Sunan Benang berkata lagi, “Jikalau tidak kamu rebut sekarang dan kamu menunggu ayahandamu turun tahta, jelas tahta Majapahit tidak akan jatuh kepadamu. Pasti akan diberikan kepada Adipati Panaraga (Ponorogo ~ yaitu Adipati Bathara Katong : Damar Shashangka), sebab dia terbilang putra tua (maksudnya tegas dan berwibawa), atau diberikan kepada putra menantu, yaitu Ki Andayaningrat (Adipati Andayaningrat ~ yang disebut-sebut dalam Hikayat Putri Gunung Ledang dan yang pernah bertempur dengan Hang Tuah. Cuma ada kesalahan dalam catatan Hikayat dari Malaka tersebut. Saat Hang Tuah ke Jawa, Majapahit sudah hancur dan Adipati Andayaningrat-lah yang dianggap sebagai pengganti Prabhu Brawijaya karena memang dia-lah yang berhak mewarisi tahta Majapahit. Jadi sesungguhnya Hang Tuah tidak ke Trowulan, Mojokerto, melainkan ke Pengging di sekitar Surakarta sekarang. : Damar Shashangka) yang ada di Pengging. Kamu terbilang putra yang paling muda, jadi tidak berhak menggantikan sebagai Raja. Mumpung sekarang kesempatan terbuka, dan masalah Giri yang menjadi alasan bagi kamu untuk menyerang Majalengka. Walaupun harus mati saat bertempur dengan orang kafir, matimu adalah dijalan Sabilullah (dijalan Allah), kematianmu tidak sis-sia, kelak akan mendapatkan surga yang mulia. Sudah benar bagi orang Islam jika terbunuh oleh orang kafir karena membela agamanya. Dan pula sudah benar manusia hidup didunia mencari kemuliaan duniawi, mencari derajat yang paling tinggi, jikalau manusia hidup tidak memahami akan tujuan hidupnya dengan jelas, maka belum benar dia hidup. Sudah sewajarnya bagi manusia menginginkan kekuasaan dan ingin memiliki kekuatan, yaitu menjadi seorang Raja. Sebab Raja adalah Khalifah, wakil Hyang Widdhi. Apa yang kamu inginkan akan terpenuhi jika kamu menjadi Khalifah. Sudah menjadi suratan takdirmu, kamu bakal menjadi Raja di tanah Jawa, menggantikan kedudukan ayahandamu. Tapi semua harus menggunakan usaha lahir yaitu dengan cara merebutnya melalui peperangan. Jikalau dirimu tidak mau menjalankan, pastilah anugerah Gusti Allah yang hendak diberikan kepada dirimu akan diambil kembali oleh-Nya. Itu namanya manusia yang menolak anugerah Gusti Allah. Diriku hanya sekedar mendukung, sebab diriku sudah tahu semua apa yang bakal terjadi nanti, bagaikan aku melihat dengan semprong (kaca yang dipergunakan untuk pelita jaman dulu) yang benar-benar berlobang begitulah aku melihat secara gaib kejadian yang bakal terjadi nanti. Dirimulah yang mendapatkan wahyu Tuhan, akan menjadi Raja di tanah Jawa, sebagai cikal bakal tersebarnya agama Suci (Islam) di Jawa. Bahkan aku yang akan meruwat segala halanganmu saat menjadi Raja nanti, aku yang akan memberikan restu agar kamu menjadi Raja beserta keturunanmu selama-lamanya.” Banyak lagi kata-kata Sunan Benang, membujuk Adipati Demak agar terbakar hatinya, dan mau angkat senjata menyerang Majalengka. Bahkan ditambah dengan cerita tentang seorang Nabi, yang berani melawan ayahnya yang kafir, ujung-ujungnya juga menemukan kesejahteraan (Nabi Ibrahim yang melawan ayahnya : Damar Shashangka).

Adipati Demak berkata, “Jikalau demikian kehendak paduka, saya hanya sekedar menjalani, paduka yang memegang kendali.”

Sunan Benang berkata lagi, “Sungguh seperti itulah yang aku kehendaki darimu. Sekarang dirimu sudah sepakat. Untuk itu sekarang kirimkan surat kepada Adipati Terung (adik tiri Adipati Demak yang berkedudukan disekitar ibukota Majapahit: Damar Shashangka), akan tetapi pakailah kata-kata yang halus tersamar, intinya tulislah apakah dia berat kepada Raja Majapahit ataukah kepada saudara seibu yang juga se-agama. Jikalau adik (tiri)-mu sudah mendukungmu, sangat gampang untuk menjebol Majalengka. Didalam keraton Majapahit saat ini siapa lagi yang diandalkan sebagai panglima perang jikalau bukan Kusen (Adipati Terung atau nama aslinya Kin-San : Damar Shashangka). Si Gugur (maksudnya Raden Gugur, yaitu putra bungsu Prabhu Brawijaya dengan putri Champa yang sudah resmi diangkat sebagai permaisuri. Putri sulung dinikahi Adipati Andayaningrat dan tinggal di Pengging, putra kedua Raden Lembu Peteng berkedudukan di Madura, yang bungsu Raden Gugur masih didalam keraton. Raden Gugur inilah kelak dikenal sebagai Sunan Lawu, penguasa Gunung Lawu yang terkenal hingga sekarang. : Damar Shashangka) masih kecil, mana mungkin dia berani maju perang. Sang Patih sudah tua, dipukul sekali sudah mati. Jika Kusen mendukungmu, siapa lagi sekarang ini yang bisa melawanmu di ibu kota Majapahit?”

Adipati Demak lantas mengirimkan surat ke Terung, tidak berapa lama berselang utusan telah kembali, sudah diterima surat balasan dari Adipati Terung, isinya bersedia membantu perang. Surat diberikan kepada Sunan Benang, membuat senang hatinya. Sunan Benang lantas memerintahkan kepada Adipati Demak, agar memberitahukan kepada semua Bupati dan semua Sunan agar datang ke Demak dengan dalih hendak membangun masjid, dan agar diberitahu bahwa Sunan Benang sudah hadir di Demak.

Singkat cerita, tidak berapa lama para Sunan dan para Bupati telah berdatangan semua. Lantas berkumpul dan membangun masjid. Setelah masjid selesai dibangun, lantas dipergunakan pertama kali untuk shalat. Seusai shalat, pintu masjid ditutup, seluruh yang hadir (para Sunan dan Bupati saja) diberitahu oleh Sunan Benang bahwasanya Adipati Demak hendak dikukuhkan sebagai Raja. Dan kemudian hendak menyerang Majapahit. Jika semua setuju, maka rencana akan segera digulirkan serta tidak menunggu waktu lama lagi. Seluruh Sunan dan Bupati semua menyetujui, hanya seorang yang tidak menyetujui, yaitu Syeh Siti Jenar. Sunan Benang murka, Syeh Siti Jenar dibunuh. Yang diperintahkan membunuh adalah Sunan Giri. Syeh Siti Jenar dijerat lehernya hingga tewas. Sebelum Syeh Siti Jenar benar-benar meninggal, dia sempat meninggalkan pesan : “Ingat-ingatlah wahai seluruh ulama Giri, kalian tidak akan aku balas kelak diakherat, namun akan aku balas didunia ini sekarang. Kelak jika ada Raja Jawa yang digandeng oleh orang tua, pada saat itulah leher kalian ganti aku jerat.” Sunan Giri menjawab, “Nanti aku berani, sekarang-pun aku berani. Tidak akan mundur diriku!”. Setelah sepakat semua, lantas mematangkan rencana yang sudah disepakati. Sang Adipati Demak lantas dikukuhkan sebagai Raja, menguasai tanah Jawa, bergelar Senapati Jimbuningrat. Patihnya berasal dari mancanegara bergelar Patih Mangkurat. Keesokan harinya Senapati Jimbuningrat sudah mempersiapkan bala tentara berikut seluruh persenjataan perang, lantas berangkat menuju Majapahit diiringi oleh para Sunan dan para Bupati. Rombongan yang berangkat mirip dengan rombongan memperingati grebeg Maulud (Peringatan Kelahiran Nabi). Seluruh prajurid tidak memahami apa maksud keberangkatan mereka, kecuali para Tumenggung, para Sunan serta para Ulama. Sunan Benang dan Sunan Giri tidak ikut dalam rombongan ke Majapahit, mereka merasa sudah tua dan hendak membantu dengan doa dari dalam masjid saja. Mereka berdua memberkati rombongan tersebut. Jadi, hanya para Sunan dan para Bupati saja yang mengiringi Adipati Bintara (Adipati Demak/Senapati Jimbuningrat). Tidak diceritakan dalam perjalanan.

Berganti kisah yang ada di Majapahit. Seusai dari Giri Sang Patih melaporkan tentang hasil penyerbuan ke Giri. Yang menjadi senapati pasukan Giri adalah orang China yang sudah memeluk agama Islam, bergelar Secasena. Dia maju kegaris depan mengamuk dengan senjata terhunus, beserta seluruh bala tentaranya sebanyak tiga ratus orang. Semuanya pandai bermain silat, berkumis tipis berkepala gundul dan memakai sorban bagaikan seorang haji. Mereka bertempur lincah bagaikan belalang. Tentara Majapahit merangsak maju, tentara Giri tidak mampu menahan serangan tentara Majapahit. Senapati Secasena tewas, sedangkan tentara Giri yang terdiri dari orang China melarikan diri kocar-kacir. Banyak yang mengungsi ke hutan dan pegunungan, sebagian ada yang melarikan diri menyeberang laut, melarikan diri ke Benang. Terus dikejar oleh prajurid tempur Majapahit. Sunan Giri dan Sunan Benang melarikan diri dalam satu kapal menyeberang lautan, mungkin saja melarikan diri ke Arab dan tidak berniat kembali ke Jawa. Sang Prabhu lantas mengutus Patih untuk mengirimkan utusan ke Demak, guna memberikan perintah kepada Adipati Demak agar supaya jika ada ulama dari Giri dan dari Benang melarikan diri kesana, segera ditangkap dan dihaturkan kepada negara. Kesalahan santri dari Benang adalah, telah melakukan perusakan didaerah Kertasana sedangkan kesalahan santri Giri adalah, tidak mau menghadap kepada Sang Prabhu dan berniat untuk membangkang!

Sesampainya di Paseban luar keraton, Sang Patih kemudian memanggil duta yang hendak diutus ke Demak. Saat masih ada di Paseban luar keraton, bertepatan datang utusan Bupati Pathi, memberikan surat khusus kepada Sang Patih. Surat lantas dibaca oleh Sang Patih. Isi surat adalah demikian. Menak Tunjungpura yang berkuasa di Pathi memberikan laporan, bahwasanya Adipati Demak, yaitu Babah Patah, sudah mengukuhkan diri sebagai Raja Demak. Yang memberikan ijin dan restu adalah Sunan Benang dan Sunan Giri. Seluruh para Bupati pesisir utara yang sudah memeluk Islam semua mendukung. Adipati Demak mengambil gelar Senapati Jimbuningrat atau Sultan Syah ‘Alam Akbar Sirullah Khalifaturrasul ‘Amirilmu’minin Tajudil ‘Abdulhamid Khaq atau Sultan Adi Surya ‘Alam Ing Bintara. Saat ini Babah Patah berikut pasukan Demak telah berangkat menuju ibukota Majapahit, hendak menantang perang ayahandanya. Babah Patah lebih berat kepada gurunya, dia menganggap enteng ayahandanya. Para Sunan dan para Bupati banyak yang memberikan bantuan pasukan untuk menjebol Majapahit. Jumlah pasukan Babah Patah kurang lebih tiga ribu prajurid dengan persenjataan perang lengkap. Mohon segera dihaturkan kepada Sang Prabhu laporan ini. Surat dari Bupati Pathi tertanggal 3 Mulud 1303 tahun Jimakir, Masa Ke-Sembilan Wuku Prangbakat (Tahun Jawa dimulai pada Jumat Legi, 1 Suro 1555 Alip. Meneruskan tahun 1555 Saka dan perhitungannya lantas diubah menjadi perhitungan tahun Hijriyyah atau menggunakan sistem Bulan. Jika ada tahun Jawa 1303, maka ini adalah semacam perhitungan mundur mirip dengan Sebelum Masehi pada tahun Masehi. : Damar Shashangka). Surat habis dibaca, Kyai Patih benar-benar tak menyangka. Seketika gigi bergemeletukan, menggeram, menggeleng-gelengkan kepala dan benar-benar tidak bisa mempercayainya. Wajahnya tengadah menatap angkasa sembari menyebut nama Dewa Yang Maha Luhur. Dalam hatinya benar-benar heran kepada kelakuan orang Islam yang tidak tahu budi baik Sang Prabhu dan malah membalas dengan hal yang tidak sepatutnya. Segera Kyai Patih menghadap Sang Prabu dan melaporkan isi surat yang baru diterimanya.

Mendengar laporan Patih, Sang Prabhu benar-benar terkejut. Seketika terdiam kaku tak bisa bersuara. Bagaikan sebuah tugu batu yang mati. Dalam hati beliau benar-benar tidak bisa memahami akan kemauan putranya dan kemauan para Sunan sehingga mereka memiliki niatan yang semacam itu. Sudah diberi kedudukan tapi balasannya malah sedemikian rupa, tega hendak merusak Majapahit. Benar-benar Sang Prabhu tidak dapat memahami apa yang menjadi latar belakang kemauan mereka sehingga putranya sendiri berikut para ulama hendak berniat menyerang keraton Majapahit. Lama Sang Prabu merenung, tetap juga tidak menemukan jawabannya, lahir dan batin sungguh tindakan mereka adalah tindakan yang tidak masuk akal sama sekali. Hati Sang Prabu benar-benar terliputi kegelapan, benar-benar kecewa dan sedih, kesedihan seorang Raja besar. Hati Sang Prabhu habis, seolah hati seekor kerbau yang habis dimakan oleh kutu-kutu kecil. Setelah berapa lama berselang, Sang Prabhu bertanya kepada Sang Patih, apa sebabnya sehingga putranya sendiri berikut para ulama serta didukung para Bupati tega hendak menyerang Majapahit dan tidak ingat sama sekali dengan kebaikan Sang Prabhu?

Sang Patih memberikan jawaban bahwasanya dirinya sendiri juga tidak mengerti latar belakangnya. Sunguh diluar nalar sehat. Diberikan kebaikan malah membalas dengan kejahatan. Umumnya manusia diberi kebaikan akan membalas dengan kebaikan serupa. Ki Patih-pun ikut keheranan dan kecewa, heran pada orang Islam yang memiliki kehendak yang tidak baik semacam itu. Yang telah diiberi kebaikan malah membalas dengan kejahatan.

(Bersambung)

(1 Agustus 2010, by Damar Shashangka)