Ketika orang tua membentak anak mereka yang memegang-megang bagian tubuh tertentu, saat itulah benih kekerasan sebenarnya telah ditanam (walau tanpa disadari). Kenyamanan akan tubuh telah diganti dengan rasa curiga dan amarah. Bersamaan dengan itu, kenikmatan seksualitas menjadi hal yang tabu sekaligus teramat diimpikan: Bukankah hal yang dilarang seringkali malah menimbulkan gairah dan rasa ingin tahu yang jauh lebih besar?

Mungkin kebiasaan tersebut, yang menyebar di masyarakat kita, menciptakan kisah selanjutnya: 
Suatu malam di Surabaya, beberapa tahun yang lalu. Teman saya dan istrinya ingin menyaksikan film Berbagi Suami, kedua orang tua itu segera menyuruh anak mereka yang berumur 9 tahun untuk tidur. Film ini bukan konsumsi anak-anak, kata mereka, “karena pembicaraan seksnya cukup vulgar”. 
Di tempat yang sama kemudian hari, saya kembali berada di depan TV. Dan yang kami saksikan bersama adalah film yang saya sudah lupa judulnya, tapi penuh dengan manusia yang saling menghantam, pengeboman dan darah. Namun sang orang tua tenang-tenang saja menonton semua itu dengan anak mereka. 

Seks adalah kata yang masih tabu bagi banyak orang di Negara kita, dan karena itu anak-anak harus dilindungi darinya. Tapi kekerasan tidak. Ia seolah sudah diterima dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tidak menyadari bahwa permanian dan acara yang mereka lihat itu adalah rekonstruksi kekejaman dan kebencian terhadap yang lain. 

Kekerasan tidak saja dipampangkan di televisi, namun juga permainan anak-anak yang penuh dengan adegan peperangan, pemukulan dan tembak-tembakan: Kemenangan yang didapat dengan menyakiti dan menghabiskan yang lain. Dalam kebanyakan film ini juga, terdapat perendahan perempuan sebagai obyek seksual, sedang lelaki digambarkan sebagai tokoh yang lebih disegani dan aktif. Hubungan yang ditandai dengan kompetisi, kemarahan, hierarki dan penaklukan. Bukannya kesetaraan dan penerimaan. 

Sehingga kenikmatan bukan lagi berpusat pada tubuh dan diri sendiri tapi pada kemarahan akan kenikmatan yang dimiliki yang lain. Berapa sering kita lihat anak-anak yang dengan penuh kebencian menendang anjing yang sedang kawin? Apa yang membuat mereka begitu marah akan kenikmatan binatang yang tak mengganggu mereka? 

Penggerebakan pasangan-pasangan yang diduga berhubungan seksual di luar nikah, lalu mempermalukan pasangan ini di depan umum. Bukankah ini adalah perpanjangan dari kemarahan akan nikmat yang didapat orang lain? Dan yang lebih parah: mengajarkan publik untuk bersatu dalam kemarahan kolosal ini.

Dengan Undang-undang Pornografi, tubuh semakin dipandang kotor dan tabu. Ia patut ditutupi. Kebencian terhadap tubuh dipupuk dimana-mana, sehingga kita sering menjadi canggung dengan diri sendiri. Bagaimana mungkin kita bisa menerima diri sepenuhnya bila kita tidak dapat merasa nyaman dengan tubuh kita? Bila sesuatu yang paling dekat dengan diri kita pun, kita dilarang untuk mengenalnya? 

Padahal, beberapa riset membuktikan bahwa jarangnya sentuhan dan kontak fisik dapat membuat seseorang melakukan kekerasan. Bayi yang mendapatkan buaian dan sentuhan akan menentramkan secara emosional. Sedangkan bayi yang dibesarkan dengan kekurangan sentuhan fisik, biasanya akan tumbuh sebagai manusia yang sering marah dan tidak sensitif terhadap perasaan dan bahasa tubuh orang lain. Sentuhan fisik adalah hal integral dalam pembentukan pribadi manusia. 
Bahkan dalam dunia binatang, hubungan antara sentuhan fisik dan kekerasan juga nampak. Simpanse yang jarang bersentuhan fisik, lebih sering terlibat dalam perkelahian satu dengan lainnya. Sedangkan jenis monyet yang lain, yaitu Bonobo yang terlihat amat mesra dengan sesama mereka dan juga hobi bercinta, adalah binatang yang cinta damai dibandingkan simpanse. Bonobo juga tidak menerapkan sistem patriarki seperti simpanse, malah betinanya yang seringkali mendapat bagian makanan yang lebih baik daripada yang jantan. 

Tapi, penerimaan akan tubuh kian ditekan di Negara ini: Uji materi UU pornografi ditolak mentah-mentah, pada hari yang sama saat FPI menyerang konferensi ILGA (International Lesbian Gay Association) di Surabaya. Seksualitas dan tubuh pribadi seseorang di Negeri kita diatur, berdasarkan interpretasi sang penguasa, yang menggunakan kekerasan. Sehingga kenikmatan itu tidak dicapai dari diri sendiri, namun dengan mengintimidasi orang lain. Karena kebencian akan tubuh seringkali menjelma menjadi pembenaran bagi seseorang untuk mengagungkan kebencian secara umum. 
Hasrat seksualitas tak bisa dipungkiri. Bila ditekan, ia akan menjadi sesuatu yang amat diidamkan bahkan diperebutkan. Inilah yang mendorong adanya kekerasan dari beberapa golongan. Walaupun para penyerang ini mengajukan alasan moralitas, sebenarnya ada alasan lain yang tersembunyi: Frustrasi atas penolakan diri dan keinginan akan seksualitas yang tak kunjung dipenuhi. 

Mungkin bukan kebetulan bila di tempat-tempat yang kebebasan seksualnya dibatasi, kekerasan pun lebih banyak terjadi. Tubuh yang ditekan akan membuahkan kompensasi. Mereka mencari kenikmatan dari penderitaan tubuh lainnya dengan menghukum dan menghina tubuh tersebut, suatu emosi yang selama ini sudah dipelajari dari berbagai media dan indoktrinasi. Mereka biasanya mencari kambing hitam: Para minoritas, yang sedang berjuang. Inilah yang terjadi pada ILGA, saat segerombolan manusia memaki dengan kata-kata yang kasar sambil melemparkan berbagai ancaman. Bahkan, mereka sempat menuduh para anggota ILGA akan mengadakan pesta seks (bukankah ini imajinasi seksual yang luar biasa!). Walau para peserta ILGA sama sekali tidak mengganggu kelompok ini dan bahkan sudah membatalkan acara konferensi mereka, hal ini tidak cukup. Gerombolan yang mengatas-namakan agama dan moral ini, tetap saja meminta mereka untuk meninggalkan kota Surabaya secepat mungkin. 

Bila revolusi pada tahun 1960-an di Amerika terjadi karena mereka menentang kekerasan dalam perang Vietnam, dan terkenal dengan slogan “Make Love, not War”. Di Indonesia saat ini yang terjadi justru sebaliknya. Kita sedang melupakan cinta, dan mengagungkan kekerasan. Aparat di Indonesia telah membiarkan mayoritas menindas kelompok tertentu. Tapi, dalam ruang-ruang pribadi keluarga, kekerasan ini sebenarnya telah dimulai, ia diterima dengan suka hati. Dari saudara atau orang tua yang mengejek seksualitas atau memaksa anaknya untuk mengingkari orientasi seksual mereka, sampai dengan membungkam diskusi seksualitas. Hal inilah yang telah menciptakan kelompok minoritas, dan secara tidak langsung, ikut menyumbang adanya pemaksaan dan peneroran yang terjadi terhadap peserta ILGA pada bulan Maret yang lalu.  (diterbitkan pertama kali di Majalah Tapian)