Siap menerima pesanan menulis tentang apapun dan editing. Dijamin bagus. Kalau gak percaya tanya Goenawan Mohamad.”
br>Kalimat di atas adalah torehan almarhum Budiman Sastro Hartoyo atau biasa disapa BSH yang sangat menggelitikku ketika membaca info tentang dirinya di facebook.com. Kalimat itu kubaca hampir sepekan setelah ia berpulang di Jakarta, Kamis 11 Maret 2010. Dari kalimat pendeknya, kupikir, BSH adalah sosok yang sangat percaya diri sekaligus humoris.
Bagiku, kenangan tentang BSH tentulah teramat panjang meski dalam persahabatan kami yang begitu singkat. Wartawan senior yang selama seperempat abad menghabiskan usianya di majalah mingguan Tempo (sejak awal 70-an) itu bukan hanya guru tetapi juga bapak yang membantuku tidak sampai depresi. Tulisan ini tak mungkin menggambarkan sosok BSH karena hanya berkisah tentang persahabatan kami sebelum Kongres Luar Biasa Perhimpunan Jurnalis Indonesia (KLB-PJI) di Subang, 24-26 Agustus 2007 yang berujung pada kembalinya nama Persatuan Wartawan Indonesia Reformasi (PWI-Reformasi). 
Ingatanku melayang ketika pertama kali bertemu lelaki kecil tetapi bersuara besar itu di Medan, sekitar sepuluh tahun lalu—tepatnya pertengahan 2000. Kala itu BSH datang ke Medan dalam kapasitas sebagai Ketua Umum Koordinator Nasional (Kornas) PWI-Reformasi. Kedatangannya untuk melantik para pengurus Koordinator Daerah (Korda) PWI-Reformasi Sumatera Utara (dipimpin Yulhasni—kini seorang dosen di Medan).
Aku ingat, BSH yang lahir di Solo, 5 Desember 1938, pada orasinya mengatakan,”…Wartawan yang baik adalah wartawan yang senantiasa belajar, rajin mereportase, dan disiplin. Milikilah kemampuan berbahasa Indonesia yang baik. Menulislah dalam kalimat yang baku. Teruslah memverifikasi data karena berita adalah fakta yang harus bisa dibuktikan….” 
Selebihnya BSH selalu mengulang kalimat senada, wartawan PWI-Reformasi haruslah profesional, independen, dan memiliki integritas. Kalimat yang kelak aku ketahui, memang dipatri BSH di jantungnya hingga maut menjemput. 
BSH yang tersenyum saat menyalamiku ketika pelantikan para pengurus (aku hanya pengurus seksi pendidikan), terlihat begitu jauh bagiku yang (saat itu) masih setengah tahun menjadi wartawan. Bahkan usai meninggalkan tempat pelantikan di gedung Garuda Plaza, Medan, aku tak pernah lagi mendengar sepatah kata langsung dari BSH, konon pula menemuinya. 
Tentu saja aku masih mengikuti sepak terjang BSH membesarkan PWI-Reformasi di Indonesia. Hingga kemudian aku mendengar, PWI-Reformasi berganti nama jadi Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI), usai KLB-PWI-Reformasi di Yogya, 2005. 
Kami, anggota PWI-Reformasi di Sumut (baca:Medan), tak pernah mengakui PJI yang dipimpin Ismet Hasan Putro. Kami tetap memperkenalkan diri sebagai anggota PWI-Reformasi Korda Sumut kepada masyarakat.
Pertengahan 2006, karirku sebagai jurnalis mencapai antiklimaks. Awal Januari 2006, Harian Mediator—tempatku bekerja sebagai redaktur selama lebih lima tahun—tutup. Tetapi itu belum seberapa, semangatku hancur ketika media bulanan sebuah koperasi dan mingguan Eksis yang kudirikan, menyusul gulung tikar enam bulan kemudian. Kepercayaan diriku punah. Rasa frustasiku memuncak. 
Empat bulan kemudian, tanpa pamit kepada siapa pun, aku dan istriku meninggalkan Medan menuju kediaman mertuaku di Citeureup, Bogor.
Di Citeureup, aku memiliki profesi baru, petani merangkap peternak. Aku menanam jagung, pisang, jambu, mangga, singkong… bahkan lamtorogung semata untuk menghijaukan kebun serta memelihara ikan dan kelinci, lebih karena aku senang melihat kedua spesies itu. Aku sesungguhnya tak pernah siap menjadi petani apalagi peternak hingga selalu memakai celana dan kemeja lengan panjang, memakai sepatu bot, sarung tangan, topi caping… saat menuju kebunku yang terletak di… sebelah rumah. Ya, petani yang tak tahan pada bau lumpur dan sengatan matahari.
Dapat ditebak, menjadi petani dan peternak memang bukan kehidupanku. Tiga kali menanam jagung, tiga kali tidak tumbuh karena kemarau. Ribuan ikan mas sekelingking yang kupelihara mati karena kucampur dengan ikan nila dan gurame sebesar jempol. Puncaknya, belasan kelinciku menyusul ke alam baka setelah tubuhnya dirobek-robek anjing hutan (warga Citeureup menyebutnya ‘ajak’) lantaran kandangnya sejajar dengan tanah.
Aku semakin frustasi. Jangankan membaca koran, melihat televisi pun aku alergi. Untung saja aku masih menulis fiksi (sesekali) sebagai terapi. Jika tidak, aku mungkin sudah depresi.
Akhir Februari 2007, ketika rasa frustasiku makin memuncak, aku mengajak istriku menenangkan diri di Semarang, kediaman orangtuaku. Kelinci yang tinggal beberapa dan ikan yang bersisa tak sampai seratus ekor kutitipkan pada mertua dengan pesan, serahkan saja pada tetangga jika sudah bosan merawatnya.
Tanpa kegiatan berarti, Semarang bukanlah kota yang menyenangkan. Hiburanku hanyalah anak-anak Ivo, adikku, yang tinggal serumah dengan orangtuaku. Koran, televisi, dan buku makin kujauhi. Keinginan menulis pun hilang. Akibatnya, aku menjadi sangat temperamental.
Di akhir April 2007, saat mendekati depresi, aku teringat kawan-kawanku di PWI-Reformasi. Aku butuh kawan untuk memulihkan kepercayaan diri. Aku lantas mengontak Denny Frans Sitohang. Aku tanyakan pada kawan sejatiku itu, siapa saja anggota PWI-Reformasi di Jawa Tengah. Denny segera mengirimkan dua nomor telepon milik Bandelan Amaruddin dan Saiful Bahri. Aku tidak meminta Denny mengirimkan nomor BSH, meski kutahu Denny memilikinya.
Aku mengontak keduanya. Bandelan menjawab, ia tinggal di Kudus (sekitar 30 km dari Semarang) sedangkan Saiful tengah berada di Jakarta. Saiful kerja di majalah Al Kisah sebagai redaktur. Ia bawahan langsung BSH yang menjadi redaktur pelaksana. 
Kukatakan pada Saiful, aku punya masalah dalam karir. Saiful bilang, ia akan ceritakan pada BSH. 
“Mungkin BSH bisa membantu,” kata Saiful.
Aku apatis mendengarnya. Saiful pun tak lagi menghubungiku.
Awal Mei 2007 malam, sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggamku. Bunyinya “Kehadiran Anda ditunggu kawan-kawan di PDS HB Jassin TIM pada 5 Mei pukul 8 pagi. Kita akan mendeklarasikan kembalinya PWI-Reformasi”. Tidak ada nama pengirimnya. Nomornya tak kukenal. Begitupun aku yakin, hanya satu orang di dunia ini yang berbicara dengan nada tegas dan penuh instruksi di PWI-Reformasi… BSH. 
Aku segera memastikan pemilik nomor itu dengan menghubungi Denny. Kawanku yang bertubuh jangkung dan brewokan itu memastikan pemilik nomor itu adalah BSH. Saiful ternyata sudah menghubungi BSH. 
Seperti mengalami pencerahan, aku merasa kembali dihargai. BSH adalah sosok yang paling kusegani di PWI-Reformasi. Ia adalah pendiri sekaligus ketua umum pertama PWI-Reformasi. Jangankan berbicara dengannya, menatap mata tajamnya pun aku gentar. Kini, tokoh besar—di pikiranku itu—menghubungiku secara langsung. Mengundangku menghadiri sebuah kegiatan besar. 
Dua hari kemudian aku sudah tiba di Jakarta.
Taman Ismail Marzuki (TIM), Sabtu, 5 Mei 2007, hampir pukul 7. Aku terlalu pagi tiba di TIM. Yoyok, adikku (kini redaktur sebuah harian ekonomi) yang kos di kawasan Setiabudi, mengantarku karena aku tak ingin terlambat. Aku sarapan ketoprak di depan TIM. Bagiku, rasanya kalah jauh dibandingkan rasa lontong sayur medan atau ketupat kuah padang.
Usai sarapan, aku menuju warung di bawah ruang Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin. Jassin semasa hidupnya secara penuh puji sekaligus sinis dijuluki sebagai Paus Sastra Indonesia karena di tangannyalah sebuah karya dianggap bermutu atau tidak; sastra atau popular. Jassin juga tokoh Manifestasi Kebudayaan (kerap diejek dengan singkatan Manikebu atau sperma kerbau oleh penentangnya) yang dideklarasikan 1963 oleh sebuah kelompok besar sastrawan yang mengedepankan kemerdekaan dalam menulis. Kelak aku tahu, masuknya BSH ke Tempo tak lepas dari pertemanannya yang karib dengan Goenawan Mohamad—salah satu tokoh Manifestasi Kebudayaan—karena BSH pun ikut menandatangani manifestasi, dalam kapasitas sebagai seniman Solo.
Di warung, di bawah ruang PDS Jassin, aku berkenalan dengan beberapa seniman muda yang bermalam di TIM. Ada yang malas pulang ke rumah tetapi ada juga yang tidak bisa pulang karena berasal dari Surabaya. Kami bercerita tentang berbagai persoalan kesusastraan. Ada yang bilang sastra makin berkembang tetapi dalam bentuk sinema elektronika (sinetron) murahan. Sinetron yang membuat bangsa kita menjadi bangsa pengkhayal. Kini, cita-cita tertinggi remaja adalah menjadi bintang sinetron atau pacar bintang sinetron. Aku tertawa saja.
Di saat seperti itulah, sekitar pukul 8 pagi, seorang bertubuh kecil, bertopi koboi, menggalas tas kain putih lusuh… berjalan cepat menuju anak tangga PDS Jassin. Aku seperti mengalami dejavu. Hampir tujuh tahun setelah melihatnya pertama kali, wajah BSH tak juga berubah.
“Didik?” Tanyanya. Genggaman salamnya kuat. Aku selalu suka dengan orang yang menyalam dengan kuat, menunjukkan kepribadiannya yang hangat dan tegas.
“Iya, Pak.” Aku menjawab cepat.
“Kita sudah pernah bertemu, Dik?” Mata tajam BSH menyorotku.
“Bapak yang melantik saya, sekitar tujuh tahun lalu di Medan.”
BSH tertawa, lantas menepuk-nepuk pundakku.
BSH sebenarnya jarang disapa “Bapak”. Kawan-kawanku di Medan selalu memanggilnya “Mas” meskipun ada yang lebih pantas jadi cucunya. Mereka yang lebih dekat dengan BSH kerap menyapanya “Om”. Aku janggal memanggil “Mas” kepada orang yang lebih tua dibandingkan bapakku. Pendidikan etika yang berbau feodal semasa kecil membuatku merasa tak nyaman ber”mas-mas” pada orang seusia Bapak apalagi di atasnya.
Di ruang PDS Jassin, BSH bercerita panjang kepadaku tentang persoalan di tubuh PWI-Reformasi. Ia bilang, Ismet tak layak lagi memimpin PJI karena tak mampu menjalankan putusan KLB PWI-Reformasi di Yogya, 2005. Ia juga mengamini keteranganku bahwa para aktivis PWI-Reformasi di belasan daerah tidak mengakui keberadaan PJI. 
Aku juga sempat mengatakan pada BSH, kawan istriku menawarkan agar rumahnya di Sawangan, Depok, kami tempati dengan cuma-cuma. Kawan istriku itu seorang perempuan etnis Simalungun yang menjadi salah satu manajer di Trans TV.
“Kawan istrimu itu sangat baik, Dik. Di Jakarta jarang orang berprilaku seperti itu, saudara sekalipun. Sebaiknya kamu menempati saja rumah itu. Tinggal dengan mertua tidak baik kalau terlalu lama. Tetapi jaga dan rawatlah rumah itu baik-baik. Cat-lah dindingnya jika kusam. Jagalah kepercayaan orang. Jagalah persahabatan itu.”
Seminggu setelah pertemuan dengan BSH, aku pindah dari Citeureup ke Sawangan dan menempati rumah kawan berhati malaikat, hingga saat ini. Tetap dengan gratis.
Sejak pertemuan dengan BSH di TIM, aku menganggap BSH bagai orangtuaku. Kepercayaan diriku berangsur pulih. Aku bahkan berani mendesak BSH lewat telepon atau pertemuan di berbagai tempat agar BSH segera memimpin pendeklarasian kembalinya PWI-Reformasi. Aku sendiri saat itu tengah sibuk mengurus Gerakan Peduli Koperasi yang telah kudeklarasikan dengan Sugiono MP (wartawan plus penulis) dan para seniman yang tergabung dalam kelompok Aksara TIM. Tentu saja Sugiono MP dan para seniman Aksara seperti K Usman, Leon Agusta, Dyah Hadining, Adri Darmadji Woko… bisa kukenal dekat karena bantuan BSH. Tokoh-tokoh sastra semisal Sitor Situmorang, Hamsad Rangkuti, atau Sutardji C. Bachri yang dulu hanya kukenal karyanya pun bisa kukenal karena mereka sering datang saat aku sok rapat serius di Aksara.
Aku juga kembali aktif menulis. Menuruti saran BSH, aku mencari penghasilan dengan menjadi ghost writer. BSH sebenarnya pernah memintaku untuk melamar sebagai redaktur di Al Kisah dan Aneka Yess tetapi ia kemudian bilang Harun Musawa—pemilik kedua media itu—belum ingin menambah karyawan. 
Di TIM, 5 Mei 2007, BSH memang tidak jadi mendeklarasikan kembalinya PWI-Reformasi. Akibatnya, jalan untuk mengembalikan nama PWI-Reformasi bukanlah hal yang mudah. Tanpa deklarasi sebagai jalan pintas maka hanya ada satu jalan resmi yakni kongres luar biasa. Bagiku, kongres adalah jalan yang terlalu bertele-tele dan membuang biaya besar.
“Saya enggak mau kawan-kawan yang masih mau bertahan di PJI jadi marah dan kita berkelahi,” kata BSH saat bertemu aku dan Iwan Piliang di rumah makan bernama Penus, di bilangan TIM sekitar Juni 2007. Kini, Iwan Piliang adalah penulis independen, pemimpin jaringan Press Talk, dan anchor program Press Talk di QTV. Iwan mengenal BSH sejak masih duduk di bangku SMA karena BSH adalah tetangganya di Karet (sebelum BSH pindah ke Jatibening, Bekasi). Iwan pernah mengatakan, pertama kali belajar menulis dari BSH.
Penus memang rumah makan favorit BSH jika berkunjung ke TIM. Ia beralasan, di rumah makan itu, ada tempat lesehan yang mengingatkannya kepada kebudayaan Jawa. Dalam selera makan, BSH memang berbeda dengan Iwan. BSH tipikal orang yang sederhana melihat sesuatu. Jika sudah enak, ya nikmati saja. Sebaliknya Iwan selalu mengajakku mencoba makanan di berbagai tempat. Mulai dari di hotel bintang lima sampai emperan kaki lima. Alasan Iwan, hidup harus penuh warna.
BSH yang langganan makan di Penus sempat bertanya kepada pemilik rumah makan (seorang lelaki gempal berusia 50-an), apa makna kata ‘penus’.
“Itu singkatan pesona nusantara,” kata lelaki gempal itu.
Jawaban itu membuat kening BSH mengerut.
“Singkatannya jelek sekali,” kata BSH padaku dan Iwan.
Kami tertawa saja mendengarnya.
“Mestinya akronimnya ‘pentara’ atau ‘pesantara’. Lebih indah. Nama penus itu jelek sekali,” kata BSH.
Kupikir, si pemilik menjadi jengkel karena nama rumah makannya dianggap buruk oleh BSH, hingga ia menjawab, “Biarin ajalah, Pak. Daripada diberi nama ‘penis’.”
Aku merasa darahku naik mendengar jawaban itu tetapi anehnya BSH tenang saja. Ia bagai tak mendengar kalimat si gempal. BSH sembari terus menggelengkan kepala kembali menggumamkan kalimat senada, “Kok enggak pesantara atau pentara ya? Penus, jelek sekali namanya. Penus….”
Selama Juni-Juli 2007, aku dan Iwan Piliang memang kerap bertemu BSH. Meskipun perbincangan kami semula direncanakan membahas “kembali mendirikan PWI-Reformasi” pada kenyataannya kami malah lebih sering bercerita tentang dunia penulisan.
BSH senang berkisah tentang kehebatan Tirto Adhi Soerjo dan keistimewaan jurnalisme literair (ia tidak suka dengan istilah jurnalisme sastrawi, semata untuk mencegah penafsiran karya jurnalistik adalah karya fiksi). Iwan suka bercerita panjang tentang karya legendaris Hiroshima-nya John Hersey atau karya-karya besar di The New Yorker dan di (eks) majalah Pantau. BSH kemudian akan menjelaskan baiknya diksi dalam sajak-sajak Goenawan Mohamad dan Rendra yang diteruskan Acep Zamzam Noor dan Sitok Srengenge. Aku akur saja, Acep dan Sitok adalah dua penyair dengan penguasaan bahasa nyaris sempurna.
Lantas Iwan akan mendesak, kapan BSH menyelesaikan tiga novel yang terus ia renungi. Jika sudah begitu, BSH akan diam. Ia memang menyimpan obsesi besar untuk segera membukukan karya-karyanya. Lalu sebagai yang termuda aku berusaha untuk menghidupkan suasana dengan kabar “topik terpanas para badut politik pekan ini di berbagai milis”. Biasanya, BSH dan Iwan kembali terbahak-bahak. Setelah itu, rasa ayam atau gurame bakar yang disajikan terasa semakin nikmat.
Di saat-saat seperti itulah, aku tahu, BSH mengidap penyakit jantung. 
Pernah ketika BSH mengambil sebatang rokokku, Iwan menatapnya dengan marah. 
“Sebatang saja, Wan,” kata BSH meminta dimaklumi. Iwan yang anti-rokok, diam saja.
BSH kemudian mengisap rokok itu dengan pelan. Menikmatinya.
“Jantung saya memang bermasalah,” kata BSH dengan nada datar.
Tetapi BSH memang bukan orang yang mudah dilarang. Bahkan jika makan di rumah makan padang, ia selalu mengambil jeroan. Jika aku mengingatkan, ia tertawa saja. Padahal aku sendiri takut memakannya.
Aku pun tidak akan berani bertemu BSH dengan tangan kosong. Sejak mengenal BSH, aku kembali maniak membaca. Aku membaca seluruh tulisan BSH di blognya; catatan pinggir Goenawan Mohamad; tulisan-tulisan panjang di situs Pantau dan blog Andreas Harsono; catatan jurnalistik Farid Gaban; mengulang membaca buku-buku Seandainya Saya Wartawan Tempo, Sembilan Elemen Jurnalisme, Jurnalisme Sastrawi, Vademakum Kompas, buku putih Suara Pembaruan, Republika… hingga cerita pendek dan puisi di Koran Tempo, Kompas, atau Media Indonesia. Aku bahkan mengarsipkan tulisan di situs Apa Kabar serta perdebatan sengit di berbagai milis sekular-pluralisme atau jurnalisme, suatu cara agar aku tetap mampu berdiskusi dengan logika dan hati yang lurus.
Lewat cara membaca seperti itu, aku segera tahu BSH bukan orang baru di bidang organisasi. Ia pernah mendirikan Sekretariat Bersama (Sekber) di Solo, yang setelah lama jadi “kepompong” di masa transisi 1960-an kemudian menjelma jadi Golongan Karya (Golkar); partai mayoritas tunggal yang tak mau disebut partai (kecuali saat Soeharto terguling). BSH juga ikut menandatangi Manifestasi Kebudayaan tahun 1963, deklarasi yang kemudian membuat ratusan penandatangannya harus ketakutan bertahun-tahun karena kehilangan pekerjaan dan dimaki-maki para pengikut Bung Karno yang marah dan (menganggap diri) revolusioner.
Lebih jauh lagi, BSH ikut menandatangani ”Deklarasi Sirnagalih” sebagai awal pendirian Aliansi Jurnalis Independen tahun 1995, reaksi sekaligus perlawanan atas dibredelnya majalah Tempo. Puncaknya, BSH mengambil momentum pendirian PWI-Reformasi di Yogyakarta, saat ratusan wartawan PWI menggugat terpilihnya Tarman Azzam sebagai ketua umum di November 1998. 
“Tarman saat jadi ketua di PWI-Jakarta, menyetujui pemberedelan Tempo. Dosanya itu enggak bisa dimaafkan,” kata BSH, kalimat yang selalu ia ulang-ulang, menunjukkan kemarahannya.
Suatu Sabtu di Juli 2007, di tengah persahabatan kami yang makin meningkat, BSH mengajak Iwan dan aku naik bus ke Subang. Kami bertemu di terminal Kampung Rambutan. Tujuan kami adalah kediaman Kaka Suminta (kini Ketua Komisi Pemilihan Umum Subang) yang telah ditunjuk sebagai Ketua Panitia KLB PJI.
Di kediaman Kaka yang ditemani Eko Radhar Karawang (Raka), BSH sangat menikmati ayam goreng dan lalapan plus sambal terasi khusus yang disajikan Nyonya Kaka. Ia makan dengan lahap. Hingga pertemuan terakhir kami di Tanah Abang, Agustus 2009, BSH masih mengingat masa-masa itu.
Di Subang, aku dan BSH bermalam sehari dan Iwan pulang. 
Setelah Iwan pulang, BSH memanggilku dan Kaka, ia menanyakan siapa yang paling pantas menjadi ketua umum PWI-Reformasi yang segera (kembali) berdiri. Aku mengusulkan kepada BSH agar ia kembali memimpin dengan membentuk pengurus harian hingga PWI-Reformasi cukup kuat ditinggalkan. Tetapi BSH menolak tegas usulku itu. 
“Harus ada regenerasi, Dik,” katanya sembari mengusulkan nama Iwan.
Aku setuju saja.
Jumat pagi, 24 Agustus 2007, aku dan Iwan menemui BSH di Salemba Tengah, kantor Al Kisah (saat itu). Kami akan menuju Subang dengan sedan putih tua milik BSH. Menurut BSH, sedan itu adalah hadiah dari Tempo—majalah mingguan yang sangat dibanggakannya. Keberangkatan kami terkait diadakannya KLB-PJI di Subang. 
Iwan menyetir, BSH duduk di sampingnya, aku duduk di belakang sembari menikmati makanan yang disiapkan Bunda (demikian aku memanggil Nyonya Jati BSH) sebagai bekal perjalanan kami. Biasanya Bunda membekali BSH dengan roti tawar yang dilipat. Dalam lipatan itu berisi selada, tomat, mentega, keju, dan telur—seperti hamburger tetapi tanpa saus. Aku sangat menikmatinya. Bagiku, makanan memang cuma memiliki dua rasa: enak dan sangat enak. Itu sebabnya BSH sangat suka menawarkan makanan padaku atau mengajakku makan.
Beberapa pekan sebelum keberangkatan kami ke Subang, BSH telah memintaku untuk membuat konsep deklarasi yang singkat. Aku kemudian mengadaptasi Dekrit Presiden 5 Juli 1959 tentang kembali ke UUD 1945 menjadi Deklarasi Kembali ke PWI-Reformasi. Setelah selesai, aku mengembalikannya agar diedit BSH. Lantas BSH memperbaikinya dan mengopi sebanyak 100-an lembar untuk dibagikan bagi peserta KLB. BSH juga mengingatkan aku bahwa deklarasi itu adalah sesuatu yang sangat rahasia. Deklarasi hanya akan dibacakan ketika KLB PJI ternyata tidak mengamini berdiri kembalinya PWI-Reformasi.
Menurut BSH, kecuali beberapa korda terutama Korda Jakarta yang dipimpin Asep Iskandar secara de fackto, banyak korda lain belum tegas ingin kembali ke PWI-Reformasi atau keluar dari PJI. Menjelang KLB situasi politik organisasi memanas. Mereka yang tadinya anti-PJI tiba-tiba berkata, apalah arti sebuah nama. Padahal nama PWI-Reformasi terkait dengan sejarah pendiriannya, saat ratusan wartawan menggugat PWI. Sejarah itu akan kabur jika PWI-Reformasi tidak lagi bernama PWI-Reformasi.
Mulut lelaki lebih rapat daripada rahasia yang terpendam dalam makam. 
“Kita semobil bertiga dan saya tidak tahu apa yang Anda rencanakan,” kata Iwan Piliang pada BSH sembari menggelengkan kepala walau bibirnya menyunggingkan senyum, sepulang kami (Sugiono MP ikut menumpang) dari Subang, Minggu petang, 26 Agustus 2007.
“Ya, maaf, Wan. Deklarasi itu rahasia besar dan berbahaya. Tidak baik buat kamu kalau tahu dari semula. Yang penting, kamu sudah jadi ketua umum PWI-Reformasi,” BSH menjawab dengan tenang. Punggung renta ia sandarkan ke jok depan. 
BSH mungkin bersyukur karena setelah melalui keriuhan hebat, KLB PJI akhirnya memutuskan kembali ke PWI-Reformasi; mengangkat Iwan Piliang sebagai ketua umum, Kaka Suminta sebagai sekretaris umum, dan aku sekretaris 1 atau wakil sekretaris umum (tak sampai setahun kemudian kami bertiga mundur). BSH ditunjuk sebagai ketua dewan kehormatan kode etik.

Pemakaman umum di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Jumat siang, 12 Maret 2010.
Toriq Hadad, pemimpin redaksi majalah Tempo, dalam kata-kata duka seusai pemakaman BSH mengingatkan, BSH adalah jurnalis yang tak bisa dibeli; guru yang tulus; dan manusia lurus hingga akhir hidupnya.
Aku melihat Imelda, istriku. Air matanya jatuh, mengenang lelaki yang baru dimakamkan itu. BSH pernah memintaku agar mengenalkan Imel (panggilan Imelda) padanya. Dalam pertemuan kami, BSH kemudian banyak bercerita tentang dunia kepenulisan pada Imel yang memang suka menulis.
Imel masih mengingat tawaran tulus BSH agar kami sesekali menginap di Jatibening, usai aku, Imel, dan Asep Iskandar mengantar BSH pulang ke kediamannya. Tawaran yang tak pernah kami penuhi.
Aku menatap ratusan makam yang tersebar rapi di pekuburan itu. Banyakkah dari mereka adalah orang tulus seperti BSH yang dua kali beribadah haji tapi tak pernah mencantumkan gelarnya?
Aku melihat Bunda terduduk letih di atas kursi plastik yang dibawa ke pekuburan. Kakinya terlalu lemah menyangga luka bathinnya. Keponakan perempuannya terus membelai punggungnya mencoba menghibur.
Aku teringat dua pesan pendek di Sabtu pagi, 23 Januari 2010, saat—lagi-lagi—Kongres PWI-Reformasi digelar. Sebuah pesan pendek dari BSH yang kujawab dengan satu pesan juga.
“Saya tidak bisa ikut kongres hari ini. Sejak Kamis sore, saya masuk rumah sakit lagi.”
“Ya, Pak BSH. Saya sudah dengar kabar dari Pak Afrizal (Anoda). Istirahat yang banyak, Pak. Jangan terlalu banyak berpikir. Semoga Bapak lekas sembuh. Amin.”
Tak ada lagi pesan pendek. Tak ada lagi sapa. Semua senyap. Hingga makamnya menjawab.

Maret 2010