Tag

Memasuki gerbang pemakaman umum Tanah Kusir siang itu, matahari Jakarta seperti makin edan memanggang garang tidak memperdulikan gerahnya para pengantar rombongan upacara penguburan yang mencluster di area kuburan.Saya datang kembali setelah terakhir ziarah sekitar 10 tahun yang lalu ke makam mama di sini.

Suasana kuburan tidak banyak beda. Nisan nisan lama dan onggokan tanah kuburan baru bersisian.Ribuan nama bertebaran.Manusia yang mati muda atau mati tua semua sama saja.Orang orang di pemakaman nampak fokus dengan kesibukannya sendiri sendiri.Para tukang sapu dan juru doa bayaran membuntut di belakang para peziarah seperti sekelompok pilot fish mengikuti kemana saja seekor hiu pergi. Tukang kembang di dekat pintu gerbang beserta tukang parkir hari ini tersenyum lebih lebar lantaran ada 3 rombongan antar jenazah, salah satunya mungkin dari keluarga pejabat yang cukup besar yang kemungkinan bisa mendongkrak omset harian begitu juga rejekinya.Deretan mobil mewah dan mobil butut ada di sana. Semua sibuk begitu juga saya di sini yang datang berkehendak untuk ziarah kembali ke tempat mama dan abang saya disemajamkan di salah satu sudut pemakaman

Abang ipar saya kesulitan untuk mengenali makam mama dan sang abang. Padahal menurut dia terakhir ziarah cuma setahun yang lalu. Mungkin karena ilalang tinggi yang tumbuh liar dari beberapa kuburan yang kurang dirawat atau kurang setoran buat pengurus makam-membuat dia kehilangan jejak dan orientasi. Saya menunggu berdiri di bawah bayangan pohon akasia- menunggu usaha dia yang dibantu beberapa tukang sapu menemukan makam abang dan mama. Matahari tetap garang, hawa gerah dan perasaan saya tidak banyak berubah.

Sepuluh menit kemudian salah satu bocah berteriak menemukan makam mama. Saya berjalan setengah tergesa gesa. Di gundukan tanah yang bernisan dua, akhirnya bertemu kembali saya dengan sang ibu dan sang abang yang istirahat dalam lubang yang sama. Saya tidak tahu harus besikap bagaimana dan harus berperasaan seperti apa. Saya perhatikan tukang sapu itu menyapu dan mencabuti rumput yang sebenarnya tidak terlalu tinggi. Abang ipar saya berusaha membenahi bungkahan beton makam yang tergelincir keluar dari tempatnya. Kemudian tidak lama dia sedikit berdoa entah doa seperti apa isinya.

Saya berusaha jongkok sambil mencoba mencabuti sejumlah rumput liar. Seolah sedang mencoba membersihkan tubuh mama dan sang abang dari sejumlah parasit. Angin siang seperti memerintahkan untuk tegak berdiri. Sayapun berdiri dan menatap dari kejauhan nama nama mereka. Tidak lama, dua mata dibalik kaca mata rayban inipun basah.

**

Saya kira anda tidak perlu meneruskan membaca tulisan ini. Sebab isinya semakin lama semakin personal.Cuma seandainya anda penasaran ingin kenal bagaimana ritual seorang murtad ziarah ke makam ibunya, saya tidak akan mencoba menghentikan rasa keingintahuan anda. Yang cuma saya harapkan dari anda adalah sebuah pengertian. Bagi anda para psikolog maupun mahasiswa jurusan psikologi,bisa jadi dengan membaca tulisan ini anda bisa mempelajari lebih jauh,membuat disertasi bahkan mungkin memberikan nama baru untuk penyakit atau kesablengan Habe ini dalam sebuah jurnal ilmiah. Suatu saat saya bisa saja ikutan bangga lantaran anda lulus kuliah dan dapat gelar gara gara saya.

**

Sejak selepas SMA, sekian dekade yang lalu Habe telah berhenti berdoa. Akibatnya di depan makam mama, saya tidak lagi memiliki kemampuan berdoa dalam bahasa Arab atau hapal segenap ayat ayat . Seorang juru doa bayaran duduk di satu sudut mengharapkan dengan setengah cemas bahwa penziarah ini gagap Quran lalu bersedia menggunakan jasa dan keahliannya. Tapi hari itu nasib memang sedang kurang baik buat dia lantaran saya juga tidak merasakan kebutuhan berdoa dalam bahasa arab ataupun Indonesia. Ada perasaan mereka berdua tidak memerlukan ritual ritual basi semacam ini. Dan lagi pula jangan jangan jikapun saya berdoa, saya akan berdoa pada tuhan yang salah.Tuhan yang kedudukannya sudah sirna dari dalam dada. Tuhan yang reputasi yang tidak lagi baik di mata. Cuma lantaran perlu melakukan sesuatu yang saya bisa cuma melayangkan semacam surat. Surat yang saya tulis dan layangkan langsung dari sanubari. Sebuah monolog kerinduan seorang murtad terhadap keluarganya yang telah berangkat pergi.

**

Dear mama dan Adi,

Senang menjumpai kalian lagi. Setelah begitu lama berpisah akhirnya kitapun bertiga reuni kembali.
Minta maaf Habe 3 tahun yang lalu tidak bisa pulang mengantarkan Adi saat pemakaman. Jarak dan waktu kemarin itu benar benar membelenggu.

Dear Mama, Habe tidak bisa menulis surat sebagus mama. Jadi harap dimaklum kalau surat ini rada acak cakan ma.Masih ingat bagaimana anakmu paling bandel satu ini selalu membaca surat surat mama? Tulisan tangan yang gampang dibaca, mengalir dengan enaknya. Masih ingat ma saat habe mengajak mama untuk menuliskan seluruh catatan hidup dalam bentuk buku? Sampai sekarang habe masih percaya, seandainya buku itu jadi ditulis dan dibukukan, hasil karya itu akan meledak lantaran skill menulis mama yang tinggi. Dan jalan cerita hidup mama yang unik. Kepahitan dan kemanisan datang silih berganti. Tragedi dan kokohnya kekuatan hati seorang janda cerai untuk menembus badai memimpin ke 6 anaknya menuju kehidupan yang lebih beradab. Roman biography yang mampu mengalahkan trilogi karangan Pramudya, ma. Bakat menulis mama sempat turun ke anaknya, dan anak itu sekarang berada bersisian dengan mama. Sayangnya Habe tidak memiliki bakat itu ma.Padahal sudah pernah ada dipikiran , untuk menuliskan perjalanan hidup mama dalam buku yang habe kasih judul ” lahir pemintas badai ”

Dear Adi abangku. Ah akhirnya anak kesayangan mamalah yang dipanggil duluan untuk menjadi teman.
Ada rasa cemburu juga sih sebenarnya di dalam dada. Seperti mama selalu mendahulukan Adi saat hidup, begitu juga jalan hidup mendahulukan Adi untuk selalu berada si samping mama.

Habe adikmu tidak begitu tahu, dimana diletakan tuhan rohmu? Tapi tolong kasih tau jika dia memisahkan Adi dari mama, apalagi menempatkan kamu dekat dekat neraka, akan habe tuntut tuhan biadab itu moga moga juga dia ikutan masuk neraka. Adi dulu memang playboy. Tukang ngutang jarang bayar lantaran sebagai seniman bokek adalah situasi hidup yang selalu rutin menemami. Tapi begitu banyak duit , uh borosnya setengah mati. Dulu kebiasaan merokok mestinya distop. Dan stress hidup hendaknya dijadikan sebagai bahan guyon. Oh mau tau kabar Iwan? Badan dia makin sterek macam binaragawan. Si william, adik bungsu sebentar lagi punya anak kabarnya laki laki.

Dear kalian berdua,
Mata habe basah di balik kacamata. Setengah sedih tapi setengahnya lagi merasa bahagia.Sungguh kita semua berasal dari keluarga yang mati muda. Maaf tidak bisa mendoakan adi dan mama. Walaupun kelihatannya jasad kalian sudah tidak ada lagi,bagaimanapun Habe merasa mama dan adi selalu hidup di dasar hati. Dan segala pernak pernik kehidupan ini suatu waktu juga akan berakhir. Apa perlunya mendoakan orang yang sudah pasti masuk surga jika surga itu memang ada, seperti mama? Ah Habe bangga lahir dari seorang pemintas badai ma.

Dan mama tidak perlu cemas seperti kebanyakan keluarga besar kita yang cemas akan habe yang telah cerai dengan agama. Fase itu sudah berakhir ma, habe berada satu tingkat di atas mereka.Dengan menginjak agama, posisi habe kini lebih dekat dengan tuhan dari pada mereka mereka sendiri.

Dear mama dan abang,
Mungkin sebenarnya tidak perlu pamitan karena pada dasarnya toh habe akan kembali lagi. Cuma besok Habe akan terbang lagi ke seberang benua. Mama sempat ke Las Vegas bukan dulu? Di situ habe hidup tinggal dan mencari nafkah. Sayang ya Adi cuma sempatnya jalan jalan ke Los Angeles dan San Francisco doang dulu. Tapi anyway, tidak memakan waktu lama kita akan berkumpul lagi. Kalau tidak dalam lobang yang sama, mungkin dalam area yang sama. Btw makam disamping mama sudah kelihatan tidak keurus, mungkin bisa dipatok disiapkan buat Habe nanti. Jadi ketika saat hidup kita pernah berdampingan, dalam mati asiknya kita juga tidak berjauhan. Seperti aktor kesayangan mama si Arnold Schwarzenegger bilang…” I will be back ” ma..

And so, Sayonara Adi dan Mama..

February 18, 2010

Habe

life is good