Dulu sekitar tahun 1993, waktu saya masih kuliah ketika mengikuti mata kuliah Teknik Lalulintas di Aula Baru Fakultas Teknik yang panas, ada sebuah kisah menarik yang diceritakan oleh dosen saya yang mengasuh mata kuliah itu, yang tetap saya ingat sampai hari ini.

Dosen saya tersebut namanya Pak Sofyan, saat mengajar di kelas kami itu dia baru pulang tugas belajar dari Denmark. Dia menceritakan kalau di negara yang tempatnya melakukan tugas belajar itu yang orangnya tidak begitu peduli dengan agama, nyawa manusia sangat-sangat dihargai. Kalau ada satu kejadian yang mengakibatkan orang kehilangan nyawa, semua instansi terkait langsung bergerak mencari sebab permasalahan itu terjadi dan menemukan solusinya.

Pak Sofyan menceritakan, di Denmark, misalnya kalau ada kejadian kecelakaan yang sampai merenggut korban jiwa di sebuah tikungan atau bundaran jalan, maka seketika pemerintah akan menurunkan tim yang meneliti tempat kejadian, akan segera diperiksa apakah tikungan itu terlalu tajam, apakah pandangan pengendara di tikungan itu terhalang dan berbagai pertanyaan teknis lainnya, intinya semua segera dilakukan agar kejadian yang sama tidak lagi terulang.

Cerita Pak Sofyan ini sangat menarik dan berkesan bagi saya, karena saya melihat penghargaan yang tinggi terhadap nyawa manusia seperti apa yang berlaku di negara sekuler tersebut menjadi barang mahal, bahkan bisa dikatakan sama sekali tidak berlaku di negara ini, di negara ini kita sangat akrab dengan berbagai berita pelanggaran HAM oleh aparat negara yang berujung kepada hilangnya nyawa seorang warga, tapi beritanya menguap begitu saja tanpa mendapat perhatian berarti dari masyarakatnya.

Dalam urusan masalah pelayanan masyarakat juga sama, NYAWA manusia dianggap sangat murah di negeri ini, kalau di Denmark, sebuah kecelakaan di tikungan langsung diikuti dengan investigasi total, di negeri ini banyaknya kecelakaan di jalan raya tidak terlalu banyak mengganggu pikiran penyelenggara negara begitu juga masalah-masalah pelayanan lain yang bisa mengakibatkan orang kehilangan nyawa seperti yang marak belakangan ini, banyaknya ledakan tabung gas 3 kilogram yang pemakaiannya dipromosikan oleh pemerintah sendiri untuk menggantikan pemakaian minyak tanah.

Sebagai gambaran bagaimana parahnya keadaan saat ini bisa dibaca dan dilihat pada maraknya berita-berita tentang ledakan tabung gas belakangan ini.

Misalnya : 

13 Maret 2010 13/3) tiga orang warga Depok Nalim (28), Entong (40) dan Yamin alias Togi (27) mengalami luka bakar di sekujur tubuh, setelah tabung gas elpiji isi 3 kg yang dibagikan pemerintah dalam program konversi minyak tanah ke gas tiba-tiba meledak. Sebelumnya 11 Juli 2007, Ahmad Syaifullah (12) warga Kampung Rawa RT 02 RW 06 Kelurahan Cipayung Jaya, Pancoran Mas juga menagalami nasib yang sama karena tabung gas 3 kilogram yang dibagikan pemerintah meledak. http://tekno.kompas.com/read/2008/03/13/16432162/Tabung.Gas.G

Kamis, 8 April 2010 Satu keluarga di Kota Palu, Sulawesi Tengah, jadi korban Baca :http://metrotvnews.com/index.php/metromain/newscat/nusantara/2010/04/08/14699/Kompor-Gas-Meledak-Satu-Keluarga-Terbakar. 

19 April 2010 ledakan tabung gas 3 kilogram membuat seorang bocah lima tahun bernama Khairullah meregang nyawa, Sementara Bani Adam bocah berusia tujuh tahun itu menderita luka bakar yang cukup parah hingga 80 persen pada seluruh bagian tubuhnya, mereka berdua adalah dua dari 11 korban ledakan tabung gas di salah satu rumah warga di daerah Sukamulya, Harapan Mulya, Kemayoran, Jakpus. Baca : http://berita.liputan6.com/ibukota/201004/273075/Bocah.Korban.Ledakan.Tabung.Gas.Tewas

Senin, 26 April 2010 korban jatuh di Makassar baca : http://metrotvnews.com/index.php/metromain/news/2010/04/26/16208/Tabung-Gas-Meledak-2-Orang-Opname.

Sabtu, 08 Mei 2010 lagi-lagi korban jatuh di Maksassar baca : http://www.tempointeraktif.com/hg/makassar/2010/05/08/brk,20100508-246505,id.html.

18 Juni 2010 adalah salah satu kejadian tragis terjadi di Jakarta Selatan, dalam kejadian ini, dua nyawa milik Yadi (22) dan Sugiarto (31) melayang. Kedua penjual pecel lele ini meregang nyawa dan meninggalkan keluarga dan anak istrinya merana akibat tabung gas 3 Kilogram yang hadir di tempatnya berjualan berkat program konversi minyak tanah yang digulirkan pemerintah.

Teror tabung gas ini tidak berhenti di sini, tanggal 24 Juni 2010, tepat di hari ulang tahun saya, Korban jatuh di Bogor baca : http://www.mediaindonesia.com/read/2010/06/06/151327/37/5/Tabung-Gas-Meledak-Dua-Terluka .

Masih ada banyak kejadian lain yang tidak saya muat di sini, tapi apa yang saya gambarkan ini kiranya sudah cukup untuk menunjukkan betapa berbahayanya situasi yang kita hadapi dengan tabung-tabung gas 3 kilogram yang ada di rumah kita atau di rumah tetangga, di luar sana setiap harinya beredar 28 Jt Kg GAS tabung 3 kilogram yang salah satu atau beberapa di antaranya bisa meledak dan siap menyebar bencana kapan saja.

Keadaan begitu genting, tapi apa langkah yang diambil pemerintah untuk mengatasinya sampai sejauh ini?

Bisa dikatakan TIDAK ADA, sampai hari ini kita tidak melihat ada satu langkah signifikan dari pemerintah seperti misalnya menarik tabung-tabung gas 3 kilogram dari pasaran, untuk diuji kelayakannya, jangankan itu, malah sama sekali tidak kita lihat langkah dari pemerintah untuk memeriksa dealer dan pemasok tabung tersebut untuk memastikan kualitasnya.

Korban sudah begitu banyak dan akan terus berjatuhan entah sampai kapan, tapi yang kita saksiak semua pejabat cuma bisa saling lempar badan, dan yang paling gampang lagi-lagi rakyat yang jadi korbanlah yang disalahkan.

"Kejadian ledakan tabung baru-baru ini membuat kami makin intensif rapat," aku Darwin. Di tempat yang sama. Menteri ESDM mengatakan dari hasil penelitian selama ini, banyaknya peristiwa ledakan gas disebabkan oleh selang yang tidak standar dan TIDAK ADA SATUPUN yang diakibatkan oleh tabung yang bocor. "Jadi, jangan pakai selang sembarangan," pesan Darwin.

Baca : http://bataviase.co.id/node/269348

Sementara seorang blogger yang mengaku bernama Abanggeutanyo dan menetap di Bandung menulis

"Tidak benar seluruh ledakan tabung gas itu disebabkan benda-benda pendukung pemakain tabung gas seperti di atas, atau kecerobohan pemakaian seluruhnya seperti yang didesas-desus di media massa. Kita melihat penanggung jawab seperti kehilangan akal sehat memikirkan solusinya, atau tidak menguasai ilmu pemecahan masalah sama sekali sehingga semudah itu merekayasa pembohongan publik dengan menyebut penyebab kebakaran adalah karena selang dan regulator palsu dan atribut pendukungnya. Mencari “kambing Hitam” adalah pekerjaan sangat mudah orang-orang dungu yang harusnya bertanggung jawab langsung atas kondisi ini.

Tahukah Anda penyebab ledakan yang sering terjadi akibat spesifikasi solderan atau sambungan tabung gas yang tidak berkualitas?…

Tahukah Anda bahwa tabung Gas yang diterbitkan oleh Distibutor resmi itu banyak disubkontrakkan dengan harga lebih murah kepada pelaksana lainnya?. Ironisnya Kontraktor ini pun memberi order lagi kontraktor B, bahkan ke Kontraktor C."

Baca : http://unik.kompasiana.com/2010/06/27/tabung-gas-the-killer-master-mengintai-kita/

Seorang yang menjadi teman di facebook saya yang mengaku bekerja di Krakatau Steel malah lebih tegas lagi mengatakan "Krakatau Steel adalah penyedia bahan tabung gas bekerja sama dengan Pertamina. Sementara dari hasil temuan di pasar banyak beredar tabung yg bahannya bukan dari Pt.Krakatau Steel."

Baca : http://www.facebook.com/profile.php?id=1524941840&v=wall&story_fbid=111469005567871

Tapi apakah itu semua, beredarnya informasi-informasi di blog semacam ini langsung membuat Pemerintah langsung mengambil langkah taktis, melakukan investigasi total? Ya tidak.

Begitulah yang terjadi di negara yang berazaskan Pancasila ini, negeri yang begitu menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan moralitas ini. Berbeda dengan di negara sekuler Denmark seperti yang saya ilustrasikan di awal tulisan, yang sangat menghargai hidup manusia, di negara ini nyawa rakyatnya sepertinya tidak lebih berharga ketimbang nyawa ayam broiler yang memang sengaja dibesarkan untuk kemudian disembelih. 

Bukan hanya pemerintah yang bersikap seperti itu, masyarakatnya juga sama. Dengan kejadian seperti ini, dengan apa yang ditunjukkan oleh pejabat pemerintah yang seharusnya bertanggung jawab atas TEROR TABUNG GAS ini, hampir tidak ada masyarakat, LSM, sampai Ulama yang mempermasalahkan moralitas pejabat yang hobi buang badan itu.

Bandingkan bedanya dengan yang terjadi ketika video porno Ariel Peterpan beredar.

Mulai dari masyarakat biasa psikolog, seksolog, aktivis perlindungan anak, ulama bahkan sampai presiden pun jadi merasa perlu untuk bicara. 

Begitulah kondisi real di negeri ini, ketika berurusan dengan SELANGKANGAN semua orang tiba-tiba merasa punya hak untuk bicara. 

Di negeri ini banyak orang yang percaya kalau ketidakmampuan menjaga SELANGKANGAN adalah sumber dari segala bencana, bahkan tidak sedikit orang yang percaya kalau Tsunami di Aceh pun terjadi salah satunya karena orang tidak mampu menjaga SELANGKANGANNYA, sehingga dalam pandangan masyarakat seperti ini ketika video porno artis beredar, seolah-olah kiamat sudah di depan mata, karena itulah semua orang merasa perlu melontarkan kecaman mengecam Ariel soal beredarnya video pornonya, meskipun saya tahu persis diantara para pengecam itu beberapa adalah pelaku seks bebas juga.

Orang yang terbiasa hidup di Denmark (tempat kuliah Pak Sofyan dosen saya) dan negara-negara sekuler yang tidak peduli agama mungkin akan merasa aneh melihat kita, merasa kita adalah sekumpulan manusia tolol sok bermoral yang tidak mampu menempatkan skala prioritas dalam urusan moral.

Tapi sebagai patriot sejati, kita tentu harus menolak segala macam pandangan itu dan harus berani menunjukkan jati diri kita, karena bagaimanapun sebagai negara yang berazaskan Pancasila, yang menghormati nilai-nilai agama, tentu cara pandang dan moralitas yang kita anut kita yang berbeda dengan mereka yang sekuler dan tidak beragama itu. Dan karena mereka terbiasa menggembar-gemborkan penghormatan terhadap keberagaman, maka mereka pun tentu harus menghormati keunikan kita itu.

Karena itulah mari kita tunjukkan kepada dunia dengan penuh rasa bangga dan menegakkan kepala, inilah negeri kita, negeri yang dihuni para moralis dan agamis sejati, negeri tempat dimana SELANGKANGAN lebih penting ketimbang NYAWA MANUSIA.