Indonesia masih jatuh bangun membedakan domain pribadi dan domain publik, masih banyak salah kaprahnya.

Orang-orang beragama di Indonesia masih petantang petenteng meminta dihormati keyakinan mereka bahwa Allah mereka menurunkan kitab suci mereka dari atas langit, dan nabi mereka adalah nabi terakhir, dan agama mereka adalah agama yg terakhir dan sempurna, pedahal semuanya itu berada di dalam domain pribadi.

Kalau belief system pribadi seperti itu sudah dipertontonkan di domain publik atau kemasyarakatan, maka semua orang akan bisa berkomentar bahwa itu omong kosong belaka. Siapa bilang bahwa Allah yg menurunkan kitab suci mereka dari atas langit? Siapa bilang nabi mereka adalah nabi terakhir? Siapa bilang agama mereka agama yg terakhir dan sempurna? Yg bilang itu mereka sendiri, dan itu Hak Azasi Manusia (HAM) yg adanya di diri mereka, namanya HAM Kebebasan Beragama (Religious Freedom).

Tetapi kalau belief system pribadi itu sudah dibawa ke domain publik atau kemasyarakatan, maka mereka yg tidak sependapat bisa saja berkomentar, namanya HAM Kebebasan Berbicara (Free Speech).

Dan agama-agama yg petantang petenteng di muka umum itu tidak bisa minta dilindungi dari komentar orang. Wong sama-sama pendapat kok!

Yg satu berpendapat agamanya terakhir dan sempurna, dan orang lain berpendapat bahwa itu omong kosong. Sama-sama pendapat belaka.

Karenanya, di negara-negara Barat yg telah maju, segala macam belief systems itu tidak dipertontonkan. Kalau di ruang publik, kita berbicara tentang hal yg menjadi concern publik, dan bukan petantang petenteng minta pengakuan bahwa agama kita terakhir dan sempurna.

Tetapi di Indonesia, pengertian HAM seperti itu masih rancu, orang pikir agama itu dilindungi hukum sehingga tidak tersentuh oleh siapapun. Siapa bilang tidak tersentuh?

Semua warganegara memiliki hak dan kewajiban yg sama di depan hukum, baik beragama maupun tidak. Dan agama-agama itu adanya di domain pribadi. Kalau sudah dibawa ke muka umum, seperti praktek jualan agama dan Allah seperti dilakukan oleh kaum agamis di Indonesia, maka orang yg tidak sependapat bisa saja berkomentar. Bisa berkomentar apa saja, dan jelas orang-orang agama itu tidak akan bisa menjawab.

Menurut pengalaman saya, orang-orang yg fanatik beragama dan petantang petenteng di muka umum itu biasanya akan mencaci-maki ketika agamanya ditelanjangin. Semua agama itu telanjang, dan kita sebenarnya juga tahu. Telanjang dalam arti bahwa segalanya itu merupakan buatan manusia, pemikiran manusia, walaupun manusianya ditinggikan oleh manusia lain sebagai nabi besar ataupun nabi biasa-biasa saja.

Solusi dari segala macam konflik mulut dari berbagai macam orang yg jualan agama-agama berbeda cuma satu, yaitu memisahkan dengan TEGAS antara domain pribadi dan domain publik.

Agama-agama itu adanya di domain pribadi, dan bukan di domain publik. Mereka yg beragama bisa saja petantang petenteng bahwa hanya Yesus yg bisa menyelamatkan manusia dari neraka. Dan itu sah saja, tetapi adanya di dalam domain pribadi ketika mereka berbicara dengan sesama mereka. Kalau mereka mau bicara sama saya bahwa saya harus bertobat dan terima Yesus supaya saya masuk Sorga, maka secara otomatis saya akan bilang :

"Sorga neraka adanya di jidat luh doang!"

This will be true also terhadap orang-orang yg tanpa malu-malu bilang kepada saya bahwa Al Quran jatoh gedebuk dari atas langit. Saya akan menjawab : 

"Langit nenek moyang luh!"

Dan apa yg saya ucapkan terhadap orang-orang agamis itu bukan penghinaan agama melainkan HAM Kebebasan Berbicara (Free Speech) yg ada di saya.

Pada pihak lain, kita bisa melihat penciptaan alam semesta dari dua sudut pandang, at least.

Sudut pandang pertama melihat dari luar kesadaran manusia, dengan menggunakan segala macam faktor yg bisa diukur dengan obyektif menggunakan perangkat yg berada di dimensi ruang dan waktu. Ini adalah pendekatan yg paling umum saat ini karena bersifat ilmiah. Terkadang disebut juga sebagai Teori Evolusi dan berbagai varian-nya.

Pendekatan kedua adalah aliran "Creationist" atau Penciptaan. Yg termasuk di sini adalah kisah tentang penciptaan langit, bumi, manusia, hewan, dlsb… yg dimuat di dalam Alkitab yg dipakai oleh kaum Yahudi dan Nasrani. Teori Penciptaan dulu diajarkan di sekolah-sekolah di Barat, tetapi yg umumnya diajarkan sekarang adalah Teori Evolusi.

Teori Penciptaan berkaitan erat dengan agama, dalam hal ini agama Nasrani dan, karena negara-negara Barat sudah tegas memisahkan antara negara dan agama-agama, maka di-usirlah Teori Penciptaan ini dari ruang-ruang kelas. Kisah Adam dan Hawa di Taman Firdaus termasuk dalam teori ini.

Saya sendiri memakai pengertian pribadi saya sendiri bahwa dunia fisik ini ada karena ada kesadaran saya. Saya sadar bahwa saya sadar, dan saya sadar bahwa saya memiliki tubuh fisik. Saya sadar bahwa ada pula dunia fisik di sekitar saya, di luar tubuh saya. Kapan dunia fisik ini tercipta is not my business karena yg paling penting adalah saya sadar bahwa saya sadar, dan segalanya itu ada karena saya sadar, I am aware.

Consciousness itu sama di setiap orang. Setiap orang sadar bahwa dirinya sadar, walaupun level kesadarannya itu berbeda-beda. Ada yg baru merasa sadar bahwa dirinya itu hanya hidup demi agama dan negara, for instance. Amrozi Cs. itu masuk dalam kategori ini. Ada pula orang yg sudah bisa berpikir dan mengerti bahwa kita semua manusia bebas, dan ternyata agama-agama maunya membodohi kita saja. Banyak manusia di Barat sudah sadar bahwa agama itu ternyata, kalau dibiarkan, akan terus membodohi manusia, makanya mereka memisahkan negara dari agama.

Agama bisa membuat kisah apapun, itu namanya HAM Kebebasan Beragama. Tetapi negara tidak akan mempertahankan dan membela segala macam sahibul hikayat yg dirangkai oleh agama, dan warganegara juga tidak dipaksa untuk beragama seperti praktek pemerintah Indonesia saat ini yg mendorong WNI untuk menikah dengan sesama agama.

Mana ada negara maju yg mencatatkan pernikahan warganya dengan rekomendasi dari agama-agama?

UU Perkawinan No 1 tahun 1974 itu pelecehan HAM. Seharusnya negara cuma mencatatkan pernikahan warganya saja. Siapa yg menikah dengan siapa. Cuma itu saja.

Tetapi karena UU Perkawinan No 1 tahun 1974 itu warisan dari Rezim Suharto yg menggunakan institusi agama untuk melanggengkan kekuasannya, maka dipaksakanlah warganegara untuk menikah dengan sesama agama. Ini suatu kenajisan yg tidak akan kita temui di negara-negara maju yg menghormati HAM.

Coba lihat: isi UU Perkawinan No. 1 tahun 1974, bab I ayat 2, yg berbunyi, sbb : 

"Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu."

Pedahal seharusnya negara cuma mencatatkan warganegaranya yg menikah dan itu TIDAK ada hubungannya dengan agama. Mau orangnya beragama apa saja, dan menikah dengan orang yg beragama apa saja merupakan urusan orang. Yg penting kedua calon mempelai itu sepakat untuk menikah. Bahkan, tidak perlu kedua mempelai melakukan upacara perkawinan keagamaan. Perkawinan keagamaan merupakan suatu pilihan, dan BUKAN merupakan prasyarat agar perkawinan menjadi legal.

So, Indonesia ini masih negeri simsalabim di mana negara MASIH melindungi agama-agama dalam hal membodohi masyarakat. Ada enam agama "resmi" yg diakui oleh pemerintah RI, pedahal agama itu jumlahnya ratusan. Ada ratusan agama di muka bumi ini, dan sama sekali tidak membutuhkan pengakuan dari pemerintah, kecuali kalau mau mencatatkan diri sebagai lembaga keagamaan.

Dan lembaga keagamaan bisa apa saja. Lia Eden itu bisa mencatatkan diri sebagai kepala lembaga keagamaan baru, bisa mengaku menjadi nabi baru, dan bisa mengumpulkan sumbangan dari pengikutnya. Anda juga bisa menjadi nabi baru, dan mencatatkan lembaga keagamaan anda.

Itu Indonesia di masa depan ketika menjadi negara maju yg menghormati HAM, dan tegas-tegas ada pemisahan antara negara dan agama, ketika agama-agama tidak lagi bisa mendiktekan apa yg haram dan halal dilakukan oleh negara dan masyarakat, dan ketika negara tidak mensyaratkan warganya untuk menjadi warganegara yg beragama.

Ketika kolom agama di KTP secara tegas dihapuskan.

Ketika segala persyaratan keagamaan dihapuskan dari lembaga-lembaga negara.

Itu semua sudah dipraktekkan oleh negara-negara maju di Barat, makanya mereka bisa bilang bahwa mereka tidak mempraktekkan diskriminasi.

Indonesia ini masih diskriminasi, dengan mensyaratkan agama bagi banyak hal, termasuk bagi perkawinan. Dan itulah SARA yg asli. SARA itu diskriminasi, termasuk diskriminasi berdasarkan agama.