Senin, 19 juli 2010, Boulevard UGM, pukul 20.00-20.30

Hari ini setelah sibuk ngerjain skripsi, malam-malam janjian dengan sahabat untuk diskusi masalah merintis usaha baru. Biasanya kami berdiskusi di Alun-alun Selatan. Berhubung kami berdua sedang terjangkit kanker (kantong kering) karena tanggal tua, maka kami memutuskan diskusi di Boulevard UGM, suasana tidak terlalu ramai tapi berada di tempat terbuka, dan tak terlalu jauh dari rumah. Kami memilih diskusi di pinggir boulevard yang disinari lampu. Sesekali sorot lampu mobil dan motor menyinari kami.

Sedang asyik-asyik bicara soal sewa tempat dan permodalan, tiba-tiba saya melihat dua lelaki berboncengan motor berhenti dekat kami diskusi. Penumpangnya yang berkostum jubah putih, celana congklang, jenggot kambing, dan topi kupluk putih turun dari motor dan berjalan ke arah kami, sedangkan si sopir pergi menunggu sms untuk menjemput si pembonceng.

Bukannya surut karena takut, tetapi adrenalin dalam diri malah bergairah membayangkan apa yang akan terjadi. Justru hati sedikit bersyukur karena lidah sudah lama tidak diasah untuk bermain silat, hitung-hitung katarsis dan persiapan menghadapi pendadaran.

Dia berjalan ke arah kami dan berdiri menjulang hanya sejauh 20cm di depan kami yang sedang duduk (dari awal aja nggak tahu sopan santun). Begitu sampai di dekat kami, lelaki tersebut memotong diskusi kami dengan bertanya, (kira-kira “diskusi” kami bertiga adalah sebagai berikut.)

“Maaf, mas dan mbak ini teman, adik-kakak, suami-istri, atau apa?”

Sobatku menjawab, “oo, kami sepupu Mas.”

“Wah, berarti kalian bukan muhrim. Saya di sini datang untuk mengingatkan akan perintah Allah.”

Saya menjawab ketus, “oh, kalau begitu terima kasih ya Mas telah mengingatkan.”

“Mbak, Anda seharusnya tidak membuka aurat di muka umum!”

“Membuka aurat?” Nada suara mulai meninggi. “Wong saya pakai kemeja, celana panjang, buka aurat apa? Udahlah Mas, khotbahi orang lain aja, kita lagi asik diskusi malah diganggu.”

“Tetapi kalian bukan muhrim. Jika dua orang laki-laki-perempuan berduaan, maka yang ketiga adalah setan!”

“Ya setannya sampeyan itu!!” Tukas temanku. “Orang kita lagi asyik diskusi dibilang maksiat. Kalau kami bergumul barulah maksiat. Pegang-pegang aja nggak!”

“Saya hanya mengingatkan siksa akhirat. Kalian bukan muhrim, dalam agama Allah itu sangat dilarang. Apalagi kalian berduaan di tempat yang dilihat banyak orang.”

“Justru itu Mas, kita milih tempat umum yang banyak orang bukan di semak-semak! Kan bahaya tuh kalau di semak-semak.” Balasku agak becanda.

“Saya di sini hanya mengingatkan supaya orang tidak berbuat mungkar.”

“Sampeyan itu siapa? Nasehatin orang, emangnya situ nggak punya dosa apa? Kalau mau nasehatin, sana tuh nasehatin orang-orang yg ngebom, yang fundamentalis bikin kisruh! Orang tua saya aja nggak ribut, eh situ malah pusing.” Aku mulai naik pitam!

“Saya di sini hanya mengingatkan supaya orang tidak berbuat mungkar. Setiap orang tidak pernah terlepas dari dosa.”

“Anda itu orang mana? Kerja di UGM? Punya hak apa negur-negur orang? SKKK aja nggak asal negor orang.” Tanya sobatku.

“ Saya orang sini.”
“Ya, orang sini mana?” saya merepet
“Ya, jamaah sini.”
“Ya, jamaah mana?”
“Jamaah Salahudin.”
“oooo, jamaah salahudin tho?? Pantesan!!” Kemudian saya tanya apa dia kenal si A, Si B, mereka tangan kanan si C. Kalau Anda nggak pergi terus mengganggu kami, saya laporin kamu ke si A atau polisi loh. Nama kamu siapa? Kamu kerja di mana?”
(Dia mulai agak gentar.)

“Saya di sini cuma umat yang menegakkan agama Allah.”
“Tadi katanya dari Jamaah Salahudin?”
“Tidak, saya hanya umat yang menegakkan agama Allah” (Di sini dia mulai keringat dingin, nggak berani bawa-bawa nama jamaah lagi)
“ Agama Allah yang mana ya?” Tandasku.
“Anda seharusnya tahu kewajiban umat terhadap Allah”
“heh, urusan gw ma Tuhan itu urusan privasi gw. Loe nggak usah ikut campur.”
“ Biarlah Tuhan yang nanti mendatangkan azabnya.”
“Azab apa? Wong kita nggak ngapa-ngapain. Situ aja yang pikirannya kotor, tiap lihat orang lagi berduaan su’udzon. Udahlah sana pergi. Bete jadinya! Ganggu orang aja. Sini berdua nggak ganggu. Situ nggak diundang dateng sendiri, ganggu orang aja!”

“Saya di sini hanya mengingatkan…”
“Iya, saya udah denger, terima kasih. Silakan pergi.” (maaf pembaca, aku udah emosi)
“Dalam agama Allah dijelaskan bahwa dua orang berbeda jenis kelamin….bla.bla.bla..”
“Surat apa Mas?”
“Banyak. Surat …….(aq nggak dengerin)
“Ayat Apa? Bacain, jelaskan artinya! Saya mau ndengerin.”
“Percuma, karena kalian tidak akan siap menerimanya.”
“Loh, kami siap. Silakan, kami mau dengar, kan situ ahli dakwahnya.”
“Tidak Mbak, percuma.”
“Loh, kenapa? Nggak hapal ayatnya?” (Sorry gan di sini saya mulai kasar)

Lalu dia kembali menyinggung soal aurat dan akhirat serta tak berhenti mendakwahi kami sambil tetap berdiri menjulang di depan kami yang sedang duduk. Akhirnya kami nggak ambil pusing, silakan berdakwah, kami mau meneruskan obrolan kami. Dia mulai kesal dan putus asa. Lalu meng-sms temannya minta dijemput lagi.

Terakhir sebelum meninggalkan kami, dia berpesan, “Saya sudah mengingatkan kalian. Saya tidak bertanggung jawab kalau Tuhan menurunkan azabnya.”
Dengan cueknya aku bilang, ”Ya itu terserah Tuhan. Kami nggak berbuat maksiat. Tuhan Maha Tahu, Tuhan yang punya kehendak. Toh yang mengalami kami bukan Anda.”
“Ya semoga azab itu datang kepada kalian.”
“Ya, semoga azabnya berbalik kepadamu.” Jawabku.
“Biarlah malaikat pencabut nyawa yang memberi kalian azab.” Dan dia masih menggerutu tidak jelas sambil berjalan menunggun jemputan ‘ojek’.

Demikianlah pengalaman nyata saya bersama sahabat saya. Sebetulnya sudah sejak lama saya mendengar perihal polisi moral. Bahkan teman saya yang tidak sengaja ngobrol di dekat bekas botol minuman orang lain, sempat kena tegur. Rata-rata orang yang kena tegur diam saja, takut, tidak berani membela diri. Sehingga polisi2 moral tersebut dengan bebas dan percaya diri mengotbahi orang-orang yang dia anggap berbuat mungkar dan nyaris terjerumus ke dalam kemaksiatan.

Beberapa kali, saya dan teman saya berencana untuk mendengarkan sendiri khotbah polisi moral. Sampai sekian waktu akhirnya saya mengalaminya sendiri. Boleh-boleh saja dia menegur, tapi semua ada etika dan gunakanlah asas praduga tak bersalah. Kita hidup di Indonesia Man, yang berlandaskan Pancasila dan UUD 45, bukan syariat Islam! Berbagai suku, agama dan kepercayaan, serta beragam budaya semua ada di sini.

Akhir-akhir ini, memang banyak sekali perilaku anarkis minoritas yang mengatasnamakan mayoritas menekan kaum minoritas. Contoh, beberapa minggu yang lalu, sebuah diskusi buku mengenai LEKRA, dibatalkan sepihak oleh polisi yang cemas dan mengancam tidak akan bertanggung jawab bila acara tersebut diserang massa mengatasnamakan agama. Adapula serangan ke dalam salah satu ruang seminar di dalam hotel yang disewa untuk kegiatan seminar yang diikuti kaum waria. Polisi hanya diam saja tidak berkutik. Masih banyak lagi acara-acara baik lingkup lokal, regional, maupun nasional yang terpaksa dibatalkan atau berhenti di tengah jalan karena secara sepihak diserang oleh oknum jenggot kambing atau dihentikan oleh polisi yang takut menghadapi serangan kambing.

Menjelang puasa biasanya rajin diadakan razia bagi rumah makan yang buka di siang hari. Kalau memang niat puasa, mau melihat makanan minuman di depan pasti kuat. Lagipula puasa kan tidak sekedar menahan lapar. Selain itu tidak semua orang berpuasa. Apakah para perazia mau bertanggungjawab memberi nafkah bagi pemilik usaha yang tidak boleh berdagang?

Adapula kasus penolakan pembuatan rumah ibadah Pura di lokasi yang biasa digunakan sebagai tempat praktik perjudian dan mabuk-mabukan. Oleh karena masyarakat sekitar yang mayoritas agama muslim tidak mengijinkan, maka sampai sekarang tempat tersebut bertahan menjadi tempat maksiat. Atau adalagi pembatalan sepihak atas dibangunnya sekolah katolik internasional karena warga mayoritas tidak setuju, padahal tanah tersebut adalah milik sekolah dan telah mengantongi izin mendirikan sekolah. Demikianlah beberapa contoh perilaku main hakim sendiri dan seolah dibiarkan oleh aparat penegak hukum.

Saya menghimbau sebagai seorang muslim dan orang Indonesia, hargailah perbedaan yang ada. Pada dasarnya setiap makhluk Tuhan itu sama, semua ingin bahagia dunia akhirat. Tapi caranya berbeda-beda. Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda untuk saling mengenal. Umat manusialah yang berkewajiban menghargai berbagai hal yang plural itu. Ketika seseorang meraih kebahagiaan dengan mengganggu kebahagiaan orang lain, maka terjadilah permusuhan. Agama diciptakan untuk memuliakan tata cara kehidupan manusia. Tetapi ketika agama dijadikan alat untuk menghakimi, menekan, alat untuk memuaskan kepentingan kelompok, maka yang hanya ada perpecahan.

***Semoga semua makhluk senantiasa berbahagia, berkesadaran, dan penuh cinta kasih.***