Sekitar  akhir tahun 2001, ketika pemakaian jilbab bagi perempuan Muslim di negeri ini mulai menjadi trend, pada sebuah acara talk show yang disiarkan sebuah  radio swasta dengan narasumber  seorang pemuka agama, seorang pendengar bertanya melalui telepon. Si penanya mengaku seorang perempuan Muslim, ibu dari dua anak perempuan yang sedang beranjak remaja, dan berasal dari daerah Makasar. Pertanyaannya sederhana, tapi sangat menarik:

“Pak Ustad, setiap suku di Indonesia ini kan punya kekayaan budaya yang sangat beragam, antara lain baju daerah. Kalau semua perempuan memakai jilbab, bukankah itu artinya menghapus budaya yang sangat beragam itu? Tidak akan ada lagi kebaya encim, baju bodo, kebaya Kartini, dst. Bagaimana menurut Bapak?”

Yang saya ingat, si narasumber menjawab pertanyaan tersebut dengan sangat abstrak, bahwa agama tidak akan menghapus budaya, malah menguatkan budaya. Pertanyaan si Ibu, jelas tidak terjawab sama sekali!

Dalam  obrolan santai dengan seorang rekan kerja yang sudah senior dan *sekarang sudah pensiun*, saya pernah menanyakan hal yang sama, bahkan menambahkan pandangan begini:

“Pak, Anda tahu gak profesi apa yang akan hilang andai semua perempuan mengenakan jilbab? Hair stylist!  Tidak hanya itu, sekolah-sekolah hair style  serta produk-produknya, dan… ilmunya!”

Kami berdua serentak tertawa ngakak sebelum beliau menjawab:

“Mungkin akan diganti dengan ‘jilbab stylist’…:)”

Kedua obrolan sederhana di atas mungkin  terdengar tidak bermakna apa-apa bagi kebanyakan orang, namun sebetulnya memicu perenungan dan  pemikiran yang sangat mendalam akan apa yang namanya keberagaman.  Note ini tidak bermaksud mempertanyakan pemakaian jilbab bagi perempuan Muslim (karena saya pun tergolong perempuan yang sangat tidak nyaman dengan pakaian minim dan terbuka, walau menurutku tidak harus ‘terbungkus’ juga..) tapi ingin membuka diskusi bagaimana kita memaknai yang namanya ‘seragam’ atau ‘beragam’. 

 

Kenapa penting mendiskusikan ini? Yaaa…. karena kita masih terus bersoal  dan berseteru akibat kata-kata itu.  Banyak pula konflik yang timbul karena ‘beragam’ ini. Sejatinyalah, dalam masyarakat yang beragam, gesekan-gesekan kecil lazim terjadi. Tapi jika gesekan ini terus menerus dipelihara tanpa ada upaya mengatasi, tidak mustahil suatu saat kita akan menemukan diri kita dalam perang saudara yang tak termaafkan….:(

 

Sepanjang yang saya ikuti, alami, amati, kebanyakan masyarakat kita (termasuk pemimpin)  menganut konsep bahwa yang namanya ‘seragam’ itu adalah sama dalam berpikir, bersikap, bertindak, dan beriman! Wujudnya pun kudu serupa, yakni dalam bentuk tampilan fisik. Mari kita periksa fakta-fakta di lapangan. Contoh paling nyata adalah ketentuan pakaian seragam anak-anak sekolah, mulai dari TK, SD, SMP, SMA. Tentulah ada tujuan mulia soal seragam ini, dan saya pribadi pun paham soal itu. Misalnya, soal warna yang sama, bolehlah. Tapi  kalau ada anak yang ingin membuat seragamnya dari bahan yang lebih mahal karena orangtuanya memang sanggup membelinya, kenapa tidak? Atau ada yang ingin membuat model seragamnya sesuai seleranya, kenapa tidak? Yang lebih tidak masuk akal buatku adalah, buku-buku tulispun harus seragam: disampul coklat semua! Padahal ketika membeli buku tulis anak-anak, kita suka memilih sampul-sampul yang menarik, warna-warni yang menimbulkan semangat dan tulisan-tulisan di sampul buku yang mungkin memotivasi anak. Kenapa semua itu harus ditutup dengan warna yang sama sih? Belum lagi soal sepatu dan kaos kaki yang harus sama model dan warnanya. Apa relevansinya menciptakan masyarakat toleran dengan warna sampul buku, sepatu dan seragam sekolah? Tanpa disadari, sejak kecil masyarakat kita ‘dipaksa’ untuk berpikir sama, bersikap sama, bertindak sama, dan berpenampilan sama!

 

Di beberapa kesempatan khususnya pada momen-momen peringatan hari-hari Nasional, para pejabat kita suka sekali mengumandangkan kalimat bahwa pendidikan adalah sarana pembentukan karakter anak didik. Persoalannya adalah, karakter seperti apa yang ingin dibentuk? Bukankah tiap individu memiliki karakter yang berbeda yang didasari dan dipengaruhi oleh banyak faktor seperti lingkungan keluarga, etnis, budaya, dan agama? Kalau pemerintah serius dengan konsep ‘pembentukan karakter’ itu, maka kurikulum, sistem pembelajaran dan pengajaran serta pernak perniknya, dan segala sistem kemasyarakatan seharusnya mengusung konsep ‘keberagaman’, bukan ‘keseragaman’.  Tapi lihatlah faktanya. Tak heran banyak dugaan-dugaan bahwa pemerintah memiliki the hidden mission akan karakter masyarakat yang ingin mereka bentuk, yang diam-diam diterapkan melalui pola-pola penyamaan tampilan fisik.

 

Di sisi lain, ‘beragam’ itu cenderung dipersepsikan ‘berbeda’, dan ‘berbeda’ itu seringkali dianggap sebagai kesalahan. Kembali ke soal anak-anak sekolah tadi, jika seorang anak melanggar peraturan sekolah soal seragam, buku, sepatu, dia pasti dihukum kan? Dalam benak anak ditanamkan pemahaman bahwa jika kamu berbeda dengan temanmu, itu artinya kamu membuat kesalahan dan untuk itu kamu akan mendapat hukuman. Kelak, pemahaman ini akan dijadikan si anak sebagai rujukan baginya dalam menilai dan memperlakukan orang lain.

 

Kenapa tidak memilih mengajarkan dan menunjukkan fakta bahwa yang namanya hidup di dunia ini harus siap dengan berbagai perbedaan. Ke anak-anak kita tumbuhkan pemahaman bahwa di sekolah atau di lingkungan tempat tinggalnya, dia akan bertemu dengan anak-anak dari berbagai latar belakang: kaya, miskin, pintar, bodoh, rajin, malas, rapi, nyentrik, pemalu, pemberani, dst.?

 

Menurut saya, pemahaman-pemahaman inilah yang perlu terus ditanam dan dipupuk sejak dini agar kita tidak perlu membenturkan konsep ‘SERAGAM’ dengan ‘BERAGAM’.  Kita memerlukan dua kata itu dalam mencapai harmoni kehidupan bermasyarakat.  Kita perlu seragam menyikapi keberagaman. Dan satu-satunya keseragaman yang sangat mendesak saat ini adalah SERAGAM MENERIMA KEBERAGAMAN.

 

Betapa mengenaskan jika hidup kita menjadi terganggu hanya karena ada orang lain yang berbeda warna kulit, berbeda logat bicara, berbeda cara dalam memuji Tuhan,  tinggal di dekat kita.

 

Apa yang lebih menyedihkan jika untuk mencapai kenyamanan pribadi pun kita harus menyangkal sesama?

 

Tidaklah lebih baik dan lebih sederhana memelihara pikiran dan sikap bahwa diri kita hanya akan menjadi sempurna karena kehadiran orang lain?

 

Begitu sulitnyakah  menjadi manusia-manusia yang wajar dan normal-normal saja tanpa  harus memanipulasi agama?

 

Kenapa pula semua hal harus dikaji secara baku dari sudut pandang ayat-ayat suci agama yang kita anut? Kemana perginya logika, nalar dan akal sehat yang sesungguhnya adalah wujud nyata dari ayat-ayat suci itu?

 

Pertanyaan-pertanyaan ini tentunya relevan untuk setiap orang, apapun latar belakangnya. Semoga menjadi perenungan di relung-relung bathin kita yang paling dalam.

Depok, 18-09-2010: 12.52 WIB