1.Tanggapan dari pembaca Nasrani
 
Segera setelah 2 notes terdahulu saya publish, akun FB saya dibanjiri oleh pembaca dari latar belakang nasrani yang meminta di-addfriend, terlebih ketika note yang terakhir, Tuhan Itu Ada Sebanyak Mereka Yang Memikirkannya, dimana saya telanjangi mitos-mitos agama yahudi dan nasrani, justru mereka memberikan apresiasi positif terhadap tulisan saya. Surprise. Biasanya caci maki dan hujatan sudah jadi diet saya tiap hari. Sukurlah.
 

Kejujuran inilah yang mereka cari selama ini dan tidak didapat di khotbah2 pendeta mereka. Intelektualitas yang menghempaskan candu agama seperti inilah yang mereka rindukan selama ini dan tidak di dapat di gereja.

Mungkinkah ini tanda bahwa manusia terdidik, sudah nyata-nyata tidak bisa menerima lagi pembodohan dari para rohaniwannya?

Mungkinkah ini saatnya telah tiba bagi manusia Indonesia untuk bangkit dan belenggu-belenggu mitos yang selama ini menjadikan kita the other terhadap sesama kita sendiri? Saya harap demikian.
 
Namun apabila prasangka baik ini tidak terjadi, berarti itu tanda bahwa manusia Indonesia lebih suka menghisap candu-candu agama, lebih senang menyalibkan intelektualitas mereka sendiri kesekian kalinya, lebih senang menyunat intelektualitas kita sampai ke ‘bongol-bonggolnya’ dan menutup mata kita rapat-rapat dari realitas hidup yang terus berubah secara dinamis dan menuntut perubahan paradigm kita dalam memaknai hidup ini.
 
Demikian pula saya janjikan bahwa saya akan terus menyulut api kemanusiaan, integritas dan intelektualitas manusia Indonesia with one way or another tanpa pungutan apa-apa alias gratis.  Para pembaca nasrani tidak perlu takut dipungut perpuluhan oleh saya, seperti halnya para pendeta anda lakukan demi untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka yg borjuis di Singapur, Australia dan Amerika.
Kalau anda merasa tercerahkan dari tulisan saya, silahkan bagi kepada yang lain. Sudah saatnya bagi kita untuk tidak jadi korban dogma2 agama lagi. Kita manusia bebas. Karena kita adalah tuhan atas aturan2 agama.
 
2 . Tentang Tujuan dan Makna Hidup.
 
Seorang menulis sur-el kepada saya yang intinya demikian:
 
DR. Lutfi, saya tercerahkan dengan tulisan bapak tentang evolusi perjalanan manusia itu sendiri yang merentang masa hampir 7 juta tahun
adalah mu’jizat dan hidup menjadi manusia itu sendiri adalah mu’jizat. Pertanyaan saya:
Adakah tujuan dari penciptaan alam semesta ini? Adakah tujuan penciptaan manusia di bumi ini?
Sedari kecil saya diajarkan bahwa tujuan menjadi manusia adalah agar menjadi hamba allah, menjadi kalifah allah di muka bumi ini.
Dengan runtuhnya mitos2 tuhan / allah ala agama2, maka saya tidak menemukan kembali pegangan itu. Memang  sich saya sudah ragu sama agama saya sejak lama, namun stlh  membaca  tulisan2 dari DR, Lutfi, saya menemukan 2 hal ini:
 
-Keraguan saya akan kebenaran agama mendapatkan bentuk yang solid. Saya jadi berani berkata tidak pada mitos2 agama.
-Pencarian hidup saya jadi kembali ke titik nol. Seakan-akan seluruh bangunan konsep kebaikan dan keburukan itu runtuh. Saya mencoba
membangun kembali kepingan2 dari reruntuhan itu dan tidak tahu harus mulai dari mana.
Demikian permasalahan saya. Semoga DR.Lutfi bisa menjawabnya.
 
Wasallam.

 
Berikut jawaban saya:
 
Trima kasih untuk suratnya, saya sangat apresiatif dengan tulisan anda. Inilah pencarian yang tertinggi dalam hidup, yakni mencari makna dan tujuan hidup. Bertahun-tahun saya bergumul dalam tema yang sama, mencari titik pijak yang seimbang antara intelektualitas dan spiritualitas.  Dan itu merupakan momen-momen yang menegangkan dan mengharu- biru. Penuh dengan lekukan tajam dan ketidak- seimbangan.
 
Seorang yang terbiasa dengan berpikir kritis, mana mungkin mau menyerah untuk mempercayai cerita2 agama yang tidak berdasar ttg surga dan neraka. Namun dalam realitas dunia, semua faktor dimensi hidup saling terjalin, begitu sukar untuk diurai satu persatu.  Ada institusi agama yg berusia ribuan tahun yang mencatat sejarah tidak hanya sisi gelap, namun juga sisi baiknya untuk masyarakat. Dan kita hidup dalam komunitas dimana agama 2 ini begitu berakar kuat dalam tradisi dan benak kita, (yang juga sebenarnya dipolitisasi oleh pihak2 tertentu demi kekuasaan). Namun sekali anda memutuskan untuk tidak menyerah dan terus maju, saya percaya, anda akan mendapatkan jawabannya.
 
Ada satu cerita dalam agama buddha yang berkaitan erat dengan pertanyaan anda.  Demikian inti ceritanya.
Tersebutlah seorang murid yang meminta Gautama untuk menjawab pertanyaan2nya. Jika Gautama bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, maka ia akan tetap menjadi muridnya. Demikianlah kira2 pertanyaannya:
-Apakah alam semesta ini diciptakan atau tidak, terbatas atau tidak, abadi atau tidak?
-Apakah ada sang pencipta atau tidak, apakah ia juga dicipta atau tidak ?
-Apakah penciptaan ini bersifat linear atau siklikal?
-Apakah jiwa itu ada atau tidak, kekal atau tidak?

 
Jawaban Gautama  sederhana: apabila ada seorang serdadu yang terluka di medan perang, dan ada seorang tabib yang berinisiatif untuk menolongnya, perlukah si pasien ini bertanya : siapakah yang tadi memanahku? Dari manakah asalnya? Dari kasta apakah dia? Dari manakah ia belajar memanah? Memakai kayu apakah busur dan anak panahnya? Dengan metoda apakah ia menarik busurnya? Berapa lamakah ia telah beratih memanah? Dsb.dsb.
 
Nah, manakah yang lebih penting, menjawab pertanyaan si pasien atau membopongnya keluar arena perang dan melakukan P3K?
Kemudian Gautama  katakan bahwa ia tidak akan pernah mengajar apapun hanya untuk mencari tahu ini dan itu yang hanya akan terus menerus memancing pendekatan dualistic. Ia hanya akan mengajar bagaimana menjalani hidup dengan suatu perspektif subyektif dari pengalaman hidupnya, yang disebut cara melenyapkan dukha.
                                              ———– +      ———-
 
Demi mencoba memahami maksud jawaban Gautama  saya bertanya pada rekan2 umat buddhis, namun jawabannya begitu dogmatis. Ada yang mengatakan bahwa cerita tsb belum selesai, sebab dikemudian waktu Gautama bercerita bahwa leluhur manusia berasal dari mahluk hidup yang tinggal di suatu surga yang non material dsb. Wah mitos lagi, candu lagi. Saya katakan padanya bahwa fakta Gautama tidak mau menjawab, berarti memang dia tidak mau jawab.
 
Kenapa ada cerita ttg Buddha menceritakan leluhur manusia dari surga tertentu? Harap pembaca ingat tentang Teologi Cerita- Mitos Kontra Mitos , bahwa adalah hal lumrah bagi agama baru untuk menumbangkan mitos 2 agama lama dengan menggunakan mitos2 baru yang memihak kepercayaannya. Dalam hal ini mitos agama hindu diganti oleh mitos agama Buddha. Inti dari ajaran Gautama yang etis filosofis sungguh sukar untuk dipahami umat awam, sehingga dijembatani dengan cerita2 dan legenda.
 
Saya juga katakan bahwa kitab tripitaka bukanlah perkataan dari mulut Buddha langsung, tapi dari para penulis dan penghafal tipitaka yang hidup sekitar 300-400 tahun stlh Buddha wafat. Dan dalam pembentukan kitab itu, ajaran Buddha yang sederhana telah dikooptasi oleh para biksu dari selatan atau hinayana, itulah kenapa ada tradisi yang melawantradsis selatan, yaitu  tradisi mahayana. Sangat mungkin bahwa manusia Gautama tidak berbicara baik dalam bahasa pali atau pun bahasa sansekerta, tapi bahasa daerahnya sendiri di Nepal. Hmmmm payah deh… kalau orang beragama hanya menekankan pada pemahaman literal biblical semacam itu. Selalu naïf.
Saya mencoba memahaminya cukup lama, kemudian sampai pada satu refleksi bahwa ada yang harus dibedakan, yakni Tujuan Hidup
 
(Purpose of Life) dan Tujuan Dalam Hidup  (Purspose in Life).
 
Purpose of Life adalah pertanyaan yang bersifat obyektif dan memerlukan pembuktian material, yang darinya kita mentheorimakan suatu kebenaran empiris.
 
Pertanyaan2  ontologis yg diajukan si serdadu seperti diatas TIDAK masuk dalam ranah agama atau spiritualitas. Dari manakah adanya kehidupan ini, apa yang terjadi sebelum big bang, adakah jiwa atau tidak, bukan domain dari agama.
Biarkan para saintis dengan jernih mencari jawaban2 dari pertanyaan ontologis semacam ini. Fakta bahwa cerita2 agama tentang penciptaan alam semesta, penciptaan manusia telah terbukti gugur, seharusnya membawa kita pada pemahaman bahwa pertanyaan semacam itu bukanlah domain agama / spiritualitas.
 
Sedangkan tujuan dalam hidup ini (purpose in life) adalah pengalaman subyektif dan unik dari si individu yang mana ia harus putuskan dan tempuh dalam meniti momen2 hidup ini. Dari perjalanan hidup inilah dia mengambil makna hidup.
Tujuan hidup dan makna hidup itu sendiri tidak pernah ada yang menentukan, anda sendiri yang menentukan hidup anda mau dibawa kemana. Anda mau jadi apa, berkarir di bidang apa, mau jadi manusia dgn tabiat apa, andalah yang menentukan berdasarkan modal dan kapabilitas anda.
 
Dahulu agama memonopoli kehidupan manusia karena para rohaniwan berpikir umat terlalu bodoh untuk menentukan mana yang baik dan tidak baik, mana yang berarti dan tidak berarti, dan sebagai hukum bersama yang mengikat suatu komunitas maka lahirlah agama-agama hukum.
 
Kita mesti pahami ini dalam perjalanan peradaban manusia. Dan sejalan dengan dialektika masyarakat yang makin terdidik, manusia  mulai mempertanyakan otoritas dari institusi dan dogma2 agama dan mencari realitas kebenaran yang lebih utuh, jernih dan bebas dari segala motivasi politik dan agama.
 
Tidak ada agama, dogma dan kitab yang jatuh dari langit, semua hasil dari pemikiran manusia dalam upaya mencari jawaban tentang purpose of life & purpose in life. Tentu saja pemikiran manusia ini dibentuk oleh lengkungan kebathinan, kultur, worldview yang terkait dengan ruang dan waktu saat itu. Begitu pemikiran ini dikonsepkan dalam bahasa, maka jadilah sebuah isme  atau ideology.

Apakah tujuan dari alam semesta ini? Bahkan para saintis saja tidak tahu, apalagi rohaniwan.
Tetapi apakah anda merasa layak menghabiskan energy untuk mencari jawaban semacam itu sementara dalam keseharian hidup anda, ada masalah2 praktis yang perlu disikapi secara dewasa.

Dalam note2 terdahulu, saya selalu tuliskan bahwa :
 
Hidup ini bernilai / bermakna (pemahaman subyektif) bukan karena mempercayai dogma ini dan itu, namun dalam mengambil keputusan untuk meningkatkan nilai2 kemanusiaan dalam jangkauan praksis yang terdekat.
 
Apakah jangkauan praksis yang terdekat yang kita bisa ikut ambil bagian?
Ambilah sikap dan tindakan nyata untuk meruntuhkan raksasa-raksasa penghancur kemanusiaan, yakni:  kemiskinan, korupsi, pembodohan massal dari kekuasaan dan otoritas keagamaan, pemaksaan syariat islam di negara kita, tindakan kekerasan oleh mereka yang menjadi candu agama dsb.
 
Kepada para pembaca nasrani , ada satu hal lagi yang anda bisa lakukan:
 
Dari pada anda memberikan perpuluhan kepada gereja, yang nyata2 tujuannya hanya untuk memperkaya si pendeta agar bisa menyekolahkan anaknya ke luar negri, dan membangun tembok2 pembeda di antara manusia lebih baik anda berikan pada orang / lembaga kemanusiaan yang lebih membutuhkan, tanpa melihat latar belakang agama dan etnis.
 
Demikianlah perenungan dari saya, sebagai Doktor lulusan universitas Australia terkenal dalam Kajian Islam Mutokhir alias Advance Islam Study, akhirul kata saya himbau:
 
Mari ummah manusia, jalanilah hidup ini dengan penuh semangat, sukacita, dan integritas yang luhur, seraya gigih menolak segala bentuk pembodohan yang membuat manusia terkotak2 oleh dogma agama yang sudah lancung, cacat logika, dan basi. Mari kita wujudkan kemanusiaan universal yang mengedepankan kelembutan, rasionalitas dan kesetaraan. Seru sekalian alam.