Pertama-tama saya ingin menegaskan bahwa saya menyebut penyair Zhu Yong Xia dalam artikel ini sama artinya dengan saya menghargai warga negara Indonesia lainnya yang bernama Soe Hok Gie, Yap Thiam Hien, Oei Tjoe Tat, Liem Swie King, Kwik Kian Gie, dan lain-lain. Bagi saya, mereka adalah bagian yang tak terpisahkan dari bangsa Indonesia. Demikian pula dengan Zhu Yong Xia, penyair kelahiran Singkawang, Kalimantan Barat, yang baru saja menerbitkan buku puisi Konde Penyair Han dengan nama pena Hanna Fransisca.
Kedua, persoalan yang diangkat dalam buku puisi ini adalah persoalan yang sangat serius, yakni persoalan berbangsa dan bernegara, dimana Zhu Yong Xia merepresentasikan warga negara Indonesia keturunan Tionghoa. Dari perspektif multikulturalisme, apa yang disuarakan Zhu Yong Xia ini merupakan upaya untuk mengkonstruksi identitas pribadi di tengah keberagaman. Makanya, sejatinya Sapardi Djoko Damono tidak perlu merasa ragu bahwa puisi-puisi Zhu yong Xia ini akan memiliki makna yang penting justru jika dikaitkan dengan konteks zamannya. Jadi, dalam epilog buku puisi itu tidak melulu diarahkan pada wisata kuliner bebek peking dan kacang hijau. Dalam hal ini, sekali lagi, saya sangat setuju dengan gagasan sastra kontekstual Arief Budiman, bahwa keindahan sebuah puisi itu tidak lepas dari ruang dan waktu. Bukankah Sapardi Djoko Damono juga pernah mengeluarkan kata-kata sakti, bahwa sastra tidak turun begitu saja dari langit?
Nah, apa yang penting dari puisi-puisi penyair Zhu Yong Xia? Yang paling utama adalah Zhu Yong Xia menyuarakan suara hati yang sangat jujur dari lubuk hatinya. Sebagai warga keturunan Tionghoa, ia merasa bahwa hidup di Indonesia seperti berada dalam penjara. Ia merasa bahwa dirinya diperlakukan sebagai the other dalam kehidupan berbangsa. Ini, misalnya, terbaca dari pesan kedua orangtuanya yang tercatat dalam puisi “Air Mata Tanah Air”.

Aku mengerti kotak artinya benar penjara,
lantaran wasiat ayahku sebelum mati:
“Engkau telah dewasa. Jangan berjalan riang
di jalan raya sebab semua aspal yang kau pijak
bukan punya kita.”

Aku mengerti kotak artinya benar penjara,
saat ibuku yang renta dan rabun usia berkata:
“Kita boleh punya rumah, punya tanah,
pergi sekolah. Tapi kita tak boleh
memiliki tanah air.”

Puisi “Air Mata Tanah Air” ini merepresentasikan perasaan terpendam warga keturunan Tionghoa yang seringkali masih dijadikan sebagai warga negara kelas dua. Ini terlihat terutama sekali di zaman orde baru di bawah rezim Soeharto. Di zaman itu agama Konghucu tidak diakui negara. Dengan demikian, sebagian etnis Tionghoa mengalami kesulitan atau keterbatasan dalam beribadah sesuai dengan keyakinannya. Keterbatasan seperti inilah yang dimetaforakan Zhu Yong Xia sebagai penjara.
Di akhir keruntuhan rezim orde baru, sandhyakala ning orde baru, terjadi peristiwa yang memalukan. Penyair Taufiq Ismail menandai masa itu dengan puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”. Peristiwa kerusuhan Mei 1998 sangat mencoreng wajah Indonesia bahwa betapa buruknya kita dalam hidup berbangsa dan bernegara dalam 30 tahun terakhir. Bhinneka Tunggal Ika yang didengung-dengungkan dalam penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) ternyata hanya pepesan kosong belaka. Bangsa Indonesia yang dijejali Pancasila tapi sama sekali tidak bisa menghargai keberagaman dan perbedaan. Penyair Zhu Yong Xia menulis:

Aku mengerti kotak artinya benar penjara,
karena sewaktu-waktu kotak milikku
bisa dibakar dan dijarah paksa

Bayangkan sebuah kota yang dibakar,
bahkan burung bisa terbang sedangkan aku
pengap terkunci di dalam. Bayangkan
sebuah kota dijarah paksa, bahkan ikan-ikan
bebas berumah di kolam sedangkan aku
terusir dari rumahku sendiri. Bayangkanlah
sebuah kota dipenuhi mata hitam,
bahkan kuda-kuda bebas memadu birahi
di padang sabana sedangkan aku
terkunci di kamar dan diperkosa. Bayangkanlah
jika seluruh harta bisa tiba-tiba dirampas,
ke manakah lagi aku mencari tanah air?

Suara hati yang jernih yang disuarakan Zhu Yong Xia di atas menggambarkan betapa pekatnya Jakarta atau Indonesia pada masa menjelang lengsernya Soeharto. Naiknya K.H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab kita sapa dengan Gus Dur sebagai Presiden Republik Indonesia memberi warna baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tokoh pluralisme sejati itu memberi kebebasan kepada warga negara Indonesia keturunan Tionghoa untuk memeluk dan menjalankan agamanya sesuai dengan keyakinannya sendiri. Dalam hal ini, negara tidak mencampuri urusan keyakinan individu warganya. Di mata Zhu Yong Xia, Gus Dur ibarat “dewa penyelamat” yang membebaskan mereka dari penjara. Sehingga, pada bait terakhir puisi “Air Mata Tanah Air” yang ditujukan buat Gus Dur itu, Zhu Yong Xia berkata lantang:

Leluhurku telah lama mati.
Ayahku mati terbakar. Ibuku mati
trauma diperkosa. Kekasihku lari bunuh diri.
Dan kini aku tegak berdiri lantang:
“Barangkali sekarang
aku telah memiliki tanah air!”

Pernyataan Zhu Yong Xia yang terakhir ini mengingatkan saya pada pernyatan sastrawan nomor wahid di negeri ini, Pramoedya Ananta Toer, bahwa kewarganegaraannya tidak ia peroleh secara gratis, tapi dengan perjuangan, dengan keringat dan darah. Karena itu, seorang Pramoedya Ananta Toer sangat menghargai kewarganegaraannya. Sikap nasionalisme yang diperlihatkan Pramoedya dalam batas-batas tertentu mungkin berbeda dengan nasionalisme yang diperjuangkan Zhu Yong Xia, namun substansinya sama, bahwa keduanya ingin kewarganegaraannya sebagai bangsa Indonesia benar-benar dihargai dan dihormati.

Yogyakarta, 29 Juli 2010
Asep Sambodja
* masih menjalani kemoterapi di jokja


Zhu Yong Xia.