Di negeri tujuh ribu rok, aku terhenti
Menabur cinta pada Ilahi, dalam dekap keluarga dan sanak famili
Karena cinta Ilahi, Tak hanya shalat di malam sunyi
Tapi juga bercurah hati, pada alam semesta dan sejumlah isi

 

(Persimpangan Rumah sakit Cut Nyak Dhien, Meulaboh, 13 Agustus 2010)Dan, merazia perempuan lebih mudah daripada mengejar para koruptor.

Di negeri tujuh ribu rok, aku terhenti
Menebar pandang pada langit-langit yang tak biru lagi
Yang bercerita tentang tubuh-tubuh dipagari
Konon katanya, agar pandangan liar tidak menggerayangi
Agar kerusakan bumi tidak terjadi
Tapi tahu kah engkau wahai pembuat pagar negeri?
Liar ada di kepalamu, kerusakan bumi juga dari tanganmu
Lalu kenapa tubuh-tubuh rentan itu yang kau sekap tiada henti
Kau tertibkan, demi pengakuan Islamnya negeri

 

Di negeri tujuh ribu rok, aku terhenti
Menatap nanar pada dinding-dinding putih nan sepi
Terbayang, wajah-wajah perempuan berkandung bayi

Yang terbiar tinggal menghitung hari   
Tubuh bangunan pun bagai pusara sunyi, kering tanpa sang ahli
Wajah calon mayat pun pasrah!
Bayi-bayi tak berdosa pun dikubur dengan serakah!

Seharusnya ini tidak perlu terjadi, bila penguasa tak kehilangan nurani
Di negeri tujuh ribu rok, aku terhenti
Menatap tajam wajah penguasa negeri
Tahu kah kau apa yang terjadi?
Rok yang kau bagi bertabur duri kehancuran

Berlumur darah kaum perempuan, kau cabik untuk lambang kesucian
Kau lihat ruang bercat putih yang redup dan kumal itu?
Ruangan penuh orang-orang layu dan kuyu!
Kau lihat jejak konflik dan tsunami di tubuh rakyatmu?

Ada luka-darah yang berkarat, yang butuh percikan damai yang tak berbatu!
Kau lihat betapa kotor dan mengerikannya negrimu?
Butuh kekayaan pikiran-hati, bukan nafsumu
Itulah sesungguhnya tasbih syari'at Tuhan-mu, yang juga Tuhan-ku

Di negeri tujuh ribu rok, aku terhenti
Dan, bertanya pada penguasa negeri
Syariat yang mana yang tengah kau ceritai?
Karena Sang Pencipta penuh kasih pada insani

Menyuruhmu berpikir tentang affala ta'qilun dengan hati
Dan, melarangmu berbuat kerusakan di muka bumi
Di negeri tujuh ribu rok, aku terhenti
Kembali bertanya pada penguasa negeri

Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustai?
Bukankah alammu tengah beranjak damai dan berseri?
Semailah seonggok hati agar tak hitam pekat lagi
Selamatkanlah bumi dengan ketajaman pikiran dan hati
Bukan dengan membangun lautan rok di tengah negeri

Di negeri tujuh ribu rok, aku terhenti
Yang helainya kini tak tujuh ribu lagi
Belasan, hingga puluhan ribu membentang negeri
Entah jiwa mana lagi yang dicabik
Entah raga siapa lagi yang diusik
Selamat berpuasa penguasa negeri
Semoga Ramadhan memberi ruang mengaca diri

(Persimpangan Rumah sakit Cut Nyak Dhien, Meulaboh, 13 Agustus 2010)

Dan, merazia perempuan lebih mudah daripada mengejar para koruptor.