May 18 @ 11:37 am, seorang teman saya bernama J Kamal Farza menulis di status facebooknya "KEBANYAKAN milyuner, ketika sekolah ia mendapat nilai B atau C di kampusnya. Mereka membangun kekayaan bukan dari IQ semata, melainkan kreativitas dan akal sehat. – Thomas Stanley – "Tulisan di status Kamal ini langsung mendapat berbagai tanggapan beragam. Satu diantara tanggapan ini mengkaitkannya dengan EQ, sebuah dongeng yang dibuat seolah-olah Ilmiahl. Sekedar kembali mengingatkan; DONGENG tentang EQ ini sebenarnya sudah ada sejak lama, tapi penyebutan resmi tentang EI ini, tapi penyebutan formal kecerdasan emosional atau EMOTIONAL INTELLIGENCE ini pertama kalinya ada dalam artikel berbahasa jerman berjudul "Emotionale Intelligenz and Emanzipation" dalam bahasa melayu artinya kira-kira "Kecerdasan Emosional dan Emansipasi". Artikel ini diterbitkan dalam jurnal Praxis und der Kinderpsychologie Kinderpsychiatrie, pada tahun 1966 oleh Leuner. Tapi yang membuat DONGENG EQ ini menjadi heboh yang mendunia jelas buku best seller-nya Daniel Goleman yang dia beri judul Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ yang terbit tahun 1995. Dalam buku ini definisi Goleman tentang kecerdasan emosional sebagian besar kontroversial dan tidak il miah. Dalam buku ini misalnya Goleman mendefinisikan Kecerdasan Emosional sebagai kemampuan seperti mampu memotivasi diri dan bertahan di menghadapi frustrasi, kemampuan mengontrol impuls dan menunda kepuasan; kemampuan mengatur suasana hati seseorang dan kemampuan memertahankan diri agar tidak tenggelam dalam bahaya, kemampuan berpikir, berempati dan berharap. Di tempat buku itu diterbitkan, buku kontroversial yang berisi fakta-fakta subjektif yang tidak bisa dibuktikan ini langsung mendapat banyak kritikan dari para ahli. Tapi di negeri yang masyarakatnya tidak mau bersusah payah tapi ingin dianggap hebat ini, ide kontroversial semacam ini, karena pembuktiannya tidak memerlukan data-data akurat, tapi cukup dengan angan-angan, langsung mendapat tanggapan secara luas lalu diimani dengan khusuk oleh berbagai kalangan dan mereka pun mulai latah menyebut-nyebut EQ dalam argumen mereka tanpa mereka paham apa yang mereka omongkan. Malah belakangan di negeri yang penduduknya sangat menggemari mitos dan segala hal berbau gaib yang tidak bisa diverifikasi dengan panca indera ini, EQ berhasil berevolusi dan membentuk spesies baru bernama ESQ, spesies baru yang telah berhasil membuat seorang warga negara ini kaya raya. Salah satu produk terbaik dari ESQ ini adalah program komputer yang pernah diiklankan cukup lama di detik.com, program yang katanya bisa mengaktifkan GOD SPOT, agar orang bisa khusuk dalam shalat. Salah satu dari orang latah ini muncul di status kamal dengan mengatakan "Ternyata menurut beberapa hasil riset dan penelitian EQ jauh lebih penting daripada IQ dalam menentukan kesuksesan seseorang apalagi bila ditambah dengan SQ maka akan jauh lebih sempurna." Ketika komentar ini saya kejar dengan pertanyaan "memangnya pake apa EQ itu mau diukur, apa yang jadi parameternya?", si komentator ini langsung mengider-ider dan berputar-putar. "EQ itu mungkin juga ada parameternya dan bisa diukur, namun ia bisa dilihat dari kestabilan dan kecerdasan seseorang dalam memenej fungsi emosionalnya. Contohnya begini misalnya bang Kamal adalah seorang pengacara yang ber IQ tinggi namun ia memiliki EQ yang rendah orangnya suka meledak-ledak dan emosinya kurang terkontrol mudah terbawa perasaan, suka marah, dilain waktu suka merasa kasihan, kadang cepat merasa puas dan senang, tapi terkadang malah suka putus asa, tentu sifatnya ini akan terbawa dalam pekerjaan dan hubungannya denga kliennya sehingga menurunkan kemampuan kinerjanya walau ia ber IQ tinggi. Karena terkadang dalam mengambil sebuah keputusan itu sangat dipengaruhi oleh sikap emosional kita, padahal mungkin keputusan itu bisa jadi sesuatu yang sangat menentukan dan vital artinya.", katanya tanpa sama sekali bisa menjelaskan bagaimana EQ yang adalah DONGENG itu bisa diukur. Penjelasannya soal EQ yang tinggi ini jelas konyol. Karena kalau soal EQ seperti yang dia jelaskan, bahwa EQ yang rendah artinya orangnya suka meledak-ledak dan emosinya kurang terkontrol mudah terbawa perasaan, suka marah, dilain waktu suka merasa kasihan, kadang cepat merasa puas dan senang. Maka itu berarti Maradona, Cantona, Roy Keane dan Cristiano Ronaldo yang meledak-ledak berarti EQ-nya lebih rendah ketimbang, Messi, Zanetti, atau Michael Owen yang kalem. Kalau memang demikian kenyataannya, itu justru menjadi bukti kalau EQ yang tinggi justru menghambat kesuksesan. Sebab kenyataannya, justru karena ber EQ rendah lah Maradona, Cantona, Roy Keane mampu memimpin dan membawa perubahan dan membawa tim-nya menjadi JUARA. Sementara Zanetti, Messi dan Owen cuma bisa hebat untuk dirinya sendiri saja. Dengan kategori seperti ini, Ahmad Dhani yang arogan jelas EQ-nya lebih rendah ketimbang Andika Kangen band, tapi kenapa kalau kita ukur kadar kesuksesan sebagai musisi, Ahmad Dhani yang ber EQ rendah justru jauh lebih sukses ketimbang Andika?. Ahmad Dhani yang ber EQ rendah bahkan mampu membuat seorang pecundang seperti Cinta Laura pun menjadi juara. Konyol dan ngawurnya DONGENG tentang EQ yang kontroversial yang dipopulerkan oleh Goleman ini semakin jelas terkuak kalau kita membaca kritik dari Gerald Matthews, Moshe Zeidner, and Richard D. Roberts yang mereka tuliskan dalam buku "Emotional Intelligence Science and Myth", dalam buku ini mereka membongkar semua kengawuran konsep EQ Baca : http://www.thedivineconspiracy.org/Z5234C.pdf Dalam buku ini ketiga peneliti itu menyebutkan kalau berbagai argumen Goleman tentang kecerdasan emosional banyak merujuk ke nilai-nilai etika Judeo Christian (Yahudi-Kristen) Seorang pengritik lain melihat adanya kemiripan antara konsep "Kecerdasan Emosional" dari Daniel Goleman ini dengan konsep "kematangan emosional." yang ditulis oleh Dr. E. A. Strecker dalam bukunya "Their Mother's Sons" yang terbit tahun 1951. Dalam buku ini Strecker mendefinisikan kematangan emosional sebagai kemampuan untuk tetap bekerja, kemampuan untuk memberikan lebih lanjut mengenai pekerjaan daripada yang minta, keandalan, ketekunan untuk melaksanakan rencana tanpa kesulitan, kemampuan untuk bekerja dengan orang lain dalam organisasi dan otoritas , kemampuan untuk membuat keputusan, akan hidup, fleksibilitas, kemandirian dan toleransi. Terhadap definisi Strecker ini Erich Pinchas Fromm (23 Maret 1900-18 Maret 1980), seorang psikologi, psikoanalis, dan filosofi manusia asal jerman berkomentar dalam Sane Society, yang ditulis pada tahun 1955. Dalam koemntarnya itu Fromm mengatakan apa yang digambarkan Strecker di sini sebagai "Kematangan Emosional" adalah kebajikan seorang pekerja yang baik, karyawan atau prajurit dalam organisasi sosial besar, mereka adalah kualitas yang biasanya disebutkan dalam iklan untuk mencari seorang eksekutif junior. " Menurut Fromm ini terjadi karena dunia Barat, dan khususnya Amerika Serikat, telah mencapai titik di mana masyarakat itu sendiri secara mental tidak sehat. Sehingga orang mencari identitas melalui negara-negara mereka, agama mereka, ras dan karir mereka bukannya mengembangkan diri sebagai individu yang mandiri. Definisi Strecker tentang "kematangan emosional" ini sangat mirip dengan definisi Goleman tentang "kecerdasan emosional", terutama versi tentang kebutuhan perusahaan. Ketika Fromm mengatakan definisi Strecker terdengar seperti iklan untuk seorang eksekutif junior, ini mirip seperti deskripsi Goleman yang digunakan sebagai dasar untuk mengklaim bahwa EI dua kali lebih penting dibandingkan IQ ditambah dengan pengetahuan teknis. seperti definisi korporasi Goleman tentang EI, Strecker membuat banyak daftar tentang sifat-sifat yang diinginkan untuk dimiliki oleh seorang "eksekutif junior", atau bahkan seorang manajer senior yang bisa melakukan semua kehendak Dewan Direksi dan pemegang saham. Dan seperti Strecker, dalam bukunya ini pun Goleman sama sekali tidak menyebutkan kecerdasan mana saja yang ada dalam daftarnya. Steve Hein seorang pengkritik lain melihat kalau konsep tentang EQ dan kaitannya dengan pengendalian diri ini, sebenarnya tidak lebih dari cerminan masalah pribadi Goleman sendiri sehingga sifatnya jelas subjektif dan tidak universal seperti SAINS yang kebenarannya SAMA bagi setiap manusia. karena bersifat subjektif dan sebenarnya tidak lain dari cerminan diri Goleman sendiri maka EQ tidak bisa digebyah-uyah alias digeneralisasi untuk diterapkan kepada setiap orang apalagi dipakai untuk menilai kualitas seseorang. Dalam kritiknya ini Steve Hein menyoroti bagaimana dalam bukunya itu Goleman berulang kali menggunakan kata "hati" ketika dia ingin menyentuh emosi pembacanya untuk memberi kesan lebih mendalam terhadap sebuah cerita. Pada lain waktu Goleman berbicara tentang "spiritualitas" dan "jiwa." Ini jelas BUKAN SAINS. Ini adalah manipulasi emosional. Di beberapa tempat Goleman terdengar sedikit seperti seorang 'guru spiritual' semacam Deepak Chopra, yang ahli di dalam ilmu membuat-percaya yang melakukan antara pencampuran mitos dan logika. Para 'guru spiritual' seperti ini bermain dengan kerentanan dan kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi dari penontonnya (catatan Win Wan Nur : pola yang sama juga digunakan oleh 'guru spiritual' semacam MARIO TEGUH). Cara pemaparannya yang demikian, menurut menunjukkan kalau Goleman sendirilah yang sebenarnya takut mengekpresikan emosi. Sehingga ketakutan inilah yang membuatnya dalam buku ini, berkali-kali berbicara tentang betapa berbahayanya jika kita membiarkan emosi kita mengambil alih, tentang bahayanya emosi yang dibajak, tentang bahayanya diperbudak nafsu. Dalam pengamatan Steve Hein, Goleman jarang sekali menulis tentang nilai positif perasaan manusia, atau perasaan yang kuat secara khusus. Tampaknya dalam hal ini, tentang sifat manusia, Goleman banyak mengambil pandangan yang agak Freudian, sehingga dia mendesak kita semua untuk melatih kesederhanaan, taat peraturan, melatih pengendalian dan kontrol diri. Kata Steve Hein "Semakin saya membaca buku ini, semakin saya pikir kontrol adalah masalah yang sangat besar untuk Goleman dan dia mungkin bisa digambarkan sebagai seorang "control freak" alias orang yang gila kontrol " Lengkapnya kritik Steve Hein terhadap konsep Kecerdasan Emosional yang dipopulerkan oleh Goleman silahkan dibaca link berikut ini http://eqi.org/gole.htm#How%20Goleman%20manipulates%20his%20readers,%20and%20other%20commentary%20on%20him Padahal dunia nyata tidaklah demikian adanya, sikap meledak-ledak, penuh emosi tidak selamanya menunjukkan rendahnya kecerdasan, apapun itu namanya entah itu emosional atau spiritual. Karena alasan-alasan di atas, maka kalau kita kembali ke pertanyaan awal, apa PARAMETER EQ dan bagaimana cara menghitungnya?….atau paling tidak anda sebutkan saja, SIAPA orang atau lembaganya yang memiliki otoritas untuk menentukan EQ seseorang lebih rendah atau lebih tinggi ketimbang EQ orang lain. TIDAK SEORANGPUN YANG BISA MENJAWABNYA. Sikap meledak-ledak dan penuh emosi yang secara semena-mena dikategorikan sebagai ciri-ciri orang ber EQ RENDAH sebenarnya sama saja dengan sikap kalem, penuh petita-petiti dengan berbagai aturan ala keraton Jogja yang melelahkan. Keduanya bebas nilai, tidak baik dan tidak buruk. Nilai dari kedua sikap tersebut terletak pada di mana kedua sikap itu digunakan. Misalnya dalam politik, di masa Soeharto berkuasa sikap kalem, penuh petita-petiti dengan berbagai aturan ala keraton Jogja yang menurut Goleman adalah ciri manusia ber EQ tinggi, jelas sangat dibutuhkan, kalau seseorang berniat berkarir bagus atau sekedar bertahan hidup lebih lama. Tapi di masa sekarang, ketika pemimpin tidak merasa malu bahkan saat Tahi dilemparkan ke mukanya, sikap ala manusia ber EQ tinggi dipertahankan, ya KONYOL. Seorang pemimpin juga demikian, seorang pemimpin yang kalem, berkata lembut enak di dengar, dibutuhkan dalam masyarakat yang tidak sabaran, tapi sebaliknya, dalam masyarakat yang hidup tanpa semangat, tanpa motivasi dan tidak memiliki rasa percaya kepada diri sendiri justru membutuhkan pemimpin yang memiliki sikap meledak-ledak dan penuh emosi. Contoh dari Nilai dari kedua sikap tersebut terletak pada di mana kedua sikap itu digunakan, bisa kita lihat kemarin malam. Saat diasuh oleh Roberto Mancini yang ber "EQ tinggi", Inter Milan juara Italia 18 kali, tampak seperti kelinci minder yang gugup disorot lampu, saat bertarung di kompetisi eropa. Tapi tahun ini Inter Milan melaju ke final Liga Champion dan menjadi JUARA, dan kemenangan ini bukanlah kemenangan biasa, Kemenangan INTER MILAN di Liga Champion ini adalah SEMPURNA karena dalam perjalananya INTER MILAN mengalahkan semua juara di tiga LIGA TERBAIK EROPA ( Chelsea, juara Liga Inggris, Barcelona, Juara Liga Spanyol dan di final Bayern Muncih juara Liga Jerman). Dan siapa yang menjadi arsitek kemenangan Inter Milan yang terjadi setelah 45 tahun ini?….jawabnya jelas JOSE MARIO DOS SANTOS MOURINHO FELIX, yang lahir di Setubal, Portugal, 26 Januari 1963 silam, yang jelas ber IQ tinggi, terbukti dengan keberhasilannya meraih Doctor Honoris Causa dari Universitas Teknik di Lisbon, Portugal. Tapi karena sikapnya yang arogan, banyak omong, emosional dan meledak-ledak, oleh para penyembah teori ngawur EQ, JOSE MARIO DOS SANTOS MOURINHO FELIX ini dikategorikan sebagai manusia ber EQ RENDAH. Yang menurut para pemuja teori ngawur EQ tidak akan mungkin bisa sukses meskipun IQ-nya setinggi apa. Tapi hari ini BUKTI sudah JELAS…..bukan Roberto Mancini yang ber "EQ tinggi" yang sukses membawa Inter Milan berjaya di kompetisi eropa, tapi JOSE MOURINHO. Jose Mourinho, The Special One, tidak hanya sekedar cuap-cuap, di samping bercuap-cuap dia memiliki IQ yang tinggi, dengan modal IQ yang tinggi itu dia bekerja keras dan membuahkan hasil. Dalam usahanya itu orang Portugal ini harus menghadapi tudingan, serangan yang datang yang dimusuhi pelatih, media, Coni bahkan PSSI-nya Italia. Tapi sekarang hasilnya apa?….Jose Mourinho lah yang bisa membawa tim juara Liga Italia ini juara di kompetisi eropa, orang yang menurut DONGENG Kecerdasan Emosional ber- EQ rendah inilah yang akhirnya menyelamatkan 4 jatah Italia ke liga Champion yang sempat terancam disalip oleh jerman, karena secara koeefisien Italia sudah kalah oleh Jerman sebelum pertandingan dimulai. Dengan bukti sejelas ini, udah nggak tau ngomong apa lagi lah kalau orang di negeri dongeng ini yang mengaku berpendidikan pula, masih mau LATAH mengekor dan mempercayai DONGENG tentang EQ yang dibuat oleh manusia pencari sensasi. Wassalam Win Wan Nur Fans Inter Milan, pengagum Jose Mourinho http://www.winwannur.blog.com http://www.winwannur.blogspot.com