Jika Islam dianggap sebagai monumen mati yang dipahat pada abad ke-7 M, lalu dijadikan sebagai 'prasasti'sejarah yang tidak boleh disentuh tangan peradaban, itu bukan agama saya!
 
GARA-gara umat Islam begitu obsesif menanyakan hukum segala hal, akibatnya fiqh menjadi membengkak, perintah-perintah dan larangan-larangan agama menjadi mekar begitu luas, dalil-dalil hukum juga menjadi menggelembung begitu banyak. Teks-teks Islam yang semula hanyalah menyangkut kasus-kasus spesifik yang ada pada zaman Nabi –yang belum pasti relevan untuk zaman berikutnya – yang semula merupakan teks-teks partikular menjadi universal. Hal ini pula barangkali yang melatari terbitnya fatwa haram intertainmen dari Majelis Ulama Indonesia baru-baru ini – di samping sebab-sebab yang lain. Tiba-tiba, seolah-olah"berislam" sama saja dengan "berfiqih". Apa yang sudah ditetapkan oleh fikih tidak boleh lagi diganggu gugat; sudah dianggap sebagai "blue print" atau cetak biru syari'at Islam yang cenderung dipertahankan mati-matian sebagai satu struktur hukum tak terbantah. Jamal Al Banna, adik kandung HasanAl Banna, pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, menyebut bahwa tampaknyafiqih pelan-pelan sudah menjadi "agama tersendiri".
 
Itu jelas tidak benar. Fikih sebagai salah satu yurispudensi hukum dalam Islam niscaya  mengalami perkembangan, bahkan perubahan. Sebab, fikih lahir sebagai"buah pemikiran" sang mujtahid/ulama Islam dalam pengkajian hukum Islam padamasanya. Itu berarti, fikih selalu menuntut koreksi dan perbaikan bahkan kritik, dikarenakan waktu, kondisi dan situasi yang terus berkembang. Fikih Islam itu banyak, kondisional, temporer dan cenderung subjektif. Fikih lahirsebagai "penafsiran" umat Islam terhadap ajaran (syari'at) Islam, sesuai dengan situasi dan kondisi pada masanya.
 
Lantaran fikih itu lahir atas dasar "penafsiran" (dengan atau tanpa tanda petik) umat Islam terhadap ajaran agamanya, maka tentu saja fikih Islam itu jadi beragam,tergantung siapa (orang), kondisi dan waktu serta tempat di mana ia berada.Buktinya Islam adalah satu, tetapi fikih Islam bermacam-macam; ada fikih Maliki, fikih Hanafi, fikih Syafi'i, fikih Hambali dan yang lainnya. Hal ini,sekali lagi, fikih harus selalu memerlukan pengkajian, perbaikan dan penafsiran ulang; tidak sepi dari koreksi bahkan kritik.
 
Selanjutnya, sebagian besar masyarakat Muslim bahkan ada yang menyenadakan fikih dengan syari'at Islam. Melaksanakan fiqih berarti menegakkan syari'at Islam. Karena, dalam anggapan mereka, syariat Islam adalah Islam itu sendiri. Perlu diketahui, Manoucher Paydar, dalam salah satu bukunya, Legitimasi Negara Islam, menyatakanbahwa syariat Islam sebagaimana kita ketahui sekarang adalah kumpulan-kumpulandari pendapat, opini, interpretasi, bahkan inovasi-inovasi yang diwariskan parafuqaha terkemuka abad ke-5 setelah Rasulullah saw wafat. Dengan kata lain,syariat Islam (atau apa yang dianggap sebagai syari'at Islam selama ini) tidakdapat dianggap sepenuhnya merupakan ajaran dan nilai-nilai yang menjadipegangan bagi umat.
 
Fakta ini perlu digarisbawahi untuk menjawab sinisme kaum agama, terutama yang biasanyamemandang rendah potensi akal manusia.
Parahnya lagi,seringkali kaum literalis atau mereka yang mengaku "pengikut generasi awal"(saya agak takut menyebut fundamentalis), memperlakukan syariat Islam sebagaisolusi final dalam menghadapi kondisi kekinian. Cara berpikir seperti inimerupakan cara berpikir yang menganggap enteng setiap permasalahan. Seolahsyariat Islam – yang notabene merupakan produk pemikiran abad pertengahan –dapat selalu menjawab kompleksitas permasalahan yang dihadapi umat sekarang.Tentu hal ini sangat naif.
 
Dengansendirinya, kehadiran partai-partai Islam saat ini (yang ikut pemilu atau tidak,semacam HTI?) patut dipertanyakan. Alih-alih sebuah tuntunan Islam, model yangmereka pakai merupakan model yang sedikitnya diadopsi dari pemikiran Barat (nah,lho, makanya kita jangan "alergi" berhadapan dengan segala sesuatu yangberbau Barat, apalagi dilawan [jika benar "Barat" memang harus dilawan]. Sejatinya,Barat – dalam banyak hal – lebih tepat dianggap sebagai "sparring fartner"bahkan guru untuk belajar). Jadi, apa sih yang hendak diperjuangkanlewat partai? Melaksanakan hukum fiqih untuk menegakkan syari'at Islam? Atau menegakkansyariat Islam demi menyelamatkan agama? Sepertinya terlalu arogan kalau kitaberpikir demikian, karena bukankah kedatangan agama justru untuk menyelamatkanumat manusia?
 
Karenanya, ide mengenai negara agama harus didiskusikan lebih jauh. Kalau umat Islam mau mengatur hidup mereka berdasarkan agama, itu hak mereka sendiri, tetapi tidak serta-merta meminta negara mengatur itu karena negara merupakan lembaga milik publik. Jadi,kalau agama mau mengatur kehidupan publik, harus dibicarakan dulu oleh publik.Karena, spirit dasar agama adalah sebagai ketundukan yang sukarela, tanpa paksaan, tanpa diawasi oleh "polisi moral", terhadap Tuhan. Kalau agama adalah keinsafan dan kesadaran batin yang berdasarkan pada tindakan batin yang sukarela,apakah bisa agama ditegakkan melalui aparat dan institusi pemerintah seperti undang-undang atau bahkan negara?
 
Posisi saya,dalam hal ini mungkin adalah seorang liberal. Ya, katakanlah begitu. Karena menurut sementara pendapat saya, "Jika Islam dianggap sebagai monumen mati yang dipahat pada abad ke-7 M, lalu dijadikan sebagai 'prasasti' sejarah yang tidak boleh disentuh tangan peradaban, itu bukan agama saya!"
 
Hal-hal sepertiin i, sekali lagi, mesti terus kita diskusikan lebih intens, dikaji dengan kritis, didialogkan secara sehat dan berkeadilan. Sayangnya, tidak semua orang mau diajak diskusi secara kritis. Sekarang, kalau kita mendiskusikan masalah-masalah itu secara kritis, lantas dianggap menghina syariat, menghina agama, bahkan melecehkan Tuhan!
 
AlLahu'alam bish-shawab.