Ada banyak kesamaan antara Malaysia dan tabung elpiji 3 kilogram. 
Pertama : Malaysia dan dan tabung elpiji 3 kilogram sama-sama dibutuhkan oleh pemerintah Indonesia karena alasan devisa negara yang terlalu banyak disedot oleh rakyat jelata.

Malaysia dibutuhkan oleh pemerintah Indonesia karena pemerintah negara ini yang hobi tebar pesona tidak mampu menyediakan pekerjaan yang layak bagi rakyatnya maka Malaysia menjadi solusi dari masalah ini karena keberadaannya membuka peluang bagi para pembantu rumah tangga asal Indonesia ('Minah-minah Indon' dalam bahasa melayu Malaysia) untuk bekerja. Keberadaan Malaysia yang menjadi tujuan bekerja bagi MINAH-MINAH INDON itu membuat pemerintah Indonesia panen devisa. Persis seperti tabung Elpiji 3 kilogram, yang keberadaannya membuat pemerintah Indonesia bisa menghemat triliunan devisa yang seharusnya dikeluarkan untuk mensubsidi minyak tanah yang dikonsumsi oleh rakyat jelata.

Kedua : Seperti tabung elpiji 3 kilogram yang keberadaannya membuat pemerintah Indonesia panen devisa tapi membuat masyarakat penggunanya cacat sampai kehilangan nyawa, Malaysia juga sama.

Ketika pemerintah panen devisa dari selain para TKI yang bekerja di Malaysia, MINAH-MINAH INDON yang menjadi penyumbang devisa dari hasil bekerja di negara tersebut mengalami pelecehan, mendapat siksaan dengan resiko mulai dari cacat sampai kehilangan nyawa.

Ketiga : Seperti tabung elpiji 3 kilogram yang persentase orang yang mati akibat ledakannya sangat-sangatlah kecil jika dibandingkan dengan jumlah elpiji yang beredar, sehingga secara statistik bisa dianngap NOL, kejadian pelecehan dan penyiksaan terhadap MINAH-MINAH INDON di Malaysia juga sama. 

Di Malaysia, jumlah MINAH-MINAH INDON yang disiksa oleh majikan Malaysianya sangatlah sedikit jika dibandingkan dengan jumlah MINAH-MINAH INDON yang bekerja di sana dan (menurut orang malaysia) mendapat makan dari belas kasihan majikan Malaysianya, secara statistik jika jumlahnya dibandingkan dengan yang tidak disiksa maka jumlah MINAH-MINAH INDON yang disiksa di Malaysia bisa dianggap NOL juga.

Keempat : Kesamaan yang sangat mencolok antara MINAH-MINAH INDON yang bekerja di Malaysia dan para korban ledakan elpiji, adalah kenyataan bahwa mereka merupakan warga negara Indonesia yang berada di posisi terendah dalam strata sosial dan ekonomi. Mereka jelas bukan berasal dari spesies koruptor kakap yang berada di posisi tertas dalam strata sosial dan ekonomi negeri ini, kelompok ekonomi yang mampu menyekolahkan anaknya di sebuah universitas bergengsi di Malaysia yang terletak di seberang selat Malaka sana, negeri yang dihuni oleh manusia dari Ras Melayu Super.

Kelima : Tragedi yang dialami MINAH-MINAH INDON di Malaysia dan yang dialami para korban ledakan elpiji terjadi karena mereka tidak mendapatkan informasi yang tepat dari penguasa.

Dulu kenapa masyarakat tidak terlalu banyak melakukan protes saat pemerintah melakukan konversi dari minyak tanah ke Gas, itu karena waktu itu pemerintah menggambarkan bahwa menggunakan gas itu hemat dan aman, pemerintah tidak pernah mengatakan kalau memasak menggunakan gas yang berasal dari tabung elpiji 3 kilogram akan membuat penggunanya beresiko cedera, kehilangan rumah sampai kehilangan nyawa.

Bahkan ketika ada indikasi bahwa pengerjaan tabung tidak beres sehingga mengakibatkan rendahnya kualitas solderan, yang membuat gas bocor dan tabung jadi mudah meledak yang menjadi masalah utama tabung ini seolah sengaja ditutupi, pemerintah melalui menteri ESDM malah mengatakan bahwa masalahnya ada pada selang. Indikasi ini memang sangat masuk akal kalau kita membandingkannya dengan proyek-proyek pemerintah yang seringkali tidak beres karena digerogoti oleh korupsi akut yang melanda negeri ini, sampai hal tidak masuk akal seperti mengkorupsi nyawa pun dilakukan oleh orang-orang di negeri ini (silahkan bayangkan apa yang terjadi kalau Pemerintah jadi membangun instalasi nuklir untuk menghemat biaya produksi listrik)

Akibat kesalahan informasi seperti ini, tentu saja korban berjatuhan terus.

Seandainya pemerintah mau jujur dan terbuka memaparkan resiko penggunaan tabung elpiji 3 kilogram, tentu kejadian tidak akan seperti ini. Kalau pemerintah mau jujur mengatakan seperti apa yang disampaikan oleh Sutan Bhatoegana di TVone (20/7/2010) bahwa sebenarnya pemerintah tidak memaksa masyarakat dengan mengatakan bahwa pemerintah tidak pernah memaksa masyarakat menggunakan Gas, sebaliknya menggunakan gas adalah pilihan masyarakat sendiri, karena kenyataannya minyak tanah tetap ada di beberapa SPBU, cuma harganya lebih mahal. Saya yakin masayarakat tidak akan mau menguunakan elpiji dari tabung 3 kilogram

Dan kalau ini dilakukan oleh pemerintah maka akan ada dua kemungkinan yang terjadi.

Kemungkinan pertama; karena ketakutan, masyarakat akan memaksakan diri memakai minyak tanah yang mahal, menggunakan alternatif lain seperti pakai kayu bakar,atau kalau bagi yang cukup kreatif akan menggunakan sumber energi lain yang lebih aman.

Kemungkinan kedua, rakyat akan mengamuk sejadi-jadinya meminta pemerintah yang sekarang untuk turun dari tampuk kekuasaannya. Dibandingkan kemungkinan pertama, kemingkinan yang kedua ini jelas memiliki peluang yang lebih yang besar untuk terjadi, karena itulah pemerintah tidak banyak memiliki pilihan lain selain menutupi masalah yang sebenarnya sambil mengulur-ulur penyelesaian masalah dengan cara menebar pesona sambil berdo'a dengan khusuk, semoga kejadian ledakan tabung gas elpiji 3kg tidak terjadi lagi.

Apa yang terjadi dengan tabung gas ini setali tiga uang dengan apa yang dialami oleh Minah-minah Indon di Malaysia. 

Sejak beberapa tahun belakangan kita mendengar banyaknya penyiksaan yang dilakukan oleh para majikan Malaysia terhadap MINAH-MINAH INDON itu.

Tapi karena bisnis penyaluran jasa tenaga kerja ke luar negeri ini cukup menguntungkan, ekspor tenaga kerja jalan terus.

Dan untuk pemerintah sendiri, banyaknya pembantu rumah tangga asal Indonesia yang bekerja di Malaysia itu sedikit banyak cukup membantu mengurangi sakit kepala pemerintah akibat dari keharusan menyediakan lapangan kerja, yang merupakan kewajiban dari penyelenggara ini.

Sehingga apakah mereka nantinya akan disiksa setelah sampai di Malaysia seperti yang kerap terjadi, pemerintah tampaknya tidak terlalu ambil peduli. Karena itulah sebelum berangkat ke Malaysia, para calon Minah Indon ini pun sama sekali tidak diberi pengetahuan yang benar tentang masyarakat seperti apa yang akan mereka hadapi di negara seberang itu nanti. 

Sebelum berangkat para calon TKI yang nantinya akan dijuluki MINAH-MINAH INDON oleh rakyat di negara yang mereka tuju sama sekali tidak pernah dibekali dengan informasi yang benar tentang bagaimana orang Malaysia sebenarnya memandang Indonesia secara umum. Sebelum berangkat para calon Minah Indon itu sama sekali tidak diberitahu kalau Manusia ras Melayu Super yang ada di seberang lautan itu memandang Indonesia itu sebagai negaranya orang bodoh, kumuh dan miskin. Para calon Minah Indon itu juga sama sekali tidak diinformasikan kalau ketika mereka datang bekerja ke Malaysia menganggap status para calon Minah tidak lebih tinggi dari Pengemis yang mencari belas kasihan orang Malaysia yang kaya-kaya itu.

Apalagi di sini orang Malaysia sering secara salah kaprah sering diistilahkan sebagai "Saudara Serumpun", sbuah istilah yang benar-benar MENYESATKAN.

Maka meskipun korban terus berjatuhan di Malaysia, PJTKI terus dengan penuh semangat mengirimkan MINAH-MINAH INDON ke negara itu, tanpa ada larangan dari pemerintah kalau kemudian korban kembali berjatuhan, maka seperti biasa yang disalahkan adalah korban itu sendiri, oleh yang berkomentar dikatakan penyiksaan dan pelanggaran HAM itu terjadi di Malaysia itu terjadi karena TKI kurang pendidikan lah, karena TKI memiliki skill rendah lah. 

Penyebab utama dari banyaknya kejadian penyiksaan terhadap Minah Indon yang dilakukan oleh Warga Malaysia yaitu akibat kentalnya sikap argogan orang Malaysia yang memandang orang Indonesia sangat rendah, sama sekali tidak pernah diinformasikan dengan benar.

Kalau memang kurang pendidikan dan karena TKI memiliki skill rendah yang menjadi alasan kenapa mereka diperlakukan semena-mena seperti binatang, kita tentu harus bertanya, kenapa di Hongkong dan Taiwan yang juga banyak mempekerjakan TKI, kita jarang sekali mendengar adanya TKI yang disiksa. 

Jawabnya ya karena orang Hongkong dan Taiwan tidak seperti orang Malaysia, mereka sama sekali tidak merasa lebih superior dari orang Indonesia.

Untuk membuktikannya silahkan saja datang ke Hongkong atau ke Taiwan dan tunjukkan paspor Hijau berlambang Garuda warna emas ke petugas imigrasi di sana, anda tidak akan mendapati pandangan remeh dari mereka, sebagaimana selalu ditunjukkan oleh petugas Imigrasi di Malaysia terhadap pendatang dari Indonesia.

Bukti lain kalau negara Malaysia itu adalah sebuah negara yang dihuni oleh sekumpulan megalomaniak yang merasa diri sebagai ras Melayu Super yang merasa Indonesia ini adalah negerinya orang miskin kumuh yang hanya bisa hidup karena belas kasihan Bangsa Malaysia bisa dibaca dalam berbagai komentar di sebuah video yang ditonton sekitar dua setengah juta orang (setara dengan hampir 10 % penduduk Malaysia). Video ini berisi rekaman mandi hamil 7 bulan yang merupakan ritual adat satu suku Indonesia yang dipost di youtube http://www.youtube.com/watch?v=f0c3zp9FnCw&feature=related , di dalam komentar terhadap rekaman video ini, anda bisa melihat bagaimana orang Malaysia, bangsa yang terbukti beberapa kali mencuri budaya Indonesia untuk alasan Pariwisata melecehkan adat kebiasaan sebuah suku di Indonesia ini habis-habisan, bahkan tidak cukup sampai di situ, pelecehan yang mereka lakukan melebar sampai ke melecehkan kekuatan TNI yang mereka sebut vuma memiliki kapal buruk yang terkencing-kencing mengejar kapal milik mereka, bahkan melecehkan harkat dan martabat bangsa Indonesia secara keseluruhan yang mereka anggap hanya bisa hidup karena belas kasihan bangsa mereka. 

Nah karena informasi yang digambarkan tentang Malaysia tidak sebagaimana adanya, tentu saja yang terjadi di sana juga sama seperti yang terjadi dengan Elpiji 3 kilogram yang jelas-jelas sangat berbahaya tapi tetap dikonsumsi orang. Persis seperti Malaysia, meskipun banyak yang disiksa, tapi karena para calon TKI di sini berpikir, pergi ke Malaysia bisa mengubah nasib, maka MINAH-MINAH INDON itupun tetap datang ke sana dengan resiko akan disiksa bahkan kehilangan nyawa.

Tapi dari begitu banyak persamaan antara Malaysia dan tabung Elpji 3 kilogram, ada satu beda;

Bedanya adalah; jika soal Elpiji 3 Kg seluruh masyarakat sepertinya semuanya sepakat kalau masalahnya adalah pemerintah Indonesia yang tidak serius menangani masalahnya dan tidak jujur menjelaskan masalah yang sebenarnya. 

Tapi soal Malaysia, pandangan masyarakat negeri ini terbelah.

Meskipun fakta sudah sangat jelas kalau mindset orang Malaysia secara umum sangat memandang rendah Indonesia, tapi fakta itu tetap saja tidak membuat banyak warga negara ini (terutama para sarjana lulusan Malaysia) berpendapat sama, mereka malah dengan gigih membela mati-matian sikap penduduk negara itu, jika mereka melakukan pelecehan terhadap Indonesia, dan mereka pun menggambarkan seolah-olah perilaku melayu-melayu megalomaniak yang merasa diri paling super itu sama normal dan beradabnya dengan perilaku manusia-manusia berbudaya yang hidup di belahan dunia lain.

Wassalam

Win Wan Nur
http://www.winwannur.blog.com'