnya pintar. Mereka adalah bangsa kecil yang selalu hidup di ujung tanduk. Eksistensi mereka selalu terancam punah. Dengan tempaan yang begitu hebat, otak mereka diasah, mau pintar atau terhapus dari muka bumi.

 

Kenyataan ini yang membuat orang arab dan islam iri. Dan alih-alih rasa iri ini dijadikan alat untuk berkompetisi, kita malah berbalik menjadi benci. Sudah jadi pemahaman umum bahwa orang islam menganggap kaum yahudi sebagai laknatullah, kaum yang dikutuk allah ta’ala. Dari dulu sampai sekarang disebarkan isu bahwa kaum yahudi merajai ekonomi, licik, penuh tipu daya. Para pemimpin arab tidak pernah merasa PeDe sebelum mereka didepan umum menyumpah-serapahi yahudi dan berniat mengenyahkan Israel dari peta dunia, spt halnya Ahmaddinejad. Sungguh seorang pemimpin rasis, fasis dan berotak kadal. Seandainya ia dilahirkan jadi orang yahudi, apa ia mau orang lain menyumpah serapahi kaumnya?

 

Kita sering menikmati gossip-gosip murahan bahwa islam dijadikan korban oleh barat dan yahudi. Bahwa yahudi menguasai ekonomi dunia dll. Dan kita dengan teganya mengiblis-ibliskan mereka. Kita bereaksi emosional ketika tentara Israel membalas serangan Hamas, namun kita pura-pura tidak tahu bahwa anak-anak yahudi yang sedang bersekoleh diroketi oleh Hamas. Mengapa kita tidak bisa jadu manusia yang sepenuhnya manusiawi?

 

Kita mencaci maki yahudi dan barat, “ Down with Israel!” Padahal di saat yang bersamaan kita menikmati berkah dari buah otak mereka, yaitu penemuan2 sains, dan IT seperti halnya Microsoft, google, dan FB. Tidak bisakah arab dan islam beranjak dari inferioritas kekanak-kanakan ini dan mulai berpikir manusiawi dan dewasa?

 

Kebencian Muhammad dan islam pada yahudi diawali karena inferioritas. Dan inferioritas yang ditemani senjata pada gilirannya melahirkan tindakan anarki. Kaum yahudi digenosida dan umat non islam lain dipaksa jadi islam atau harus rela dijadikan dhimmi.  Bukannya kita merasa malu dengan sejarah tidak manusiawi ini, malahan sebagian dari kita ingin kilafahisme ini ditegakkan lagi di Nusantara. Sungguh bodoh. Bodoh sekali cara berpikir ini.

 

Oh Ibu Pertiwi menangislah engkau, karena anak-anak bangsa ini telah menghempaskan harga dirinya jauh-jauh hanya demi ideologi buta. Oh Nusantara meraunglah bagaikan ibu yang baru kehilangan anak yang dilahirkannya, karena anak-anak bangsa ini lebih memilih ajaran-ajaran cangkang dari pada isi. Mereka mengaggung-agungkan ajaran2 lahiriah dan menyanjung-sanjung kulit dari pada inti.

 

Lihatlah hai putra-putri Indonesia, jika engkau terus menerus melekat pada agama-agama lahiriah, maka anak-cucumu bahkan akan lebih bodoh dari pada generasi-generasi sebelumnya. Mereka akan hidup dalam keterbelahan jiwa. Jiwa mereka terbelah antara syahwat romantisme psikologis akan kilafahisme,  dan realitas dunia yang memulti-wajah dan terus berubah. 

 

 

“Shahid , apa pendapatmu tentang konflik Israel dan Palestina?” tanyaku.

 

Yesus tertunduk sedih. Ia tak kuasa meneteskan air mata.

 

“Jujur aku tidak bisa berkata apa2. Semua umat manusia adalah saudaraku. Kalian yang hidup 20 abad dariku jaman aku hidup kenapa tidak melangkah lebih maju, berpikir jernih melampaui batas-batas budaya, ras, dan agama? Tangggalkanlah senjata, jauhi kekerasan dan kedepankan perdamaian. Namun itu selalu nampak mustahil di depan tembok-tembok keangkara murkaan, radikalisme agama dan kecurigaan agama.”

 

“Bagaimana dengan status kota Yerusalem Timur?” pancingku.

 

“Mau jawaban jujur atau jawaban liar?” jawabnya sambil tersenyum.

 

“Dua-duanya.”

 

“Hahhahahaa. Jawaban jujur: aku tak tahu, dan please jangan paksa aku melakukan hal yang tak kusukai yaitu meramal ‘akhir zaman’.  Jawaban liar : sebaiknya penduduk Yerusalem diungsikan saja ke daerah yang lebih subur. Kota Yerusalem itu di ratakan saja dengan tanah, kemudian dikeruk dan dijadikan danau buatan. Di sekelilingnya ditumbuhi pohon2 hijau. Jangan ada pemukiman penduduk, tapi bangunlah pusat2 kepedulian pada manusia dan bumi seperti halnya Greenpeace, WWF dan rumah sakit-rumah sakit dsb.”

 

“Wah Shahid, anda benar2 revolusioner,” pujiku.

 

“Sedari awal pelayananku di bumi sudah kukatakan bahwa allah adalah roh, menyembah allah adalah menyembah roh, karena ia adalah roh maka ia tidak menempati suatu ruangan tertentu, ia tidak melekat pada kota tertentu, ia tidak di dapatkan di bait Salomo, Tembok Ratapan dan Mesjid Kubah Emas di Yerusalem. Ia tidak akan ditemui di Kabah di Mekkah, ia tidak akan ditemui di sungai Gangga dan Sungai Yamuna. Ia tidak menempati ruang masjid, gereja, pura dan vihara.

 

Dan jikalau allah itu roh dan roh itu itu hidup, maka roh itu hadir nyata dan mewujud dalam tubuh ini. Dalam nafas ini. (dalam bahasa yunani roh adalah spirit & pneuma, bahasa ibrani ruakh dan nefesh, begitu jg bhs arab ruh dan nafs, semuanya berarti angin dan nafas ). Dalam tubuh yang masih bernafas inilah tuhan, allah, theos, bapa, adonai, kyrios, dapat ditemukan. Dalam tubuh inilah surga neraka tuhan dan iblis terwujudkan. “

 

Aku menghela nafas dalam-dalam. Aku teringat masalah nyata di Indonesia selama tahun-tahun belakangan ini, pembakaran gereja-gereja, penghancuran mesjid ahmadiah…….. oh ibu pertiwi sampai kapan darah dan air mata bersimbah di negeri ini.

 

Mengapa bangsa ini gemar akan agama-agama lahiriah yang hanya mengedepankan bentuk dan dogma? Kenapa tidak mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan yang universal?

 

Begitu pula pemerintah selalu ketakutan menghadapi emosi mayoritas, sehingga kebijakannya tidak pernah obyektif. Pemerintah dan partai politik hanya mendengar kaum minoritas manakala ia ingin mengumpulkan suara dalam pemilu saja.  

 

Di akar rumput, berjemaah di mesjid dan bergereja hanyalah identitas sosial agar ia diakui masuk ke dalam kelompok tertentu – asalkan tidak disebut atheis atau agnotis  – dan bukan karena panggilan batin untuk memanusiakan diri ini. Gereja-gereja dibangun sering kali hanya atas dasar syahwat pemujaan dan identitas kelompok. Berapa banyak umat Kristen yang sering merenungkan kata-kata yesus ini?

 

“Runtuhkan bait allah ini dan dalam 3 hari aku akan membangunnya kembali.”   

 

Tubuh inilah gereja sejati. Dunia inilah ladang ilahi. Bukan ladang agar umat lain jadi kristen atau setuju dogma kristen, melainkan ladang dimana cinta kasih dan kemanusiaan ditabur, dibuahi, disemai dan dituai.

 

Waktu mengalir tanpa terasa. Kami hanya berdiam dan menyelesaikan makan kami. Namun dalam diam dan hening justru getaran sejuta makna mengalir tak terbendung.

 

Akhirnya waktu membawa kami pada saat-saat yang tak diinginkan. Saat perpisahan. Maka Yesus bertanya kepadaku,

 

“Quo vadis, musafir? hendak kemanakah engkau hai petualang hidup?”

 

“Oh Shahid, aku akan kembali ke negeriku. Akan aku sampaikan kepada umat manusia tentang kisah ini, tak peduli begitu tebal tembok ketegaran hati mereka. Tak peduli betapa sukar kata-katamu untuk diselami baik itu oleh umat kristen dan islam.”

 

“Kita sama-sama ditakdirkan untuk menghancurkan kebodohan dan kemunafikan agama, oh Musafir.”

 

“Dan engkau Shahid, quo vadis? Hendak kemanakah engkau pergi setelah ini?”

 

Yesus bediri dan tersenyum.

 

“Musafir, engkau tidak akan pernah tahu apa yang aku telah lakukan pada umat manusia selama 2000 tahun ini. Namun inilah rahasia yang bisa kukatakan kepadamu :

 

Hakikat sejati tidak pernah pergi kemana-mana. Ia tidak datang ataupun pergi.

Diri yang sejati tidak kotor, pula tidak murni. Ia tidak terlahirkan, tidak pula mati. Karena ia tidak terlahir, maka ia tidak pernah mati. Ia tidak membentuk dan tiada pula melebur.

Ia tidak muncul dan tidak pula lenyap. Karena ia tidak mengambil suatu bentuk maka ia tidak melekat pada sesuatu. Karena ia tidak melekat pada sesuatu, maka tidak ada kesedihan padanya.

Ia hanya sadar akan 'ada'nya. Ada bukan karena ada dan tiada, namun Ada yang melebihi ada dan tiada.”

 

Mendengar ucapannya yang lembut namun menggelegar, berisikan rahasia tak terselami, tak disadari bibir ini berucap:

 

gate-gate paragate parasam gate bodhi svaha. ”

 

Mendengar itu Yesus mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum renyah.

 

Kemudian ia memelukku. Mencium kedua pipiku, sambil berucap salam. “assalammu alaikum.”

Karena ia memakai bahasa Arab, maka sebagai balasan akan keramahannya akupun menjawab dalam bahasa Ibrani,

“Aleichem shalom”.

 

Dari langit terdengarlah suara-suara yang indah menggelegar menembus sukma. Nada-nada indah tak terperikan menggema di udara dan di relung hatiku.  Kidung pujian semesta mengantarkan perpisahan kami. Cakrawala nampak berpendar-pendar. Warna-warni menyilaukan berganti.

Dan kemudian….gelap.

 

Aku membuka mataku, mencoba menyadari keberadaanku dalam ruang dan waktu yang nyata. Ternyata aku jatuh tertidur di meja kantorku dan bermimpi. Saat itu aku tengah mempersiapkan jadwal kerja untuk besok pagi. Sementara MP3 yang aku pasang sedari tadi masih berjalan. Tepat pada saat ini mengalun lagu yang indah dari Sarah Brightman Time to Say Goodbye.  Apakah lagu ini yang aku dengar dalam mimpiku? Lagu yang menghantarkan perpisahanku dengan Yesus?

Lapat terdengar lirik lagu yang penuh arti ini …… mengiringi air mataku yang jatuh berderai mengingat pertemuanku dengan Yesus.

Sesungguhnya kesadaran ilahi itu tak pernah pergi dari manusia. Jalan dan jembatan yg menghubungkan yang ilahi dan yang insani sebenarnya tidak pernah ada.

Karena yang ilahi dan yang insani tidak pernah terpisahkan.  

Oh yang ilahi dalam diriku, bersamamu akan kuarungi samudra raya hidup…menuju pantai seberang. Amin. Sadhu.Svaha.

………

When you were so far away

I sit alone and dream of the horizon

Then I know that you are here with me, with me

Building bridges over land and sea

Shine a blinding light for you and me To see, for us to be 

 

Time to say goodbye

Horizons are never far

Would I have to find them alone

without true light of my own with you

I will go on ships over seas that I now know

No, they don't exist anymore

It's time to say goodbye

 

so with you I will go on ships over seas that I now know

No, they don't exist anymore

It's time to say goodbye

 

so with you I will go…

 

I''ll go with you!

(saya tak tahu persis apa yang ada dalam benak si penulis lagu ini, namun bisakah anda memahami makna terindah dari lagu ini sebagai pengembaraan rohani dalam hidup ini?)

Lagunya:

[tube]n5P_nHSuI8g[/tube]

 

 

Tulisan lainnya dari penulis AA Jin

 
Iklan