Kemaren, maharahja ceritanya ngumpulin mentri-mentrinya maen rapet-rapetan di Kabin.
Seperti juga kalo kita naek bis kota, namanya rapet-rapetan wajar lah kalau terjadi juga nainggol-nainggolan.

Mestinya wajar, tapi jadi terasa nggak wajar karena sang rahja main nainggol-nainggolan dengan mentrinya kok pake kaci disiarin dulu sama satu televisi suasta. Lucu tapi menyedihkan. Soalnya itu siaran yang dilabeli "breaking news" itu tiba-tiba berenti dan cuman sebatas nyiarin sang maharahja menyampaikan peringatan buat para mentrinya supaya kalo bikin aturan jangan asal, plus sekelumit dongeng sang maharahja bagaimana pemerentahan kudu punya perhatian sama keadilan dan kesejahteraan rakyat.

Kalau mau propaganda mbok ya modal dikit.
Beli jam tayang supaya siarannya lengkap gitu loh.

* * *

Tapi meski ndak modhal, dan Maharahja kita memang gak dapet nohbel, tapi layaklah kiranya mendapat (piala) Oscar. Jago bener aktingnya. Jago mainin media dan bergaya narsis di depan kamera.
Kereeeeen.

Soalnya tentu aja buat kita yang sering lupa, kalimat yang diucapkan dengan sungguh ho-oh "seolah-olah pemerintah ingin membatasi kebebasan, ingin mengatur lagi apa yang selama ini sudah menjadi domain dari hak warga, hak politik, kebebasan pers dan sebagainya." itu memang akan terasa seperti gumaman ngalindur bin omong kosong berbau nwepu belaka.

Kita soalnya tentu lupa-lupa ingat kalau itu Undang-Undang cInTE kira-kira lahir di tahun 1300-an Jaman Majapahit masih dipegang Gajah Mada.

Kita bahkan tentu saja lupa banget tentang Undang-undang ini, meski nyata-nyata telah memakan korban seorang emak-emak cuman gara-gara mengeluh pelayanan satu rumah sakit. Kita juga lupa kok bagaimana si ibu itu akhirnya ketempuan masuk bui sekian hari, harus menjalani sidang berbulan-bulan yang makan energi dan tentu aja perasaan beliau dan keluarganya terutama anak-anaknya yang masih belia.

Kasus ini sangat heboh dan sangat mudah dilupakan bagaimana seantero ibu-ibu-bapak-bapak dan para alay yang urun simpati akhirnya rame-rame melayangkan koin recehan mereka. Kita lupa karena itu duit emang nggak pernah dimasukin ke dalam kaus kaki lalu diujicobakan kelembamannya di jidat mereka-mereka yang bertanggung janab terhadap keluarnya UU cInTE serta mereka yang memanipulasi surat keluhan sang ibu sampe jadi suatu perkara hukum.

Kita juga lupa gimana si UU Cinte juga sudah memakan korban satu pelajar di bogor yang terancam masuk ke hotel prodeo gara-gara salah-salah kate di jaringan mukebuku. Atau kasus yang lebih mudah dilupakan lagi misalnya satu PNS di Sulut yang terancam dipecat cuma gara-gara dia mengkritisi pemerentah kota di blognya dan menyebut kata-kata "korupsi waktu".

Ngapain juga mengingat-ingat kasus satu Raja kecil yang gampang tersundut gara-gara tulisan kritik, lalu memilih melapurken tulisan itu ke Pak Poles dengan tuduhan pencemaran nama baek. Kita juga gak akan pernah bisa menelusuri kemungkinan sang Raja kecil terinspirasi seorang Raja yang punya tabiat sama, kuping tipis dan darahnya gampang bergolak kalau dikatain orang, karena Maharahjanya pasti dalam ingatan kita tidak demikian.

Jadi jelas dan terang buat kita, sebagaimana dimaksudkan sang maharahja bahwa pemerentahan Gajah Mada di jaman Majapahit dululah yang gemar membatasi kebebasan, doyan mengatur lagi apa yang selama ini sudah menjadi domain dari hak warga, hak politik, kebebasan pers dan sebagainya. Apakah anak anda cacingan Pemerentahan ini? Tentu tidak.

* * *

Kita memang sering terpesona dengan akting para sinetronias yang berkelas Oscar atau paling minimnya Citra.

Begitu sempurna aktingnya sampe penonton nggak sadar kalo menjuduli acara rapet-rapetan dengan kata-kata mewah Keadilan dan Kesejahteraan itu sejatinya menjadi bagian dari politik pencitraan, yang akibat komersialisasi dan industrialisasi panggung politik sekarang ini menyebabkan politika citra bin oscar begeto dianut sama pemerintahan Maharahja di negeri ini.

Gerah sama rongorongan PamanSus dan mengantisipasi Maknya si Zul nan mengerikan itu nongol, sang Maharaja tentu saja sangat perlu untuk mendekati rakyat-rakyat jelata dengan dongeng-dongeng penina bubu. Biar pada tersepona dan ilir-ilir ngantuk sehingga kalau Maknya si Zul nongol rakyat malah ngamuk karena lagi anteng mau moor kok ada yang bikin rusuh. Begeto kira-kira sekelumit kalo kita mau ngintip behind de scene-nya.

Aktingnya memang mudah membuat orang terpesona, apalagi kalau kita juga gampang lupa.

Kita kan ingetnya kejadian ada orang beli pesawat untuk kepentingan 1 orang di negara ini, dan menyedot duit rakyat 200 M yang sakbenernya bisa bermanfaat untuk kepentingan 200 juta orang itu, hanya terjadi di komik Dora Emon. Apakah anak anda cacingan Di negara ini? Tentu tidak.

Kita juga pasti lupa-lupa inget ada tukang tambal perahu bocor yang pake duit negara 6,7 T dengan alasan sistemik. Jadi boro-boro inget, analisis kalo tambalan itu sakbenernya ndak perlu-perlu amat karena yang bocor itu bagian yang tak membahayakan perahu. Apalagi curiga kalo alasan yang sebenarnya adalah ngasi makan tikus secara sistemik.

Kalo ga salah, kita pasti ingetnya kasus orang-orang yang dananya diselewengkan ke antaberantah dan sampe sekarang kagak diganti atau malah dianggap tidak pernah punya dana itu terjadinya di Bagian Belakang Pos Hansip Sebelah Kebon Haji Ening. Rt 014 Rw 207 Kecamatan Nigeria. Apakah anak anda cacingan Di negara ini? Tentu tidak.

* * *

Jadi jelas Maharahja kita memang Oscar kelasnya.
Patenlah. Kita harus berbangga karenanya.

Tapi pikir punya pikir, senggolan ke satu mentri dengan ngejeplakin soal rancangan aturan konten media internet itu rasanya bukan cuma pantas dianugerahi Oscar. Ini bukan cuma soal citra tentunya. Karena di saat yang sama ada Rancangan UU Nikah Sama si Riri yang juga jadi polemik di masyarakat tapi ndak disinggung secara detil.

Lha. Ada apa-ada apa?
Menurut kitab primbon sembilan-sembilan, ternyata bisa jadi ini tergolong manuver sakti mandrabotak sang maharahja.

Begitu sakti manuvernya sampe rakyat nggak sadar kalau ini tentunya terkait masalah Paman Susi Senturi. Dan rakyat namanya nggak sadar yang tentu aja nggak akan repot-repot bertanya apakah si menteri digenyeng-genyeng sebagai satu peringatan bagi partainya? Apakah kasus konten media ini sekaligus digunakan sebagai landasan argumen bahwa si menteri sudah tidak mengindahkan kontrak kerja dengan Maharahja, sudah tidak kapabel, dan kalau kemudian diresapel itu menjadi satu kondisi yang dapat dibenarkan? Namanya orang terpesona mana bisa menangkap itu sebagai sebuah ancaman.

Yang kita lihat tentu saja seorang Maharaja yang arif dan bijak. Mengingatkan pada anak buahnya, bahwa aturan yang sudah disusun sejak 2006 (dimana bagi yang pelupa artinya aturan itu ada di masa Jaka Tarub dulu) dan nyata-nyata berkait berkelindan dengan UU Cinte yang sepertinya diciptakan dijaman Sodom & Gomora itu, adalah tidak sesuai dengan kebijakan pemerintahannya yang tidak pernah ingin mengekang kebebasan rakyat dalam berkespresi, baik dengan kata, atau dengan katak, kebo, monyet atau internet.

Bwegitu arif dan bijaksananya sampe-sampe ngritik sang menteri dan menebarkan ancaman pada gerbong partai koalisinya dilakukan saat sang menteri justru ndak hadir di sidang kabined. Leadership yang sungguh sempurna. Tikamlah musuhmu saat dia meleng, atau lebih menguntungkan lagi, tikam saat dia ndak ada.

* * *

Rasanya kita memang mesti berbangga KALAU punya Maharahja dengan jurus demikian dahsyat. Sekalian menikam, sekalian menjala sanjungan dari rakyat yang gampang lupa dan gampang terpesona.

Kita memang pernah denger tuh sejarah sebuah pemerintahan Maharaja yang samar-samar malah kental dengan indikasi doyan mengadu domba satu kekuatan di negara ini dengan negara lain. Pernah katanya sang Maharahja naikkin bahan bakar tunggangan yang dipake rakyat, lalu kaum cerdik cendikia yang biasanya jadi motor penolakan kebijakan semacam itu tiba-tiba diguyur kompensasi duit bantuan garatis. Rakyat kebanyakan juga dikasih Buntelan Langsung Terima. Propagandanya tentu saja "untuk kompensasi dan mengurangi kesusahan rakyat", tapi dibalik itu tentu saja terindikasi pula kalau kebijakan demikian adalah upaya membenturkan satu bagian masyarakat dengan bagian masyarakat lainnya.

Kita juga pernah denger bagaimana ada Maharahja yang demen banget curhat. Dikit-dikit merespon secara reaktif hal-hal sepele yang beredar di masyarakat. Lalu menggunakan kekuasaannya terhadap media, menggunakan kekuasaan yang diberikan Tuhan padanya sebagai nara sumber terpercaya, untuk mempengaruhi opini masyarakat, sehingga demonstrasi yang nggak ada apa-apa ditunding sebagai makar, persaingan dalam pemilu ditunding sebagai perencana makar, pembunuhan dan laen sebagainya.

Tapi seinget kita, cerita Maharaja itu memang terjadinya di jaman Hanoman sama Sun Go Kong masih pinter ngomong dan sakti mandraguna. Jadi kalau bukan raja Alengka, pasti itu hanya dilakukan Alien dalam filmnya James Cameron. Apakah anak anda cacingan Di negara ini? Di jaman pemerintahan ini? Tentu saja tidak.

Karena kalau terjadi sekarang. Maka si maharahja bukan cuma layak dapet Oscar.
Tapi juga ikan cupang.
Lambang doyan adu-aduan, suka merong meradang, tapi ndilalahnya tetep kelihatan indah saat siripnya mengembang.

Sungguh cocok benar bukan?

Sentaby,
DBaonk