Tahun 2000, pertama kalinya aku mengalami misorientasi soal hari-hari besar Islam.

 

Waktu itu aku ada di Bangkok yang orang Islamnya jarang-jarang, entah kenapa hari itu aku iseng nelpon ke Takengen nanyain kabar keluarga yang ada di sana dan ketika telepon diangkat di seberang pertanyaan pertama yang kudengar adalah "kek mana hari raya Idul Adha di sana?", "hah…hari raya idul Adha?, kapan", tanyaku. "hari ini kan, kata bibiku di telepon". Hari itu sudah siang jadi aku nggak sempat ikut Shalat Ied lagi. AKu tidak menyadari bahwa harin itu adalah Idul Adha karena memang di Bangkok semua orang di lingkungan aku tinggal tidak satupun yang beragama Islam, jadi hari-hari berjalan normal tanpa ada tanda-tanda kalau itu adalah hari besar sebagaimana suasana yang biasa aku alami di kampung, baik di takengen maupun di Banda Aceh.

Padahal waktu itu aku ada di Khaosarn Road, jalan Legiannya Bangkok yang dekat dengan Bang Lam Phu, yang memiliki sebuah pemukiman Kantong Muslim. Cuma karena pemukiman Muslim di Bang lam Phu ini letaknya tersembunyi di belakang pertokoan di piunggiran jalan raya aku tidak menyadarinya. Aku sendiri sebenarnya sudah cukup lama wara-wiri di sekitar Khaosarn Road karena seorang tamanku memiliki sebuah toko souvenir di jalan yang banyak dmerupakan tempat favorit tuis-turis kelas menengah ke bawah itu.

Aku baru menyadari kalau ada pemukiman Muslim di Bang Lam Phu ini karena ditunjukkan oleh seorang teman asal Aceh yang kukenal melalui Mirc dengan nickname Zanetti, teman yang memiliki nama asli Munawar Liza Zainal ini sekarang banyak dikenal orang dalam kapasitasnya sebagai walikota Sabang, kota paling barat Indonesia.

Kejadian yang sama aku alami lagi tahun ini.

Sebulan belakangan ini adalah hari yang sangat sibuk buatku. Sebulan belakangan ini aku jarang sekali ada di rumah, terus berpindah dari satu kota ke kota lain, menginap dari satu hotel ke hotel lain dengan klien yang tidak satupun beragama Islam, sementara sebentar lagi akan datang bulan ramadhan.

Seperti biasa bulan Ramadhan tidak pernah bisa dipastikan persis kapan datangnya, jadi aku sendiri tidak tahu persis kapan dimulainya bulan puasa.

Tanggal 5 agustus lalu aku menginap di Hotel Santika Malang, di sana aku menanyakan kepada staf hotel itu, kapan awal Ramadhan, tanggal 10 katanya. Dan itu yang kujadikan pegangan, pada tanggal itu aku akan ada di Bali.

Tanggal 10 Agustus aku ada di Bali, aku berencana ikut shalat Tharawih di hari pertama Ramadhan, tapi aku sampai di Bali sudah jam 10 malam, jelas tharawih sudah bubar. Sebelum sampai di tujuan, istriku yang kerjanya melulu menyusui tanpa pernah menonton televisi, Istriku yang tidak ikut berpuasa tahun ini mengirim sebuah pesan "sahur dimana malam ini?", tanyanya dalam pesan SMS-nya. "belum tau", balasku singkat. Kemudian aku juga menerima SMS lain dari seorang teman yang mengundangku ke pengajian menyambut Ramadhan.

Malam harinya, karena asik facebook-an karena besoknya aku punya waktu kosong seharian, aku sampai lupa melihat jam, tanpa aku sadar jam sudah jam 4 pagi. Sementara aku belum makan sahur "jangan-jangan sudah imsak", pikirku. TV kunyalakan untuk melihat kalau-kalau waktu Imsak ditayangkan, tapi tidak ada sama sekali, lalu aku membuka google mencari jadwal imsakiyah ramadhan untuk wilayah Kuta dan Denpasar, aku menemukannya dan di sana tertulis waktu Imsak untuk Kuta dan Denpasar adalah jam 4.01 yang logikanya tentu saja Wita. Waktu itu sudah pukul 4.15, jadi apa boleh buat ternyata sudah imsak , aku langsung shalat shubuh dan kembali facebook-an sampai kantuk datang. Tapi saat sedang facebooka-an, sayup-sayup kudengar suara azan dari Mesjid yang tidak terlalu jauh letaknya, "lho ini azan apa", pikirku. Tapi aku mengabaikan saja, saat televisi kunyalakan beberapa lama kemudian ditampilkan Azan untuk wilayah Jakarta, aku baru sadar ternyata waktu Imsak untuk Bali adalah jam 4.01 WIB alias pukul 5.01 Wita…benar-benar sial, tapi apa boleh buat akupun terpaksa puasa kosong di hari pertama Ramadhan

Ketika hari mulai terang dan akupun sudah bangun, aku keluar jalan-jalan pergi mencari minimart yang menyediakan fasilitas Wi-fi gratis, dan seperti biasa di Bali suasana ramadhan sama sekali tidak terasa, kehidupan berjalan normal seperti biasa.

Aku menemukan Minimart yang kucari di jalan By Pass Ngurah Rai tidak jauh dari Bandara. Letak minimart ini tepat bersebelahan dengan restoran Padang Sederhana, yang terkenal dengan masakan Sate Padang terenak di Bali. Dan entah kenapa hari itu tampaknya sate padang di restoran itu laris sekali. Sesekali pintu minimart terbuka dan asap sate yang membawa aroma khasnya pun menyeruak masuk ke dalam minimart, tapi yang namanya puasa, aku sama sekali tidak tergoda.

Menjelang maghrib aku berangkat ke Mesjid Istiqamah yang terletak di tengah kawasan pemukiman Kuta Permai, di sana seperti biasa di sudut kanan dari arah mimbar sudah duduk Pak Haji Bambang, ketua dewan pembina Mesjid ini yang namanya sempat luas dikenal karena dinobatkan sebagai pahlawan Asia oleh sebuah majalah terbitan luar negeri karena kiprahnya dalam membantu korban Bom bali pertama, bahkan beberapa waktu yang lalu beliau juga dinobatkan sebagai Hero untuk kategori kemanusiaan dalam acara Kick Andy.

Seperti biasa, ketika bertemu, aku menyapa dan menyalaminya lalu turun ke arah tempat wudhuk, di sana ada sebuah meja panjang dengan taplak putih tempat dimana biasanya disediakan Ta'jil, alias makanan berbuka. Tapi hari ini di sana kudapati cuma spanduk dengan tulisan "selamat berbuka puasa", tanpa ada makanan atau minuman apapun di atasnya. "wah sepertinya tahun ini perekonomian orang sedang hancur-hancuran di Bali, sampai tidak satu orangpun yang menumbangkan makanan berbuka", pikirku.

Kemudian aku langsung berwudhuk, dan masuk ke perpustakaan mesjid mengambil buku dengan judul "filsafat Hukum", membacanya sambil menunggu bedug. Tidak lama aku membaca, kudengar suara azan tanpa diawali bedug. Aku langsung bergegas keluar dari perpustakaan, menemui Pak Bambang "sudah maghrib pak?", tanyaku "iya sudah", jawab Pak Bambang tenang, sehingga membuatku agak merasa heran. Karena dia dan jema'ah mesjid lainnya sama sekali tidak terlihat seperti orang yang baru selesai berbuka. Mendengar jawaban Pak Bambang, aku langsung menuju ke dispenser yang tersedia di mesjid mengambil segelas air putih, membaca doa berbuka dan meminumnya. Lalu aku pun ikut shalat maghrib dengan mereka. Baru setelah Shalat aku keluar mencari makanan berbuka.

Malamnya aku shalat tharawih di tempat yang sama, aku tiba sebelum Isya, orang sudah ramai sekali di mesjid yang sebagian sangat besar jama'ahnya bukan penduduk yang tinggal di kawasan pemukiman itu. Sampai shalat Isya semua berjalan normal, dan setelah shalat seperti biasa Pak bambang naik ke mimbar menyampaikan beberapa informasi, cuma ada satu informasi yang beliau sampaikan yang terdengar bagiku agak janggal "di atas ustadz sedang memantau siaran televisi, menunggu pengumuman resmi dari departeman agama tentang hari pertama ramadhan, jadi kita sabar dulu menunggu dimulai hsalat tharawihnya ya?", kata Pak Bambang.

Kami menunggu selama 15 menit, sampai ustadz Satimin S.H, imam mesjid ini turun dengan sebuah kertas catatan di tangannya mengambil mikrofon dan mengucapkan "Ahlan wa sahlan ya Ramadhan", lalu mengumumkan berita penting yang ditunggu tunggu "saudara-saudara sekalian, tadi di televisi pemerintah sudah mengumumkan kalau ramadhan telah datang dan kitapun sudah mulai berpuasa esok hari, dan kita pun sudah boleh mulai melakukan shalat Tharawih malam ini"

Mendengar itu aku tertawa dalam hati, selesai tharawih aku tertawa sekeras-kerasnya, karena ternyata,saat semua teman-teman dan keluargaku di Aceh sedang pesta pora makan daging di hari 'meugang', hari terakhir menjelang Ramadhan…Aku dengan PD-nya tanpa makan sahur telah mencuri start, dengan memulai berpuasa lebih awal satu hari.

Wassalam

Win Wan Nur