Benar!

Gelombang sengsara telah pergi bersama angin tsunami

Wajah konflik sirna dalam jabat Helsinki

Dan, Nanggroe kini resmi dipanggil damai

 

Benar!

Tidak ada deru senjata lagi. Tidak ada sepatu laras

Menghantam dada-dada tak berdosa

Tidak ada lagi ketakutan menapaki jalan

Tidak ada lagi mayat-mayat tanpa alamat       

Tidak ada lagi manusia hilang akibat tuduhan, pengacau!

Tidak ada lagi perempuan dijadikan tameng kata merdeka

 

Benar!

Semua telah memancar indah

Lampu jalan bersinar, ruang bermain anak bertaburan

Para manusia dewasa tenang melenggang kangkung

Menuju meja-meja kerja, menuju lingkar arisan

Bahkan, ruang seteguk kopi pun makin membuncah

Menjalar memenuhi pinggir jalan negeri ini

 

Benar!

Wajah Aceh penuh dalam gelak tawa

Nyaris setitik pun tak bersisa,

Tanda kota ini pernah tertumpah darah,

Banjir air mata, lumpuh oleh kejahatan perang,

Dan, tersapu oleh gelombang tsunami

 

Benar!

Kita patut bersyukur pada nikmat damai

Dengannya, anak-anak tersenyum dalam seragam sekolah

Dengannya, rezeki keluarga mengalir tanpa trauma

 

NAMUN, ada kebenaran lain yang kau lupa, Tuan!

Dalam nikmat yang melekat itu

Telahkah matamu menjalar ke lorong-lorong kumuh?

Ke pelosok-pesolok gampong?

Tanah, di mana darah begitu nyata tersembur merah

Tanah, di mana pekik perempuan tertahan,

Memeluk lelaki bersimbah darah

Bahkan, mencari mereka dalam mata berbalut luka

Suara perempuan tenggelam dalam todong senjata

Rahim perempuan dikoyak atas nama takdir perang!

Anak-anak kehilangan ayah! harapan dan masa depan.

Begitu konflik memeluk mereka ketika itu

 

Di mana kata damai itu dapat mereka baca?

Apakah pada isyarat lampu hijau ke luar rumah?

Ataukah pada pergantian wajah penguasa,

Yang mengaku telah menebar wangi damai?

Atau? Pada dinding-dinding jalan bersimbol tasbih Ilahi?

Atau mungkin juga pada deretan wajah partai,

Yang mengaku peduli korban?

 

Jangan naïf, Tuan!

Gunakan pedang pikirmu membaca realita ini

 

Tentang kemerdekaan dari luka sejarah

Tentang damai dari kebodohan dan kesewenang-wenangan

Tentang duduk semeja dengan kaum Cut Nyak Dhien

Tentang ramuan obat untuk rahim-rahim yang diperkosa

Tentang tangisan anak dhuafa untuk segelas susu

Ups! Tunggu dulu! Jangan dulu bicara segelas susu

Tentang makan malam yang tak perlu indah

Tapi menanti mereka tanpa harus merintih

Dan, meronta dalam tidur panjang menunggu pagi

 

Bukankah itu cerita pelosok, yang kau dengungkan

Ketika ingin jadi penguasa kami, Tuan?

Belajarlah bertanggungjawab,

Atas nyawa kami yang kau pertaruhkan

Atas darah saudara kami, yang kau tumpahkan

Karena kami bukan barang jaminan,

Untuk langgeng kekuasaanmu 

 

Buktikan, Tuan! Damai itu memang sejati

Bukan simbol yang berbalut kemunafikan diri

 

Kami tunggu langkah politikmu, yang berbudi dan berhati!

 

[Bumi Beurawe, 23 Agustus 2010]

 

sumber foto: Aceh Kita