Ada apa dengan Facebook belakangan ini? 

Belum hilang dari ingatan kita tentang Evan Brimob yang dalam sekejap menjadi tenar bak selebritis, lalu geger kasus Ari Power yang membawa lari “pacar dunia maya”nya. Belum lagi berita sejumlah kasus penipuan, hingga praktek perdagangan ABG melalui jejaring Facebook -secara khusus atau dunia maya secara lebih luas. Termasuk dua issue terakhir yang hari-hari ini mengundang banyak protes; yakni pemberhentian empat siswa SMU di Tanjungpinang, lantaran menghina salah seorang gurunya melalui Facebook, dan wacana pembentukan semacam Badan Sensor Konten Internet oleh pihak berwenang.

Ada banyak nilai-nilai etika, kepantasan, logika, demokratisasi, kewarasan (dan ketidak-warasan sekalipun) yang sulit menemukan titik temu, ketika kita mulai memperdebatkan polemik yang tengah berkembang. Misalnya saja pada kasus empat siswa yang dikeluarkan dari sekolah; lantaran sepele saja “ngatain” salah seorang guru nya sebagai “perawan tua” melalui Facebook. Apa landasan hukum yang bisa digunakan pihak sekolah untuk langsung mengeluarkan mereka tanpa fase peringatan terlebih dulu atau skorsing? Saya pribadi tak begitu yakin bahwa dalam peraturan tata-tertib sekolah tertera secara eksplisit; Dilarang menghina guru melalui dunia maya -misalnya. Artinya; wajar saja keputusan pemecatan empat siswa tersebut menuai protes banyak pihak lantaran dianggap semena-mena dalam memberi hukuman yang tidak sepatutnya. Kalaupun pihak ortu siswa yg dikeluarkan mengajukan gugatan pengadilan, posisi pihak sekolah akan lemah, karena bertindak dengan landasan aturan yang belum ada dilingkungannya. 

“Welcome to a New Paradigm” 

Dunia senantiasa bergerak dan berubah. Suka atau tidak kehadiran teknologi baru, dengan metode-metode baru yang diusungnya akan mempengaruhi nilai-nilai sosial, budaya serta cara pandang manusia terhadap banyak hal di dunia ini. Facebook (Fb) adalah sebuah “mainan budaya” baru, meski bukan sesuatu yang baru bagi mereka-mereka yang telah mencermati dunia maya lebih dari kurun sepuluh tahun terakhir (dalam arti mereka-mereka yang sebelumnya pernah mengenal IRC, ICQ, Friendster dan lainnya yang terlebih dulu ada dari Fb). 
Tetapi pertumbuhan pengguna Fb yang begitu fenomenal, mampu menjangkau segala kalangan -termasuk kalangan yang mengaku sebagai gaptek sekalipun, telah menimbulkan semacam keterkejutan budaya (Culture Shock) pada masyarakat luas. 

Kita semua perlu belajar dari kejadian-kejadian belakangan ini. Culture Shock perlu dihadapi dengan sikap arif dan jiwa, pikiran yang terbentang luas. Hari ini kita takkan bisa membayangkan seperti apa naik pesawat terbang, jika saja dulu ketika Wright bersaudara baru membuat proto-type pesawat terbang; belum apa-apa sudah di fatwa haram lantaran -misalnya saja- dianggap melakukan upaya melawan kodrat manusia sebagai mahluk darat. 

Menilai dampak buruk keberadaan Social Media (atau Dunia Maya secara lebih luasnya) seharusnya dilakukan dengan fair. Kita harus memiliki data obyektif yang mampu menggambarkan peta secara keseluruhan manfaat dan mudharat keberadaannya. Kita tidak bisa serta-merta menistakan Internet lantaran maraknya peredaran pornografi di Internet, sehingga menisbikan potensi-potensi positif dari Internet seperti misalnya saja sebagai sarana media dakwah, ladang ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. 

Tidak skeptis; barangkali kata yang paling tepat untuk menyikapi fenomena keterkejutan budaya serta reaksi akan kehadiran setiap paradigma baru. Tidak skeptis akan hal apapun, bahkan temasuk untuk tidak skeptis terhadap reaksi pihak otoritas jika berencana “mengatur etika dunia maya” dengan tetap menjunjung tinggi kebebasan bersuara sebagai bagian dari konstitusi nasional. 

“Social Media Is Democratizing Communications” 

Pada hakekatnya setiap manusia adalah mahluk pembelajar, yang terus -wajib- belajar hingga akhir hayatnya. Belajar dari segala sumber, tentang segala hal termasuk kultur dunia maya. 
Saya, Anda, tokoh masyarakat, pemuka agama, guru, pihak berwenang, tua atau pun muda -semua, perlu belajar mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi setiap paradigma baru. 

Sebagai guru yang berperan penting dalam pendidikan generasi muda, perlu bersikap bijaksana, arif dan among jika menemukan “suara sumbang” siswanya di dunia maya. Bukan sebaliknya bersikap over-reaktif yang justru mengesankan sifat kekanakan dan semena-mena. 
Bagaimana kita bisa tahu adanya gejolak pada siswa, jika belum apa-apa kita sudah membungkam setiap kritik pd kita? 

Sebaliknya sebagai siswa juga perlu memahami bahwa dimanapun kita berpijak, etiket dan tata-krama tetap perlu dijunjung tinggi, sebagai konsekwensi logis dari keturut-sertaannya di dalam setiap sistem. Adalah bukan hal becanda bila dalam kesempatan lalu, penulis menggunakan frase; “Facebook mu adalah harimau mu” sebagai teks status di jejaring tersebut 🙂 

Sebagai pihak berwenang dan pengambil keputusan, adalah penting melihat social media sebagai salah satu bentuk demokratisasi dalam berkomunikasi. Pemerintah harus peka, cermat dan balance dalam menentukan kebijakan yang dituangkan melalui Peraturan maupun Perundang-undangan. 

Sebagai penikmat dunia maya pun kita perlu menyadari bahwa; dalam bermasyarakat baik real maupun virtual; kehidupan itu tetap perlu diatur (Baca: bukan dibelenggu). 
Mengapa harus ada peraturan ? 
Ya, sederhana saja; lantaran kita semua memang masih perlu diatur. 

Jikalau dalam suatu komunitas, dimana semua warganya sudah mencapai taraf penghayatan hidup tasawuf, niscaya peraturan (duniawi) tak diperlukan lagi di sana. 

—oOo— 

Widyo Rio 
http://mobinessia.com?k320i 

* Tulisan ini berlisensi public domain. 
Boleh di kutip, diterbitkan, diterjemahkan pd media apapun oleh siapapun. 
Syukur-syukur tetap dengan mencantumkan narasumber nya 🙂