PKS yang pada Pemilu 2004 lalu memiliki suara terbanyak dengan jumlah kursi tujuh, pada Pemilu tahun 2009 tadi hanya memperoleh lima kursi. Itu artinya PKS kehilangan dua kursi, dan target yang ingin dicapai PKS sebanyak 16 kursi saat itu menjadi jauh panggang dari api alias gatot atau gagal total. 

Ada beberapa sebab yang membuat suara PKS merosot pada Pemilu 2009 tadi di HSS, saya mengambil beberapa sebab.

SATU, tidak ada prestasi, baik spiritual (sebagai partai Islam) maupun sosial ekonomi dan politik – keculi beberapa. Katakanlah misalnya di bidang kehutanan. Bukankah Ardiansyah (Ketua DPRD – sekarang Wakil Bubati) adalah “Trade Merk” PKS di HSS selama ini, khususnya pada periode sebelumnya, dan Ja’far (Ketua DPRD sekarang), keduanya adalah sarjana kehutanan? Apakah ilmu-ilmu kesarjanaan mereka tersebut memang tidak pernah diaplikasikan atau memang kada tapakai? AlLahu’alam!

DUA, suka mengklaim bahwa sejumlah “keberhasilan” pembangunan dan “prestasi” politik di HSS selama ini adalah sebagai hasil kerja PKS seorang diri. Seperti kenaikan PAD; santunan kematian; sumbangan untuk kesejahteraan khatib dan masjid; perda khatam Qur’an; pemenang Pilkada Bupati 2008, dan lain-lain. Hal ini jadi bomerang bagi PKS karena semua masyarakat HSS tahu bahwa “keberhasilan” dan “prestasi” itu adalah hasil kerja dan karya dari semua anggota DPRD HSS yang ada. Boleh jadi memang beberapa dari “keberhasilan” dan “prestasi” itu ide awalnya dari PKS. 

TIGA, mulai ditinggalkan kader militan dan massa fanatik. Karena kurangnya pembinaan? Atau karena kader dan massa mulai melek politik bahwa orientasi semua partai politik – apa pun azasnya, Islam atau nasionalis – selamanya yang terjadi adalah untuk tujuan politik kekuasaan. Tidak pernah terjadi kekuasaan politik dengan tujuan religius(itas) dan spiritual(itas) semata.

EMPAT, masih memasang kader-kader lama sebagai caleg, yang justru selama duduk pada periode sebelumnya tidak terlihat prestasinya (kecuali berhasil meningkatkan kesejahteraan ekonomi pribadi dan menaikkan berat badan si anggota legislatif karena awak pina sasain balamak), juga banyak mencomot figur-figur yang lebih dikenal karena ketokohan oleh simbol-simbol spiritual-tradisionalnya doang, bukan karena kualitas politik dan intelektual individunya.

LIMA, latah menggunakan “jampi-jampi agama” (menjual habib, maarak pawang agama, memelintir “teks-teks suci”, mempolitisir maulid, tarbang, jilbab, jenggot, dan lain-lain) sebagai komoditas dan mobilitas politiknya. Barangkali hal ini untuk menegaskan bahwa PKS adalah partai Islam, yang sesungguhnya – sebagaimana semua partai Islam lainnya – boleh saja disebut “cuma” sebagai partai anonim berbaju Islam. Untuk urusan agama, trik-trik semacam itu bisa jadi dapat mewujudkan terciptanya solidaritas Islam secara global, tapi adalah mimpi untuk memikirkan solidaritas semacam itu untuk urusan partai dan politik. Dengan perilaku politik PKS yang doyan “mengekploitasi” dan “mengkomodifikasi” agama (baca: Islam) dan segala perkakasnya sebagai “jampi-jampi agama” itu, dalam istilah religiusitas-tradisonal Banjar, jadilah PKS akhirnya katulahan! Hehehe…

Saya masih memiliki daftar yang cukup panjang. Tetapi, itulah sebab-sebab utama yang saya rasa paling mempengaruhi merosotnya suara PKS pada Pemilu 2009 ini di HSS. Sebab-sebab itu bisa saja berlaku untuk darerah-daerah lain di luar HSS. Bisa pula berlaku pada pemilu-pemilu mendatang, tentu jika PKS tidak segera melakukan evaluasi dan introspeksi.

Tabik!

Aliman Syahrani
Pemerhati Politik Rukun Tetangga (RT) di Kandangan