Awal Januari tahun lalu saya berkesempatan mengunjungi Malaysia dan Singapore. di Singapore saya berkesempatan untuk melihat bagaimana kerukunan ummat beragama di sana.

Saat itu tour guide kami membawa kami kesalah satu candi agama Hindu yang ada didaerah tersebut. Dicandi tersebut, ternyata bukan saja orang-orang yang berparas India yang bersembahyang, tetapi juga orang-orang Cina disitu. Didepan candi tersebut terdapat Hio yang dibakar dan digunakan oleh orang-orang Cina tersebut untuk bersembahyang diluar candi.

Didalam Candi, kami temui hal yang sama. Orang-orang Cina tersebut bersembahyang (tapi tidak dengan membakar hio) dengan dido’akan oleh para pendeta Hindu yang ada didalam candi tersebut. Saat memasuki ruang candi, aura mistis mulai terasa. Perasaan mistis ini mungkin karena saya belum pernah masuk ke kuil hindu. Selama ini yang sering saya jelajahi hanyalah kuil Buddha sewaktu di Thailand, Laos, kamboja maupun saat di Jogja. Mungkin karena seringnya masuk ke kuil-kuil Buddha itu, perasaan saya saat memasuki kuil Buddha yang lain biasa-biasa saja. Tapi berbeda saat memasuki kuil yang seumur hidup saya belum pernah memasukinya. Mungkin karena belum pernah ini, perasaan takut juga ada.

Saat memasuki kuil, saya mendengar sesuatu. Alunan do’a-do’a dinyanyikan oleh pendeta yang ada didalam candi.

Saya melihat bagaimana para pendeta tersebut begitu menghargai keberagaman yang dianut oleh penduduk di Singapore. Saya melihat patung-patung yang ada disitu, bukan saja bercirikan patung-patung dewa hindu, tapi mereka juga mempunyai patung Budha yang diletakkan diantara patung-patung dewa ummat Hindu tersebut. Saya sempat tercengang. Begitu mereka,komunitas India yang Hindu itu, menghargai agama lain (dalam hal ini Budha) yang ingin berdoa dan bersembahyang di ruangan candi mereka.

Seusai berdoa di candi tersebut, para keturunan etnis cina Singapore tersebut lalu beralih ke kelenteng Buddha yang ada disamping candi Hindu tersebut. Mereka kemudian berdoa lagi di kelenteng tersebut.

Tour guide kami menjelaskan bahwa adalah suatu kebiasaan para keturunan Cina Singapore tersebut untuk berdoa disetiap tempat dan tujuan dari doa tersebut adalah agar mereka diberikan kesejahteraan dan kekayaan. Hmmmmm…..

Saya berharap, toleransi yang terjalin, seperti apa yang saya lihat, adalah benar-benar dari hati mereka, para pemeluk agama Hindu tersebut. Bukan karena, misalnya,mereka kekurangan donasi untuk mengurus candi yang ada sehingga mereka harus “membuka diri” atas bantuan agama lain. Semoga bukan itu alasannya…..

Untuk saudaraku etnis Cina di Aceh, saya ucapkan “SELAMAT Menyambut TAHUN BARU Cina”. Semoga saja kau tidak menemukan kendala untuk membakar Hio, bermain Liong atau memainkan wayang potehi di negeri Syariah ini.