Tilpun rumah sejak sore terus-menerus berdenging.
Cikeas-kah?

Ndak mungkin.
Walau katanya musim rambutan kali ini akan diselingi musim resapel, tapi kalaupun konon itu menjadi kenyataan, Cikeas pasti ndak akan nilpun ke rumah saya. Pasalnya memang jaringan telpun rumah secara ghoib sudah saya pagari dengan kalimat sakti, "Ndak terima angon kebo, apalagi kambing hitam". (Catatan Admin: Gambar dari @Tampah Mbois)

Jadi memang bukan dari Cikeas, tapi ndak kalah heboh karena dengingnya ternyata membawa berita soal Keraton. Yogyakarta? Yak tul tepat sekali seratus buat cuplis.

Sayang nak cuplis harus dihukum bayar seratus karena salah menebak kabar heboh yang dibawa denging sang tilpun. Jangankan si Cuplis. Terus terang saya saja terbengong-bengong hampir tanpa melolong-lolong selama hampir sepeminuman teh ketika mendengar kabar hebohnya.

Yogya akan menjadi Serambi Yerusalem!

Hwaduh.
Pigimana ceritanya coba. Bagaimana bisa, Yogyakarta, kota yang jadi salah satu kota teratas dalam daftar kota penting di Indonesia, kok tiba-tiba akan diberi label yang nggak Indonesia banget, dan pastinya nggak Yogya banget.

Emang apa urusannya dengan Yerusalem?
Selidik punya selidik, berdenging-denging kemudian suara nun jauh di sana itu memberikan rincian beritanya.

O la la.

Ternyata karakteristik Yogyakarta yang kental dengan toleransi dianggap punya kesamaan dengan Yerusalem di masa kota itu dikuasai Salahuddin Al-Ayubbi dimana orang Islam, Kristen, dan Yahudi dapat beribadat tanpa adanya gangguan.

Selain itu, ada pula dikatakan fakta historis Yogya sebagai pusat pemerintahan, baik Jawa (Keraton) maupun pusat pemerintahan Indonesia (saat pemerintahan RI hijrah dari jakarta ke Yogyakarta Januari 1946), dan juga secara faktual Yogya merupakan pusat budaya dan pusat pendidikan yang penting untuk Indonesia, serta tentu saja menjadi salah satu kota yang pernah menjadi pusat / titik penting berbagai agama.

Ini katanya serupa dengan fakta historik Yerusalem itu sebagai pusat/kota penting bagi agama Yahudi, Nasrani/Kristen-Khatolik dan Islam.

Seperti menurut tradisi Yahudi, Yerusalem dipercaya didirikan oleh Shem dan Eber, nenek moyang Abraham (Ibrahim dalam literatur Islam) yang berarti di sini menjadi titik awal keberadaan, penyebarluasan dan pengajaran agama-agama yang berakar pada Ibrahim (Yahudi, Nasrani/Kristen-Khatolik dan Islam), maka meski ndak persis, tapi faktor sebagai tempat cikal bakal pengajaran yang lebih luas nyatanya memang mirip-mirip dengan keberadaan Universitas Islam Indonesia (Universitas Islam Pertama dan Satu-satunya di Indonesia pada saat tahun 1946), Perguruan Kanisius, dan tentu saja Candi terkenal yang berada di sekitar kawasan Yogya.

Pokoknya, menurut pemilik suara yang berdenging-denging itu, fakta-fakta historikal Yerusalem ini cocok benar dengan karakter Yogya. Pusat hal-hal penting, penuh toleransi, dan sebagaimana Yerusalem di jaman Dinasti Ayyubiyyah Saladin, karakter Yogya sebagai target wisata juga mencerminkan semangat investasi dan kemajuan perekonomian.

Pokoknya lagi, si pemilik suara denging itu sudah mantep banget kalau Yogya sungguh pantas dan karenanya layak untuk segera menjadi Serambi Yerusalem.

* * *

Sampeyan bengong bukan?

Jangan kata sampeyan. Si cuplis aja bengong dibuatnya.
Ndak habis pikir bukan?

Bagaimana dengan pertimbangan Yerusalem di masa kini menjadi wilayah yang dikuasai militer Israel, yang notabene tidak akan menimbulkan rasa simpati bagi penduduk Yogya yang muslim?

Bagaimana dengan pertimbangan kemungkinan muslim Yogya akan tersinggung nantinya kalau nama Yogya dilekatkan dengan Yerusalem, yang terus terang saja jauh lebih kental nuansa Kristianinya ketimbang Islamnya?

Mosok sih ndak dipertimbangkan bahwa hal-hal seperti itu bisa menimbulkan rasa ndak nyaman di kalangan penduduk Yogya yang tidak akrab dengan Yerusalem?

Haiya. Memang wutul kalau secara historis jaman Salladin itu Yerusalem begini begitu, atau bahkan memang betul bahwa Yerusalem adalah salah tiga kota penting dalam khazanah sejarah Islam setelah Mekkah dan Medinah, karena bahkan kiblat muslimpun berawal ke kota ini.

Tapi itu kan doloooooo banget dot com judulnya.
Sekarang?

Yerusalem jelas tidak lagi identik dengan citra kesetaraan, atau pluralisme yang un sich ich liebe dich. Potret keemasaan Yerusalem di masa lalu, tidak lagi terlihat demikian. Bahkan mungkin potretnya buram. Atau setidaknya berwarna selingkuhan alias sephia.

Jadi sungguh ndak habis pikir saya dengan cerita yang berdenging-denging itu.
Memang tujuan boleh bagus. Tapi mbok ya dipertimbangken. Kalau hanya menyebabkan adanya silang sengketa di antara penduduk Yogya yang plural, kenapa sih harus dipaksaken pakai Serambi Yerusalem segala?

Memang sih penamaan Serambi Yerusalem bisa jadi hanya label, yang justru memotret pluralisme dan bukan diem-diem menyasar pemberlakuan Hukum Yahudi, atau Hukum Kristiani atau Hukum Islam di wilayah Yogya. Tapi namanya juga pake ganti-ganti nama, dan nama kotanya berdekatan dengan nuansa agam tertentu, wajar dong kalau muslimnya jadi agak khawatir nanti di wilayah Yogya akan diberlakukan syariat agama yang bertentangan dengan agamanya. Bukankah pengalaman sudah menunjukkan begitu?

Memang juga untuk umat Kristiani tentu saja hukum Kristen akan dianggap terbaik. Karena pasti begitupula yang terjadi pada ummat Budha, atau Yahudi, atau tentu pula Islam. Masing-masing akan menganggap Hukum Syariat agamanya yang terbaik. Tapi konsekuensinya tentu saja jelas. Bagi pemeluk agama islam, hukum kristiani itu jelas ndak cocok untuk diterapkan di kalangan muslim, dan tentu pula sebaliknya.

Jadi kekhawatiran tertentu yang mungkin muncul di kalangan muslim Yogya kalau kota Yogya dijadikan Serambi Yerusalem, tentu sajasangat beralasan.

Lagipula kenapa ndak Serambi Indonesia Modern saja? Indonesia 2145 kek. Atau 2445.

Pokoknya menggambarkan semangat Yogya akan menjadi prototipe Indonesia masa depan. Yang demokratis, yang egaliter, penuh toleransi, ramah tamah, tapi juga kaya secara ekonomi dan punya potensi sumberdaya manusia yang yahud-yahud. Kan bisa dijadikan produk pariwisata juga. Kalau mau lihat Indonesia tahun 2145, ya silahkan ke Yogya. Yogya adalah serambi Indonesia di masa depan. Keren kan?

Bukan cuma keren, tapi yang paling penting : ndak nyaplok kota dari negara lain, ndak menimbulkan ketidaknyamanan pada sebagian rakyat Yogya yang tidak akrab dengan nuansa yang dibawa kota tersebut, tidak menimbulkan perpecahan yang ndak perlu, tidak menimbulkan kekhawatiran apapun dan tentu saja murni bernuansa semangat budaya keindonesiaan.

* * *

Rasanya saya makin lama makin pening, mikirin kabar berita yang dibawa suara berdenging-denging.

Untung ndak lama saya terjengkang jatuh dari kursi sampe terpelanting.

E… ladalah.
Mimpi asem.
Gara-gara ketiduran di depan komputer asik main reversi, mimpi jadi kewolak-walik begitu.
Segala denging nyamuk sinting saya kira telpon yang berdering-dering.

Untunglah cuma mimpi.
Alhamdulillah.
Mudah-mudahan beneran cuma mimpi. Yogya ndak akan jadi Serambi Yerusalem, Serambi New York, Serambi Peking, Paris, Tokyo, Toronto atau Serambi manapun.

Karena Yogya adalah Yogya.

Cukup itu saja, sudah layak untuk dicinta. (catatan admin: ingin tahu lebih banyak tentang heboh Yogya ini? Baca Yogya bukan serambi Medinah

Sentaby,
DBaonk