Saya menyadari mungkin banyak orang yang tidak dapat menerima ateisme, baik dari kalangan teisme maupun agnostisme. Teisme mengatakan argumen ateisme menolak keberadaan tuhan sungguh tidak masuk akal, semesta alam yang indah ini pasti ada yang mengaturnya, dan tuhan telah menurunkan agamanya di dunia sebagai petunjuk manusia melangkahkan kakinya di atas hamparan bumi ini. Agnostisme mengatakan ateisme tidak ubahnya teisme, yang melakukan lompatan keyakinan. Bila teisme meyakini keberadaan tuhan, maka ateisme tidak meyakini keberadaan tuhan. Kedua-duanya sama-sama terlihat seperti argumen yang bodoh. Satu sok tahu kalau tuhan itu ada dan yang satunya lagi sok tahu kalau tuhan itu tidak ada. (gambar dari scienceblogs.com)

Sebenarnya ateisme, teisme, dan agnostisme bukan permalasahan ada atau tidak adanya tuhan, melainkan soal sebuah “kepercayaan” terhadap konsep. Teisme “percaya” kepada konsep tuhan yang ditawarkan di dalam agama itu benar. Agnostisme "percaya" bahwa konsep keberadaan tuhan tersebut perlu diragukan. Sedangkan ateisme “percaya” bahwa konsep tuhan yang ditawarkan dalam bentuk apa pun itu tidak benar adanya.

Yang menjadi perbedaan dari ketiga titik pandang di atas adalah “percaya akan konsep tuhan” bukan permasalahan “ada atau tidak adanya tuhan."

Saya akan menolak semua “konsep tuhan” yang dibicarakan dalam bentuk apapun. Sebab menurut saya, di dalam hukum dasar filsafat linguistik strukturalisme menyatakan bahwa bahasa terdiri dari dua unsur manunggal: penanda (signifier) dan petanda (signified).
Bahasa: Penanda ~ Petanda.

Misalkan, seekor gajah yang kita lihat adalah penanda; Sedangkan gajah yang ada di kepala kita adalah petanda. Sama halnya ketika orang mengatakan “tuhan” (penanda) maka terpikir oleh kita sosok maha yang penuh cinta kasih (petanda).

Apapun yang kita pikirkan dan bicarakan semua merupakan “permainan di dalam bahasa". Jika tuhan itu memang benar-benar ada maka Dia musti berada di luar bahasa, sebab Dia melampaui segalanya termasuk bahasa, yang tak terpikirkan dan tak terbicarakan.

Jadi apapun yang orang bicarakan tentang “tuhan” menurut saya itu bukan tuhan. “tuhan” yang mereka bicarakan dan pikirkan tak lebih dari permainan bahasa mereka sendiri. Tentu saja saya akan menolak semua konsep “tuhan” seperti itu. Saya “percaya” bahwa konsep tuhan yang mereka bicarakan itu tidak ada (tidak pernah merujuk kepada referen yang sesungguhnya) – hanya bersifat relatif dan subyektif terhadap setiap orang. Dan saya tidak perlu agnostik terhadap konsep tersebut.

Jika saya ditanya apakah tuhan itu ada atau tidak, menurut saya jawaban terbaik adalah dengan diam dan tidak berpikir tentang itu. Seperti yang dilakukan Buddha Gautama ketika ditanyai hal serupa. Namun bila saya disuruh memilih jawaban di antara apakah tuhan itu “ada, ragu (meragukan keberadaannya), atau tidak ada”? maka jawaban terbaik menurut saya adalah dengan tegas mengatakan bahwa Ia “tidak ada.” Tidak ada “di dalam permainan bahasa.”