Suatu ketika saya berjalan-jalan dengan seorang teman di sekitar tempat tinggal saya. Tiba-tiba teman saya itu menyapa seorang lelaki yang berpenampilan mirip seorang anggota organisasi fasis, yaitu berpakaian serba putih, plus topi khas warna putih dan tak ketinggalan pula jenggotnya yang melambai-lambai di dagunya.

Teman saya bercerita kepada saya bahwa lelaki itu adalah kenalannya sejak dulu, dan lelaki itu adalah seorang gay, namun menikahi seorang perempuan dan mempunyai anak, tetapi ia tetap suka mencari lelaki-lelaki muda alias brondong sebagai teman untuk melewatkan malam-malamnya.

Lantas saya berkata kepada teman saya, “Eh…jangan-jangan laskar FPI yang mengobrak-abrik konferensi ILGA di Surabaya beberapa waktu lalu beberapa anggotanya juga seorang gay yah…, karena lelaki gay juga bisa berpakaian ala FPI seperti temanmu itu kan ?!”. Lantas teman saya hanya menanggapi “Nah… itulah….!”, dan akhirnya kami sama-sama tertawa.

Kebetulan sebelum kejadian tersebut, seorang teman saya yang kebetulan seorang gay mengirimkan SMS kepada saya dan meminta saya untuk menonton sebuah televisi swasta, dia ingin menunjukkan kepada saya seorang Syekh yang cukup terkenal dan sering muncul di TV, yang saat itu kebetulan sedang memberikan ceramah di televisi swasta tsb.

Teman saya tersebut mengatakan bahwa salah seorang temannya yang masih belia (ehem…. maksudnya brondong) pernah dijadikan teman tidur oleh Syekh tersebut.

Dari kejadian tersebut, saya lantas berpikir, benar-benar munafiknya manusia-manusia ini. 

Memang tidak semua anggota FPI yang mengobrak-abrik dan merusak acara konferensi ILGA di Surabaya itu adalah gay, atau juga tidak semua lelaki bersorabn adalah seorang gay, dan tidak pula semua Syekh itu seorang gay karena ada juga seorang Syekh yang ternyata seorang pedophilia, akan tetapi mungkin saja di antara mereka adalah seorang gay.

Tidak ada yang salah menjadi gay, lesbian, atau biseksual, karena itu hanya sebuah orientasi seksual selain heteroseks. Bahkan sah-sah saja seorang pemuka agama adalah seorang homoseksual. Namun yang menjadi masalah adalah ketika mulut berteriak-teriak hingga berbusa untuk mengkriminalkan kaum homoseksual dan mengancam keselamatan orang-orang homoseksual, namun ternyata mereka sendiri adalah juga menjadi bagian dari komunitas homoseksual itu sendiri.

Kemunafikan telah merajalela di Bumi Indonesia ini, salah satunya adalah kemunafikan dalam hal seksualitas. Untuk itu, mungkin sebaiknya daripada sekolah-sekolah itu hanya mengajarkan bagaimana cara membasahi muka dan tangan dengan baik dan benar, serta mengajarkan bagiamana cara berkomat-kamit dengan logat yang sempurna, maka akan jauh lebih bermanfaat jika mengajarkan pelajaran tentang seksualitas dan gender, agar para pemuda dan pelajar lebih terbuka mata dan pikirannya agar mempunyai perkspektif gender yang baik dan mampu melihat keberagaman orientasi seksual manusia, yang akhirnya membuat mereka mampu untuk menghormati keberbedaan dengan cara yang bijak, dan tidak tumbuh menjadi manusia-manusia dewasa yang hanya tahu cara membaca kitab namun mulutnya selalu menyemburkan aroma kemunafikan.