Awal Januari 2009 saya berkunjung ke Malaysia. Tepatnya ke Kelantan. Salah seoarang teman Malaysia yang berada di Aceh mengatakan bahwa Banda Aceh sama seperti Kelantan 10 tahun lalu (sekarang berarti 11 tahun lalu). Mendengar komentaranya ini, saya betul-betul ingin segera berangkat kesana untuk membuktikan bahwa Kelantan lebih hebat dari Banda Aceh.

Pesawat yang kami gunakan adalah AirAsia yang membawa kami ke KL. Di KL kami menginap satu malam dan besok paginya berangkat lagi ke Bandara untuk terbang lagi ke Kelantan. Ada pengalaman menarik yang saya dapatkan di Kelantan. Saya perhatikan bahwa nama kantor dan jalan ditulis dalam dua bahasa, bahasa Melayu dan bahasa arab melayu. Pengalaman ini persis sama saat saya berkunjung ke Pattani, wilayah selatan Thailand. Tulisan yang dipakai di kantor dan toko adalah bahasa Thai dan bahasa Arab Melayu. Baliho yang dipasang juga memakai model perempuan yang menggunakan jilbab. Persis seperti di Kelantan dan Banda Aceh.

Saat mengunjungi Dinas perempuan, keluarga dan olahraga kami juga menemukan pengalaman yang menarik. Dari wawancara dengan mereka, dikatakan bahwa di Kelantan diterapkan Syariat Islam, salah satunya adalah pemisahan laki-laki dan perempuan diruang publik. Sehingga mereka mempunyai pemimpin perempuan yang cukup banyak karena para perempuan-perempuan itu harus mengurusi perempuan-perempuan lainnya. Bahkan, mereka punya ruangan khusus untuk pertunjukkan kesenian yang diperbolehkan didatangi perempuan. Di gedung kesenian itu, yang boleh bernyanyi hanya lelaki, yang ditonton oleh perempuan. Salah seorang anggota dewan (perempuan) yang bertemu dengan kami saat itu menjelaskan bahwa suara perempuan adalah aurat, jadi tidak boleh bernyanyi. Sedangkan suara laki-laki bukan aurat, jadi suara laki-laki itu bisa dinikmati oleh penonton perempuan.

Saat mereka menjelaskan tentang pemisahan ruang laki-laki dan perempuan sehingga mereka mempunyai pemimpin2 perempuan, saya sempat tercenung mendengar apa yang mereka lakukan. Perempuan tidak dibangun pemikirannya bahwa perempuan juga bisa memimpin. Disatu sisi apa yang mereka lakukan memberikan kontribusi positif bagi perempuan, yaitu lahirnya pemimpin-pemimpin perempuan. Tapi sisi negatifnya adalah, para perempuan itu tidak terbangun pemikirannya bahwa perempuanpun bisa jadi pemimpin bagi laki-laki.

Beberapa perempuan yang saya temui dalam pertemuan itu berkata bahwa pemimpin mereka adalah orang yang sangat menghargai perempuan, jadi kegiatan apapun, sepajang itu berdasarkan Al-qur’an dan hadist maka kegiatan itu akan diACC.

Sistem pemerintahan Penang juga unik. anggota dewan yang saya temui itu mengatakan bahwa kegiatan akan dijalankan jika sudah disepakati oleh Majelis ulama mereka. Bagi saya ini terbilang unik, karena bagaimana mungkin sekumpulan Ulama bisa melegalisir kegiatan yang bersifat duniawi? Apakah mereka cukup mengerti tentang ekonomi, hukum dan hal-hal lain yang bersifat duniawi?

Malamnya, saya berbincang-bincang dengan teman Malaysia yang datang ke penginapan. Saya sampaikan keterkejutanku tentang betapa besar peran ulama didalam sistem pemerintahan di Kelantan. Kata beliau,menangya partai PAS adalah karena pemimpin mereka yang zuhud, dan karena kezuhudannya korupsi bisa dikatakan tidak ada.

Tapi pertanyaannya, apakah Aceh mempunyai pemimpin seperti itu?

Hal menarik kedua adalah saat shalat disalah satu mesjid di kota Kelantan. Mungkin ini adalah mesjid terbesar di daerah itu. Sayangnya saya hanya berasumsi karena tidak ada orang yang bisa saya tanyai.Sebenarnya, mesjid ini hanya satu, tapi uniknya mesjid ini dibagi dua sehingga membentuk dua mesjid yang persis sama. Kedua mesjid ini disambungkan oleh koridor yang memisahkan antara mesjid yang digunakan oleh laki-laki dan mesjid yang digunakan oleh perempuan. posisi mesjid ini sama sekali bukan seperti posisi dalam shalat, yaitu perempuan di belakang laki-laki. Tapi, mesjid ini dibuat beriringan, sehingga jemaah perempuan beriringan dengan jemaah laki-laki. Ada loudspeaker yang dipasang ditempat mesjid perempuan sehingga saat shalat, perempuan juga bisa mendengarkan azan atau do’a imam(pemimpin shalat) yang ada dimesjid para lelaki.

Hal lain lagi yang menjadi pengamatanku adalah bagaimana perempuan-perempuan diKelantan menggunakan baju kurung. Dalam kunjungan yg hanya dua hari itu, saya hampir tidak melihat ada perempuan yang menggunakan sepeda motor. Ada sepeda motor yang lalu lalang, tapi tidak banyak dan semuanya dikendarai oleh laki-laki. Bisa dikatakan tidak ada perempuan yang lalu lalang di jalan yang menggunakan celana panjang. Saya tidak tahu apakah baju kurung memang baju asli masyarakat di Kelantan atau merupakan baju nasional di Malaysia. Seperti kita di Indonesia yang menggunakan kebaya sebagai baju nasional bagi perempuan. Saat saya perhatikan, ternyata perempuan-perempuan itu tidak ada yang menaiki sepeda motor. Mereka semua menggunakan mobil. Teman saya sempat nyeletuk ”salah besar memaksakan perempuan-perempuan Aceh pake rok, lha… kita kan ga semakmur orang-orang disini. Coba… semua kita dikasih mobil, pasti kita pada pake rok semua. Ini… yang kita punya cuma kereta (penjelasan, di Aceh sepeda motor kami sebut dengan kereta), gimana mau make rok tiap hari?”.
Disinilah terlihat bahwa budaya suatu bangsa tidak bisa dipaksakan pada budaya yang lain.

Jika dilihat secara kasat mata, Kelantan memang makmur. Ukuran makmur yang saya pakai disini adalah ada beberapa gedung tinggi yang sepertinya bertingkat 8 atau 10. Jika dilihat dari gedung ini, mungkin benar seperti teman Malaysia saya yang ada di Aceh yang mengatakan bahwa Banda Aceh sekarang sama seperti Kelantan 11 tahun lalu. Karena di banda Aceh, sepanjang yang saya ingat tidak ada gedung berlantai 8 hingga10. Selain itu kebanyakan orang-orang disana menggunakan mobil. Jika di Aceh, orang yang bermobil hanyalah mereka yang sudah mapan secara ekonomi.

Maka, untuk bisa membuat Aceh menjadi seperti Kelantan, hal pertama yang harus dilakukan adalah bagaimana membuat masyarakatnya menjadi makmur sehingga perempuan bisa mempunyai mobil sendiri dan mengendarai mobilnya dengan nyaman. Dan saya berasumsi bahwa sebagian perempuan2 ini tentu tidak akan menolak jika diminta menggunakan rok, karena pasti akan nyaman sekali menggunakan rok saat mengendarai mobil daripada saat mengendarai sepeda motor.

Melihat kondisi Aceh yang menurut sensus tahun 2009 sebagai daerah termiskin no 6 di Indonesia(info dari Acehkita komunitas) maka menjadikan Aceh seperti Kelantan tentunya membutuhkan usaha yang luar biasa berat. Butuh komitmen bersama.