Bertahun-tahun lalu, saat putra saya baru berusia 22 bulan, saya memangkunya di dalam angkutan umum yang sedang 'ngetem' di terminal. Anak saya dengan tenang meminum susu dari botol, sambil jarinya menunjuk-nunjuk riang bus-bus yang lalu lalang dalam terminal. Di usianya saat itu, Nanda memang paling senang memperhatikan kendaraan besar seperti bus dan truk. Tanpa saya sadari, dari balik jendela angkot ada sesosok berambut awut-awutan yang terus memperhatikan kami.

 

Merasa dipandangi, akhirnya saya balas menatap orang tersebut. Selain rambutnya yang awut2an, penampilannya secara keseluruhan bisa dikatakan kucel. Dan yang paling saya perhatikan adalah matanya. Matanya berwarna merah. Mungkinkah karena kurang tidur, ataukah karena sedang terkena virus, ataukah karena.. mabuk? Entahlah.

"Haaa.. nyusu terus ya Dek.. nyusu yang banyak.. Mumpung kamu masih bisa.. Sebelum, sebelum, hmm, sebelum.." orang tersebut 'menceracau sambil tertawa-tawa memandangi kami. Sepintas saya bisa mengenali logatnya yg seperti berasal dari etnis tertentu. "Sebelum apa?" sergah saya penasaran sambil memandang matanya lekat-lekat. Saya pikir, orang ini beraninya cuma sama perempuan saja. "Sebelum, sebelum.." dia masih bicara seolah mengejek, tapi tiba2 kata2nya terputus, dan dia pun terdiam. Entah kenapa, setelah pria awut2an ini terdiam dan menelan ludah, dia pun ngeloyor pergi. Dasar preman iseng, gerutu saya dalam hati.

Kira-kira dua bulan kemudian, kerusuhan yang menggegerkan Indonesia pun pecah. Jakarta jadi kota yang liar dan dilanda angkara murka. Para wartawan media cetak dan elektronik terus melaporkan berita dari seluruh penjuru kota. Tentang mal-mal yang terbakar dan dikunci dari luar. Tentang toko-toko yang dijarah. Tentang orang-orang yang panik dan buru-buru mengungsi kel luar kota, bahkan ke luar negeri. Tentang aparat keamanan yang justru tak mampu memberi perlindungan dan rasa aman. Tapi, tak pernah ada kejelasan mengenai siapa pelakunya dan mengapa sampai terjadi kerusuhan yang biadab ini. Seolah-olah ada 'invisible hand' yang bergerak tak tertahan menjangkau seluruh pelosok kota, seraya menebarkan maut dan kebencian. Sebuah cerpen yang paling bagus merekam episode kelam ini adalah karya Helvy Tiana Rosa, yang kemudian memenangi sayembara penulisan majalah Horison yaitu "Lelaki Kabut dan Boneka"..

 

Selama kerusuhan berlangsung, tentu saja irama hidup seluruh warga Jabodetabek porak-poranda. Semua merasa tak aman dan tidak nyaman. Apalagi, di milis-milis beredar cerita tentang gadis-gadis keturunan yang disiksa dan dilecehkan. Huh, sungguh ngeri walau cuma mengingatnya saja. Dan yang jelas, bagi keluarga yang memiliki anak balita seperti kami, salah satu kebutuhan pokok yang paling dasar pun menghilang. Ya, susu untuk bayi dan anak2 jadi susah didapat. Karena para pemilik toko dan supermarket masih trauma dengan aksi brutal para penjarah. Dekat kediaman saya saja tak kurang dari 10 toko dan supermarket yang dibakar. Pendek kata, ramalan si lelaki awut2an di terminal tempo hari itu ternyata benar. Susu jadi langka di pasaran. Untungnya, kami tak terlalu menggantungkan asupan gizi anak pada konsumsi susu kaleng saja. Tapi yang menggelitik pikiran saya, apa benar 'ceracauan' si lelaki awut2an di terminal tempo hari itu memang mengisyaratkan tentang kejadian ini?

                                                                                         ***

Setiap kali saya melintasi terminal itu, mata saya mencari2 adakah si lelaki awut2an di antara orang2 yang lalu lalang. Banyak orang dengan penampilan serupa, tapi tak pernah ada yg benar-benar mirip dia. Pikiran bawah sadar saya menyimpulkan, terminal ini seperti sebuah dunia bawah tanah yang banyak menyimpan informasi rahasia. Orang-orang yang berkerumun atau diam nongkrong sambil menghisap rokok dan mengawasi sekitar, bukanlah seorang pengangguran yang tidak punya pekerjaan. Para pedagang asongan yang badannya tegap dan mukanya dibuat tampak bodoh, juga pengemis-pengemis yang berjalan ngesot di lantai terminal itu, siapa tahu dia reserse yang menyamar?.. Hihihi, benar-benar pikiran yang paranoid. Tapi mengingat pengalaman saya dengan lelaki awut2an itu, siapa tahu dugaan saya memang benar..?! Hmm, mesti ada yang melakukan riset dan membuat cerpen atau novel tentang terminal ini, tentang dunia bawah tanah ini. Sungguh, setiap kali mengamati situasi terminal, yang melintas dalam pikiran adalah: What you see is not what you got..:(

 

                                                                                                ***

 

Lebaran tinggal beberapa hari lagi bakal menjelang. Saya dan Nanda kembali lagi menyusuri terminal itu. Kami mencari-cari lokasi mesjid di arah sebelah kiri terminal, yang lokasinya agak tertutup bangunan utama terminal dan kios2 dagangan. Orang yang punya obsesi apik resik dalam hidupnya pasti enggan melangkahkan kaki ke daerah yg terlihat agak jorok dan kumuh ini. "Mesjid-mesjid itu jorok, apalagi kamar mandinya, rasanya saya pengin menyikat pake Vixal," begitu komentar seseorang yg gemar mengeritik perilaku mayoritas Muslim yang dianggapnya bodoh dan jumud. Tapi coba lihat, orang-orang yang dituding bodoh dan jumud itu bersegera melangkahkan kakinya menyambut suara adzan Asar yang bergema lewat pengeras suara. Dan apakah yang membuat mereka melangkahkan kaki dengan gembira?

"Assalamu'alaikum, pak Nurohim ada Pak?" tanya saya kepada seorang pengurus masjid yang saya jumpai.

"Beliau sedang pergi Bu. Ada yang bisa kami bantu?" tanya Bapak itu, yang ternyata adalah ketua ta'mir mesjid. Saya sampaikan bahwa kami hendak memberi sedikit sumbangan pakaian dan uang, tapi juga ingin ngobrol dengan pak Nurohim, yaitu orang yang telah merintis upaya pendidikan gratis bagi anak jalanan di sekitar terminal.

 

Saya akhirnya diantar menemui Pak Mustam'i, yaitu salah seorang asisten Pak Nurohim dalam menjalankan program pendidikan gratis master (masjid terminal) ini. Ruangan tempat para relawan ini mengorganisir pendidikan gratis benar-benar seadanya. Di seberang kantor mungil ini, tampak deretan rumah petak yang terdiri dari kamar-kamar sederhana, seperti rumah kontrakan yang ada di kampung-kampung. Banyak anak sedang asyik bermain karambol di depan rumah petak itu. "Sambil nunggu beduk maghrib, Bu, biar lupa waktu, jadinya dikasih karambol," kata Pak Mustam'i. Sebetulnya Pak Mustam'i ini masih muda, jauh lebih muda daripada saya, mungkin usianya awal 30-an, dengan pakaian yang khas anak muda yaitu T-shirt dan jeans. Tapi untuk menghormati, saya panggil saja dia 'Pak'.

 

"Anak-anak itu rata-rata yatim, Bu. Mereka sampai di sini karena dibuang orang tuanya. Ada sekitar 50-an anak yang keluarganya tidak jelas. Rata-rata sampai ke mari setelah menggelandang mengamen ke sana kemari di luar terminal. Ada yang tadinya menggelandang di stasiun kereta." Pak Mustam'i bertutur sambil menunjuk anak2 usia 6-15 tahun yang bermain karambol sambil tertawa-tawa di seberang sana.

 

"Di sini ibaratnya adalah benteng pertahanan terakhir, supaya anak2 itu tidak lagi menggelandang di jalan. Daripada mereka diperas atau dilecehkan hak2nya sebagai anak, kami relawan dan warga sini merasa lebih baik mereka tinggal bersama kami. Ini bukan rumah singgah, ini keluarga besar, meskipun kami semua tak ada hubungan darah. Berat juga tantangannya untuk mendidik anak2 yg sudah biasa kenal rokok, minuman keras, bahkan seks bebas. Untunglah banyak bantuan dari warga masyarakat sekitar sini. Pelan-pelan anak-anak ini diajari mencintai dan mematuhi norma-norma hidup pantas yang sederhana," jelas Pak Mustam'i. Saat itu, pikiran saya melayang, membayangkan tentang orang-orang yang sering melecehkan istilah 'normatif' di luar sana.. yang ingin hidup bermasyarakat dan bernegara ini liberal saja tanpa batasan aturan.

Seorang anak yang buntung sebelah kakinya sebatas lutut, tiba-tiba masuk dengan cepat sambil mengesot di lantai. Waktu kami datang tadi, anak tersebut sedang tiduran di lantai teras kantor sambil memandangi teman-temannya. "Kak, itu ada uang Kak.. tuker ya Kak, saya dapet yang 20, Kakak saya kasih yang 10," kata anak itu sambil menunjuk-nunjuk ke atas meja, ke arah uang 20 ribuan yang tergeletak, sembari dia merogoh-rogoh kantongnya seolah ingin menukar dengan uang 10 ribuan. Pak Mustam'i yang dipanggil 'kakak' hanya tersenyum sambil memandangi si anak dengan sorot mata tegas.

"Bahasa anak-anak di sini memang bahasa 'duit'. Bayangkan, setiap pagi, bagi yang belum sadar kebersihan, harus disogok dulu dengan uang 1000 perak agar mau mandi. Nanti harus disogok lagi 1000 perak untuk sikat gigi. Padahal, kalau dibiarkan lepas, mereka ini bisa dalam 2-3 jam mengumpulkan sendiri uang sampai 10 ribu perak. Tapi kalau dikasih sebagai tanda sayang dari kita, itu akan beda artinya untuk dia," Pak Mustam'i menjelaskan. Anak yg kakinya buntung tadi, kalau tidak salah namanya Irfan, memandangi kami, mencoba memahami mengapa dia jadi bahan pembicaraan. Saya tersenyum memandang Irfan. "Irfan masih ingat dulu rumahnya di mana? Ingat sama Ayah atau Ibu?" tanya saya. Irfan hanya memandang kosong ke arah kami, lalu ia menunduk dan beringsut-ingsut pergi. Ah, rupanya ada hal-hal yang bisa dibicarakan dengan ringan dan terbuka (seperti soal 'duit' tadi) oleh anak semacam Irafan ini, ada pula hal-hal yang mereka ingin pendam sendiri, tak ingin dibagi kepada orang lain. Soal keluarga mungkin salah satunya yg tidak nyaman untuk dibicarakan. Menurut Pak Mustam'i, kaki Irfan buntung karena terjatuh dari kereta.

Saya tidak berbasa-basi ketika menawarkan untuk membawakan buku-buku pelajaran bekas Nanda bagi guru-guru relawan di sini. "Kami butuh sumbangan buku-buku pelajaran Bu. Yang jadi pegangan relawan di sini kurang lengkap. Juga buku-buku komik ya Dek?" Pak Mustam'i bertanya kepada Nanda, apakah mau membagi buku2 komiknya untuk anak2 di sini. Nanda tersenyum sambil mengangguk.

 

Anak2 yang mengikuti program sekolah gratis ini memang tidak perlu mengikuti UN yang menyeramkan itu. Karena target mereka adalah lulus paket Kejar A, B dan C dari Diknas yang memang diperuntukkan bagi siswa2 yg dididik dalam PKBM (pusat kegiatan belajar masyarakat) seperti di sekolah master ini. "Untuk anak-anak usia SD, fokusnya adalah belajar calistung (baca-tulis-hitung). Sedangkan untuk usia SMA dan di atasnya, kami ajari ketrampilan praktis seperti reparasi HP dan disain grafis," jelas Pak Mustam'i. Ah, mungkinkah suami saya yang punya banyak teman disainer grafis mau berbagi ilmu dengan anak-anak di sini? Itu pikiran selintas saya, yang belum sempat saya utarakan pada Pak Mustam'i.

 

"Ada yang ngajar bahasa Inggris utk anak-anak Pak?" tanya saya, sambil membayangkan koleksi buku cerita anak-anak dan bergambar dalam bahasa Inggris di rumah, yang pernah dikirimkan oleh Romany, sepupu Nanda yg mukim di London. Juga buku-buku materi pelajaran selama Nanda les di EF dan LIA yang bisa jadi rujukan. Saat ini, buku-buku itu sdh harus berganti dengan buku2 yg lebih serius, karena Nanda di LIA sudah mencapai level 'higher intermediate' yg seharusnya utk anak-anak SMA. Saya pikir, guru relawan yang mengajarkan bahasa Inggris di sini pasti senang kalau saya 'hibahkan' buku-buku tersebut.

 

"Sayangnya belum ada Bu. Ibu bersedia jadi relawan?" Pak Mustam'i spontan saja menawarkan. "Wah, saya paling bisanya 4 jam saja dalam seminggu, " saya tidak mengelak, cuma menggambarkan keterbatasan saya. "Apa pun bentuk dukungan dan bantuan dari masyarakat, kami senang menerimanya. Kapan saja Ibu bisa, silakan saja Bu. Nanti saya hubungi lagi setelah lebaran ya," akhirnya Pak Mustam'i menegaskan tawarannya. Saya berjanji untuk memikirkannya nanti.

 

                                                                                                                 ***

Dan siapa bilang jadi guru itu mudah? Apakah guru yang berhasil adalah yang muridnya pintar dan mampu melahap semua materi yang diajarkan dengan cepat? Tidak, guru yang berhasil adalah yang bisa menjadikan muridnya 'senang' belajar. Lantas, bagaimana caranya membuat seorang anak 'senang' belajar? Apakah kamu akan membuka buku dan mendiktekannya, sambil menyuruh anak-anak menirukan ucapanmu seperti bebek? Tentu saja tidak. Mereka harus tergerak untuk membuka buku, memperhatikan isinya, lantas bertanya pada guru tentang hal-hal yang ingin diketahuinya. Apakah kamu cukup sabar untuk menunggu seorang murid mau mengalihkan perhatiannya pada hal lain untuk memperhatikan apa yang engkau sampaikan? Mestinya ya. Seorang guru harus menerima apa pun kondisi muridnya tanpa syarat. Apakah kamu menganggap murid-muridmu bagian dari pemenuhan egomu agar mendapat pemuasan dan pengakuan? Ugh, Saya harus terus bicara dengan diri sendiri mengenai hal ini.

 

Sembari memikirkan pertanyaan-pertanyaan ini, air mata saya meleleh. Siapa saya ini, sehingga cukup percaya diri untuk mengajarkan ilmu pada murid-murid luar biasa yang berada dalam kondisi 'luar biasa' ini. Di jalanan, yang membuat mereka nyaman adalah ketiadaan aturan dan sanksi. Apalah artinya seorang guru yg kerjanya hanya menasehati dan mengancam? Mungkin yang bisa saya lakukan nanti cuma membacakan cerita dan ngobrol dengan mereka. "Mereka itu butuh pengganti orangtua, sekaligus yang mampu bersikap sebagai guru, juga teman," kata pak Mustam'i. Saya sudah sering mendengar dan membaca tentang hal ini. Tapi kini saya akan berperan secara nyata menjadi 'pembimbing' mereka. Mampukah saya berbuat yang terbaik? Air mata saya meleleh lagi.

 

Setiap kali memandangi rumah saya yang tenang dan nyaman, saya jadi ingat anak-anak itu yang tidur berdesak-desakan di rumah petak. Di luar sana, beberapa puluh meter dari tempat tidur anak-anak itu, suara bis meraung-raung selama 24 jam. Datang dan pergi. Juga ada lelaki awut2an dan teman-temannya, para penggembira 'dunia bawah tanah' itu. Habis lebaran ini, ya habis lebaran ini, akankah saya mantap memutuskan untuk menjadi bagian dari dunia mereka? Air mata saya lagi-lagi meleleh

===================

Bagi yang ingin membantu: kontak  Nunik Iswardhani