Tag

Image

Sungguh sangat tidak cocok untuk melabelkan saya sebagai si Malin Kundang seperti cemooh orang yang mengomentari tulisan soal ziarah kemarin ini.Semua orang tahu Malin Kundang itu durhaka terhadap ibunya sendiri. Sebaliknya saya justru dekat, menerima, hormat bahkan cenderung memuja ibu setengah mati. Maling Kundang malu dengan status dia yang jadi orang gedean berhadapan dengan ibunya yang nampak miskin dan hina dina. Sebaliknya tahun tahun awal saya migran ke Amerika, dengan sekuat tenaga saya mencoba membantu ibu yang status finansialnya saat itu sedang megap megap di Jakarta.Sungguh, tidak ada hubungan antara murtad dengan durhaka pada orang tua. Cuma saja, jika mama saya masih hidup jelas akan saya sembunyikan kemurtadan ini dalam diri sendir sekedar untuk menjaga perasaan dia. Agar dia tidak sedih. Agar dia tidak merasa anaknya bakalan masuk neraka.

Tapi jika saya memang Malin Kundang, pembangkangan saya sangat jelas arahnya ke mana.Saya adalah Malin Kundang pada paham paham usang. Dogma dogma stagnan. Ceramah ceramah para hipokrit. Saya bukanlah orang yang antikemapanan, tapi antikebebalan. Kebebalan dari orang orang yang merasa bahwa kepercayaannya adalah kepercayaan yang paling solid dan diterima pemilik bumi dan langit.Saya tidak rela hidup yang begini pendek dan berharga distir oleh para manipulator yang merapal jampi jampi dalam bahasa asing yang susah dimengerti. Saya tidak bersedia untuk tunduk dan patuh pada ajaran yang memiliki dualisme edan. Dalam satu hal meneriakan kedamaian, tapi dilain hal menyimpan begitu banyak kebrutalan.

Tentang tuduhan lainnya bahwa saya sombong, statemen ini juga tidak mendekati kebenaran sama sekali.
Bisa saja saya memang narsis, tapi narsis dan sombong itu jelas dua hal yang berbeda. Dan seorang narsis jika masih memiliki dosis kecil, jelas biasanya adalah orang yang lebih berguna dan enak diajak bergaul dari pada para manusia minderan yang selalu merasa tidak punya harga. Jadi julukan yang lebih tepat buat saya mungkin adalah sang Malin Kundang Narsis yang sangat rendah hati.

Saya adalah anak durhaka yang bahagia denga kedurhakaannya. Saya adalah burung yang telah lepas dari sangkar kepercayaan yang primitif. Idealnya memang kalau saya mengajak anda terbang bebas bersama, termasuk anda yang mengomentari saya sebagai Malin Kundang tidak berharga. Tapi saya maklum, sampeyan mungkin takut untuk hidup bebas serta lebih memilih untuk hidup aman dalam kesempitan. Saya tidak bisa menyalahkan sampeyan. Ketakutan itu bisa dimengerti. Karena memang cuma mahluk yang punya independensi dan kepercayaan diri tinggi saja yang berani mengepakan sayapnya dan terbang melesat keluar dari kungkungan penjara dogmatism.Yah Itu mungkin terlalu berat buat anda.

Kini agar kelihatan berharga, saya cuma bisa berpura pura mengajak anda durhaka. Tidak mesti melulu kepada agama. Saya ingin anda belajar menjadi Malin Kundang terhadap hal hal kecil yang seperti ketidak adilan yang anda lihat disekitar anda. Misalnya anda protes terhadap kesewenang wenangan pengurus parkir di segala mall di Bandung dan Jakarta yang rencananya mau menaikan tarif 100 persen.
Atau pada kenapa tiap kali kencing harus keluar duit 1000 perak di Indonesia? Saya kira ini adalah bentuk lain dari kolonialisme orang kaya terhadap orang awam seperti kita kita.

Saya ingin anda menjadi Malin Kundang memprotes jumlah gaji karyawan Mc Donald di Indonesia.
Atau segala franchise baik dari Amerika atau dari Eropa. Mereka adalah para lintah darat yang menyedot keuntungan sebesar besarnya sambil memberikan gaji seminim minimnya buat orang orang kita. Sebab jika membiarkan tragedy ini terus berlangsung, dalam 20 tahun ke depan, Indonesia akan memiliki kans besar untuk nampak seperti sebuah ghetto maha raksasa -tempat para pemulung mengkais kais rejeki dari pembuangan sampah menjijikan para elit dan penggede. Saya tebak anda paham soal satu ini.

Tidak kalah pentingnya saya ingin sampeyan mendurhakai Megawati dan keluarganya. Cukup sudah kita pernah kecolongan memiliki presiden yang IQnya lebih rendah dari ketua arisan di Bale Endah yang sering kebanjiran di Bandung Selatan. Jangan lupa sampeyan harus lebih kritis atas naiknya lingkar pinggang seorang pemimpin. Semakin naik badan dan menggendut perut seorang presiden, semakin harus dicurigai dari mana komposisi lemak kemakmuran yang dia dapat. Saya kasih perbandinga- hampir semua presiden Amerika itu potongan badannya langsing dari saat dia menjadi presiden sampai masa jabatannya berakhir. Dan hampir semuanya tidak punya rapot jelek soal korupsi. Jangan bilang ini pada pak SBY atau Taufik Kemas.. entar saya bisa dicekal tidak bisa masuk Indonesia selamanya..

Sampeyan harus buang sifat apriori terhadap Malin Kundang. Tidak selamanya durhaka itu adalah hal yang buruk. Selama sampeyan menghormati orang tua, di luar itu anda harus berani durhaka. Jika sampeyan cina, sampeyan berani durhaka dan menghujat terhadap kelakuan etnis sampeyan sendiri yang misalnya tiap kali menjadi bankir, selalu nyolong dan mangkir. Jika sampeyan keturunan arab, sampeyan berani membangkang dan memprotes atas usaha arabisasi budaya kita yang diimport atas nama agama.Jika sampeyan seorang Jawa, sampeyan berani bentak kenapa orang padang yang jualan gudeg, dan kenapa rasanya malah mirip gule nangka yang sudah berumur 5 bulan? Jika sampeyan Islam beranilah untuk mengakui agama sampeyan perlu usaha dekonstruksi. Atau jika anda kristen, sampeyan tidak segan untuk menanyakan dari mana duit pendeta sampeyan dapat sampe bisa jalan jalan ke Eropa dengan gampangnya, dan kenapa gereja sampeyan lebih mewah dari pada selusin rumah di Pondok Indah?

Sebagai Malin Kundang, saya pernah behenti dan melompat dari taksi tepat di bunderan HI. Penasaran ingin melihat ratusan Malin Kundang demo melakukan pembangkangan terhadap kelakuan pemerintah RI. Betapa bangganya melihat mereka di sana. Tertib, teratur dan sebagian besar meneriakan yel yel gagah perkasa. Sebagian kecil lainnya melakukan orasi bagai Kennedy.

Tanpa Malin Kundang, revolusi tidak akan pernah lahir. Orde baru akan susah mati. Orang masih percaya bahwa bumi ini datar. Dan Megawati tetap langgeng sebagai presiden sampai sekarang..

Kalau ini terjadi, semua itu bakalan menyedihkan saya dan membuat saya ingin ziarah lagi, tapi kali ini saya ziarah sekaligus berkabung buat sampeyan dan negara sampeyan yang bernama Indonesia. Karena terus terang saja saya kira hati dan mental sampeyan yang bebal mungkin seperti tragedy di cerita Malin Kundang asal padang, sudah dikutuk Tuhan menjadi batu…

February 20, 2010

Habe si Malin Kundang