Tahun 2007 lalu, 2 orang dosen dari Kanada berkunjung ke Aceh. usai memberikan kuliah, mereka ingin sekali melihat mesjid raya Baiturrahman dari dekat. Saya membawa mereka kesana. Dalam pikiranku, mereka pasti tidak akan diapa-apakan oleh satpam yang ada di mesjid raya. Jadi, setelah membawa mereka ke pantai Lho’nga saya bawa mereka berdua kesana.

Tapi, saat dipintu masuk yang ada didepan mesjid, seorang satpam datang dan melarang mereka masuk karena mereka tidak berjilbab. Salah seorang dari mereka diizinkan masuk karena membawa selendang, sedangkan dosenku,yang orangtuanya kelahiran Armenia, tidak membawa selendang sehingga tidak diizinkan masuk.

Saya betul-betul kaget, karena sebelumnya saya juga pernah membawa 2 orang laki-laki jerman dan 1 orang perempuan jerman (tidak berjilbab) ke mesjid raya dan mereka 'tidak diusir". saya fikir bahwa, jika orang asing, meski tidak berjilbab asalkan berpakaian sopan akan diizinkan masuk. Tapi ternyata ini tidak terjadi. Teman yang diizinkan masuk tadi tidak ingin masuk karena temannya yang satu tidak boleh masuk.

Akhirnya dengan rasa menyesal kami pulang dan kedua dosen saya tadi tidak dapat masuk kedalam mesjid, meski dosen yang ibu bapaknya orang Armenia tadi ingin sekali masuk. Keluarga kedua orangtuanya adalah muslim, jadi sebagai orang yang pernah menjadi muslim, dosen ini tadi ingin sekali melihat mesjid. Sayangnya, hanya karena tidak berjilbab, dosenku tadi tidak bisa masuk kemesjid Baiturrahman.

Setahun kemudian, Tuhan mengizinkan beliau (dosen yang keturunan Armenia muslim) untuk datang lagi ke Aceh. Katanya cita-citanya adalah untuk dapat mengunjungi mesjid Raya Baiturrahman. Akibat kejadian buruk setahun lalu, beliau tidak pernah melepaskan selendang selama di Aceh. Dan karena salah satu tujuannya adalah untuk mengunjugi mesjid raya, maka saya membawa beliau berkunjung(kembali) kemesjid tersebut.

Dosen ini datang bersama temannya yang lain, tapi masih berkewarganegaraan Canada juga. Saat mendekati mesjid, dosen yang keturunan Armenia tadi langsung menyampirkan selendangnya dikepala dan melilitkannya dileher. Temannya mengikuti cara beliau.

Karena sudah sampai waktu magrib, saya shalat magrib di dalam mesjid. Beliau bertanya apakah mereka berdua boleh masuk mesjid. saya tidak berani berkata tidak boleh, karena saya tahu mereka ingin sekali melihat hingga kedalam mesjid. Lalu saya katakan boleh saja, toh mereka sudah menggunakan selendang. Dalam hatiku semoga saja mereka tidak diusir satpam mesjid raya, mengingat pengalaman buruk tahun lalu. Alhamdulillah, tidak ada yang mengusir mereka, hanya ada beberapa orang yang memperhatikan mereka. mungkin merasa aneh melihat bule berselendang masuk mesjid.

Ternyata…. saat saya selesai shalat, saya lihat bagaimana dosenku yang orang Armenia ini duduk dan berdo’a dengan khusu’nya. saya bisa mrasakan bagimana ikhlasnya beliau berdo’a didalam mesjid. Berbeda dengan dosen yang satu lagi, yang hanya masuk dan melihat-lihat, tidak duduk dan berdo’a seperti yang dilakukan oleh dosen yang satu tadi.

saya fikir apa yang dirasakan oleh dosenku yang orang Armenia tadi, saya rasakan juga saat berkunjung ke kuil Hindu di Singapore, juga saat berada di kuil Budha di Thailand, bahkan di gereja di Adelaide ini. Betapa aura Tuhan itu ada dimana-mana. Di kuil, dikelenteng, di gereja,juga dimesjid. Terserah bagaimana kita mengekspresikan perasaan beragama kita itu.

Saya fikir, tidak ada orang yang bisa melarang kita untuk mengekspresikan cara beragama kita. Kita bisa melakukannya dimana saja. saya tersentuh melihat bagaimana dosenku tadi begitu khusu’nya berdo’a, meski itu bukan didalam gereja.

saya dan dosen tadi telah mengekspresikan keberagamaan kami ditempat yang berbeda. Semoga saya dan dosen tadi tidak dikutuk murtad oleh jemaat kami masing-masing.