Di babak perdelapan final Piala Dunia kali ini kita menyaksikan pameran kekonyolan keputusan wasit dan pameran ketololan dan keras kepalanya FIFA.

Misalnya sebelum piala dunia ini digelar sudah banyak protes dari tim-tim yang berlaga tentang kualitas Bola Jabulani, bola resmi piala dunia kali ini, tapi FIFA bergeming, tetap ngotot kalo ini bola terbaik yang pernah ada, begitu keras kepa;lanya FIFA sampai-sampai Dunga pelatih Brazil, calon juara Piala Dunia kali ini jadi emosi.

Jauh sebelum piala dunia ini digelar, sudah banyak usulan kepada FIFA untuk menggunakan rekaman ulang televisi untuk memastikan sebuah kejadian penting di lapangan bola, terutama untuk kejadian krusial seperti Gol tidaknya bola yang tidak menyentuh jaring.

Tapi dasar FIFA memang kolot, mereka bergeming berbagai argumen tidak masuk akal mereka pakai untuk merasionalisasi keputusan tolol mereka yang anti teknologi itu. FIFA ini ingin masyarakat berpura-pura bahwa teknologi televisi sama sekali tidak ada, sehingga ketika gol kontroversial atau gol yang tidak disahkan secara kontroversial diulang-ulang di TV mereka uring-uringan. Tapi anehnya, FIFA semangat sekali ketika ada pembicaraan hak siar dengan televisi.

Tapi ketika kemudian terbukti, Jabulani Bola resmi piala dunia itu memang menjadi masalah dan membuat piala dunia kali ini jadi kurang menarik karena minimnya Gol karena para pemain kesulitan menebak arah bola, FIFA yang tadinya keras kepala meminta maaf, tapi buat apa?

Soal penggunaan teknologi juga sama, setelah kesalahan keputusan wasit telah membuat Inggris dan Meksiko dirugikan. Presiden FIFA Sepp Blatter lagi-lagi meminta maaf kepada kedua asosiasi sepak bola itu, tapi buat apa?…Inggris dan Meksiko sudah keburu tersingkir dan sejarah tidak bisa lagi ditulis ulang.

Setelah kejadian tragis nan memalukan ini Blatter akhirnya memang melunak dan mengatakan akan memberikan pintu masuk untuk penggunaan teknologi yang dapat membantu kepemimpinan wasit. Yang lebih khusus yakni terkait teknologi yang memantau apakah bola sudah melewati garis gawang atau tidak. Hal itu akan dibicarakan pada pertemuan FIFA di Wales, Juli nanti.

Ironis, tragis dan memalukan….kenapa baru sekarang, mana sekarang sikap keras kepala dan bacot besar Blatter yang anti teknologi itu?

Ini perlu menjadi pertanyaan karena sebenarnya menurut saya dengan melunakkan sikap seperti itu malah membuat FIFA hilang wibawa, sebab menurut saya sebenarnya ada solusi lain untuk FIFA kalau mereka mau tetap mempertahankan wibawa, tanpa perlu kehilangan muka dan menjilat ludah sendiri dengan tetap konsisten memegang sikap anti teknologi.

Untuk mencegah wasit melakukan kesalahan manusiawi seperti itu, sebenarnya wasit cukup diberi efek jera….

Untuk itu caranya, FIFA cukup memberikan tiket wildcard kepada Tim Indonesia untuk menjadi peserta tetap di setiap penyelenggaraan Piala Dunia…dengan keberadaan Tim Indonesia di turnamen sepakbola empat tahunan itu, saya berani menjamin kalau para wasit tidak akan berani lagi bersikap semena-mena kepada setiap tim yang berlaga.

Bayangkan jika Tim yang mengalami kejadian seperti tidak disahkannya Gol Lampard dala pertandingan Inggris lawan Jerman kemarin itu adalah tim Indonesia, atau salah satu tim di liga super Indonesia…Saya jamin Jorge Larrionda, wasit asal Uruguay itu sekarang sudah babak belur nggak jelas bentuknya dan menyesal setengah mati pernah memilih profesi sebagai wasit sepakbola.

Win Wan Nur
http://www.winwannur.blog.com
http://www.winwannur.blogspot.com