Kuasa gurun pasir sedikit banyak mencengkeram kita semua, termasuk saya juga. 

Can you believe it, masa saya sampai pernah percaya bahwa berpuasa itu ibadah ? Pedahal ibadah kepada siapa ? Kepada Allah? While, as a matter of fact, puasa berkala memang baik bagi kesehatan kita. Dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama kecuali bagi mereka yg masih mau pikirannya tergantung kepada perkataan para ulama. (foto: Kitab Taurat Musa yg memuat syariat sunat untuk pria dan haram makan babi, tetapi syariat itu sudah ditinggalkan oleh orang Nasrani, walaupun Taurat yg sama persis tetap ada di dalam kitab suci Nasrani karena merupakan bagian dari Alkitab (Bible). Ayat-ayatnya masih ada, tidak pernah dirubah, tetapi tidak lagi dipatuhi karena Allah sudah berubah pikiran.)

Ulama bilang pahala kita bertambah kalau kita puasa di bulan Ramadhan. Pahala kita bertambah kalau kita sembahyang. Pahala kita bertambah kalau kita berderma. In the end, kita seperti ngumpulin pahala buat masuk Surga. Pahala is tabungan buat beli tiket masuk Surga.

Tapi akhirnya saya sadar bahwa ternyata saya dibohongi. Ternyata itu semua akal-akalan dari institusi agama dan perangkatnya berupa belief systems. Gurun pasir is agama Yahudi, Nasrani dan Islam. Dan bukan cuma Islam saja. Agama-agama Timur Tengah boleh bilang semuanya agama gurun pasir. Semuanya aslinya mengharamkan babi dan mewajibkan sunat. Yahudi, Nasrani awal dan Islam sama-sama mengharamkan babi dan mewajibkan sunat bagi pria dengan alasan Allah yg suruh. Pedahal Allah bisa berubah pikiran juga.

Kalau kita berubah pikiran maka Allah berubah pikiran. 

Contoh: Daging babi yg aslinya haram buat orang Yahudi akhirnya menjadi halal buat pengikut Nasrani. Pedahal ayat yg bilang babi itu haram jadah masih ada di kitab suci yg digunakan oleh orang Nasrani juga. Adanya di dalam hukum-hukum yg dikenal sebagai Taurat Musa. Musa ini seorang tokoh mitologis yg dipercaya memberikan hukum-hukum dari Allah untuk bangsa Yahudi.

Tetapi ribuan tahun setelah Musa menutup mata, seorang murid Yesus yg bernama Petrus tiba-tiba tertidur setelah sembahyang lohor. Tertidurnya di atap rumah di Palestina. Dalam mimpinya dia melihat ada berbagai macam hewan yg diharamkan oleh Allah dibawa turun ke hadapannya di atas selembar kain yg dibentangkan. Presumably ada juga hewan babi yg status up to date-nya haram jadah saat itu. Lalu Petrus mendengar suara yg bilang something like: 

"Apa yg telah diciptakan Allah halal untuk dimakan."

Dan itulah asal-usulnya sehingga babi menjadi salah satu menu santapan orang Nasrani sampai sekarang. Jadi, Allah bisa berubah pikiran juga. Apa yg Allah bilang kepada Musa kemudian dicabut lagi oleh sang Allah. Allah muncul kepada Musa dalam penglihatan atau pemikiran, dan Allah muncul di Petrus berupa suara: Makanlah !

Sunat yg diwajibkan oleh Allah juga akhirnya dianulir sendiri. Oleh Allah juga. In this case Allah berbicara melalui sekumpulan orang yg berembuk di Yerusalem tentang status titit orang-orang yg percaya kepada Yesus dan tidak disunat. Tidak disunat karena mereka bukan orang Yahudi. Pedahal Yesus itu Yahudi dan his titit disunat. Akhirnya dirembukkanlah issue sunat or not, dan ternyata berhasil dicapai kesepakatan bahwa hukum potong ujung penis tidak berlaku bagi pengikut Yesus yg bukan orang Yahudi. Dua contoh di atas memperlihatkan bahwa apa yg kita bilang Allah suruh ini atau suruh itu merupakan sesuatu yg munculnya di dalam pikiran kita saja. Konsep saja.

Penglihatan yg dialami oleh Musa akhirnya ditulis. Ditulisnya ratusan tahun setelah Musa hidup. Kita sendiri tidak bisa membuktikan secara pasti bahwa Musa benar ada. Kemungkinan Musa cuma seorang tokoh mitologis saja yg dipercaya oleh suku-suku Ibrani sebagai orang yg membawa hukum-hukum dari Allah. Dan kepercayaan semacam itu sah saja. 

Agama selalu bekerja seperti itu; bermula dari adanya orang-orang tertentu yg menciptakan mitos. Mitos bisa berupa datangnya malaikat Jibril membawa pesan dari Allah Remotullah. Bisa berupa Yesus yg mengaku sebagai anak dari Allah. Semuanya mitos belaka dan tidak ada salahnya.

Yg salah kalau kita tercengkeram oleh "kuasa gurun pasir" (dalam tanda kutip). Kuasa gurun pasir adalah sikap yg percaya mutlak bahwa kita tidak boleh menggunakan otak kita karena segalanya telah diberikan oleh Allah melalui para nabinya. Pedahal kisah para nabi itu juga mostly mitos saja. Terjadinya ribuan tahun lalu, dan isinya bermacam-macam yg belum tentu relevan dengan kehidupan kita masa kini. 

Daud membantai orang atas nama Allah, misalnya. Dan Allah di situ tertawa ha ha ha… Malah menjanjikan bahwa Dinasti Daud akan bertahan selama-lamanya.

Tetapi yg dituliskan itu adalah pemikiran dari si manusia sendiri. Pemikiran dari Daud yg berdialog dengan Allah yg ada di dalam pikirannya sendiri. Allah itu cuma konsep yg ada di kepala Daud. Tetapi Daud tidak mengerti itu, dia pikir bahwa benar ada Allah, ternyata cuma konsep saja. So,… kita sekarang sudah mengerti bahwa apa yg kita sebut sebagai Allah ternyata cuma suatu konsep yg berada di dalam pikiran kita. Kita ajak Allah berdialog. Kita sembahyang, mengumpulkan pahala, etc… Pedahal kita cuma berdialog dengan kesadaran di diri kita sendiri saja.

Pengertian di atas sangat basic bagi perjalanan spiritual seorang manusia. Kalau manusianya masih bertahan mati-matian bahwa benar ada Allah yg datang ke nabi-nabi itu, maka berarti manusianya masih berada di level rendah. Level syariat. Ini tingkat terbawah dalam spiritualitas manusia. Dan tidak salah juga karena itu hidup dia sendiri. Sayangnya, manusia yg spiritualitasnya di level bawah ini merasa bahwa dia sudah memegang rahasia alam semesta karena mengikuti "petunjuk" (dalam tanda kutip) yg diberikan oleh Allah. 

Petunjuk itupun, kalau mau diteliti, merupakan hasil pemikiran dari manusia juga. Berbagai macam orang memiliki vested interests di dalam agama. Demi kekuasaan, demi uang, demi penggalangan tenaga manusia. Dan pemikiran manusia-manusia yg memiliki vested interests itu dibakukan dalam ajaran agama. Kita yg spiritualitasnya sudah jauh lebih dewasa tentu saja tahu itu. 

Kita tahu bahwa puasa di bulan Ramadhan dan sholat lima waktu merupakan metode ampuh untuk mengontrol populasi. Kalau masyarakat bisa diyakinkan bahwa apa yg kita ajarkan berasal dari Allah dan mempraktekkannya dengan bukti puasa di bulan Ramadhan dan sholat lima waktu, maka berbagai kemungkinan lainnya akan terbuka bagi kita. Kita bisa minta untuk dipilih menjadi pemimpin. Kita bisa menggerakkan massa untuk mencaci-maki Amerika dan Israel, misalnya. Kita bisa membuat Bank Syariah. Bisa menikahi empat wanita sekaligus. Bisa saja.

Kuasa gurun pasir adalah yg ngotot mempertahankan bahwa segalanya berasal dari Allah, pedahal semuanya berasal dari manusia biasa-biasa saja, yg tidak ada bedanya dengan anda dan saya. Saya tidak bilang bahwa kuasa gurun pasir adalah kuasa "gelap" (dalam tanda kutip). Tidaklah. Kalau dilihatnya siang hari seperti sekarang, tentu tidak gelap bukan ?

Yg jelas, sebagai manusia yg berniat menapaki spiritualitas yg asli, kita sudah mengerti bahwa Allah bisa berubah pikiran. Allah yg berbicara kepada Musa tidak sama dengan Allah yg berbicara kepada Petrus. Alalh yg berbicara kepada anda tidak sama dengan Allah yg berbicara kepada saya. As a matter of fact, Allah berbicara berbeda-beda, unik. Allah berbicara kepada tiap orang sesuai dengan kebutuhannya. 

Allah cuma konsep saja yg kita gunakan untuk dialog dengan diri kita sendiri. Itu pengertian yg paling asli dan bebas merdeka. 

Aliran-aliran keagamaan lainnya seperti Hindu dan Buddha lebih mengerti apa yg saya tuliskan. Mereka tahu bahwa ada kesadaran lebih tinggi yg bisa berbicara langsung kepada manusia. Tidak ada pemaksaan untuk "beriman" (dalam tanda kutip) seperti dipraktekkan oleh agama-agama Semit yg berasal dari gurun pasir. Yahudi, Nasrani dan Islam termasuk agama-agama gurun pasir karena mengharuskan syahadat dan syariat. Untungnya sebagian besar dunia Nasrani dan Yahudi sudah tercerahkan. Dan sekarang boleh bilang kita satu dunia bersatu membantu Islam untuk keluar dari bawah tempurung.

Cara saya cuma bilang bahwa kitab suci itu buatan manusia, syariat itu buatan manusia, segala macam syariat tentang ibadah, puasa, zakat, qurban, haram halal, sunat, jilbab, etc… merupakan buatan manusia. Karena buatan manusia maka bisa kita ubah. Ketika kita ubah maka kita bilang bahwa Allah berubah pikiran. 

Leo
@ Komunitas Spiritual Indonesia

Kitab Taurat Musa yg memuat syariat sunat untuk pria dan haram makan babi, tetapi syariat itu sudah ditinggalkan oleh orang Nasrani, walaupun Taurat yg sama persis tetap ada di dalam kitab suci Nasrani karena merupakan bagian dari Alkitab (Bible). Ayat-ayatnya masih ada, tidak pernah dirubah, tetapi tidak lagi dipatuhi karena Allah sudah berubah pikiran.