Hari Sabtu yang lalu, 18 September, saya dan istri menghabiskan malam mingguan kami di rumah saja. Sementara putra-putri kami hang out bersama teman sebayanya di sebuah mall di Bandung kota. Itulah pahala setimpal yang bisa kami berikan kepada mereka setelah seminggu belajar keras. Biarlah mereka hang out dengan teman2 sebayanya yang berlatar belakang berbeda, tanpa ada kecurigaan rasial dan agama.

 

Sementara di rumah kami menikmati waktu-waktu relaks dengan menonton acara kesukaan kami berdua, Indonesia Mencari Bakat. Saya dan istri memang berbeda idola. Idola saya Putri Ayu. Sedangkan idola istri saya, tentu saja – sudah bisa ditebak, Brandon de Angelo.

Ada hal yang sangat berkesan dan penuh arti bagi saya saat itu, yaitu ketika Putri Ayu menyanyikan lagu Ave Maria. Suaranya yang merdu, roman mukanya yang teduh, tatapan mata yang sayu, wajah cantik bak bidadari dan usia yang begitu muda, polos dan bersinar membuat setiap mata yang memandang akan terpana dan dalam hatinya akan memuji, “She’s an angel. “

Dari awal dia menyanyikan lagu Ave Maria, sampai saat-saat terakhir, saya merasa merinding, pikiran ini bagaikan terhisap lubang hitam masa-masa lalu. Terlintas kembali memeori-memori indah di mana saya mulai mengarungi hutan-hutan lebat pemikiran2 agama dalam dunia antah berantah.

Tanpa saya sadari saya meneteskan air mata dan tangan ini menggenggam tangan istri saya yang lembut  erat sekali. Hingga istri saya keheranan. Inipun baru saya sadari setelah lagu itu selesai.

Apa sih yang membuat saya begitu terhisap dalam moment2 keindahan itu?

– Karena keindahan suaranya? Tentu. Suara Putri Ayu tak diragukan lagi sempurna. Bagi saya sudah jelas dia layak jadi juara pertama di kontes itu.

– Karena keagungan lagunya ? Tentu. Karya2 Schubert, Mozart, Handell, Beethouven bagaikan alunan music surgawi. Jujur, jauh lebih enak music2 klassik dari pada musik kasidahan.

 

– Karena saya setuju dengan isi lagunya? Tentu tidak.    Dan disinilah masalahnya.

 

Kami para pencari kebenaran yang mempelajari banyak ilmu secara interdisipliner, menyadari bahwa agama hanya sekumpulan dogma dan symbol-simbol tertentu yang mengacu kepada ‘suatu makna’ di balik itu. “sesuatu”  ini yang sukar dijelaskan oleh kata-kata yang gamblang.  Namun para agamawan begitu mudahnya mem-bypass dan menjadikan ritual, dogma sebagai kebenaran final, kebenaran dalam dirinya, sehingga berkubang di situ dan tidak mampu menempus makna di balik itu.

 

Para agamawan bagaikan orang yang hendak pergi ke istana, namun baru melihat pintu gerbangnya yang indah, sudah merasa silau dan percaya bahwa mereka sudah berada di dalam istana.

 

Sebagai seorang muslim, tentu saja saya tidak percaya bahwa Maria atau siti Mariam adalah bunda allah. Bertahun-tahun lalu , dalam pencarian kebenaran saya mempelajari bahwa umat Kristen awal tidak pernah memandang Maria sebagai bunda allah. Agama Kristen yang berawal dari  salah satu sekte kecil dalam dunia yahudi, yang nota-bene adalah produk budaya patriakhal, tidak mungkin menyanjung-sanjung perempuan.

 

Baru ketika ajaran2 kristen berkembang di wilayah2 dimana politheisme berakar, seperti siria, yunani dan romawi, maka ajaran katolik dibakukan. Syahwat politheistik mereka dicari akarnya dalam iman Kristen, maka diciptakanlah figur2 santo dan santa selain yesus dan tuhannya orang Israel. Bible sendiri tidak pernah menyanjung-sanjung maria sedemikian rupa. Adalah karena budaya dan kebutuhan devosi saja yang menjadikan figure maria, santo dan santa serta para martyr Kristen dijadikan obyek devosi.

 

Namun demikian, di sinilah point terpentingnya, yaitu agama bukan cuma masalah benar atau tidak, menyejarah atau tidak, namun masalah psikologis dalam benak manusia itu sendiri. Dan ini sehat apabila disikapi dengan wajar. Karena agama juga masalah psikologis, maka sudah sepatutnya kita menganggap bahwa kebenaran agama bukan kebenaran mutlak, melainkan kebenaran karena utilitas.

Tidak ada agama yang benar-benar benar dan benar-benar orsinil. Tidak ada agama yang bisa mengklaim bahwa hanya agamanyalah yang berasal dari tuhan sedangkan yang lain bersifat inferior, sesat, palsu, dan tidak diridhoi allah. Lagian mana ada agama yang mampu membuktikan adanya tuhan / allah? Lha tuhan sendiri hanya konsep koq! Jadi bagaimana mungkin si konsep memberikan wahyu? Bagaimana mungkin si konsep bersabda, ‘diijinkan bagimu untuk berperang, membantai musuh, mengawini bocah berumur  6 tahun, dsb? Yang namanya konsep cuman buah pikir atau buah khayal dari otak si orangnya.

 

Adalah hasrat dalam diri setiap manusia untuk mengagumi figure ibu atau wanita. Karena kehidupan ini mustahil ada tanpa seorang ibu, atau sesuatu yang merahiminya. Seorang bayi tidak mungkin lahir tanpa seorang ibu, seekor binatang tidak mungkin lahir atau ditelurkan tanpa seekor induk. Sebatang pohon tidak mungkin tumbuh tanpa ada pohon induknya. Singkatnya semua bentuk kehidupan ini tidak akan pernah ada tanpa seorang / suatu rahim ibu. Maka dari itu dalam setiap kebudayaan manusia menyebut hal2 yang hampir serupa, ‘bumi adalah ibu, dan langit adalah ayah’, begitu pepatah cina mengatakan. Dalam bahasa Inggris kita mengenal Mother Nature dan Heavenly Father. Dalam bahasa Indonesia, tentu saja kita mengenal ibu pertiwi. Jadi citra tentang ibu, rahim, dan cinta kasih tertanam secara nyata dalam benak manusia sepanjang jaman. Dalam bahasa Carl Gustav Jung citra dan kerinduan itu disebut arketype. Arketype itu diwujudkan dalam symbol baik sebagai wujud feminin( anima / yin) ataupun wujud maskulin (animus/ yang).  

 

Orang-orang yunani yang bathinnya peka, yang sekarang sudah jadi Kristen, menyadari akan kegersangan agama Kristen dan yahudi yang cenderung patriakal. Citra perempuan tidak pernah ada dalam symbol-simbol keagamaan yahudi dan Kristen awal. apalagi Hawa, symbol kaum perempuan,  dianggap sebagai pembawa dosa kepada Adam, simbol kaum laki-laki). Untuk itu mereka melihat sosok Maria sebagai symbol arketype keibuan, cinta kasih, pengayoman dan kesabaran.  Hal ini didukung dengan fakta bahwa yesus, sekalipun lahir dalam tradisi patriakal, justru mendobrak tradisi nenek moyangnya dengan menjadikan maria Magdalena sebagai salah satu soko guru di padepokannya. Ia tidak pernah merasa risi dengan perempuan, bahkan para pelacur. Baginya perempuan adalah kaum yang harus dihormati, dilindungi dan dikagumi secara wajar oleh laki-laki. Perkawinan monogamy adalah perkawinan yang ideal bagi yesus.  Jadi klop sudah, yesus yang revolusioner dengan citra-citra  kelembutan dan kerahiman dalam benak jemaat Kristen yunani romawi ini.                                                    

 

Benarkah siti maria bunda yesus itu memiliki kualitas2 karakter yang begitu mulia yang tidak dimiliki oleh ibu-ibu lain? Belum tentu. Manusia maria tidak lebih mulia dari ibu-ibu yang merelakan dirinya meninggalkan keluarga demi mencari sesuap nasi pergi menjadi TKW di luar negeri. Namun deifikasi Bunda Maria ini memberikan inspirasi akan kelembutan, cinta kasih, ketenangan, ketentraman, dan pengayoman kepada anak-anak manusia. Inilah psikologi manusia. Dan ini wajar. Tidak ada yang palsu, sesat ataupun menyesatkan. Semua hal yang wajar dan manusiawi bisa dijadikan untuk inspirasi dan kebaikan manusia. Inilah yang disebut benar karena utilitas.

 

Dalam agama-agama india kita melihat figure-figur dewi seperti dewi Chandra, dewi laksmi. Dewi saraswati, dewi durga. Tentu saja dewi-dewi hanya bersifat antromorphisme, bukan suatu kenyataan senyata-nyatanya. Orang hindu yang bodohpun tidak akan pernah bertanya dewi siapakah yang lebih cantik, pintar dan berkuasa. Kenapa? Karena mereka tahu bahwa itu hanya simbol2 yang menunjukan sesuatu.  Agama Buddha misalnya, agama yang berhasil menumbangkan tahayul dewa-dewi dalam benak masyarakat india, namun segera mereka sadar bahwa dewa-dewi itu hanyalah symbol dari sifat-sifat mulia yang dituju. Maka dari itu dalam Buddhisme ada figure-figure boddhisatva yang menyimbolkan manusia-manusia yang berkesadaran yang rindu untuk mencapai nirvana dengan jalan membantu semua mahluk hidup ke gerbang nirvana juga. Ketika buddhisme dibawa ke china, avalokitesvara, symbol dari kerahiman dan kerahmanian semesta, digambarkan menjadi seorang perempuan yang cantik yaitu dewi kuan im.

 

Jadi dapat kita pahami di sini bahwa dewa-dewi atau bunda maria, bukan tujuan devosi dan ritual pada dirinya sendiri, namun sebagai wahana, titik fokus untuk menuju suatu idea yang diidealkan, yaitu cinta kasih, kelembutan, kerahiman, pengayoman dan penghargaan akan wanita dan ibu.  

 

Bagaimana dengan islam? Saya sering bertanya kepada diri saya, mengapa islam begitu keras kepala dalam kecetekan berpikirnya. Kita sering bangga dengan tauhid kita, namun kita lupa bahwa tauhid itupun hanya konsep. Kalau tuhan itu satu, benar-benar satu dan tidak ada mahluk yang setara dengan dia, maka ia adalah sesuatu juga. Dan sangat mungkin ia seorang penyendiri yang tidak punya empati akan mahluk2 lain. Itulah kenapa ia begitu egois, tidak toleran, haus pujian dan sanjungan.

 

Semua orang juga tahu bahwa tuhan itu tidak beranak dan beribu. Orang Kristen Yahudi mengatakan yesus putra allah bukan berarti allah menyetubuhi maria dan mengandung yesus.  Tidak ada orang Kristen yahudi segoblok itu. Hanya orang arab tolol saja yang mengira ada orang yahudi sebodoh itu.

 

Para murid yesus tahu bahwa tuhan itu konsep. Konsep tentang yang baik dan yang mulia. Karena ia konsep maka ia tidak berpribadi. Ia hanya hadir dalam batok kepala orang yang membaktikan hidupnya pada cita-cita altruistic semacam itu. Karena tuhan itu konsep tentang kesadaran, dan kesadaran itu luas tak terbatas, maka manusia-manusia yang mewujudkan konsep altruistic itu disebut anak tuhan, yang artinya bagian kecil yang nyata dari samudra kesadaran luas itu. Sama halnya seperti tetangga-tetangga saya yang suka berteriak-teriak “Aing anak Bandung, aing anak Persib”. Tidak ada orang waras yang akan bertanya pada mereka , “apa bener Bandung atau Persib bisa menghamili ibu kamu sehingga kamu lahir jadi anak Bandung / anak Persib?”. Di dalam bahasa kita pun kita mengenal anak panah, anak tangga, tanpa perlu memusingkan di mana ibu dan bapa panahnya, dimana ibu dan bapak tangganya. Karena itu cuman pembahasaan.

 

Sekali lagi tuhan itu konsep tentang makna terdalam dan mulia. Ia bukan benda atau mahluk yang bisa berfirman dan berbicara pada manusia atau nabi2 tertentu. Jadi karena ia hanya konsep maka tidak masalah kalau ada yang mengatakan anak allah, cucu allah, pacar allah, bunda allah dsb. Lha wong allah itu cuman konsep koq. Lagian mana mungkin konsep itu beranak atau menghamili?

 

Inilah yang tidak dipahami oleh kita orang islam yang selalu begitu ngotot dan narsis dengan kecetekan berpikir kita. Kita adalah katak2 dalam tempurung. Merasa berhak memaki dan mencap orang lain kafir, kufur, sesat dan menyesatkan.

 

Memang tauhid dalam islam itu kuat, namun ia gersang. Dalam figure Bunda Maria, Dewi saraswati, Dewi Kuan Im kita melihat idea-idea kekaguman dan pengaguman akan wanita, dan ibu. Namun dalam islam kita begitu bangga menjadikan wanita sebagai obyek pelengkap, bahkan korban dari syahwat budaya patriakal. Dimana dalam dunia islam ada figur wanita yang menjadi symbol kebajikan, kesabaran, kehormatan, kemuliaan, pengayoman dan cinta kasih? Dari awal sejarah awal islam, justru wanita mengalami pemasungan demi pemasungan. Islam mencitrakan wanita yang ideal adalah wanita yang dibatasi ini dan itu oleh laki2, bahkan untuk apa yang layak dan tidak layak dipakai secara wajar oleh si wanita itu sendiri. Dan si wanita harus bangga dan mensyukuri akan pemenjaraannya itu.  Bisa jadi kecenderungan ini datang dari kehidupan tragis sang nabi kita sendiri yang tidak merasakan kasih seorang ibu secara wajar, intens dan nurturing sehingga ketika ia berada di puncak kekuasaannya ia  melihat wanita sebagai pelengkap kepuasan lahiriah dan bathiniah saja. 500 tahun sebelum Muhammad lahir, Isa as sudah memberikan contoh akan kebaikan dan idealism dari perkawinan monogamy. Monogami, tidak memberi jawab secara memuaskan atas segala permasalah manusia, namun paling tidak, ia memberikan tempat yang sangat mulia kepada wanita, ketimbang poligami. Namun justru dalam islam Muhammad menjadikan peradaban mundur. Ia bahkan menutupi hasrat Don Juan nya dengan firman2 allah yang sebenarnya cuman konsep khayal di batok kepalanya. 

 

Dengan figure siapakah saya bisa menyamakan arketype bunda maria atau kuan im dalam sejarah islam? Apakah dengan siti Aisyah, yang dilamar ketika berumur 6 tahun dan dikawini ketika berumur 9 tahun? Dengan siti Zainab, yang ‘dipaksa’ cerai dengan zaid agar bisa dinikahi oleh ayah mertuanya sendiri? Atau dengan maria si koptik yang dijadikan upeti oleh komunitas Kristen di mesir, sebagai jaminan agar Don Muhammad tidak membumi hanguskan wilayah mereka?

 

Itulah sekelibat kegelisahan dalam diri saya.

 

“Pah…. Papah… kenapa papah menangis.” Kata istri saya lembut. Jari-jarinya mengusap air mata yang tak disadari berlinang. Saya terhenyak dan menarik nafas panjang.

 

“Oh mah… papah terbawa suasana. Indah sekali Putri Ayu membawakan lagu ini.”

“Sampai sebegitu menjiwainya sampai2 dari tadi papah meremas tangan mama sampai kesemutan nih tangan mamah.”

“Waduh mah….. maaf, ga sadar.” Sambil saya melepaskan genggaman tangan saya.

“Papa senang lagu ave maria?”

“Ya tentu.”

“Papa mengagumi bunda maria?”

“kenapa tidak, ia adalah symbol seorang ibu yang tabah dan tegar, yang menghasilkan anak2 yang berintegritas dan berani menentang kebodohan, keangkara murkaan dan kemunfaikan kekuasaan dan keagamaan.”

“menurut papa, apa mama sudah memenuhi criteria itu?”

“Hmmmmmmm pertanyaan menjebak dan merajuk dari seorang istri yang sedang cari perhatian nih…. Cemburu kaleeee?”

“Ihhh papah gitu deh.. mamah kan tanya baik-baik. Gimana?” sambil jari2nya mencubit tangan saya.

“Mah…papah menerima kamu apa adanya. Dan papa juga berharap mama bisa menerima papa apa adanya. Sampai tua nanti.”

 

Jari telunjuk kanannya ia tempelkan di mulutku. Meminta aku untuk menahan dari menciumnya dan mendengarkan sesuatu yang ia ingin katakan. Dengan lembut ia menyanyikan lagu:

 

 

jagalah hati.. jangan kau nodai jagalah hati lentera hidup ini.

jagalah istri .. jangan poligami jagalah istri …tentramkanlah hatinya.

 

Kami berpelukan …….

Ditelinganya aku bisikan…. “sampai mau memisahkan kita, honey.”

 

Dan tivipun di matikan. It’s addult matter. It’s love matter.



 

Iklan