‘Suami saya memang bukan Muslim baik,’ kata temanku, bu Zahrah dari Iran. Suamnya, setelah perkawinan 35 tahun dan lima anak, tidak pernah terpikir mengambil istri kedua. Saya tidak pernah tahu apakah ia bercanda atau setengah bercanda kalau berbicara tentang hal-hal yang menyenggol adat atau kepercayaannya. Disatu pihak ia memuji-muji Inggris, tempat ia hijrah bersama keluarganya, dilain pihak … biasalah … puji-puji negaranya, Iran, yang terpuruk kefanatikan dan kebiadaban. Kenapa dong, aku tanya, anda hijrah ke Inggris, kalau negara dan agama anda paling hebat ? ‘Habis,’ katanya, ‘di Iran kami tidak sanggup bayar obat buat suami.’ HAH ! Aku pikir, lagi-lagi Muslim parasit yang cuma menumpang hidup di Eropa untuk memanfaatkan kebaikan kafir.

Di Jerman, saya melahirkan anak saya yang ketiga, gratis !’ katanya dengan girangnya. Sayang yah, aku bilang, tidak kesemua anak anda dilahirkan disini. Seperti di Jerman, di Inggrispun, melahirkan anak, obat, pendidikan, semuanya gratis. Apalagi buat orang berpenghasilan rendah. Rumahpun GRATIS.

 

Bu Zahrah ini memang contoh klasik imigran Muslim ke Eropa: senang menerima bonus-bonus gratis yang kini kita tahu membangkrutkan Inggris, sambil bersungut-sungut, melihat kafir-kafir di Eropa yang emoh menjadikan nabinya sebagai panutan. Bukan saja sekededar panutan, tapi kafir-kafir najis ini kok tidak bisa menghormati nabinya ini yang dianggapnya sebagai manusia paling mulia yang paling disayang Allah SWT.

Ia ingin agar kafir disekelilingnya, paling tidak, berbusana sopan (berjilbab), berkelakuan sopan (tidak bercampur dengan lelaki atau suami orang), dan berbicara sopan (jangan lupa bilang ‘insya allah’) di rumahnya. Pokoknya mengambil contoh nabi Muhammad yang katanya, memiliki karakteristik yang mulia dan merupakan karunia bagi seluruh umat manusia dimanapun dan kapanpun. ‘Jangan khawatir, Zahrah love,’ kukatakan. Orang-orang Inggris sudah ‘shariah-compliant’ (patuh syariah) kok. Lihat tuh, hal-hal seperti kawin sejam (kawin siri), melahirkan anak diuar perkawinan (hasil ‘al-azl’ atau coitus interuptus) 1), konsumsi narkoba (untuk menopang ekonomi Muslim di negara2 penghasil narkoba seperti IRAN !), berbusana minim (untuk membuat senang lelaki Muslim, karena lelaki Inggris tidak terlalu peduli) dan penghasil video porno (untuk memuaskan lelaki Muslim terutama Muslim Pakistan, konsumen terbesar industri porno).

Ibu Zahrah cuma bisa tertawa kecut mendengar fakta yang saya lemparkan ke mukanya yang ber-make up tebal sesuai dengan syariah itu (asal kukunya dan bibirnya tidak di cat merah darah, dan alis matanya tidak dicabut it’s OK, katanya. It is shariah-compliant).

Dan, kata saya lagi, untung Inggris atau suaminya Bu Zahrah tidak terlalu shariah compliant. Mau dikemanakan harga diri istri-istri pertama kalau bentar-bentar suami mengambil istri baru ? Dan bagaimana dengan nasib anak-anak dibawah umur kalau semua lelaki di Inggris mengikuti contoh nabi Muhammad, sang insan ul kamil itu ?

DAN bagaimana dengan para menantu wanita yang setiap saat bisa dilamar oleh ayah sang suami ? Bukankah itu juga contoh nabi ? Jangan heran kalau si Ibu Zahrah tidak lagi mengundang saya ke rumahnya. Muslim Indonesia di London saja juga menghindari saya.
 Ini gara-gara saya melaporkan heboh di tanah air tentang Syeh Puji yang menikahi anak umur 12 tahun dan dituntut karena dianggap melanggar UU Perlindungan Anak Indonesia,. Padahal saya cuma ngelapor doang, tidak menambahkannya dengan embel-embel komentar tambahan seperti yang saya lakukan terhadap Bu Zahrah itu.

Sekali lagi saya tanya kepada Muslim, to copy or not to copy that Insan ul Kamil, lelaki sempurna yang kelakuannya dengan dekrit Allah harus diikuti semua manusia diujung dunia manapun ? Pertanyaan simpel begini saja sudah mengundang permusuhan. Bagaimana membahas hal-hal yang lebih mendalam yah ?

 Foto : Anggota Hamas menikahi anak-anak dibawah umur. Dikabarkan bahwa ini berita palsu. Anak-anak itu bukan berpose sebagai pengantin tetapi sebagai pengantar sang mempelai lelaki, begitu kata berita ini http://www.hoax-slayer.com/mass-muslim-marriage.shtml
 
Tapi hadis nabi kawin dengan Aisya tatkala Aisya baru berumur 6 tahun. Hadfdis itu hoax atau tidak ? Dan kalau tidak, to copy or not to copy ?
———————————————————–
1) sesuai dengan sunah nabi yang mengijinkan bala tentaranya nge-sex dengan tahanan wanita dan nabi menganjurkan agar mereka tidak perlu ejakulasi diluar vagina wanita karena menurut nabi ‘kalau memang Allah mentakdirkan seorang anak akan lahir, maka lahirlah’)