Belakangan sambil berseloroh acap di di media (teve) saya sampaikan yuk kembali belajar Bahasa Indonesia, karena bahasa=logika. Kata celeng bermuara kepada celengan. Kendati bentuknya kodok, tak pernah dibilang kodokan. Lantas esensi alias subjek liputan utama TEMPO diapakan? Logika-logika aneh mengalir setelah reformasi yang tak mengantar meningkatnya mutu peradaban.(Berikan dukungan anda pada Kelompok DUKUNG TEMPO MELAWAN GUGATAN POLRI di facebook
http://www.facebook.com/group.php?gid=141040152576276)

 

BARU pekan lalu saya menulis Sketsa soal Biennale Indonesia Art Award 2010, yang pamerannya berakhir 27 Juni 2010 ini. Di pameran adi karya seni Indonesia itu, peraih award membuat karya seni sosok patung Barack Obama naik becak.

Dalam sekuen foto yang digelar di pameran itu, sang patung sempat jatuh dari becak di Yogyakarta. Tangan patung itu patah, kakinya juga. Lalu adegan becak yang dinaiki patung difoto di depan rumah sakit Muhammadiyah di Yogyakarta, jidatnya dibalut perban, lengan dan kaki Obama sudah tersambung.

Di saat dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta, patung itu sehat wakafiat. Obama mengangkat jari kanan membentuk V, simbol peace. Oleh pembuatnya, Wilman Syahnur, patung dan parade foto patung Obama nyungsep dari becak itu sebagai kritik terhadap sang presiden AS itu, yang tak pantas menerima hadiah Nobel Perdamaian. 

Logika saya apakah sang penerima yang harus dikritik atau sang panitia pemberi? Bisa menjadi sebuah diskusi.

Di Sketsa saya bertajuk Becak Obama dan Oh Miranda pekan lalu itu, saya bertanya mengapa Wilman tidak membuat saja patung Miranda Goeltom naik Becak dengan Nunun, yang mengaku pikun, karena tersangka mengalirkan sogokan kepada anggota komisi keuangan DPR, terindikasi demi mentasnya Miranda menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia. Keduanya bisa dibuat patung naik becak lalu difoto diberdirikan dengan latar gedung KPK.

Setidaknya melalui ide saya itu, saya ingin bertanya kepada pematung bahwa tangau di seberang lautan tampak tapi gajah di pelupuk mata tidak kelihatan? Kepada Jim Supangkat, kurator yang juga ketua Dewan Juri, saya ingin bertanya mengapa tidak berani berseloroh kepada sang pematung? Dan sebagai seniman, apalagi korator independen, perihal itu bisa saja jadi bahasan, bukan?

Mengapa hal ini saya pertanyakan? Mengingat Miranda Goeltom membuka pemaran seni itu pada 17 Juni 2010. Ia ketua Yayasan Seni Indonesia. Dan menurut hemat saya di pembukaan itu, para seniman hanya takzim, manut-manut, santun-santunan, basa-basi, apatah sambil berharap ada koleksi karya seni yang bakal dibeli Miranda atau koleganya? 

Bagi saya inilah bentuk pergeseran seniman adi luhung Indonesia kini dibanding eranya Soedjojono dan kawan-kawan, di masa silam. Sama dengan bergesernya karakter negarawan bak sosok Hatta, ke ranah pejabat dan aparat di era kini.

Di media sosial, khususnya di facebook saya, banyak kawan berkomentar, dan menyatakan bahwa kalau mengkritik Obama tidak berisiko. Berbeda dengan mengkritik pejabat publik Indonesia, selain siap diproses hukum, terkadang nyawa bisa dimunirkan.

Saya tak habis pikir.

Demikiankah ternyata kemajuan hebat kita lintas-lini setelah reformasi?

BELUM sepekan berlalu dari penutupan pameran seni itu, Senin, 28 Juni 2010, majalah TEMPO menurunkan laporan utama ihwal rekening milik jenderal polisi. Tak terkecuali di sana ada rekening Susno Duadji, terindikasi berisi lebih Rp 3 miliar.

TEMPO menampilkan cover visual grafis air brush, sosok perwira polisi yang ditarik oleh tiga buah celengan babi.

Celengan babi, wujud nyatanya, terbuat tanah liat. Di ranah masyarakat memang acap digunakan sebagai tempat menabung uang receh. Saya masih ingat ketika kanak-kanak dulu, sosok celengan bulat dengan wujud bergambar muka babi oleh pedagangnya, sempat menjadi wadah celengan saya. Seingat saya sosok kodok juga dominan, dan saya juga pernah punya celengan kodok.

Seorang kawan Fecebook, menyampaikan soal kata celeng yang menjadi celengan. Dalam penelusuran literasi saya, kata celeng memang menjadi istilah celengan. Kendati wujudnya ayam, atau kodok, tek pernah diucapkan ayaman atau kodokan

Cover sebuah majalah memang sebuah karya kreatifitas. Ia ditabalkan menyampaikan konten produknya yang utama untuk edisi itu. Liputan utama TEMPO indikasi uang tambun yang dimiliki oleh beberapa perwira polisi, yang jika memakai akal waras, dibandingkan dengan gaji para pemegang rekeningnya, sungguh tidak masuk akal.

TEMPO lalu ludes di pasaran sebelum sempat beredar. Saya tak paham siapa pembelinya, karena saya belum melakukan verifikasi untuk menulisnya dalam format reportase untuk Sketsa.

Di opini ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa laku memborong TEMPO itu sebuah langkah naïf, jika tak hendak dibilang bodoh. Di era dunia online kini sudah demikian dinamis, dan hampir 30 juta orang Indonesia berlalu lintas online, maka dengan mudah dapat diperoleh konten majalah itu di http://www.tempointeraktif.com.

Ada juga pihak yang menduga bahwa hilangnya TEMPO di pasaran oleh laku oknum TEMPO sendiri. Namun apa iya? Dalam keadaan cah flow media kini menjadi kian ketat, membeli produk sendiri menjadi laku gila. Apalagi di ranah media kini yang integritasnya banyak layak dipertanyakan, kawan-kawan, TEMPO, masih menjadi oase kejujuran bagi saya. Tetapi begitulah, negeri kita kadung terbuai dan acap dibuai rumor-rumor kotor.

Satu yang fakta, sesuai kelimat disampaikan pejabat Polri. Inspektur Jenderal Edward Aritonang, juru bicara Mabes Polri, mengatakan cover TEMPO edisi rekening gendut itu sangat mencemarkan, menghina, merusak nilai-nilai kehormatan Polri. Kata Aritonang pula, banyak telepon dari berbagai daerah dari markas polisi dari daerah mempertanyakan mengapa mereka seolah-olah bergelimang binatang?

Singkat kata sesui keterangan Aritonang, silakan TEMPO menganggap hal itu sebagai karya seni, tetapi Polisi akan meneruskan ke langkah hukum. Dan langkah hukum akan dilakukan oleh Kepala Pembinaan Hukum Mabes Polri.

Bagi saya kalimat itu sebagai sebuah sikap reaktif Polri. 

Karena pendidikan saya dari jurusan komunikasi, laku demikian secara psikologi komunikasi adalah sikap melawan perasan massa, oleh seorang pejabat publik. Jika saja saya pejabat Polri, saya akn mempertimbangkan sisi plus minusnya dari sudut citra. Entahlah, bagaimana berhitungnya polisi kini?

Momen seperti ini, jika Polri tidak reaktif, jika saja ia dapat tampil rendah hati, maka akan mengatakan: Kami berterima kasih, atas liputan TEMPO, media pada umumnya. 

Dari liputan TEMPO bergambar perwira dan celengan babi itu, memberi kesempatan kami kian berbenah diri menjadi polisi, penegak dan pelayan keadilan lebih baik ke depan. Kami yakin kami bukan warga hewan, dan tak ada pula niat kami menjadi babi ngepet apalagi babi benaran – – diucapkan sambil bercanda tawa. 

Kalau mau menambahkan, celengan itu memang dari kata celeng, kami tak pernah mendengar ada ayaman, kodokan, walapun celengan ada yang berbentuk hewan lain. Ah mungkin saya cuma bermimpi meberi teori.

Aklhirnya, selamat ulang tahun Bhayangkara, Polri. Semoga lebih baik citranya ke depan. Amin***

Iwan Piliang, blog-presstalk.com