Perkenankan saya share sedikit tentang kondisi kehidupan demokrasi di negara-negara yang
mayoritas berpenduduk Muslim namun mengaku mengusung demokrasi dan dikenal sebagai negara demokrasi, bukan negara Islam.

Robert Spencer melakukan riset ke berbagai negara-negara tsb di atas seperti Pakistan, Mesir, Indonesia, Aljazair dll; menemukan suatu kenyataan dimana prinsip-prinsip kehidupan berdemokrasi sudah ditelikung oleh para penganjur syariah dari kalangan Islam garis keras (Islam politik atau Islam Fundamentalist). 

Dalam bukunya "Islam Unveiled", Robert Spencer menggambarkan hal tsb dengan kalimat "membunuh atau menikam demokrasi dengan cara-cara atau prosedur yang demokratis". Kita ketahui bahwa UU dan berbagai Perda Syariah jelas dibuat untuk mengakomodasi kepentingan kelompok tertentu saja, yang pada tataran implementasi, UU dan Perda-perda tsb merugikan atau semakin melemahkan posisi kelompok- kelompok lain, yang di Indonesia adalah kelompok-kelompok minoritas. Hal ini jelas-jelas bertentangan dengan prinsip demokrasi. Di Indonesia, berbagai UU dan Perda-perda tsb jelas telah melalui proses demokrasi di Dewan-dewan Perwakilan, yaitu DPR untuk UU dan DPRD untuk Perda-perda. Proses demokrasi tsb tidak lagi mengindahkan azas Musyawarah dan Mufakat dari sila ke 4, sisi/dampak negatif dari amandemen UUD selain sisi-sisi positifnya.

Selain bertentangan dengan prinsip demokrasi tentang kesetaraan yang dikenal secara universal, UU dan Perda-2 tsb juga jelas bertentangan dengan Pancasila, terutama sila Keadilan dan Persatuan.

Kembali ke bukunya Robert Spencer di atas, menarik bahwa buku tsb diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Universitas Paramadina dengan judul "Islam Ditelanjangi" (saya pernah mempostingkan hal ini tahun lalu). Kita bersyukur bahwa di Indonesia masih terdapat kelompok-kelompok Islam Moderat yang masih mayoritas yang diwakili oleh NU dan Muhammadiyah (sbgn?) dibanding yang fundamentalis.

Sekedar share, petentangan yang luar biasa antara kelompok Islam Moderat dan Fundamentalis sudah terjadi berabad-abad, petentangan tsb bahkan sampai berdarah-darah. Mesir sebagai kiblat pemikiran Islam dunia yang beraliran Sunni, adalah tempat yang menjadi ajang perebutan pengaruh yang mendunia.

Beberapa tahun lalu, seoarang tokoh intelektual Muslim Moderat, Farakh Fauda, dibunuh oleh seoarang muda fundamentalis setelah mendengar fatwa ulama fundamentalis yang mencap Farakh Fauda sudah murtad. Sebelumnya terjadi perdebatan sengit di antara kedua kelompok tsb di Universitas Al Azhar.

Saya pernah memposting buku yang beirisi pertentangan kelompok Islam tsb yang juga memuat pembunuhan thdp Farakh Fauda, buku tsb di Indonesia diterbitkan oleh Dep. Agama. Menyadari hal ini, betul kata Pak Gomar sebagaimana yang juga sudah dianjurkan oleh tokoh-tokoh Kristen yang berjiwa Oikoumenis sebelumnya bahwa kita perlu sekali menjalin kerjasama dengan kalangan Islam Moderat untuk melepaskan negara ini dari cengkraman UU dan Perda-perda Syariah dan dari usaha-usaha yang secara sistimatis dilakukan untuk merubah NKRI menjadi NII.