MENYUSUN KEMBALI PUING-PUING YANG TELAH DIRUNTUHKAN

Dalam notes sebelumnya, saya begitu kritis dan mencemoohkan jargon- jargon agama yang sudah tidak berdasar. Saya membawa para pembaca kepada pemahaman bahwa agama harus didemitologisasi agar dapat dipahami dengan wajar bagi orang modern. Kita menempatkan mitos sebagai mitos dan pesan moral sebagai pesan moral.

Bagian I artikel ini

Lewat logika sederhanapun mudah bagi kita untuk mendapati bahwa cerita- cerita agama berasal dari mitos-mitos dan legenda setempat. Bagaikan memisahkan susu dari buihnya, kita mengias- ias apa yang bisa kita ambil untuk mencari makna hidup kita di bumi ini.

AGAMA BATHIN VS AGAMA BENTUK

Mengapa dalam note di atas saya menampilkan cuplikan pengadilan Yesus? Tentu bukan tanpa alasan yang jernih.

Bagi para sufis dan spiritualis lainnya ada hal yang menarik dari manusia Yesus yang tidak didapati dalam nabi-nabi lain baik itu dalam agama Yahudi maupun Islam. Apakah itu? Kalau kita perhatikan dengan seksama di seluruh cerita injil baik itu yang diakui ataupun tidak diakui oleh gereja, maka kita akan dapatkan suatu ciri khas yang tidak mungkin kita dapatkan dari nabi-nabi lain sebelum dan sesudah Yesus, yaitu: ketika nabi lain bersabda, “Demikianlah firman tuhan…. ,” atau mengatakan, “Malaikat anu turun padaku dan menyampaikan pesan anu.” Hal tersebut tidak pernah Yesus lakukan. Ia selalu dalam sikap sadar, tidak trance, ketika berkata, “…aku berkata kepadamu, sesungguhnya kerajaan Allah itu ada di antaramu…“ , “…aku berkata kepadamu, cintailah sesamamu manusia…” dsb.

Apakah artinya ini?

Bagi Yesus kebenaran itu bukan terletak pada suatu pribadi di luar sana, kebenaran bukan sesuatu catatan dilangit tentang apa yang halal dan haram, boleh dan tidak boleh, bukan karena adanya pribadi adikodrati yang bertahta di atas arhsy dengan Jibril sebagai perantara ke pada manusia, namun suatu keputusan untuk masuk dalam kehidupan nyata dan berbagi kasih dengan sesama. Ia tidak peduli dengan syariat dan penyeragaman keyakinan. Bagi Yesus otoritas wahyu tidak berada di balik pengaku-akuan karena si nabi bertemu Jibril atau sebagainya. Baginya wahyu adalah kebijaksanaan intuitif dalam hidup sebagai produk dari hidup yang kontemplatif, lembut dan ceria, bukan suatu catatan yang turun dari langit yang hanya bisa ditangkap oleh seorang nabi seperti yang orang Islam pahami.

Dalam share hati ke hati dengan seorang romo, beliau pernah mengatakan. “Mempelajari ketuhanan tidak akan menambah pengetahuan apa-apa tentang Yesus, justru dengan mempelajari manusia Yesus maka kita akan memahami apa itu idea ketuhanan dalam pemahaman manusia.”

Ketika ketuhanan ini ditelanjangi, maka yang nampak adalah kemanusian dan pencarian makna hidup itu sendiri. Inilah concern kami yang mendalami spritualisme.

Pendekatan hukum – syariah dalam agama, hanyalah negative reinforcement yang menganggap bahwa manusia itu pada dasarnya bodoh, liar dan harus dikekang dan diseragamkan.

Pendekatan penyeragaman ini selalu memandang manusia sebagai agen kejahatan dalam dirinya sendiri.

Manusia yang terilusi dengan bentuk dan fenomena akan semakin terpinggir dari gerusan jaman yang begitu cepat berubah. Mungkin dalam abad ini juga, manusia harus hidup di dasar lautan dengan membangun kubah-kubah besar karena daratan sudah terpolusi dengan zat radioaktif dan penipisan ozon, pada saat itu dimanakah kita berkiblat ketika shalat? Di manakah sungai Gangga? Dimanakah Yerusalem, kota damai yang penuh dengan kutuk kekerasan?

Dalam abad-abad mendatang manusia akan mengarungi alam semesta, dimanakah manusia relijius akan berkiblat ketika shalat? Mereka yang begitu terilusi dengan agama bentuk, tidak akan mampu menjawab hal ini.

Apa yang mendesak dalam diri kita adalah menemukan makna hakiki dibalik apa yang tersurat. Meretas dari cangkang menuju isi, dari eksoteris menuju esoteric. Beralih dari agama bentuk kepada agama bathin, bahkan bisa saja kita katakan itu bukan agama, namun suatu perjalanan diri atau apapun sebutannya.

KANT, DAN REALITAS KEBENARAN.

Dalam note sebelumnya saya menyitir kalimat dari Immanuel Kant seorang filsuf Jerman, “Bintang gemintang di atas langit, dan hukum moral ada di dalam dadaku.”

Saya percaya bahwa kebenaran hakiki itu ada, namun sebagai mana bintang gemintang yang begitu jauh dilangit, tak mampu kita raih, begitu pula kebenaran hakiki itu tidak bisa kita pahami dengan logika kita yang mencerap dalam pandangan dualistic.

Didalam dunia non saintifik, ding an sich atau realitas pada dirinya sendiri, tidak akan pernah dipahami. Yang bisa kita pahami adalah ding fur uns, realitas kebenaran bagi kita, yang sudah dipermak oleh intelektualitas, budaya, ruang dan waktu.

Mencari kebenaran hakiki dalam agama bentuk adalah naïf dan tidak layak diusahakan.

Kebenaran hakiki tersebut hanya bisa kita rasakan dalam keindahan, kelembutan, dan penerimaan diri sebagaimana saya ceritakan tentang bunga Dandelion yang hampir tidak dipedulikan orang namun nampak keindahannya ketika kita duduk tenang. Memandang keindahan dunia dalam kelembutan dan keterpanaan, disanalah tujuan dalam hidup dan kebermaknaan hidup itu didapatkan. Saya pribadi mendapat ilham tersebut dari cerita tentang Buddha yang menjelaskan tentang transmisi kebenaran tertinggi kepada Sariputtra, muridnya yang paling cerdas . Menurut tradisi buddhis, darma yang tertinggi adalah tiada darma itu sendiri, karena darma yang dicerap oleh akal manusia masih merupakan negasi dari a-darma.

Begitu pula dalam mistisme hindu, saya temukan tentang kisah seorang brahmana tua yang ditanya oleh muridnya tentang realitas kebenaran mutlak. Sang brahmana tua tidak menjawab dengan jawaban verbal, namun dengan mengupas sebiji bawang lapisan demi lapisan sampai terus sampai ke lapisan terdalam, dan tiada lagi lapisan apa-apa. Tiada berinti, sunyi. Kosong.

Manusia Yesus, manusia Gautama dan manusia Krishna adalah manusia- manusia lembut yang melihat dan memasuki realitas kebenaran dengan lirih dan manusiawi. Begitu luar biasa orang- orang macam mereka sehingga selama ribuan tahun hanya sedikit sekali orang yang memahami dan memasuki kawasan pengalaman mereka. Para pengaggum tokoh-tokoh ini tidak bisa melihat kebenaran ini karena selumbar dogma dan mitos yang tebal di mata mereka. Lebih sukar lagi bagi saya untuk menjelaskan ini bagi umat Islam. Karena Islam dibentuk dari agama bentuk, bukan agama bathin. Maukah para pembaca menolong saya membagikan ini kepada saudara kita umat islam di negeri ini?

Bagi saya pribadi, melakukan kebajikan dan kebenaran, bukan untuk membuat diri kita sesuai dengan tuntutan agama, syariah, pahala surga dan ancaman neraka.

Saya melakukan kebajikan karena itu sudah terpatri dalam hati dan akal saya. Bukan karena suatu daftar apa yang harus dan apa yang tidak boleh dilakukan, namun semata-mata sebagai produk dari pembatinan dari kebermaknaan hidup ini. Seperti halnya angin puting beliung yang memuntahkan apa saja yang ada dalam jangkauannya, begitu pula orang yang berintegritas melakukan kebajikan karena memang itu keluar spontan dari dalam bathinnya.

Saya sangat percaya bahwa nature dari manusia adalah baik. Dalam didikan rasionalitas dan kejujuran, manusia justru akan lebih bertanggung jawab ketimbang terus diiming-imingi pahala dan ditakut-takuti neraka abadi.

Hari ini saya mendapat kabar bahwa setelah sekian lama pemerintah Belanda memberlakukan kebebasan bagi para pecandu narkotika, ternyata justru penjara semakin sepi danbeberapa akan ditutup karena tidak ada yang menempatinya. Terbukti bahwa dalam kebebasan dan kedewasaan ada tanggung jawab.

Berbeda jauh dengan masyarakat kita dimana jargon- jargon agama selalu digembar-gemborkan namun nilai-nilai kemanusiaan diinjak-injak dan kejujuran di hempaskan jauh-jauh dari kehidupan berbangsa.

TOKOH YANG DIMUNCULKAN

Sejak tulisan- tulisan saya di FB & SK dipublish, banyak pembaca yang menanyakan sesuatu dan meminta saran. Banyak pula yang ingin copy darat dengan saya. Seakan-akan tokoh Lutfi ini tahu segalanya bak juru selamat. Kita tahu bahwa tidak ada juru selamat, satria pininggit, imam mahdi, kalki, dsb. Semua agen mitologis itu merujuk pada kedewasaan dan kesadaran tertinggi dalam diri kita sendiri.

Ada yang menebak Lutfi ini adalah tokoh ini atau itu, namun hanya sedikit sekali pembaca bisa meraba-raba alasan

keberadaan atau raison d’etre dari tokoh narsis, sok tau, polos, sompral dan vocal ini. Dalam note lalu saya mengetengahkan isu tentang teologi cerita , mitos kontra mitos, bahwa lewat cerita dan tokoh- tokoh kita menumbangkan nilai-nilai lama dan memunculkan nilai-nilai baru, mengapa anda tidak bisa menjadikan tokoh Lutfi ini sebagai bagian dari mitos baru itu sendiri?

Lutfi yang adalah – yang lembut hatinya, akan muncul dengan sendirinya di dalam hati dan pikiran orang yang mengedepankan kelembutan, rasionalitas dan kejujuran. Dan pada mereka yang memiliki kualitas inilah maka salam, rahmat dan damai turun atasnya (alaihi salam).

Bertanya pada Lutfi adalah bertanya pada diri sendiri. Menemui Lutfi adalah menemui diri anda sendiri. Mencaci Lutfi adalah mencaci diri anda sendiri. Tokoh mitologis mistis ini hanya mencoba meretas benih-benih potensi terbaik dalam diri anda sendiri agar berkembang. Ia dimunculkan karena kegundahan si penulis akan kehidupan beragama dan berbangsa kita.

Jika sekarang para pembaca menyadari bahwa tokoh Lutfi as hanyalah tokoh mitologis mistis yang mengaduk emosi dan inspriatif karangan sang penulis anonimus, mampukah anda memahami bahwa baik itu Gautama, Musa, Yesus dan Muhammad adalah sangat mungkin tokoh-tokoh mitologis yang dibentuk oleh para pujangga, ahli agama, mistikus dari jaman-jaman tertentu untuk maksud-maksud moral dan politis kaum tertentu?

Suatu saat akun ini akan diblokir karena terlalu kritis. Namun Lutfi–Lutfi lain akan tumbuh dan terus bersemi dalam diri manusia Indonesia yang mengedepankan kelembutan, rasionalitas, kejujuran dan integritas. Saya sendiri akan tetap berjuang semampu saya dengan satu cara atau lainnya.

Selamat menempuh jalan menuju summum bonum, insan kamil, kesadaran kristus, kebudhaan, moksa, atau tidak sama sekali karena itu cuman pilihan dalam hidup, kita-kita sendiri yang menentukan hidup ini. Salam ceria, salam kemanusiaan. Tidak ketinggalan pula… seru sekalian alam.