Kepada Susilo Bambang Yudhoyono

: Puisi yang Tidak Terlalu Serius

 

ini puisi soal negara

puisi ini tidak terlalu serius

sama seperti negara yang tidak serius memberantas korupsi

orang yang melaporkan kasus korupsi ditahan

aktivis yang melaporkan kasus korupsi dihajar

lembaga baru yang menyidik kasus korupsi dihancurkan

koruptor yang ditahan malah dibebaskan

kejaksaan sama tidak seriusnya dengan puisi ini

kepolisian juga tak serius menangani kasus korupsi

tapi sangat gigih memblow up kasus perkelaminan yang dilakukan secara tak serius

lupa pada kasus rekening buncit yang demikian serius

televisi sudah tak serius memberitakan derita lapindo

sama tak seriusnya mengusut century

pertamina tak serius memanage bahan bakar

setiap hari ada ledakan di rumah rakyat kecil

teroris sudah berganti tokoh dan sasarannya

yang jadi korban tetap si kecil

tapi negara tak serius bertanggung jawab

 

puisi ini tidak terlalu serius

seperti negara yang tak serius berantas korupsi

 

 

Jokja, 26 Juli 2010

Asep Sambodja

 

 

Orang-orang Parlemen

 

 

orang-orang parlemen

berpakaian parlente

tinggal di rumah elite

 

turun dari mobil

sepatu mengkilat dari kulit buaya

perut buncit seperti babi

ikat pinggang kelelahan menahan celananya

 

masuk ruang sidang terasa nyaman

kursi empuk ruang sejuk bebas polusi jakarta

sidang dimulai, mata pun mulai ngantuk

palu diketuk, mulut menganga

sempurnalah segalanya

 

orang-orang parlemen

sibuk membela kepentingan partai

tak ada yang membela kepentingan rakyat

 

mereka meributkan perkara yang merugikan partai lain

tapi diam seribu bahasa kalau menyangkut partainya sendiri

 

mereka bikin undang-undang

yang bisa memenuhi pundi-pundi mereka sendiri

bukan demi kemaslahatan rakyat

seperti tikus, begitulah kerja mereka

 

melihat orang-orang parlemen bicara

seperti melihat pedagang kaki lima yang menjual barang

meyakinkan, barang biasa jadi demikian penting

barang murahan jadi begitu berharganya

 

 

GK, Jokja, 2 September 2010

Asep Sambodja

 

 

 

Dokter Lukman yang Kukenal

 

 

ia dokter ahli kanker yang kukenal justru karena kejujurannya

ia tak ingin aku berlama-lama terbaring di kamar

ia yang memintaku segera pulang setelah bisa berdiri pascaoperasi

 

aku mengenangnya karena ternyata aku tak menemukan lagi

dokter jujur seperti dokter lukman

 

ia tidak memasang tarif saat memeriksaku

segala tindakan yang menyelamatkan nyawaku diambilnya dengan berani ambil risiko

 

dulu aku masih menemukan orang jujur seperti dokter lukman

sekarang tidak lagi

kini rasa sakit pasien bisa menjadi peluang untuk mengeruk keuntungan

yang dipikirkan bukan lagi bagaimana pasien cepat sembuh

tapi uang yang bisa dikeruk dari berbagai obat yang dijual

 

dokter lukman berjasa ikut menyelamatkan nyawaku hingga hidupku kini

hingga detik ini

aku berterima kasih karena itu

 

tapi yang menyedihkanku adalah ia terserang stroke

setelah tiga bulan mengoperasiku

aku sedih

aku merasa kehilangan pegangan dalam pemulihan

 

yang tersisa adalah dokter favorit

yang dingin

yang mengatakan “tanpa merendahkan kemampuan bapak,

saya beritahukan bahwa untuk mengetahui penyakit di pinggang bapak

ada tiga tahapan yang harus diambil

setiap tahapnya 80 juta

jadi semuanya 240 juta

itu pun belum menjamin tubuh bapak benar-benar bersih dari massa tumor”

 

aku pikir

aku bagaikan katak eksperimen

yang siap dijadikan alat percobaan

 

kalau aku jadi dokter

pasti aku tak mau bermental pedagang kelontong seperti itu

 

ini benar-benar rumah sakit!

 

orang yang datang akan semakin sakit.

 

 

 

GK, Jokja, 27 Agustus 2010

Asep Sambodja