Tiga belas cerita pendek (cerpen) yang terdapat dalam buku Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma (1994) semuanya bercerita tentang kekerasan yang terjadi di Timor Timur (Timtim) ketika negeri itu masih menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ketika buku ini terbit pertama kali, tidak ada kata yang menyebutkan langsung bahwa cerita-cerita tersebut berisi kekerasan militer di Timtim—yang setelah merdeka menjadi Timor Leste—kecuali catatan kaki pada cerpen “Misteri Kota Ningi (atawa The Invisible Christmas)”. Catatan kaki tersebut merujuk pada tulisan George Junus Aditjondro (1993), “Prospek Pembangunan Timor Timur Sesudah Penangkapan Xanana Gusmao” dalam majalah Hayam Wuruk, hasil wawancara majalah Jakarta Jakarta dengan Gubernur Timtim Mario Viegas Carascalao (1992), dan buku Roh Orang Tetum di Timor Timur karya David Hicks (1985). Selain itu, kata “Ningi” merupakan plesetan khas Yogyakarta yang berarti “Dili”, ibukota Timtim.

Pada 1996, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan novel yang juga mengangkat insiden Dili dalam Jazz, Parfum, dan Insiden. Dalam novel yang bicara soal jazz dan parfum ini, Seno lebih transparan menyebutkan latar tempat terjadinya kekerasan itu dengan menyelipkan delapan laporan jurnalistik yang pernah dimuat di majalah Jakarta Jakarta. Setahun berikutnya, 1997, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan buku nonfiksi Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Dalam buku ini, terjelaskan juga bahwa cerpen-cerpen yang berlatar Timtim itu merupakan perlawanan atas penindasan militer Indonesia terhadap bangsa Timor Leste dan terhadap dirinya sebagai wartawan yang dipecat dari pekerjaannya lantaran memberitakan fakta Insiden Dili 12 November 1991.

Kemudian, karena laporan tentang Insiden Dili dalam Jakarta Jakarta edisi 288, 4-10 Januari 1992, atas permintaan pihak luar, perusahaan tempat saya bekerja menghentikan saya—dan dua kawan lain—dari tugas sebagai editor Jakarta Jakarta. Kejadian ini, tentu, saya anggap sebagai penindasan—oleh suatu kekuasaan yang merasa dirinya melakukan hal yang paling benar. Saya melawannya, dengan cara membuat Insiden Dili yang ingin cepat-cepat dilupakan itu menjadi abadi. Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara, karena jika jurnalisme bersumber dari fakta, maka sastra bersumber dari kebenaran. Ini membuat saya dengan sengaja mencari segala segi dari Insiden Dili yang bisa menjadi cerpen—sebagai suatu cara untuk melawan. (Ajidarma, 2005: 40)

Dalam buku Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan, Ignas Kleden menyebutkan ada tiga kegelisahan penyair atau sastrawan pada umumnya dalam menciptakan karya sastra. Pertama, kegelisahan politik, yang mencerminkan hubungan antara manusia dengan manusia lainnya dalam sebuah struktur sosial. Kedua, kegelisahan metafisik, yakni hubungan manusia dengan alam semesta. Ketiga, kegelisahan eksistensial, yang menggambarkan sastrawan menghadapi dan mencoba menyelesaikan persoalan dirinya sendiri (Kleden, 2004: 265-267). Dalam Saksi Mata ini, Seno Gumira Ajidarma sangat tegas memperlihatkan kegelisahan politiknya dengan mengangkat persoalan kekerasan militer yang terjadi di Timtim. Perspektif yang digunakan Seno adalah masyarakat Timtim yang lemah, tertindas, teraniaya oleh tindakan militeristik yang dilakukan semasa Timtim dalam “genggaman” Indonesia.

Dalam cerpen “Misteri Kota Ningi (atawa The Invisible Christmas)” dikisahkan tentang sebuah kota yang mencekam. Seorang petugas sensus yang bertugas menghitung penduduk kota Ningi—tentu ada kaitannya dengan nama kota Dili sebagaimana yang telah saya singgung di atas—selalu dibingungkan dengan kenyataan yang dihadapinya. Biasanya, jika dia menghitung pertumbuhan penduduk suatu kota, maka makin lama makin bertambah jumlah penduduknya. Namun, di kota Ningi ini yang terjadi justru sebaliknya. Cerita ini didasarkan pada kenyataan bahwa setelah ada peristiwa integrasi Timtim dengan NKRI, penduduk Dili bercerai-berai; ada yang lari ke Portugal dan Australia seperti yang dilakukan kelompok Fretilin, ada yang lari ke gunung, ada yang ikhlas bergabung dengan bangsa Indonesia, dan ada yang tetap memberontak terhadap pemerintah Indonesia—sehingga sebagian penduduknya menjadi korban. Maka, tidak heran jika dalam cerpen ini si petugas sensus bingung dengan makin berkurangnya penduduk kota Ningi. 

Di kota Ningi aku menemukan suatu hal yang lain sama sekali. Di kota Ningi, dari tahun ke tahun, penduduknya makin lama makin berkurang. Aneh sekali. Ketika dunia mengerutkan kening karena laju pertumbuhan penduduk yang mengerikan, kota Ningi malah makin lama makin berkurang penduduknya. Ketika aku membongkar-bongkar arsip, catatan tahun 1974 menunjukkan jumlah 688.771 orang. Namun ketika aku menghitungnya kembali pada tahun 1978 ternyata penduduknya sudah menjadi 329.271 orang. Ke mana yang 359.500 orang itu pergi? Aneh sekali. (Ajidarma, 1994: 74)

Anehnya, penduduk kota Ningi tidak merasa kehilangan dengan saudara-saudaranya yang telah mati atau hilang, karena mereka masih percaya bahwa ruh saudaranya yang mati itu masih berada di sekitar mereka. Sehingga, dengan sering terjadinya konflik berdarah di kota Ningi, makin lama makin banyak ruh yang ada di kota Ningi. Dan, petugas sensus pun terbengong-bengong ketika menyaksikan ada cangkir yang melayang sendiri, ada sapu yang menyapu sendiri, dan ada sepatu yang berjalan sendiri.

Kulihat ada nasi di piring, ada kerupuk, dan ada tempe. Kulihat sendok dan garpu bergerak sendiri, seolah-olah ada seseorang yang memegangnya, dan menyuapkan nasi serta tempe itu ke mulutnya. Aku ternganga. Kulihat kerupuk itu melayang sendiri, terdengar suara krauk-krauk, lantas hilang entah ke mana. Aku keluar dari rumah itu dengan kepala pusing. Kulihat sendiri bagaimana teko tertuang, gelas terangkat, air terminum dan lenyap, seolah-olah memang ada yang meminumnya. (Ajidarma, 1994: 74-75)

Kalau aku berjalan di kota itu, kadang-kadang kulihat sepasang sandal jepit berjalan sendiri, sepeda motor tiba-tiba menyala dan tancap gas, begitu juga dengan mobil yang melaju tanpa pengemudi. 
(Ajidarma, 1994: 76)

Cerpen “Saksi Mata” yang juga menjadi judul buku ini berkisah tentang seorang saksi mata yang tidak mempunyai mata lagi. Kisah hilangnya mata si saksi itu dikisahkan Seno secara datar dan terkesan biasa, namun memiliki nilai kesadisan yang sangat luar biasa. Seno tampaknya ingin menggambarkan adegan kekerasan yang terjadi di Timtim itu seperti peristiwa keseharian.

“Saudara Saksi Mata.”
“Saya Pak.”
“Di manakah mata saudara?”
“Diambil orang Pak.”
“Diambil?”
“Saya Pak.”
“Maksudnya dioperasi?”
“Bukan Pak, diambil pakai sendok.”
“Haaa? Pakai sendok? Kenapa?”
“Saya tidak tahu kenapa Pak, tapi katanya mau dibikin tengkleng.”
(Ajidarma, 1994: 3)

Ia bersedia bersaksi di pengadilan karena tidak ada lagi orang yang mau menjadi saksi, entah karena takut atau karena tidak percaya pada hukum maupun wibawa hakim di pengadilan Indonesia. Kesediaan saksi tanpa mata itu untuk bersaksi di pengadilan membuat orang-orang yang hadir di pengadilan merasa gembira, tapi para wartawan yang hadir dalam pengadilan itu tidak ada yang berani mengeksposenya. Berikut petikan cerpen “Saksi Mata” yang menggambarkan bahwa “masih ada” hakim yang ingin mengetahui hal-hal yang sebenarnya terjadi di Timtim.

“Saudara Saksi Mata.”
“Saya Pak.”
“Apakah saudara masih bisa bersaksi?”
“Saya siap Pak, itu sebabnya saya datang ke pengadilan ini lebih dulu ketimbang ke dokter mata Pak.”
“Saudara Saksi Mata masih ingat semua kejadian itu meskipun sudah tidak bermata lagi?”
“Saya Pak.”
“Saudara masih ingat bagaimana pembantaian itu terjadi?”
“Saya Pak.”
“Saudara masih ingat bagaimana mereka menembak dengan serabutan dan orang-orang tumbang seperti pohon pisang ditebang?”
“Saya Pak.”
“Saudara masih ingat bagaimana darah mengalir, orang mengerang, dan mereka yang masih setengah mati ditusuk dengan pisau sampai mati?”
“Saya Pak.”
“Ingatlah semua itu baik-baik, karena meskipun banyak saksi mata, tidak ada satu pun yang bersedia menjadi saksi di pengadilan kecuali saudara.”
(Ajidarma, 1994: 7)

Tragis bagi si Saksi Mata, ketika pengadilan dihentikan dan akan diteruskan keesokan harinya, ia mengalami penindasan yang lebih kejam lagi. Sekali lagi, Seno menuliskannya dengan nada yang sangat biasa, sehingga Nirwan Dewanto (1992) menyebutnya sebagai karya yang sarkasme. “Pada waktu tidur lagi-lagi ia bermimpi, lima orang berseragam ninja mencabut lidahnya—kali ini menggunakan catut.” (Ajidarma, 1994: 9).

Cerpen lainnya, “Telinga”, juga mengisahkan adegan kekerasan. Cerpen ini diawali dengan pernyataan Alina. “Ceritakanlah padaku tentang kekejaman,” kata Alina pada juru cerita itu. Dari pertanyaan itulah cerpen ini pun mengalir. Cerpen “Telinga” bercerita tentang kekejaman seorang prajurit terhadap musuh-musuhnya—meskipun di tanah airnya ia tetap dianggap sebagai pahlawan. Cerpen itu bercerita tentang seorang prajurit di medan perang yang selalu mengirimkan telinga musuh-musuhnya yang telah mati kepada pacarnya, Dewi. Setiap membunuh seorang musuh, maka telinga si musuh itu dikirimkan kepada Dewi.

Kukirimkan telinga ini untukmu Dewi, sebagai kenang-kenangan dari medan perang. Ini adalah telinga seseorang yang dicurigai sebagai mata-mata musuh. Kami memang biasa memotong telinga orang-orang yang dicurigai, sebagai peringatan atas risiko yang mereka hadapi jika menyulut pemberontakan. Terimalah telinga ini, hanya untukmu, kukirimkan dari jauh karena aku kangen padamu. Setiap kali melihat telinga ini, ingatlah diriku yang kesepian. Memotong telinga adalah satu-satunya hiburan.
(Ajidarma, 1994: 13-14)

Semakin lama, semakin banyak telinga yang dikirimkan. Karena kuwalahan menampung kiriman telinga dari pacarnya, Dewi membagi-bagikan telinga itu kepada para tetangganya. Ada telinga yang dijadikan hiasan, ada yang dijadikan anting-anting—sehingga anting-anting yang bergantung di telinga Dewi adalah telinga kiriman pacarnya.

Hampir setiap hari Dewi menerima kiriman telinga dari pacarnya. Kadang-kadang satu, kadang-kadang dua, pernah juga satu besek banyaknya. Isinya barangkali lebih dari 50 telinga. Dewi memajang telinga itu di mana-mana. Di ruang tamu telinga itu bergelantungan di bawah lampu kristal, bergelantungan di pintu dan jendela, bertempelan di dinding, bahkan juga dipasang di kiri-kanan nomer rumah, kotak pos, dan papan nama orang tuanya. Ketika kiriman telinga itu masih juga datang, Dewi membuatnya jadi gantungan kunci, hiasan tas, bros, dan anting-anting. Telinganya beranting-anting telinga!
“Banyak amat telinga di sini,” kata seorang teman kuliahnya.
“Kiriman pacarku di medan perang,” Dewi menjawab dengan bangga.
“Pacarmu pasti sibuk sekali memotong telinga-telinga ini. Busyet. Banyak amat!”
“Aku masih ada banyak kalau mau.”
“Mau! Mau!”
Meskipun telinga-telinga itu masih meneteskan darah, temannya mau membawa sebesek telinga. Memang terlalu banyak telinga di rumah Dewi, tapi tentu saja Dewi tak mau membuang jerih payah pacarnya di medan perang itu. Ibunya pernah punya pikiran agar telinga-telinga itu dijemur lantas digoreng saja, siapa tahu rasanya enak dan bisa dijual.
(Ajidarma, 1994: 15-16)

Setelah bosan dengan kiriman telinga, pacar Dewi berniat mengirimkan kepala musuh-musuhnya. Seno seringkali membuat ending yang lebih mengejutkan pembaca dibandingkan dengan awal cerita. Dalam beberapa cerpen lainnya terkadang ending tersebut bisa menjadi klimaks cerita itu sendiri.

Apakah dikau juga menginginkan kepala-kepala tanpa telinga itu sebagai kenang-kenangan dari medan perang? Aku akan mengirimkan satu dulu sebagai contoh, karena kalau kukirimkan semua kepala yang telah kupenggal, aku takut tiada lagi tempat bagimu untuk menulis surat. (Ajidarma, 1994: 18)

Tampak bahwa Seno ingin mengabadikan Insiden Dili 1991 itu ke dalam cerpen-cerpennya. Sebab, dalam wawancara majalah Jakarta Jakarta dengan Gubernur Timtim Mario Viegas Carascalao, dideskripsikan bahwa “Pada akhir Oktober 1991, ia (Gubernur) menerima empat pemuda di kantornya. Dua dari empat pemuda itu, telinganya sudah terpotong,” (Ajidarma, 2005: 38). 

Wajah kota Dili, atau tepatnya masyarakat Dili, terlihat jelas dalam cerpen “Manuel”. Dalam cerpen itu, dikisahkan seorang pemuda pergerakan bernama Manuel mabuk dan mengeluarkan kata-kata yang merepresentasikan suara hatinya.

“Ketika aku kembali ke kota kami itu, segala-galanya telah berubah. Kami bisa makan, kami bisa minum, tapi kami tidak memiliki diri kami sendiri. Kota kami yang damai itu kini penuh dengan pasukan asing, banyak mata-mata berkeliaran dan selalu mencurigai kami. Kami bersekolah, namun kami tidak boleh berpikir dengan cara kami sendiri. Kami tidak berbicara dalam bahasa kami, kami tidak mempelajari sejarah kami sendiri, dan kami tidak mungkin mengungkapkan pendirian dan cita-cita kami, karena setiap kali hal itu dilakukan selalu ada yang ditangkap, disiksa, dan masuk bui tanpa diadili.”
“Kami bahkan begitu sulit untuk mengadakan pesta seperti adat kebiasaan kami, karena setiap pertemuan orang banyak dianggap sebagai persekongkolan. Orang-orang dicurigai menurut selera sendiri dan interogasi berlangsung dengan cara yang kejam sekali. Tak cukup dengan bentakan, ancaman, dan pukulan. Nenekku, kautahu, nenekku yang sudah berumur 74 tahun diiris kulit pipinya dan disuruh makan kulit pipi itu mentah-mentah untuk ditanya seperti apa rasanya.” 
(Ajidarma, 1994: 24-25)

Tapi, setelah Manuel bicara banyak tentang perjuangan, dia pun ditahan oleh seseorang yang diajak bicara. Dia tidak tahu bahwa yang diajak bicara adalah seorang intel. 

Saya pikir ia berumur 30. Apakah penderitaan membuat seseorang bertambah tua? Tapi saya tidak mempunyai kesan bahwa Manuel menderita. Ia seorang yang tabah, dan pemberontak yang tabah, sepanjang pengetahuan saya sebagai intel, adalah pemberontak yang berbahaya. Sayang ia kurang hati-hati malam ini. Barangkali, seperti saya juga, karena ia sedang kesepian. Perjuangan, begitulah, toh tetap harus dilakukan dalam kesendirian.
“Sorry Manuel, engkau ditahan.” 
(Ajidarma, 1994: 26)

Dalam salah satu cerpennya yang berjudul “Pelajaran Sejarah”, Seno ingin mempertanyakan peristiwa yang telah dialami oleh masyarakat Timtim. Apakah seluruh peristiwa yang telah mengorbankan sebagian besar rakyat Timtim dicatat oleh sejarah atau tidak? Dan, jika dicatat dalam sejarah, apakah masyarakat Timtim yang gugur itu dianggap sebagai pahlawan ataukah pengkhianat bangsa? Pertanyaan ini menjadi penting bagi masyarakat Timtim sendiri, yang selalu tersudut oleh bangsa lain yang hendak mengurus tatanan masyarakat Timtim, baik Portugal maupun Indonesia. Sejarah seringkali tidak bisa kita temukan dalam buku-buku pelajaran. Maka, cara yang ditempuh oleh Guru Alfonso adalah membawa murid-murid kelas VI SD ke suatu pekuburan tempat terjadinya peristiwa bersejarah. Tapi, ketika anak-anak itu bertanya dengan jujur, Guru Alfonso tak sanggup menjelaskannya dengan kata-kata. Karena, ketika peristiwa itu terjadi, dia ada di pekuburan itu bersama orang-orang yang ditembaki.

Apakah yang mesti diketahui kanak-kanak? Mestikah mereka tahu mengapa kakak-kakak mereka hilang tak tentu rimbanya, keluarganya tak lengkap, dan ayah mereka dikuburkan entah di mana? Mestikah mereka tahu mengapa malam begitu sunyi, patroli tentara berkeliaran, dan mata ibu mereka sering ketakutan.Guru Alfonso sedang berpikir, bagaimana caranya menyampaikan pelajaran sejarah itu sebaik-baiknya, ketika matahari semakin bertambah tinggi. (Ajidarma, 1994: 69-70)

Dalam artikel “Catatan Kaki atas Pelajaran Sejarah (1993)” yang dimuat dalam buku Membaca Postkolonialitas (di) Indonesia yang disunting Budi Susanto, Seno Gumira Ajidarma (2008) menjelaskan proses kreatifnya ketika menciptakan cerpen “Pelajaran Sejarah” yang termuat dalam buku Saksi Mata (1994). Seno sendiri menulis cerpen “Pelajaran Mengarang” dan “Pelajaran Sejarah”. Dalam cerpen “Pelajaran Mengarang”, Seno ingin mengatakan kepada pembaca, “begini lho kalau mau mengarang itu.” Sementara dalam cerpen “Pelajaran Sejarah”, Seno ingin mengatakan, “begini lho caranya menulis sejarah itu.”

Inti artikel Seno adalah dia menganggap perbedaan fakta dengan fiksi sudah tidak penting lagi, karena fakta dan fiksi itu mengacu pada gagasan yang sama. Beberapa cerpen Seno memang berangkat dari fakta. Selain cerpen “Pelajaran Sejarah” yang mengacu pada Insiden Dili 12 November 1991, suatu peristiwa pembantaian orang-orang tidak bersenjata di Timtim oleh militer Indonesia, Seno juga menulis cerpen “Clara” yang dibukukan dalam Iblis Tidak Pernah Mati (1999), yang mengacu pada kasus perkosaan terhadap gadis Tionghoa dalam huru-hara 13-14 Mei 1998.

Bagaimana fakta hadir dalam cerpen-cerpen Seno? Sejatinya hadir begitu saja tanpa perubahan yang berarti; malah dapat dikatakan sama persis. Mari kita perhatikan kutipan berita yang berupa fakta di Majalah Jakarta-Jakarta no. 288, 4-10 Januari 1992, halaman 97 dengan kutipan cerpen “Pelajaran Sejarah” yang berupa fiksi dalam Saksi Mata.

Fakta:
Saat penembakan mereka dibagi dalam dua barisan. Barisan pertama di depan dan barisan kedua berada di belakang. Komandannya tembak sekali ke atas sambil berteriak, “Depan tidur, belakang tembak!” Pada saat yang belakang menembak, yang depan merangsek masuk ke demonstran dan menusukkan sangkurnya ke semua orang. Dan saya hanya bisa berlari-lari tidak tentu arah, karena di sekitar saya, orang-orang berjatuhan begitu saja kena tembak, seperti di film. (Jakarta Jakarta, 4-10 Januari 1992: 97)

Fiksi:
Guru Alfonso belum lupa peristiwa itu. Bagaimana bisa lupa? Saat penembakan mereka dibagi dalam dua barisan. Barisan pertama di depan dan barisan kedua di belakang. Komandannya menembak sekali ke atas, sambil berteriak, “Depan tidur belakang tembak!” Setelah yang belakang menembak, yang depan merangsek dan menusukkan sangkurnya ke arah semua orang. Guru Alfonso belum lupa, ia hanya bisa berlari-lari tidak tentu arah, karena orang-orang berjatuhan begitu saja, bergelimpangan…. (Ajidarma, 1994: 660)

Nyaris tidak ada perbedaan antara fakta dan fiksi. Jika fakta yang dimuat di majalah Jakarta Jakarta itu dituturkan oleh seorang saksi mata, maka fiksi dalam cerpen “Pelajaran Sejarah” itu merupakan tokoh ciptaan Seno sendiri, Guru Alfonso. Seno menulis cerpen itu dua tahun setelah Insiden Dili terjadi. Ia ingin menulis sejarah yang terjadi di Timtim. Namun, karena kekuasaan rezim Orde Baru demikian kokoh, maka Seno menuliskannya dalam bentuk fiksi. Satu-satunya yang disamarkan adalah Seno tidak menyebut lokasi kejadian secara eksplisit, yakni Santa Cruz. Pelajaran sejarah yang benar-benar ingin disampaikan Seno itu tidak berasal dari buku sejarah yang ada di sekolah-sekolah, melainkan dari cerita atau pengalaman Guru Alfonso, yang mengajak murid-muridnya berjalan-jalan ke lokasi kejadian.

“Kenapa kita belajar sejarah di luar kelas?”
“Karena tidak semua hal bisa diajarkan di dalam kelas, Francesco.”
“Pelajaran sejarah macam apakah yang harus diajarkan di luar kelas?”
“Tentu saja pelajaran sejarah yang tidak bisa diajarkan di dalam kelas, Florencio.”
“Tapi sejarah macam apakah yang tidak bisa dipelajari di dalam kelas, Bapa Guru Alfonso?”
“Sejarah itu bukan hanya catatan tanggal dan nama-nama, Florencio, sejarah itu sering juga masih tersisa di rerumputan, terpendam dalam angin, menghempas dari balik ombak. Sejarah itu, Florencio, merayap di luar kelas, kini kalian harus mempelajarinya.”
(Ajidarma, 1994: 66-67)

Cara Seno menulis cerpen, cara Seno mengangkat fakta ke dalam fiksi, cara Seno mengemas fakta sehingga tidak verbal dan tetap enak dinikmati sebagai sebuah fiksi, sungguh luar biasa. Seno hendak menghadirkan kenyataan dari perspektif korban pembantaian Insiden Dili 1991, bukan dari perspektif militer Indonesia dan penguasa rezim Orde Baru saat itu. Kalaupun ada dari perspektif militer, seperti dalam cerpen “Darah Itu Merah, Jenderal”, maka yang ditampilkan adalah jenderal yang idealis. Bukan jenderal yang main tembak. Dan Seno berhasil menghadirkannya karena fakta sejarah yang ingin disampaikan dua tahun lalu, yakni pembantaian massal (massacre) oleh tentara di pekuburan Santa Cruz itu sudah tertuliskan. Fakta dan fiksi menyatu dalam diri Seno Gumira Ajidarma.

Dalam Saksi Mata ini, Seno Gumira Ajidarma berhasil menciptakan cerpen dengan berbagai gaya, misalnya surealis pada cerpen “Telinga” dan “Saksi Mata” serta realis pada cerpen “Maria”. Meskipun demikian, Seno tidak terkungkung pada persoalan stilistik. Yang menonjol dari cerpen-cerpennya tersebut adalah persoalan tematik, yakni kekerasan militer di Timtim. Ia berangkat dari fakta yang terjadi di Timtim. Bahkan, antara fakta dan fiksi terkadang diterabasnya, misalnya dalam cerpen “Pelajaran Sejarah”. Namun, secara keseluruhan, semua cerpen yang terdapat dalam Saksi Mata merupakan fiksi karena memiliki struktur cerita yang jelas. Sebagian besar cerpennya menggunakan sudut pandang korban—sesuatu yang menjadi pilihan Seno dalam bercerita, sebagaimana yang tampak dalam karya-karyanya yang lain, seperti dalam Kalatidha, Negeri Senja, dan Kitab Omong Kosong. Saya menilai karya-karya Seno yang mengangkat persoalan bangsanya ini bisa disejajarkan dengan sastrawan-sastrawan kelas dunia. ***

Daftar Acuan
Ajidarma, Seno Gumira. 1994. Saksi Mata. Yogyakarta: Bentang.
_____. 2004. Jazz, Parfum, dan Insiden. Yogyakarta: Bentang.
_____. 2005. Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara. Yogyakarta: Bentang.
_____. 2008. “Catatan Kaki atas Pelajaran Sejarah (1993)”, dalam Budi Susanto (ed.). Membaca Postkolonialitas (di) Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.
Ajidarma, Seno Gumira (ed.). 2003. Dua Kelamin bagi Midin: Cerpen Kompas Pilihan 1970-1980. Jakarta: Kompas.
Budiman, Kris. 2005. Pelacur dan Pengantin adalah Saya. Yogyakarta: Pinus.
Dewanto, Nirwan. 1992. “Penutup,” dalam Kado Istimewa: Cerpen Pilihan Kompas 1992. Jakarta: Kompas.
Kleden, Ignas. 2004. Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan. Jakarta: Grafiti dan Freedom Institute.
Sambodja, Asep. 2007. “Seno Gumira Ajidarma, Kitab Omong Kosong, dan Keindonesiaan Kita,” dalam Amin Sweeney et.al (ed.). Keindonesiaan dan Kemelayuan dalam Sastra. Jakarta: Desantara dan Hiski Pusat.