Belum lama ini saya mengunjungi seorang kerabat yang sudah tua yang tinggal di Bandung. Di dalam tradisi Indonesia, ia disebut kakek saya dan ia berumur kira-kira lebih dari 85 tahun.

 

Meski ia fasih berbahasa Sunda dan dipanggil Aki Tedja, namun sebenarnya ia tidak berasal dari Bandung. Ia hanya menghabiskan sisa sebagian besar umurnya di Bandung. Kisah Aki Tedja bermula puluhan tahun yang lalu, ketika ia masih remaja yang belum genap berumur 17 tahun. Menurut kisah yang disampaikan kepada saya oleh orang-orang di sekitar saya, Aki Tedja meninggalkan rumahnya di Cirebon tanpa pamit dan tentu saja tanpa memberitahukan tujuannya ketika berumur kira-kira 14 tahun. Aki Tedja sebenarnya lahir di Indramayu, karena yatim piatu, ia dibesarkan oleh kerabatnya di Cirebon. Masih menurut cerita yang disampaikan oleh orang-orang di sekitar saya, Aki Tedja kabur setelah dimarahi oleh orang-orang yang membesarkannya. Sebenarnya ia hanya dimarahi, bukan dipukuli atau dianiaya, namun memang tidak gampang untuk memahami perasaan orang atau anak. Barangkali itu sebabnya Undang-undang Perlindungan Anak (UUPA), bahkan mewajibkan orangtua atau wali anak untuk memberikan lingkungan yang sehat dan tepat untuk tumbuh dan berkembangnya anak. Puluhan tahun setelah Aki Tedja kabur, beberapa keponakannya yang dulu berumur sekitar 7 tahun menemukannya kembali di Bandung ketika Aki Tedja telah pensiun dari Angkatan Darat. Ternyata Aki Tedja kabur dan kemudian menjadi tentara. Mungkin kisah kaburnya Aki Tedja adalah kisah kaburnya seorang anak yang berakhir baik, bukan berakhir bencana. Aki Tedja tentu ketika remaja adalah seorang anak yang baik. Sebagai buktinya, banyak keponakannya yang merindukannya dan sekarang rajin mengunjunginya saat Aki Tedja kini telah uzur.

Siapa yang tidak pernah kabur dari rumah?

Dari pengamatan sekilas, barangkali 1 dari 10 orang yang saya kenal pernah kabur dari rumah ketika remaja. Penyebabnya rumit dan sering tidak terduga. Saya pun pernah kabur dari rumah. Penyebabnya sering karena perasaan tidak nyaman yang terjadi untuk waktu yang lama atau bertahun-tahun. Ketidakmampuan berkomunikasi yang baik antar anak dan orangtua membuat anak cenderung untuk berpikir bahwa tidak ada pilihan lain kecuali kabur. Orang tua cenderung bersikap memaksa untuk urusan tentang benar atau salah. Jarang orangtua mengakui kesalahan yang dibuatnya, sehingga anak pun cenderung untuk tidak mau disalahkan.

Kabur dari rumah adalah kisah klasik. Kisah yang sudah terjadi sejak dulu sekali. Begitu juga ketika Arumi kabur. Kisah Arumi yang baru berumur 16 tahun menjadi terkenal karena Arumi memang seorang artis terkenal. Namun kisah Arumi kabur menjadi menarik bagi saya karena kaburnya Arumi berbeda dengan kaburnya remaja yang lain. Tempat yang pertama kali didatangi oleh Arumi adalah kantor polisi. Konon, polisi lah yang kemudian meminta Komnas Perlindungan Anak dan Kak Seto untuk membantu menangani kasus Arumi ini. Sejauh ini memang tidak ada penganiayaan yang diderita oleh Arumi yang dilakukan orangtuanya atau pun anggota keluarga yang lain. Namun menjadi jelas di media televisi terutama tentang bagaimana sebenarnya orang-orang di sekitar Arumi. Nampaknya Arumi telah dieksploitasi oleh keluarga untuk menjadi sapi perahan, baik untuk menghasilkan uang, mau pun untuk mendapatkan popularitas. Menurut keluarga (termasuk juga tante dan lain-lain), apa yang sudah dijalankan oleh Arumi adalah sesuatu yang baik dan akan diteruskan meski harus dengan pemaksaan terhadap Arumi. Keluarga Arumi gagal menangkap apa yang sebenarnya diinginkan Arumi atau apa yang menurut Arumi baik untuknya. Keluarga dan Arumi gagal berkomunikasi.

Bahkan setelah Arumi kabur pun, keluarga masih menjalankan komunikasi yang buruk dengan Arumi. Keluarga, bahkan seenaknya melecehkan beberapa pemikiran-pemikiran Arumi, misalnya tentang siapa teman yang boleh dipilih oleh Arumi. Keluarga bahkan dengan sembrono membiarkan adik Arumi yang masih berumur 14 tahun untuk mencaci teman yang telah dipilih Arumi di depan media. Padahal Arumi dalam wawancara-wawancara jauh sebelum ia kabur, tidak pernah berbicara buruk tentang keluarganya. Bahkan Arumi menunjukkan tidak ada apa-apa di dalam keluarganya.

Tentu saja itu membuat Arumi melihat tidak adanya perubahaan yang berarti setelah ia kabur. Keluarga tetap berpikir bahwa yang benar adalah keluarga, Arumi hanya terpengaruh oleh orang-orang luar atau Arumi belum cukup pintar untuk memiliki pemikiran sendiri.

Arumi ternyata anak yang cerdas dan tidak terlihat oleh keluarganya. Kaburnya Arumi bagai guntur bagi siapa saja yang mengenal Arumi, karena tiba-tiba Arumi berubah total. Kemarin, 19 Mei, Arumi menolak kunjungan keluarganya di tempat pelariannya dengan memberikan selembar kertas bertulisantangan Arumi sendiri yang kira-kira berisi seperti ini.

“Saya tidak mau keluar (maksudnya dari kamar) dan saya tidak mau bertemu (maksudnya tidak mau bertemu utusan keluarga), karena belum ada kesepakatan. Jangan paksa saya atau saya akan mengambil jalan lain”.

Good luck, Arumi!