Inilah Sketsa ke-3 perjalanan memfasilitasi kepulangan sosok Ziad dari Abu Dhabi, Persatuan Emirat Arab (PEA) ke Indonesia. Ada pembaca, mengeluhkan panjangnya tulisan ini. Satu tulisan lebih dari 2.500 kata. Konon bagi majalah sekaliber The New Yorker, tulisan 2.000 kata (edited), mereka masukkan ke kelompok rata-rata. Saya mencoba belajar ke sana, tentu spesial saya hidangkan bagi Anda yang senang membaca. Karya monumental tak boleh asal. Lihatlah bangunan Masjid Syeh Zayed di PEA.

DI KAMIS di minggu pertama Februari 2010 itu, udara berdebu halus, berpasir kuning kecoklatan, berkabut menyaput. Angin dingin masih di 20 derajat celsius. Menurut Sidin, supir Dubes KBRI, Abu Dhabi, keadaan udara begitu akan diikuti hujan esok harinya. Pertanda akan beralihnya musim dingin ke panas.

Saya menunggu. Janji siang itu menemui pejabat di mahkamah, kantor pengadilan di Abu Dhabi. Siang itu melanjutkan mengurus manca-ragam berkas kudu dicabut untuk kasus Ziad Salim Zimah, 44 tahun, yang menghadang mengakibatkan dirinya 8 tahun tak bisa pulang, Jeda waktu saya gunakan shalat zuhur ke masjid terdekat dari KBRI. 

Beribadah di masjid-masjid kecil di Abu Dhabi, Persatuan Emirat Arab (PEA), menjadi pengalaman tersendiri. Saya memperhatikan mobil-mobil datang di parkir. Anda tinggal sebut merek? Di halaman masjid, seperti Bentley dua pintu, Porche 4 pintu keluaran teranyar, pemandangan biasa. Mereka cenderung memilih kelir putih. 

Tak satu pun masjid saya perhatikan menarok tromol atau kotak sumbangan uang. Urusan kebersihan masjid terjaga, termasuk kamar kecil tidak beraroma pesing. Namun menjadi tanya bagi saya, mengapa di Abu Dhabi, kebanyakan WC-nya jongkok, bukan duduk.

Saya menuju tempat wudu. Letaknya tak jauh dari sebatang pohon kurma. Tandan buah mulai mencigap. Di bawahnya deretan keran air agak ditinggikan dengan marmer. Saya membasuh tangan, muka. Begitu mengangkat kaki, seorang pekerja taman, pria asal India, menegur. Rupanya tempat wudu itu keran air minum. Tempat minum gratis bagi siapa saja.

“Hua ha ha ha,” tawa Ziad pecah.

Setelah tiga pekan di Abu Dhabi, bulak-balik ke kepolisian, ke mahkamah pengadilan, menemui beragam-langgam pejabat di PEA, mengenal karakter manusia berbagai bangsa, baru kali itulah saya melihat wajah Ziad geli kali. 

Saya malah menjadi begitu senang bisa membuat tertawa. Selama ini senyum dan tawa lepas seakan pergi dari wajah Ziad. Bisa dimaklumi waktu 8 tahun yang menganjar jantung bergetar, membuat wajahnya jadi nanar. Ia dihantui beragam persoalan mendera, tak tahu awal pangkal dan akhir masalah berakhir.

“Jika kurma ini berbuah, setiap orang boleh mengambil untuk dimakan,” tutur Ziad. Sudah bisa bunyi Ziad, bagaikan Emirati – – orang Emirat .Pohon kurma memang mendominasi trotoar dan ruas jalan di seputar Abu Dhabi. Bisa dibayangkan jika semuanya matang dan harus dipanen, melimpah buah. 

Di saat melangkahkan kaki kembali ke KBRI, beberapa rumah yang lahan terkecilnya seperempat lapangan bola kaki, di sebelah kanan jalan, saya amati juga menyediakan keran minum di kiri gerbang masuknya. Letaknya ditarok di bawah pohon-pohon kurma yang mereka tanam di halaman. 

Seorang bapak tua tampak memacul, membuat gembur tanah ke sepokok pisang yang tumbuh hijau. Di sebelah kakinya saya perhatikan ada serumpun serai menghijau, juga daun ruku-ruku, sejenis kemangi berbatang keras, di Jakarta saja langka.Di kampung saya, Sumbar, kami menjadikan ruku-ruku bumbu memasak gulai kepala ikan. Melihat tanaman itu, tanah kelahiran serasa kental dalam kejapan.

Di dalam keadaan udara berkabut debu menyaput, pukul 14 itu, dengan ditemani oleh Amin Appa, pria asal Bugis, staf lokal bagian Konsuler, KBRI, beristerikan wanita Bosnia, sudah terbilang kali menemani kami menuju mahkamah setengah jam bermobil dari KBRI.

Bangunan mahkamah itu bundar. Dulu, konon bangunan tua, melingkar macam koloseum di kota Roma. Namun bagian tengah ada taman kosong, Segala urusan, pengadilan, digelar di ruang-ruang mengeliling. 

Di saat saya di Abu Dhabi, bangunan itu dalam tahap penyelesaian akhir renovasi total. Bagian atapnya kini berkubah kaca yang diberi ornamen bak kaca pateri raksasa berbentuk melati. Seluruh lantai sudah bergranit, dinding ber-alukubon – – bahan aluminium tebal dicat duko, banyak juga dipakai untuk gedung-gedung baru, untuk mendapatkan kesan post modern. Di bagian tengah grand lobby kini sebuah air mancur indoor terus menyemburkan air..

Di grand lobby mahkamah yang macam hotel berbintang lima itu, sudah ada satu cafe. Sepekan lalu cafe itu belum siap melayani pembeli. Hari itu karena sosok yang harus kami cari belum muncul, segelas cappuccino menemani. Harganya 15 dirham, setara dengan Rp 32.500, sama dengan harga segelas kopi di mall di Jakarta. Kopi bertajuk Java Mocca, dibandrol di harga sama.

Berurusan dengan dengan pihak investigator di kepolisian, para kadi di pengadilan, bagian data dan sekretariat, kebanyakan waktu kami habis menunggu. Seperti hari itu. Ada sosok yang sudah sebelas kali kami temui. Konon di mejanya sebuah berkas kasus Ziad tertimbun. 

Data perkara di lima tahun terakhir di PEA, kini semuanya sudah mengacu ke online system. Mulai dari kepolisiaan, pengadilan, imigrasi, semuanya tinggal pencet enter di komputer. Celakanya sebagian kasus yang membuat Ziad berurusan di pengadilan, terjadi pada 2002 di era manual. Sehingga harus diurut satu-satu, berkas per berkas, helai per helai.

Tersebutlah satu kadi keturunan Palestina. Sebut saja namanya Ahmad. Berkali-kali kami bulak-balik ke ruangannya, menanyakan berkas Ziad. Ia selalu bilang tak ada. Hingga datang di hitungan kunjungan ke-13, entah kebetulan atau memang angka 13 sakti, Ahmad baru terperanjat, dan mengambil map di bagian bawah lacinya.

“Iya, tapi kamu harus membayar US $ 500 ribu,” ujar Ahmad.

Wajah Ziad pucat.

Ahmad menakut-nakuti Ziad, sambil sudut mata jahilnya mengedip ke saya.

Dan di urusan mencabut berkas itu, selain harus bertemu prosecutor, bulak-balik lagi ke head prosecutor.

“Walaupun sudah dicabut pelapor, mereka masih melihat lagi apakah ada masalah hak negara yang dilanggar,” ujar Amin Appa.

Maka, tak mudah memang mengurus kasus hukum. Hal itu bukan saja di PEA, di hampir semua negara di dunia agaknya demikian. Lebih repot prosecutor yang menangani kasus Ziad, di Kamis itu masuk di petang hari.

Sang prosecutor harus menyidang banyak perkara. Mulai dari kasus pengeroyokan hingga kekerasan keluarga. Seperti petang itu, ada 9 orang pria Filipina tampak duduk dirantai kakinya menunggu. Mereka harus diinterogasi satu-satu. Maka kami harus menunggu di lobby, hingga pukul 21, malam. 

Begitu berkesempatan masuk ke ruang prosecutor, kalimatnya singkat saja, tolong kembali Minggu. Padahal Jumat dan Sabtu di PEA libur. Kenyataan inilah yang membuat urusan menjadi lama di PEA. Bisa dimaklumi, bila pihak KBRI terkesan butuh waktu panjang menghadapi birokrasi demikian. Waktu mereka tersita, terutama terutama mengurus TKW. 

Jika mengurus satu kasus Ziad, menghadapi kenyataan macam di atas, membubutuhkan waktu dan energi khusus. Selama ini tidak diurus fokus, apalagi penyelesaian sengketa keluarga belum ada tanda-tanda nyata, sehingga tidak pernah tuntas persoalan jadinya. 

Dari pengalaman bulak-balik ke kepolisian dan mahkamah di PEA, saya menemukan premis dasar, hampir tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan dengan komunikasi.. Kami malam itu, dengan hati agak kecewa, balik ke KBRI.

USAI JUMATAN, siang keesokan harinya. Saya dan Ziad baru saja melangkah ke luar dari arah dalam masjid Syeh Zayed. Masjid ini ketiga terbesar di dunia, setelah Masjidil Haram, Mekah, dan Masjid Nabawi, Medinah. Agaknya menjadi salah satu masjid terindah di dunia. Di grand lobby dominan berbatu granit putih masif impor Italia. Seluruh ornamen ukiran berpahatan granit putih, semacam white on white. Beragam lekukan bunga, semuanya dibuat bergranit rumit. Di saat saya berceloteh ke Ziad, seorang pria menepuk pundak saya.

“Mas Iwan Piliang ya?”

Saya melongo, kok ada yang menyapa?

“Saya Hari Kurniawan. Saya bekerja di Iran, lagi liburan ke mari. Saya menonton Mas di Youtube, yang lagi berdebat sama Roy Suryo, “ ujar Hari pula, “Saya dengar suara Mas, teringat saya ke rekaman di Metro TV itu..”

Seketika bulu di lengan saya merinding. Mengingat di tengah jamaah Jumat yang lebih dari 40 ribu orang, di negeri orang, disapa orang . Ini salah satu link yang dimaksud Hari:http://www.youtube.com/watch?v=671V7_Vm2NA

Kami berbincang sebentar tentang Iran. Saya katakan di Dubai ada Dubai Village (DB), kawasan pameran semacam Jakarta Fair. DB berlangsung tiga bulan setiap tahun – – Desember – Februari. Saya terkesima dengan produk Iran di DB. Mereka mengisi stand pameran dengan tema makanan, manisan dan aneka kue kering. Terbayang di benak saya kue kering Nastar yang berisi nenas khas Nusantara pasti laku di sana. 

Satu dua toko karpet anyaman maha karya Persia mengusik mata saya. Motifnya bunga, dan siluet gadis menari perut dengan gradasi tekstur 3 dimensi berbahan wol dan katun, dijual seharga Rp 80 juta selembar, berukuran sajadah. Agak menjadi tanya di benak saya, mengapa ada lukisan siluet wanita, bukan kepercayaan Iran tak mengenal orang divisualkan. Saya teringat akan penulis Jeffry Archer di buku novelnya, secara gamblang bilang bahwa permadani buatan tangan asli, hanyalah berornamen bunga, macam di dalam masjid, atau ukiran lain.

Permadani di Masjid Syeh Zayed tercatat sebagai ambal buatan tangan terbesar di dunia, tanpa sambungan.. Ambal itu secara khusus didatangkan dari Iran dan didesain khusus oleh seniman terkemuka, Ali Khaliqi. Luas ambal yang dipasang di mencapai 5.627 meter, lebih setengah lapangan bola, mencapai 47 ton: 35 ton wol dan 12 ton kapas.

Suasana stand Iran di Dubai Village itu beda sekali dengan stand pameran Indonesia, yang tak memiliki tema. Sudahlah ukurannya kecil, kalah dengan stand Nepal di sebelahnya persis. Kalah besar dari Vietnam dan Ruwanda, Afrika. Di stand Iran itulah, pertama hayat saya memakan buah delima yang bijinya empuk, manis gula, merah menyala. 

Saya teringat kalimat Wihid Supriyadi, Dubes RI di PEA. “Lihat stand Cina di Dubai Village, permanen, besar,” tutur Wahid pula, “Saya tanya Dubes Cina, itu bukan sang Dubes yang urus, pemerintah pusat Cina dan swasta langsung inisiatif.”

Stand pameran Cina yang mencapai 6.000 meter di Dubai Village itu, tidak seberapa besar jika dibandingkan dengan trading house maksi bertajuk Dragon Mart yang dibangun Cina di Dubai. Panjangnya 1,5 km. Di dalamnya ada 4.390 toko; satu toko ada yang mengambil luas setengah lapangan bola. Pemerintah Cina sangat paham bahwa Dubai, salah satu kota dari 7 kota di PEA, merupakan hub barang merambah Timur Tengah dan Asia Selatan, seperti Iran. Anda sebut saja produk apa? Semua ada. Maka saya melihat inilah ekspansi produk Cina tak berkira.

Makanan Khas Iran lain, gulali putih kapas berorama vanilla dan susu. Saya membeli 6 bungkus ketika untuk tiga kali ke Dubai, masing-masing 10 Dirham sebungkus. Ingin rasanya belajar membuat gulali putih kapas manis dan harum, lembut ditekan..

Di festival Film Iran di Jakarta pada September 2009, yang diprakarsai oleh Parfi yang dipimpin oleh Jenny Rahaman, saya mendapatkan kesan kemajuan Iran. Di saat rehat minum kopi, saya sempat berkenalan dengan seorang yang menjadi perwakilan penerbangan Iran yang akan beroperasi terbang langsung dari Taheran ke Jakarta di akhir kwartal I 2010 ini. Hebatnya penerbangan itu seluruh tempat duduk pesawat untuk business class, tak ada kelas ekonomi. Konon orang Iran mara ke manca negara, selalu berusaha mendapatkan pelayanan kelas satu. Itu artinya rakyat Iran kini memiliki daya beli tinggi.

“Iya, Iran maju. Liputan media barat saja yang memojokkan seolah Iran rusuh, tidak berkembang demokrasinya,” tutur Hari, karyawan Slhumberger di Taheran.

Bangga hati mendengar Hari yang bekerja di perusahaan kontraktor Migas itu. Tentulah pendapatannya US $, antara bumi dan langit dibanding TKW yang hampir semuanya bermasalah. Macam di Oman, TKW Indonesia melekat dengan citra perempuan babu, murahan, gampang dilecehkan dan, maaf, mudah digauli.

Seketika ingatan saya melayang kepada penggalan catatan sejarah. Saat Raja Khalid dari Arab Saudi berkunjung ke Pakistan. Ia mengharapkan dari Presiden Pakistan saat itu, Jendral Zia ul-Haq, agar Pakistan mengirim tenaga kerja untuk memasok kebutuhan tenaga kerja di Saudi Arabia. Zia ul-Haq menyanggupi, tapi dengan tegas menyatakan, “Jangan pernah meminta kami mengirim wanita. Kami tidak yakin kami bisa melindungi kehormatan wanita kami di sana”.

Kita jangankan melindungi, seperti saya temuai di PEA anak ingusan yang belum tahu apa arti diperkosa, apa arti hubungan badan, dikirim juga oleh negara kita, sebagaimana sudah saya tulisakan di Sketsa PEA II. Sebagaimana di banyak ranah kehidupan kini, indikasi urat malu bangsa seakan putus: sehingga tak malu-malu mengirim babu. 

Padahal pendapatan devisa dari TKI total di luar negeri 2009 lalu hanya Rp 59,5 triliun, bandingkan dengan indikasi korupsi pajak, terutama transfer pricing yang angkanya bisa membuat mata Anda terbelalak, bisa mencapai Rp 1.000 triliun setahun, tidak terurus. Pangadilan pajak di Gedung Dhanapala, Depkeu Lantai 9, terindikasi “main-main”.

Saya jabat tangan Hari, mendoakannya kian sukses lagi di negeri orang, sehingga memberi citra positif bangsa, tidak macam laku pejabat di Depnaker dan di BNP2TKI, juga para PJTKI, cuma tahunya mengirim sebanyak-banyaknya TKW, tanpa mempedulikan hajat hidup manusia yang mereka kirim. 

Di mana di ujung-ujungnya kerepotandan kesusahan di tangan para diplomat di manca negara: Mereka dibiayai mahal oleh negara seakan dipaksa berkutat mengurus galebeh-tebeh TKW yang jumlah kasusnya ribuan tiap tahun. Maka di Sketsa PEA sebelumnya sudah saya tuliskan, lebih banyak mudaratnya mengirim TKW bekerja ke luar negeri.

Kami melangkah menuruni tangga masjid sebelah barat. Deretan pilar-pilar dan menara setinggi 115 meter tampak di empat sudut. Di setiap pilar itu ada guratan ornamen bunga, macam di pilar-pilar putih granit masif di dalam masjid, berderet-deret ditempeli kulit tiram mutiara langka. Konon PEA, sebelum tercatat sebagai negara terbesar pengekspor minyak, penduduknya bermata pencaharian mencari mutiara di samudera lepas.

Jumlah kubah masjid 57 buah, menaungi halaman dalam dan gedung utama. Masjid Syeh Zayed juga dihiasi tujuh lampu berlapis emas dan tembaga, kristal merah, hijau dan emas, buatan Swarovsky. Ketujuh lampu itu secara khusus didatangkan dari Jerman. 

Kandil Kristal terbesar berdiameter 10 meter dan tinggi 15 meter.Halaman masjid dilapisi granit berdesain motif bunga dan ukurannya mencapaii satu tiga perempat lapangan bola. Ruang terbuka akan dilewati pengunjung jika mereka mengambil wudu. Di salah satu pojok, turun ke bawah menggunakan eskalator. Seluruh tempat wudu juga terbuat dari granit Italia kelas satu. Ketika kita naik dari tempat wudu menatap ke atap kubah, kalah megah rasanya ballroom hotel bintang lima di Jakarta.

Di depan saya seorang turis Jepang tampak berfoto. Turis perempuan mengenakan abaya, baju terusan hitam, yang mesti dipakai turis perempuan, dapat diambil di bagian depan. Segenap pengunjung dari agama dan kepercayaan apapun boleh masuk di saat jam interval shalat. Jika hendak meninggalkan masjid, perempuan pemimjam abaya itu, tinggal menggantungkan kembali ke trolly, macam di hotel bintang lima, untuk kemudian masuk ke tempat laundry di masjid itu.

Saya teruingat ketika masuk ke gereja Saint Peter Basilika, Kota Vatikan, Roma, Italia, pada medio 90-an. Di Vatikan manusia dari bergam agama juga boleh ke sana. Saya masih ingat turut pula memegang jari kaki patung besi Simon Petrus. Lekuk jari kakinya menjadi rata, karena kebanyakan dipegang pengunjung. Di Masjid Syeh Zayed, karena tak ada patung yang bisa dipegang, umumnya turis saya lihat ahanya berdecak kagum macam suara cicak.

Tanaman hijau, kurma, dan kolam-kolam air panjang dan lebar di halaman masjid. Kaki saya melangkah menuruni tangga ke makam Syah Zayed di samping masjid. Suara hafiz Al Quran melantunkan ayat-ayat Al Quran dengan speaker buatan Beng Olufsen. Tidak macam di Indonesia, banyak yang duduk mengaji berzikir di seputar makam, di sana publik hanya mampir sekejap, lalu pergi berjalan gontai.

Saya tatap tanah kuning di atas pusara granit putih, senada dengan seluruh granit putih masjid. Saya teringat akan komentar banyak warga PEA tentang sosok yang di makamkan di sana, Syeh Zayed bin Sultan Al Nahyan, dicintai rakyat, karena membela dan berjuang mensejahterakaan rakyatnya. 

Di samping makam, saya tertunduk memanjatkan doa: Ya Allah, semoga pemimpin di Indonesia, dapat menauladani Syeh Zayed, memahami bahwa kekayaan materi harus mengalir mensejahtrerakan rakyat. Amin. 

Saya tengadah, tampak Ziad masih takzim berdiri. Entah doa apa yang ia panjatkan, namun kuat dugaan saya kala itu: semoga Allah memudahkan dirinya cepat pulang bertemu ibundanya tercinta. *** (bersambung)

Iwan Piliang, blog-presstalk.com, literary citizen reporter, blog-presstalk.com, 8 Maret 2010