T = Mas Leo,
Kenapa orang Indonesia senang memperdebatkan agama ? Memperdebatkan agama setahu aku tidak akan pernah ada solusinya.

J = Orang Indonesia senang memperdebatkan agama karena hal itu dilarang dilakukan secara terbuka karena dikuatirkan akan ada orang yg tersinggung dan ngamuk-ngamuk. Pedahal kalau debat dilakukan secara terbuka, maka akan kelihatan bahwa agama merupakan ciptaan manusia. Pelajaran agama di sekolah, contohnya, bukanlah perdebatan melainkan cuci otak atau indoktrinasi. Kita diajarkan bahwa ada Tuhan yg menurunkan kitab suci, bahwa ada manusia yg dipilih oleh Tuhan dan disebut sebagai nabi. Dan kita semua adalah umat yg harus mengikuti apa yg diajarkan oleh si nabi dan penerusnya berupa para ulama. Dan itu tidak boleh kita pertanyakan. Pedahal, kita tidak salah untuk mempertanyakan kebenaran pelajaran agama. Kita bisa bertanya apakah benar Tuhan menurunkan kitab suci kepada para manusia yg sekarang disebut nabi-nabi itu? Kenapa mereka disebut nabi? Apa bedanya dengan manusia yg tidak disebut nabi, dsb. Tentu saja guru-guru agama tidak akan bisa menjawab pertanyaan kita. Mereka diajarkan oleh orang yg juga tidak bisa menjawab pertanyaan kita. Bahkan para ulama itu juga tidak bisa menjawab pertanyaan kita. Pelajaran agama yg mereka terima merupakan jenis cuci otak. Otak manusia dicuci bersih dan lalu diprogram dengan apa yg dinamakan agama. Sama saja seperti pemrograman komputer. Komputer tidak bisa protes, dan manusia yg diindoktrinasi oleh ajaran agama juga tidak bisa protes. Coba saja anda protes, pasti anda akan dimaki-maki, dikata-katain, pedahal protes anda sah. Anda bukan robot, tetapi pelajaran agama mengasumsikan anda adalah robot. Robot itu komputer juga yg tinggal diprogram saja. Yg memprogram robot itu manusia. Dan anda sebagai robot diharapkan untuk bersikap seperti robot asli yg ikhlas dan pasrah menerima pemrograman otak anda. Menerima diindoktrinasi oleh pelajaran agama. Menerima cuci otak. Dan diharapkan hasilnya akan cemerlang atau sempurna, yaitu berjalannya program sesuai dengan apa yg telah direncanakan. Anda diharapkan untuk mengulangi apa yg telah dimasukkan ke dalam otak anda. Anda akan mengulangi segalanya dengan persis sama: bahwa ada Tuhan yg menurunkan kitab suci kepada sang nabi. Dan nabi itu sekarang adalah junjungan anda, dan anda akan mengikuti syarat-syarat yg ditetapkan oleh sang nabi karena begitulah kehendak Tuhan. Anda akan menjadi robot agama. Tetapi apakah anda seorang robot? Tentu saja bukan. Anda itu manusia, bukan robot.

Memperdebatkan agama tentu saja memang tidak ada solusinya. Yg diperdebatkan itu sesuatu yg berupa klaim saja, pengakuan saja. Setiap orang tentu saja bisa mengaku bahwa dia memperoleh ayat-ayat dari Tuhan. Itu sah dan tidak dilarang. Tetapi tentang benar atau tidaknya dia memperoleh ayat dari Tuhan tentulah soal lain. Tuhan itu siapa tidak akan bisa dijawab oleh orang itu. Paling dia bisa bilang bahwa Tuhan yg menciptakan langit dan bumi, dan sekarang sang Tuhan menunjuk orang itu menjadi jurubicara. Jurubicara bagi sang Tuhan. Pedahal kita tahu bahwa setiap orang bisa menunjuk dirinya sendiri menjadi jurubicara Tuhan. Ada banyak jurubicara Tuhan, alirannya berbeda-beda. Setelah dikembangkan lagi oleh banyak orang lainnya, aliran yg berbeda-beda itu kemudian dikenal sebagai agama. Dan tentu saja tidak bisa diperdebatkan. Apa yg mau diperdebatkan? Kalaupun ada solusi, saya melihat solusinya adalah menelanjangi semua agama itu sampai ke akar-akarnya, sehingga akhirnya kita akan menemukan sendiri bahwa ternyata agama adalah alat rekayasa untuk menggalang daya dan dana dari manusia lain. Dan memang seperti itulah essensi dari agama, yaitu upaya manusia untuk mengatur manusia lainnya dengan alasan kemauan Tuhan dan semacamnya. Pedahal Tuhan yg dibicarakan itu merupakan Tuhan yg dikonsepsikan oleh manusia. Tuhan seperti yg dikonsepsikan oleh manusia pendiri agama bisa saja berbeda dengan Tuhan yg dikonsepsikan oleh anda. Dan itu juga sah saja. Konsep Tuhan berubah terus sejalan dengan perkembangan mental dan emosional manusia. Peradaban masa lalu melahirkan konsep Tuhan yg berbeda dari peradaban yg lebih maju. Dan kalau kita bandingkan, kita akan menemukan begitu banyak diskrepansi atau ketidak-cocokan pandangan. Peradaban yg melahirkan Tuhan monotheis dari Timur Tengah, misalnya, sudah berbeda jauh sekali dengan peradaban kita sekarang. Dulu mereka hidupnya nomaden, menggembala kambing. Kita bukan. Cara berpikir kita tidak sama dengan cara berpikir penggembala kambing yg telah di-nabikan seperti Daud. Nabi Daud bilang: Tuhan adalah gembalaku. Dia bisa bilang begitu karena profesi aslinya memang gembala kambing.

Sebagai seorang gembala kambing, Daud sangat percaya takhayul. Semua gembala kambing yg tidak berpendidikan akan percaya banyak takhayul. Sampai sekarang masih seperti itu keadaannya. Apalagi ini 3,000 tahun yg lalu dimana orang belum mengerti tentang hak azasi manusia, tentang prinsip-prinsip hukum alam, tentang cara berpikir yg logis dan rasional. Saat itu yg berlaku cuma kekerasan dan akal-akalan. Kekerasan diperlukan untuk perang. Daud yg orang Yahudi berperang melawan orang-orang Palestina yg berada di Tepi Barat dan Gaza. Sama saja seperti sekarang, waktu itu orang-orang Palestina juga merongrong kekuasaan orang Yahudi. Dan sebagai raja orang Yahudi, Daud merasa dituntun dan dilindungi oleh Tuhan. Orang Palestina tidak dilindungi Tuhan karena mereka menyembah Setan. Itu situasi 3,000 tahun yg lalu, dan sekarang terulang kembali. Konflik antara Yahudi dan Palestina adalah soal tanah, tetapi karena orang Yahudi itu beragama, maka konflik itu di-narasikan sebagai perang di jalan Tuhan melawan manusia lain yg menyembah Setan. Konflik itu, secara implisit, bisa kita baca di kitab yg dikenal sebagai Zabur. Ini kitab yg disucikan oleh orang Yahudi, Nasrani dan Islam, walaupun cuma dipakai oleh Yahudi dan Nasrani saja. Makanya orang Yahudi dan Nasrani tahu betul kelakuan jarah menjarah yg dipraktekkan oleh Daud, tetapi hal itu tidak diketahui oleh orang Islam yg, walaupun mengakui Zabur sebagai kitab yg "diturunkan" oleh Tuhan, dalam prakteknya tidak pernah membaca kitab itu. Mereka tidak tahu siapa Nabi Daud, mereka cuma tahu bahwa Daud itu seorang nabi Allah. Pedahal Daud itu kepala rampok. Latar belakangnya tukang gembala kambing, lalu menjadi kepala preman yg menjarah kiri kanan.

Tentu saja kita bisa mengesampingkan sepak terjang jarah-menjarah harta dan ternak milik orang Palestina yg dilakukan oleh Daud. Kita bisa langsung ambil essensi dari pengalaman relijius dari seorang manusia bernama Daud, yg kebetulan menjadi raja Israel 3,000 tahun yg lalu. Dan essensi itu kita temukan di dalam kitab Zabur. Kitab itu bukan berisikan ayat-ayat yg diturunkan oleh Tuhan, melainkan bait-bait lagu. Bait-bait lagu yg digubah oleh Daud karena dia ini juga seorang penyanyi. Daud itu seorang penyanyi kampung, dan bait-bait lagunya juga kampungan, simbol-simbol yg digunakannya diambilnya dari alam sekitarnya saja. Dari pengalamannya menggembala kambing, dia bisa bilang bahwa Tuhan adalah gembalaku, seperti bisa terlihat di bawah ini (Zabur 23):

"TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau,
Ia membimbing aku ke air yang tenang;
Ia menyegarkan jiwaku.
Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman,
aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku;
gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku;
Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku;
dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa."

Menurut pendapat saya, itulah essensi dari iman seorang Daud. Walaupun tangannya menjarah-jarah harta milik orang, dan matanya jelalatan melihat bini orang mandi telanjang, ternyata Daud adalah seorang yg berserah kepada sesuatu yg dirasakannya lebih tinggi darinya. Sesuatu itu dia sebut Tuhan, yg dalam bahasa aslinya dituliskan bernama Yehovah. Bukan bernama Allah, melainkan bernama Yehovah. Dan Yehovah ini adalah nama Tuhan yg asli, yg digunakan oleh orang-orang Yahudi, walaupun tidak boleh diucapkan karena terlalu sakral. Boleh dituliskan sebagai JHVH, tetapi tidak boleh diucapkan. Kalaupun diucapkan, digunakanlah kata ganti seperti kata Eloah dan kata-kata lainnya. Nama Allah yg begitu murahnya dikeluarkan dari mulut kita bukanlah nama Tuhan yg asli, itu cuma kata pengganti untuk nama Yehovah yg haram diucapkan. Namun bukan ke arah sana tujuan pemaparan saya. Saya hanya ingin menjelaskan bahwa yg valid itu adalah "iman" dari Daud yg menyerahkan segalanya kepada Yehovah. Daud mengakui bahwa dia dituntun oleh Yehovah yg disebutnya gembalaku. Kambingnya adalah Daud sendiri. Sebagai seorang kambing, Daud merasa dituntun oleh sang gembala ke padang rumput yg tenang, merasa dilindungi oleh tongkat dan gada sang gembala. Merasakan kedamaian. Dan itu tentu saja kontras sekali dengan kehidupan Daud yg keras sebagai seorang kepala rampok dan raja Yahudi yg tidak pernah damai seumur hidupnya. Memang harta jarahannya banyak sekali, tetapi tidak ada kedamaian asli yg diperolehnya secara fisik. Kedamaian itu cuma bisa diperolehnya secara batin. Dan itu dituangkannya dalam sebuah bait lagu di kitab Zabur, bait lagu itu tetap menjadi salah satu mahligai iman seorang anak manusia sampai saat ini. Iman kepada sesuatu yg disebutnya Tuhan atau Yehovah.

T = Kenapa HARUS ada agama? (terutama di Indonesia yang kelihatannya agama ini nasibnya terpuruk ya?)

J = Agama ada sebagai sistem pengaturan bagi masyarakat yg tidak memiliki hukum-hukum lain selain agama itu sendiri. Di masyarakat Israel purba, 3,000 tahun yg lalu, tidak ada hukum-hukum. Tidak ada polisi. Tidak ada PBB. Tidak ada pasukan penjaga perdamaian. Yg ada cuma agama dan para ulama. Ulama juga saling bersaing mengaku memperoleh ayat dari Tuhan. Kita lihat dari uraian singkat di atas, bahwa cuma satu ulama yg diakui oleh sejarah telah menobatkan Daud menjadi raja. Ulama Yahudi itu bernama Samuel, dan sekarang dikenal sebagai Nabi Samuel yg juga plinplan. Pertama kali dia menobatkan Saul menjadi raja Israel atas nama Tuhan, tetapi Saul ternyata emosinya tidak stabil, uring-uringan terus, sehingga akhirnya Samuel menobatkan orang lainnya lagi menjadi raja Israel. Tentu saja atas nama Tuhan juga. Kita bahkan bisa baca semuanya di kitab suci Yahudi bahwa Samuel menjadi jurubicara Tuhan yg berubah pikiran itu. Tadinya memilih Saul sebagai raja, tetapi akhirnya memilih orang lain lagi. Tuhan itu bisa berubah pikiran, tergantung dari manusia yg mengaku menjadi jurubicara dari si Tuhan. Hal yg mirip seperti itu juga bisa dijumpai dalam Al Quran. Dalam Al Quran kita bisa melihat bahwa kiblat pertama itu ke arah Yerusalem, yaitu tempat Daud dan bait-Yehovah berada, tetapi kemudian kiblat itu dipindahkan ke Mekkah, yg sama sekali tidak ada hubungannya dengan orang Yahudi dan Tuhan mereka, yaitu Yehovah itu. Tetapi tentu saja apa yg dilakukan itu sah. Agama memang diciptakan oleh manusia yg mengaku menjadi jurubicara Tuhan, dan apapun yg diucapkan si manusia, itulah ucapan Tuhan.

Dengan uraian singkat di atas, kita telah menelanjangi agama. Intuisi kita telah berjalan, kita tahu bahwa agama diciptakan oleh manusia untuk mengatur masyarakatnya sendiri dengan mencatut nama Tuhan yg bisa diberi nama Yehovah ataupun Allah. Bisa disebut God dalam bahasa Inggris. Bisa disebut Dieu dalam bahasa Perancis. Sama saja. Tetapi itu di masa lalu, dimana syarat-syarat yg ditetapkan oleh Tuhan menurut jurubicara-Nya akan menjadi hukum-hukum di dalam masyarakat itu. Masalahnya sekarang, kita tidak lagi hidup di dalam masyarakat primitif. Kita telah hidup di dalam masyarakat Post Modern yg mengerti bahwa agama merupakan akal-akalan dari masa lalu. Kita sekarang telah memiliki DPR, ada UUD, ada hak azasi manusia yg di masa lalu tidak dikenal. Para jurubicara Tuhan itu tidak akan menghargai hak azasi anda untuk berbeda pendapat karena memang hak itu belum dikenal saat itu. Kalau anda berbeda pendapat, anda akan dicap sebagai murid Setan. Segala sesuatu yg bertentangan dengan syarat-syarat dari Tuhan adalah perbuatan Setan. Pedahal kita sekarang tahu bahwa walaupun dicap Setan, kita tetap saja manusia. Dan hak azasi kita tidak lebih dan tidak kurang dibandingkan dengan mereka yg mengaku sebagai pengikut Tuhan.

T = Karena secara FITRAH manusia itu sudah dibekali untuk membedakan BAIK dan BURUK. Baik itu memberikan manfaat, BURUK itu memberikan kecilakaan.

J = Anda memiliki fitrah itu karena anda bukan lagi robot agama. Anda berani mempertanyakan agama anda, dan akhirnya anda memperoleh pengertian bahwa agama merupakan ciptaan manusia, bahwa yg namanya Tuhan merupakan proyeksi dari diri kita. Tapi tidak semua orang seperti itu. Orang yg masih menjadi robot agama belum tentu bisa membedakan baik dan buruk. Otak mereka belum digunakan. Kalau mereka mau menggunakan otak mereka, hal pertama yg harus dilakukan adalah mempertanyakan agama yg mereka sohorkan itu. Mempertanyakan agama yg di-indoktrinasikan kepada kita sejak kanak-kanak merupakan hal pertama yg bisa dilakukan dengan murah meriah. Gratis tanpa biaya. Kita tinggal berpikir saja, apakah benar ada Tuhan yg muncul kepada sang manusia yg lalu di-nabikan itu? Apakah benar ada Allah yg memberikan ayat-ayat?

Leo
@ Komunitas Spiritual Indonesia <http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>.