(Menafsir Ulang Atas Kemapanan Mitos Siti Nurbaya – Menyambut Hari Kartini 21 April) MEMBICARAKAN tokoh-tokoh wanita dalam karya sastra Indonesia, terasa kurang afdol tanpa menampilkan sosok seorang Siti Nurbaya. Siti Nurbaya, tokoh rekaan Marah Rusli, adalah gadis yang tereliminasi cintanya oleh faktor ekonomi. Gadis yang berpacaran dengan Samsulbahri itu akhirnya kawin dengan Datuk Maringgih, seorang kapitalis yang juga boss mafia lokal. Cinta suci Siti Nurbaya terhadap Samsulbahri lalu menjadi mitos seperti karya William Shakespeare: Romeo and Juliet.

Dalam sebuah artikelnya yang berjudul: Siti Nurbaya: Roman, Wanita dan Sejarah, Taufik Abdullah menuliskan: “Entah sejak kapan, nama ini seakan-akan telah merupakan lambang wanita modern yang teraniaya oleh kekuasaan adat.” Atau penggalan kalimat dalam tulisan, Siti Nurbaya pada Dekade 1990: “tokoh utamanya identik dengan gambaran wanita malang yang menjadi korban adat.”

Sebenarnya, tidak tepat bila Siti Nurbaya teraniaya oleh hukum adat. Persepsi tentang ketidakberdayaan Siti Nurbaya menghadapi kekuasaan adat banyak dipengaruhi oleh Marah Rusli, dalang cerita itu sendiri. Marah Rusli, misalnya, menghabiskan lima halaman hanya untuk “memaki-maki” Datuk Maringgih. Penggambaran Datuk Maringgih yang keterlaluan itulah yang menimbulkan image kuat, bahwa Datuk Maringgih tokoh antagonis yang brengsek, gendeng, hingga mampu menutup celah-celah keberanian Siti Nurbaya menantang kodrat, martabat dan bahkan Tuhan.

Siti Nurbaya dikatakan tertindas oleh kekuatan adat. Adat yang mana? Apakah perkawinannya dengan Datuk Maringgih disebut sebagai penganiayaan adat? Bersandingnya konglomerat dan bunga desa itu bukan karena paksaan dari pihak keluarga Siti Nurbaya. Juga bukan karena adat, tapi murni dilandasi kerelaan oleh ketidakberdayaan membayar pinjaman. Sebab, Baginda Sulaiman, ayah Siti Nurbaya, pun tak ingin putrinya dirampas. ”Tak dapat kubayar utang itu…, dan anakku tak dapat pula kuberikan kepadamu” (Siti Nurbaya, hal.119, cetakan XVI).

Dalam kedukaan dan cengkeraman Datuk Maringgih, Baginda Sulaiman berkata, “Nurbaya, sekali-kali aku tidak berniat hendak memaksa engkau. Jika tak sudi engkau, sudahlah; tak mengapa. Biarlah harta yang masih ada ini hilang ataupun aku masuk penjara sekalipun, asal jangan bertambah-tambah pula duka citamu” (hal.118). Bahkan ia berkata, “Sesungguhnya aku lebih suka mati daripada memaksa engkau kawin dengan orang yang tidak kausukai” (hal.118).

Ucapan-ucapan ini memperlihatkan betapa kukuhnya Baginda Sulaiman bertahan melawan arus utang yang membelitnya, tetapi tetap tak mampu berkelit. Ia tak mau menjadikan Siti Nurbaya sebagai tumbal, mengingat cinta putrinya terhadap Samsulbahri. Tetapi itu berarti akhir dari kehidupannya.

Sebagai orangtua, ia mengkhawatirkan masa depan anaknya yang bakal luntang-lantung kalau terjadi perpisahan dengannya. Ia tentu ingin melihat anaknya bahagia, maka, demi Siti Nurbaya, ia akhirnya rela masuk bui. Pergolakan batin yang diamuk amarah, cinta, dan uang ini, menjadikan Siti Nurbaya menuju ambang pernikahan. “Jangan dipenjarakan ayahku! Biarlah aku jadi istri Datuk Maringgih!” (hal.119).

Cerita tentu tak bakal panjang andai Samsulbahri tak nekat untuk balas dendam. Sebagai anak muda yang masih dikungkung gejolak hati, ia pun terbakar emosi. Dan pembaca roman Siti Nurbaya pun ikut terlibat membenci Datuk Maringgih. Hingga lahirlah simpati untuk Siti Nurbaya yang tertindas, dan Samsulbahri yang berusaha jadi pahlawan.

Yang sangat menggelikan adalah pernyataan Julia I. Suryakusuma, yang menulis: “Berlawanan dengan citranya sebagai ‘kurban’, ternyata Nurbaya berani membuat pernyataan yang sangat radikal: ia bukan hanya menghujat laki-laki, adat, kerabat, bangsa, negara, nasib, dan kodrat, melainkan juga agama dan Tuhan. Semangat perlawanannya ini, yang identik dengan semangat perlawanan Kartini, secara tragis dimatikan oleh kekuatan parternalistik yang terdapat pada zaman itu.” Kalimat tersebut cenderung berpihak ke Siti Nurbaya. Pernyataan Siti Nurbaya bahwa: “laki-laki diizinkan beristri sampai empat, tetapi perempuan, keluar rumah pun tak boleh” (hal.205) terasa sangat menjijikkan. Andai saja ucapan ini diikuti, maka wanita bukan saja menghina kodratnya, tetapi juga merobek martabatnya. Ini menunjukkan Siti Nurbaya sangat primitif, dan bukan dari kalangan terpelajar. Sebab, cara berpikirnya dangkal. Namun, semua itu harus dimaklumi mengingat Siti Nurbaya adalah wanita, yang (maaf) tentu banyak dipengaruhi emosi daripada akal.

Leila S. Chudori dalam Potret Perempuan dalam Novel Indonesia menulis kekagumannya tentang tokoh Bawuk. “Sebuah tema yang memperlihatkan bahwa dunia perempuan bukan sekadar menunggui suami dan menyediakan makan malam, tapi perempuan dilibatkan ke dalam berbagai aspek dunia yang kompleks”. Kalimat ini merujuk, betapa ingin sang wanita sama derajatnya dengan laki-laki. Padahal, organ tubuh saja sudah jauh berbeda, tetapi mereka tetap saja mengomel untuk diakui sama. Selain menunjukkan kepongahan, kalimat tersebut juga berbicara mengenai dangkalnya pandangan perempuan terhadap jati diri mereka.

Wanita yang meniti karier mesti diakui mampu menambahi investasi bagi dirinya. Bahkan bisa mengaktualisasikan kemampuannya seraya memperluas pergaulannya. Namun, di sini pula letak kekecewaan itu. Sebab, kurangnya komunikasi dalam rumah mengakibatkan wanita karier bisa tersenggol affair. Dan seperti diketahui lewat media massa: satu dari sepuluh wanita karier menyeleweng.

Datuk Maringgih bukanlah suami yang didambakan oleh Siti Nurbaya. Karena ia menginginkan pendamping yang perpect. Sedang Datuk Maringgih adalah tipe lelaki yang jauh dari harapan Siti Nurbaya, yang nyaris berjiwa hedonistis. Selain memiliki sifat buruk, Datuk Maringgih pun sudah tua. Tetapi performance Datuk Maringgih yang kotor itu diimbangi pula perangai Siti Nurbaya sebagai istri yang kurang baik dan tidak berbakti. Terbukti asyik berpelukan dan beciuman dengan Samsulbahri. Kedatangan the other man yang merupakan bekas kekasih istrinya itu membuat Datuk Maringgih sakit hati. Dan siapa pun akan tergetar marah kalau melihat penyelewengan istrinya, termasuk kapitalis Padang itu.

Selain menyeleweng, yang berakibat wafatnya Baginda Sulaiman, Siti Nurbaya juga mengusir suaminya dari rumah. Suatu sikap yang sangat tercela. Bahkan ia tega meninggalkan suaminya. Demi nafsunya, Siti Nurbaya nekat ke Jakarta menemui Samsulbahri. Inilah potret wanita yang menjadi korban adat? Atau gambaran tersebut merupakan pengambinghitaman adat, agar perempuan bisa bebas merdeka tanpa menghiraukan kodrat dan martabatnya?

Perempuan yang menganggap Siti Nurbaya sebagai lambang penderitaan akibat empasan adat adalah wanita kolot dan cengeng. Sebab, Siti Nurbaya hanya menggugat Datuk Maringgih yang sudah menelantarkannya. Adapun tuntutannya terhadap kodrat wanita, karena keputusasaannya oleh nasib yang menjadikannya istri Datuk Maringgih. Dan pada akhirnya, timbul kecemburuan sebagai perempuan terhadap pria. Ia ingin mengukir sejarah karena tidak leluasa seperti laki-laki. 

Kehidupan selalu menceritakan manusia-manusia dalam catatan sejarah. Dan kita pun harus membacanya dengan penuh kritis. Bahwa lebih berharga untuk menjadi manusia yang manusiawi daripada sekadar menjadi wanita, pun untuk sekadar menjadi seorang lelaki.