Sepulang dari vihara, aki ngobrol bersama beberapa teman-teman di teras samping rumah tante. Memang waktu aki masih muda (dan gagah!) dulu, aki kost di rumah tante.

Suara kami cukup keras, memperdebatkan mengenai kebenaran yang baru saja kami dengar dalam kotbah di vihara tadi. Tiba-tiba muncul tante yang waktu itu tentu saja masih muda juga (dan cantik!), sambil membwakan teh manis. Seperti biasa, perabotnya serba indah. Teko dan cangkirnya berlukiskan bunga lengkap dengan hiasan cat keemasan.

"Ngobrol apa, nih?" kata tante aki sambil menaruh baki di meja. "Seru banget kedengarannya?"
"Ini lho, tante," kata teman aki, "biasalah teman-teman, berdiskusi tentang kebenaran."
"Ooooh," kata tante sambil mengangguk paham. "Ayo, silakan, sambil diminum tehnya. Ini tante buatkan teh manis."

Wah, asyik banget. Apalagi saat itu hujan rintik-rintik diBogor, yang memang tak pernah kekurangan hujan. Dengan hati-hati kami semua mengambil cangkir keramik yang tipisnya tipis sekali seperti biskuit itu, takut pecah kalau tergigit!

"Manis?" tanya tante berbasa-basi.

"Manis, tante!" kami hampir serempak menjawab. "Terimakasih."

Tante tersenyum: "Sekarang coba dong kalian jelaskan pada tante, rasa manis itu apa, seperti apa, bagaimana?"

Aki dan teman-teman terdiam semua.

"Nah, itulah kebenaran. Bisa dirasakan, tapi sulit dijelaskan!"
kata tante sambil berlenggang pergi meninggalkan kami melongo.

Wkwkwkwk….! Tak terasa, hujan gerimis sudah menjadi semakin deras.