ImageMenarik dalam membaca tarik ulur tentang Gaza apalagi setelah flotila asal Terlebih setelah Mavi Marmara di masuki pasukan Israel. Terutama ditambahi dengan bumbu politik dan warna kepercayaan yang akan menambah sedapnya cerita "Mahabharata" ala Timur Tengah terutama Palestina vs Israel semenjak perang Intifada pertama yang terkenal itu.

Saya sering menjumpai persepsi dan IMAGE bagi kalangan manapun terutama di Indonesia, bahwa bangsa Palestina adalah bangsa jajahan yang diperah bekerja rodi, di kurung pagar beton dan kawat berduri yang dialiri listrik, tidak ada air mengalir, listrik, dan tidak ada sarana kesehatan dan lain lain. Apalagi tidak ada sekolah bagi kanak kanak, dan diperparah dengan anggapan KURANGNYA BAHAN PANGAN akibat blokade Israel. :roll:

Dua hari kemarin saya "mampir" ke perbatasan Israel Gaza ditemani oleh rekan saya Lt. Col Nathanael Halevi ke Erez-Crossing dan Qalandia checkpoint antara WestBank dan Jerusalem. Maklum marinir satu ini suka dolan ke tempat tempat yang ramai. :mrgreen:
Image gb-1. Gaza dari selatan
Image gb-2. Gaza dari Tenggara

Diantara daerah yang dikuasai Israel dengan seputaran westabank sesuai perjanjian, juga untuk kebaikan bersama didirikanlah tembok beton pemisah. Hal ini disebabkan keras kepalanya pemukim Yahudi yang sering membangun rumahmenjorok masuk ke daerah Palestina, demikian juga pemukim Arab-Palestina tidak membangun rumah menjorok masuk ke daerah Israel. Sesuai perjanjian Camp David yang lalu batas ditentukan oleh banyaknya populasi suatu komunitas di daerah tersebut. Jadi agar garis batas tidak tarik ulur dibuat pagar beton. Dengan buffer selebar 50 meter yang disebut "No-man's land".
Image gb-3. Israel-Gaza border

Kota pelabuhan Israel yang terkenal setelah peristiwa Turkish Flotilla, yaitu pelabuhan Ashdod:
Image gb-4 Ashdod city/port

Sekarang jalan jalan dilakukan kedalam pasar di Gaza ditemani oleh beberapa orang dari Palestine Authority dan beberapa Polisi Palestina. Sebelum menyaksikan sendiri, mulanya sayapun berpikiran seperti kebanyakan awam. Tetapi setelah menyaksikan sendiri keadaan di Gaza, saya malah tertawa terpingkal pingkal. Ternyata mereka jauh lebih makmur dari Indonesia secara per-se. Taraf food-intake per orang per 100 meter persegi ternyata dibandingkan dengan negara Amerika latin seperti Guatemala, Mexico, El Salvador dll masih lebih rendah dari masyarakat di Gaza (data UN FAO FY2009/2010). Mungkin bahkan dibandingkan dengan saudara saudara dari beberapa tempat di Indonesia kecuali lima kota besar di pulau Jawa, taraf variety food-intake per orang dalam 100 meter persegi, rasio di Gaza akan jauh melampaui yang di Indonesia baik dalam jenis, jumlah, kadar gizi dll.

Image gb-5 ikan
Image gb-6 hasil pertanian
Image gb-7 hasil pertanian
Image gb-8 toko kelontong
Image gb-9 untung hari ini
Image gb-10 toko roti
Image gb-11 toserba/swalayan

Dari gambar diatas, perhatikan bahwa bahan makanan segar dan hasil pertanian disuplai dari Israel. Demikian juga fresh food maupun canned food disuplai seluruh dunia. Mata uang yang dipakai adalah mata uang Israel (Shekel) karana mata uang setempat yaitu Pound kuno maupun Jordanian Dinar tidak banyak diterima masyarakat Palestina sebagai tanda bayar. (Lho… kok??? :oops: )

Data terkhir dari badan dunia serta akuntansi Palestinian Authority (FY2009/2010) menyebutkan:
1. 4883 tons obat obatan tiap tahunnya yang di supply Israel ke masyarakat Gaza.
2. 100 juta liter solar dan 40 truk peralatan listrik untuk penyediaan listrik di Gaza oleh Israel yang diawasi oleh Siemens, dari power-plant di Ashkelon khusus untuk Gaza. Disamping itu ada tambahan solar untuk alokasi UNRWA yang bertugas di Gaza maupun badan UN lain.
3. Komunikasi diawasi oleh badan bersama Eropa dan US dibawah Siemens dan Lucent Technology.
4. Rata rata tertimbang semenjak 2007 bantuan kemanusiaan Internasional menuju gaza melalui Israel adalah 115.043 tons dan 2.990 tons untuk obat obatan beserta alat medis.
5. Sebanyak NIS 1.1 milyar (sekitar USD 300 juta) pertahun sumbangan masuk ke Gaza, disamping NIS 40 juta (USD 10 juta) dari Israel berupa bantuan langsung ke masyarakat tidak mampu di Gaza.
6. Pengembangan proyek industri di Palestina ditangani oleh Pemerintah Belanda dengan membuat pertanian Bunga dan Strawberry yang sejak tahun 2008 telah mengekspor sekitar 56 tons strawberry dan 13.8 ton bunga.

Memang blokade Israel sangat ketat sebabnya ada beberapa macam:
1. Dengan menjauhkan kelompok HAMAS dari bahan bahan yang dapat membuat kerusuhan seperti pupuk yang seringkali dibuat sebagai bahan bom, maupun sebagai bahan peledak bagi roket roket Badar terlebih Qassem yang lebih canggih daya ledaknya.
2. Peralatan metal berat sangat diawasi ketat terutama yang berhubungan dengan milled dan plated metal. Pipa pipa diatas 5 inch dengan ketebalam 2mm sangat dilarang. Karena sering dipakai kelompok hamas sebagai selongsong roket dan bom yang dicampur dengan batu kerikil beserta paku beton sehingga effektifitasnya terhadap kerumunan massa sangat intens, karena paku dan pecahan kerikil dengan kecepatan sekitar 980m/det dapat menembus badan manusia yang berjarak 50 meter dari ledakan. :mrgreen:

Padahal yang keluar di media Internasional adalah Israel memblokade bahan pertanian yang digunakan oleh rakyat Gaza untuk self-sufficient.

Berikut adalah pandangan dari sebuah kota di Israel yang paling sering terkena serangan roket dari WestBank/Gaza.
Image gb-12 Israeli city
Image gb-13 ledakan roket

Hampir di setiap blok perumahan (10×10 rumah) terdapat bunker jika sirine meraung dan serangan roket HAMAZ dari Gaza terdeteksi. Posisi aman adalah didalam bunker. Masyarakat sekitar sering dilatih dan biasanya serangan sekitar 15-20 menit.
Image gb-14 Bunker umum Israel

Uniknya, disana juga terdapat rumah sakit yang didirikan oleh pemerintah Israel untuk penduduk Gaza yang membutuhkan perawatan medis secara gratis. Rumah sakit ini adalah klinik lengkap dan berkelas, bukan seperti poliklinik atau posyandu di Indonesia (maaf… bercanda :lol: ). Dengan demikian dapat membuktikan bahwa tuduhan sementara kelompok bahwa Israel menegasi hak kesehatan masyarakat Palestina adalah sumir.
Image gb-15 Spanduk
Image gb-16 inside Gaza clinic

KESIMPULAN
Sah sah saja jika suatu golongan masyarakat Indonesia menginginkan berjuang untuk solidaritas kemanusiaan. Hanya saja, yang saya sayangkan adalah minimnya informasi yang akan dengan mudah dibelokkan oleh sementara kalangan demi progress yang diinginkan. Demikian juga akibat romantisasi kejuangan yang diinginkan seperti yang telah disuratkan Kitab agama.
Jika saja aktivis tersebut mau melihat ke teras halaman Republik Indonesia, dimana saudara saudaranya itu lebih membutuhkan uluran bantuan mereka in-pronto.
Masih banyak "Gaza-gaza" lain di pelosok Indonesia, yang perlu pemikiran dan semangat martyr demi membantu kaum terbelakang dan tertindas.

Barangkali lagu ciptaan Mr Kusbini dapat menggugah semangat mereka:

Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti
Padamu negeri kami mengabdi
Bagimu negeri jiwa raga kami